Tania | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tania Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:13 Rating: 4,5

Tania

BAGI mayoritas orang, khususnya petani, kemarau panjang adalah bencana. tapi bagi tania, musim kemarau adalah hal membahagiakan dalam hidupnya. Karena ia bisa berangkat dan pulang sekolah tanpa harus terjebak hujan. Meski terkadang ia harus bertarung dengan debu-debu jalanan yang diterbangkan oleh laju kencang kendaraan. Tapi itu tak masalah. Toh, ia bisa berhenti sejenak untuk memejamkan mata sambil menutup mulut dengan sebelah tangannya.

Seperti pagi cerah ini, Tania bersiap berangkat ke sekolah dengan hati riang.

"Bu, Tania berangkat dulu." Tania menengadahkan kepala, menatap ibu yang berada di sampingnya seraya mengulurkan tangan.

Ibu meraih tangan putrinya, tersenyum, dan berpesan agar hati-hati di jalan. Pesan tersebut selalu diucapkan ibu tiap pagi. Bahkan saat ia pamit hendak ke rumah teman, atau pergi ke perpustakaan, ibu selalu berpesan senada. Tania mengangguk, tersenyum, seraya berkata pada ibu bahwa ia akan ekstra hati-hati di jalan. Bahkan demi menyirnakan cemas di raut ibu, ia terkadang berbohong bahwa ia berangkat bareng Ferdi, sahabatnya, atau teman-temannya yang pergi ke sekolah jalan kaki.

"Assalamualaikum," ucap Tania sebelum akhirnya berangkat dan melajukan kursi roda dengan kedua tangannya.

"Waalaikum salam, Tania," ibu menjawab salam putrinya dengan tersenyum. Beberapa detik berikutnya, raut ibu berubah sedih. Betapa ia tak tega melepas putrinya berangkat sekolah sendiri  dengan kursi roda. Meski hal itu sudah menjadi rutinitas Tania sehari-hari tapi tetap saja Ibu merasa cemas.

Dulu, Tania termasuk gadis yang minder. Tidak pedean. Ia bahkan pernah menyalahkan takdir hidup yang menurutnya kejam. Hal tersebut dapat dimaklumi karena terlahir dengan fisik tak sempurna. Kedua kaki lumpuh sejak bayi. Ironisnya, beberapa hari setelah ia lahir, ayahnya pergi meninggalkan rumah tanpa pesan.

Bahkan, hingga Tania kini tumbuh menjadi gadis SMA, tak pernah sekalipun ia mengenali sosok ayah. Mungkin saat itu ayah pergi karena malu memiliki putri semata wayang yang cacat. Ah, tiap Tania ingat kenyataan getir ini, kedua manik matanya selalu basah.

Sejak SD hingga kelas 2 SMA, Tania selalu berangkat sekolah dengan kursi roda. Mulanya, ia selalu diantar sekolah oleh ibu. Saat jam sekolah berakhir, ibu sudah siap menunggu di luar kelas. Tapi sejak masuk SMA, ia tak mau lagi diantar oleh ibu. Toh, jarak antara rumah dan sekolahnya tak terlalu jauh, sekitar 300 meter.

Tania merasa hidupnya tak sendiri saat mulai mengenal sosok Ferdi, teman sekelasnya sejak SMP. Bahkan, saking akrabnya, setamat SMP. keduanya sepakat melanjutkan di SMA yang sama. Saat di sekolah, Ferdi-lah yang selalu setia menemani Tania ke perpustakaan, kantin, atau duduk mengobrol di taman. Ferdi merasa memiliki kesamaan nasib dengan Tania. Sebelah tangannya yang kanan juga lumpuh sejak lahir, sehingga saat beraktivitas (misalnya saat sedang menulis dan makan) ia menggunakan tangan kirinya. Bagi orang yang belum mengenal Ferdi, mungkin menganggap ia anak yang tak punya tata krama karena makan dengan tangan kiri.

Ada hal lain yang membuat keduanya makin akrab: Tania dan Ferdi sama-sama hobi baca buku. Bahkan Ferdi juga gemar menulis dan beberapa kali tulisannya dimuat di koran dan majalah. Melalui beragam buku itulah, Tania jadi tahu bahwa masih banyak orang yang hidupnya tak seberuntung dirinya.

***
"HAI Tania, apa kabar?" sapa Ferdi saat Tania tiba di gerbang sekolah.

"Alkhamdulillah, kabar baik Fer, kamu apa kabar?" balas Tania sambil tersenyum hingga kedua lesung pipitnya terlihat. Tania memang dikaruniai wajah cantik. Dulu ia sempat minder dan takut tak memiliki teman karena kondisi fisiknya tak sempurna. Tapi, anggapannya itu ternyata keliru. Teman-teman sekolahnya tak pernah memandang remeh dirinya dan dengan senang hati mau bersahabat dengannya. 

"Kabarku juga baik," ujar Ferdi sambil melangkah menuju belakang kursi roda Tania.

"Hei, aku bukan anak kecil, Fer, nggak usah, terima kasih." Tania tertawa kecil saat tangan Ferdi hendak membantumendorong kursi rodanya menuju kelas.

"Ups, maaf nona Tania, saya lupa kalau Tania sekarang adalah gadis mandiri," Ferdi tertawa kecil. Tania tergelak mendengar gurauan Ferdi.

"Eh, gimana ntar siang, jadi belajar nulis cerpen nggak?" tanya Ferdi. Kemarin, Tania memang bilang padanya, ingin belajar nulis cerpen. Tentu saja Ferdi mengiyakan. Ia akan membantu Tania belajar menulis sepulang sekolah di taman luas yang menghampar di depan perpustakaan sekolah.

"Iya, jadilah. Aku pingin banget sepertimu, jadi cerpenis kondang yang cerpennya dimuat di mana-mana, hehehe," balas Tania renyah.

"Kondang apaan? Kondangan?" Ferdi tersenyum diiringi tawa renyah Tania. Keduanya pun masuk kelas seiring bunyi bel tanda masuk sekolah.

***
"Fer, maaf ya, sepertinya belajar nulis cerpennya dipending dulu, Ibu barusna SMS, aku disuruh cepat pulang," kata Tania usai jam pelajaran berakhir.

"Oh iya, nggak apa-apa, lain wkatu saja Tania," Ferdi memaklumi.

"Apa perlu kuantar pulang?" Ferdi menawarkan jasa.

Tania tersenyum, "Nggak usah, terima kasih, Fer."


***
 TANIA menatap cemas ibunya yang sepertinya habis menangis.

"Ibu sakit?"

Bukannya menjawab, ibu malah menghambur dan memeluk Tania. Tentu saja Tania makin bingung dibuatnya.

"Bu, ada apa?"

"Nggak, nggak kenapa-napa kok. Tania, Ibu hanya kangen kamu," ucap ibu sambil berusaha tersenyum dan mengusap matanya yang telah basah oleh air mata.

"Kangen? Ah, ibu nggak biasanya seperti ini deh, bukannya setiap hari kita selalu bertemu, Bu?" Dahi Tania mengerut.

Sebenarnya, ada kejadian yang membuat ibu bersedih. Beberapa jam lalu, ibu kedatangan tamu. Seorang perempuan yang mengaku istri Herman, suami ibu Tania. Perempuan itu mengatakan bahwa Herman telah meninggal dunia dua hari lalu. Ia menemui ibu karena ingin menyampaikan pesan Herman. Lelaki itu memohon maaf kepada ibu dan Tania karena selama  ini telah lari dari tanggung jawab. Ia meninggal dunia setelah sebelumnya menderita stroke dan diabetes selama hampir dua tahun. Sebenarnya, ia ingin menemui ibu secara langsung tapi keburu ajal datang menjemput. Itulah yang menyebabkan ibu bersedih tapi tak kuasa menceritakannya pada Tania.

"Tania, ayo ganti baju dulu, kita salat Zuhur bersama, lalu temani ibu makan, ya?" ucap ibu membuyarkan lamunan Tania. Tania tersenyum, mengangguk. Jauh di dasar lubuk hati, ia akan  berusaha mencari tahu penyebab ibu bersedih dan bertingkah aneh hari ini. ❑ Kebumen, 31 Agustus 2015

Sam Edy Yuswanto, Purwosari RT 1 RW 3 No 411, Puring Kebumen, 54383

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sam Edy Yuswanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 18 Oktober 2015


0 Response to "Tania "