Siola - Pasar Turi - Ketintang - Kenangan Rumah Kayu - Kenangan Bulan Purnama - Kenangan Kecil - Kenangan Retak | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Siola - Pasar Turi - Ketintang - Kenangan Rumah Kayu - Kenangan Bulan Purnama - Kenangan Kecil - Kenangan Retak Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:07 Rating: 4,5

Siola - Pasar Turi - Ketintang - Kenangan Rumah Kayu - Kenangan Bulan Purnama - Kenangan Kecil - Kenangan Retak

Siola

Siola, silam yang menghamba getar-getar ke-
nangan, lalu ditinggalkan. Sebuah toko, loteng
jingga bunga-bunga dan teh pahit kaki lima, me-
nyisakan nama lama yang telanjur dikenali. La-
lu kita dihadang kehilangan saat kunjungan, saat
kenang telanjur membasah di Tunjungan.

Sejengkal dari Sari Agung, kita terbiasa
menuju tikungan akhir, di mana pintu kayu
Siola dipancangkan, muara masa kecil yang
riang. Buku matematika biasanya kita letak-
kan, mencari topi perang-perangan. Pecah
tawa menjelang senja.

Kunjungan terakhir itu, barangkali Siola terla-
lu mengalah kepada ambisi modernisasi, atau
kepada basa-basi kaum berdasi. Bentuknya
menyusut pelan, menghilang ke liang yang da-
lam. Tinggal peta buta, titip gelap jejakmu di
Surabaya. Lalu, kita, nyeri tak terperi.

2015

Pasar Turi

Sesekali bau keringat tersisa dari lapak ber-
lantai tiga, menghafal nasib dengan setia. Se-
harian bekerja untuk kepeng tak seberapa.
Debu parkir, asin keringat dan keringat sandal
terinjak orang, lalu-lalang ke selatan.

Apabila dikenangkan, Pasar Turi adalah surga
yang dijanjikan, membangun harapan dari se-
lisih tawar-menawar. Harapan tertulis tak lama.
Koyak oleh alasan yang entah, manakala api
menjalar ke seluruh pasar, jauh dari selatan.

Ke arah selatan, angin menampar sepan-
jang siang. Api menjilat kayu menjadi abu,
melumat pasar menjadi arang. Barangka-
li pasar hanyalah tempat persinggahan api
yang melahirkan duka penghabisan.

2015

Ketintang

: untuk kedai kreasi

Ada sebuah jalan yang mekar pada sepuluh
senja. Ada sebuah buku yang lahir dari musim,
dan sisa peluh di kedai kuning. Ingin lebih ju-
jur kepada nyeri setelah dua kali tercuri siasat
daun-daun yang rimbun di ibukota.

Ada malam dan teman yang jadi satu mel-
awan luka pada sebuah janji, jauh dari Ja-
karta. Berbekal irama saluang dan kata-kata
yang berlarian di sela kopi dan pisang gore-
ng, aku menyelam pada kesetiaan puisi yang
tak pernah mati.

Ada haru memanjang di Ketintang, semacam
denyut yang menembus kedai kenangan.
Saat itu juga kupeluk teman-teman yang
bertandang ke perjamuan sebuah malam
puisi, di mana aku membelah diri dan me-
nancapkan ibu jari.

2015

Kenangan Rumah Kayu

Beginilah kenangan datang:
jejak yang bergetar, sebentar
lalu tak mau pulang
semacam pendaki yang tersesat
oleh kesepian, lalu lupa ingatan

Rumah kayu semacam pagi,
suatu kesepian yang diterima malam
sebagai tembang yang selalu dikenang
perihal bola matamu yang berlarian
di seluruh hari-hariku, kini dan nanti

Sesekali aku tusuki mata kenyataan
berharap darahnya menuntun ke masa lalu
di mana kenangan telah kekal di batu nisan.

Malang, 2015

Kenangan Bulan Purnama

Memang ada linang, malam kenangan
bulan purnama tak pernah terulang
sisa ingatan selalu menggenang
saat bercerita, memandang purnama
bulan sialan, aku selalu sulit memejam

Di sini, aku menulis sendirian
dari harapan yang ditinggalkan kenyataan
perihal usiamu yang dihapus Tuhan
setelah genap dua puluh lima purnama
bagai kenyataan yang mendadak ditebang

Di sana, tunggulah beberapa purnama lagi
akan kususul segera, membeli karcis surga
saat kau wisuda di alam baka.

Malang, 2015

Kenangan Kecil

Barangkali jejakmu terlalu bisu
untuk kusapa dengan rindu
lalu aku merangkainya jadi satu
ke dalam sebuah paku sembilu
nyeri yang tak pernah meragu

Kelelahan telah susut dari masa lalu
manakala kau tertidur di pelukanku
pada jam pejam yang lupa waktu
menunggu hari di mana aku sibuk lagi
masuk kantor, melipat mimpi, menafkahi sepi

Saat tiba giliran takdir menulis titik akhir
kau masih terlalu kecil, tidur di nisan kecil
lalu: kenangan rubuh di tubuhku.

Malang, 2015

Kenangan Retak

Serumit kenangan yang tak lekas pulang
lalu aku sembunyi dari keinginan melupakan
kubutuhkan beberapa tahun
menghentikan suara kanakmu di petak hatiku
berhenti di jam sibuk, kumat saat malam
mendekat

Serumit kenyataan yang akan datang
lalu aku hibur diri dengan mimpi basi
kuperlukan sejumlah hari raya
merayakan bahagia yang bebrapa kali tertunda
kurayakan silaturahmi, menyapa sepi-sepi lain

Setiap pagi, bangun dari mimpi
kau seperti berlarian, menendang segala in-
gatan
bertemu retak dunia, gugur di kaca

Malang, 2015


Didik Siswantono lahir di Surabaya. Buku puisi terbarunya Pelajaran Berlari (Kepustakaan Populer Gramedia, 2015). Dia penyair dan pendiri komunitas Kanusa (Kampung Nurani Sastra) di Serpong, Tangerang Selatan.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Didik Siswantono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 25 Oktober 2015


0 Response to "Siola - Pasar Turi - Ketintang - Kenangan Rumah Kayu - Kenangan Bulan Purnama - Kenangan Kecil - Kenangan Retak"