Agama Apa yang Layak bagi Pelacur? | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Agama Apa yang Layak bagi Pelacur? Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 20:31 Rating: 4,5

Agama Apa yang Layak bagi Pelacur?

Mungkin sebuah pertanyaan ganjil, serupa dengan pertanyaan; Agama Apa  yang Pantas bagi Pohon-pohon?(1) . Lalu kau membuat pertanyaan yang sama;  Agama Apa yang Layak bagi Pelacur? Dan kita tiba-tiba terdiam, masuk ke  dalam perasaan masing-masing. Hujan jadi turun sore ini. Langit menggantung awan hitam tebal. Kulihat orang-orang berbondong masuk gang  sempit di sebelah sana. Kira-kira 20 meter dari rumahmu.

Lampu yang tergantung di tiang jalan memantulkan cahaya remang. Hujan  berbunyi di atas genting rumahmu. Dingin menggigit tubuh kita. Istrimu  datang membawakan dua cangkir kopi hitam sehangat kuku. Uapnya masih  mengepul dari dua cangkir kecil di atas meja. Dahiku berkerut. Kau membiarkan puntung rokok berantakan di dalam asbak. Gang di ujung  rumahmu itu ramai dikunjungi orang-orang.

 “Ada sesuatu di dalamnya. Siapapun yang masuk ke gang itu. Maka ia akan  tertarik untuk masuk lagi, begitu seterusnya,” katamu, sembari  menyelinapkan pandangan ke balik gang ujung itu.

 “Apa yang membuat kecanduan hanya dengan masuk ke dalam gang ujung itu?”  tanyaku, mengikuti gerakan matamu yang kulihat tiba-tiba liar dan  lincah.

 “Manusia punya rasa ingin tahu yang besar, termasuk mengetahui urusan  orang lain. Kita tak peduli sama siapapun, yang penting dipenuhi rasa  ingin tahu tersebut,” aku diam menikmati kata-katamu, sekaligus melihat  hujan yang merayap ke kaca jendela rumahmu.

 “Ceritakan saja padaku, jangan berbasa-basi,” kataku, nadanya agak ditekan.

 “Kita ke gang itu jam 9:00 malam nanti. Tunggu istriku tidur terlebih dulu,” katamu, sembari menghisap sebatang rokok.

Dan, kita mencecap kopi berbarengan. Melempar pandangan ke ujung gang  itu. Kau mengambil sebatang rokok lagi, kemudian menyulutnya hingga asap  melayang-layang di atas kepalamu. Angin bergerak pelan, menyingkap  korden. Kita seperti berada di suhu 80 derajat celsius. Malam yang  teramat dingin dari sebelumnya. Lampu yang terpasang di ujung tiang  jalan sana kian remang.

Malam basah. Kita menembus gerimis yang jatuh di ujung hidungmu. Kita  bersedekap. Angin memeluk tubuh kita. Kudengar gigimu bergetar. Tiba di  dalam gang, kita mengibas hujan yang menempel pada jaket yang kita  kenakan. Kau berdiri sebentar, kemudian mengambil sebatang rokok dari  saku celanamu.

 “Aku mengerti,” kataku, memulai pembicaraan denganmu yang berdiri di  sampingku. Matamu lincah mengamati satu demi satu wanita yang menawarkan  senyum pada kita.

 “Apa yang kau mengerti?” tanyamu, kulihat kau sudah menghentikan gerakan matamu yang kian liar saja.

 “Tempat ini,” tukasku padamu. Kita memilih salah satu tempat duduk di   gang yang ternyata di dalamnya terdapat kamar-kamar yang jumlahnya  belasan. Kau tahu, kalau aku sedang terkaget melihat wanita-wanita itu.  Senyum tipis mengembang tak pasti dari bibirmu.

 Seorang wanita, berbadan langsing. Kulitnya seputih susu. Ia  menghampiri, membawa senyumnya yang biasa ditawarkan pada pengunjung  seperti kita. Bibirnya berwarna merah ranum. Kau tertarik membuat  percakapan dengannya. Mula-mula kalian tukar pandang, lalu beralih  menjadi tukar senyum. Wanita itu kian nempel padamu. Ia terbiasa duduk  diapit dua lelaki. Baginya bukan soal. Tapi bagiku adalah soal amat  besar. Kau tersenyum; mengejek.

 “Ia wanita yang baik,” kau berbisik padaku. Wanita itu juga dengar apa yang kau bisikkan.

 “Apanya yang baik?” kau tidak berkata apa-apa. Wanita itu setengah meradang.

 “Baik buruk seseorang bukan soal pekerjaannya. Ini masalah hati. Tak  seorang pun mengetahuinya,” wanita itu tiba-tiba berkata demikian pada  kita. Kau memberi isyarat padaku supaya diam saja. Rupanya wanita itu  tersinggung.

 Di luar, hujan berhenti. Tak ada rintik sedikit pun. Genangan air surut.  Kamar-kamar  terlihat remang, hanya ada gambar bayangan-bayangan  seseorang yang berpelukan dari dalam. Wanita itu juga kelihatan ingin  dipeluk. Asap rokok  bertebaran, bercampur aroma bir memenuhi gang ini.  Wanita itu sama sekali tak mau beranjak. Malah makin betah bersama kita.  Wanita itu menggesek-gesekkan tubuhnya seperti kucing yang tempo hari  kutemui di rumahmu sehabis hujan.

 Satu jam lebih wanita itu bersama kita. Kopi yang kita pesan barusan  isinya sudah tandas. Kita memesan kopi kembali, yang katamu “kopi aroma  surga” dan juga mengambil beberapa batang rokok eceran. Aku tidak  melihat kesedihan di gang ini. Mereka tertawa. Termasuk wanita itu yang  terus menawarkan senyum liar pada kita. Ia meraih tanganmu, mengelusnya  sebagaimana istrimu yang saat ini tidur sendiri di rumahmu. Kau diam.  Aku menggeleng kepala.

 Wanita itu bercerita soal dirinya. Soal kesedihan yang melilit hidupnya.  “Bagaimana kau punya kesedihan?” tanyaku. Ia belum sempat menjawab,  kutambahkan lagi pertanyaan “Bukankah semua orang bahagia di tempat ini,  termasuk dirimu?” Wanita itu diam. Terdengar bunyi gelas diadu dari  salah satu kamar remang di gang ini.

 Pada suatu malam, kata wanita itu. Matanya tak segairah sebelumnya. Ia seorang wanita biasa yang tiba-tiba  berada di gang ini. Ia punya anak dan seorang Ibu. Katanya, ia ingin  berangkatkan haji Ibunya itu. Wanita itu hidup karena pekerjaannya. Dan  begitu cara ia juga menghidupi anak dan Ibunya. Ku pikir wanita itu  bercanda atau sedang mengelabuhi kami supaya bersimpati. Tapi ceruk  matanya yang dalam menyiratkan kejujuran.

 “Tempat ini adalah pentas. Dan kami para aktornya,” kata wanita itu.  Wajahnya diselimuti kesedihan. Dari balik senyum yang ia peragakan. Aku  tahu ia sedang merahasiakan luka serapat mungkin.

 “Panggung depan dan panggung belakang itu berbeda. Dan aku berada di  panggung depan mementaskan yang jauh berbeda dari panggung belakang. Aku  hanya aktor yang harus profesional menjalankan pekerjaan ini.” Dari  cara wanita itu bicara, ia memang tidak sedang main-main. Bibirnya  bergerak lambat. Sudut matanya berair. 

 “Apa yang terjadi di panggung belakang?”

 “Sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang ada di panggung depan,”  kata wanita itu. Ia tidak menyadari air matanya jatuh di pangkuannya,  tanpa bisa ditolak.

 “Apa kau punya agama? Bukankah pekerjaan ini dilarang agama?” sebenarnya  pertanyaan ini terlalu sensitif bagi siapapun, apalagi bagi wanita  seperti dia. Apa boleh buat. Aku harus tahu. Wanita itu menembakkan  matanya padaku. Rekah bibirnya, menakik senyum.

 “Aku orang yang percaya adanya Tuhan. Mungkin ini jalan yang harus aku  lewati sebelum tiba pada jalan yang benar.” Dan, di luar bulan saat ini  dalam lipatan awan. Angin tak jadi bergerak. Langit berwarna hitam  pekat. Satu lampu tiang tersungkur di pinggir jalan.

 Ya, ya. Aku sudah tahu kemana arah wanita itu berbicara. Wanita itu  tidak seperti yang disangkakan orang-orang padanya. “Siapa manusia yang  tak kotor?” desisnya. Aku diam mengamati guratan yang terombang-ambing  pada dahi wanita itu. Kau malah ikut diam. Harusnya kau bertanya lagi, “  Agama Apa yang Layak bagi Pelacur?” sebagaimana kau ajukan padaku tadi  sore.

 “Selama nafsu masih ada. Wanita macam aku pun terus ada. Adanya kami  juga karena ada yang membeli. Hanya saja kami yang selalu disebut kotor.  Lalu bagaimana dengan orang yang datang kesini? Mereka yang membeli  tubuh kami. Apa mereka tidak lebih kotor? Dan sebenarnya ini soal surga  dan neraka yang kau khawatirkan? Mengapa orang sibuk mengurusi wanita  kotor macam aku?” wanita itu membuat pertanyaan yang tak seorang pun  rasa-rasanya mampu menjawabnya. Kau lagi-lagi diam. Asap rokok berhenti  di atas kepalamu, berputar-putar lalu menjauh.

 “Agama Apa yang Layak bagi Pelacur?” aku yang membisikkan pertanyaan ini  padamu. Kau tergagap dengan pertanyaanmu sendiri. Terdengar denting  gelas seakan pecah dari dalam kamar remang. Suara tawa lepas dari balik  pintu. Kau tiba-tiba jadi bisu.

 Wajahmu mendadak beku. Sebatang rokok yang dijepit jarimu dihisapnya dalam. Kita bertukar pandangan. 

 “Aku yang bertanya padamu. Mengapa kau balik bertanya padaku?” bisikmu  beberapa menit kemudian. Wanita itu tersenyum tipis. Bibirnya rekah.

 “Nerakaku bukan urusanmu. Karena surga belum tentu milikmu. Bukan?”  wanita itu mengucapkannya pada kita. Ia beranjak meninggalkan kita.  Tubuhnya masih seksi berjalan di bawah lampu remang. Ia menoleh, menabur  senyum. Kita balas tersenyum. Dan  tidak berkata apa-apa, kecuali  saling menaruh pertanyaan ke dalam perasaan masing-masing; Lebih sucikah  kita dari wanita itu? Sementara jam, sudah lepas dari angka 12 malam.

 Pulau Garam, 2015 

Catatan:
(1) Judul Cerpen Eko Triono (Kompas, 28 April 2013)

Zainul Muttaqin, lahir di Batang-Batang, Sumenep Madura 18 Nopember  1991. Alumni Ponpes Annuqayah Sumenep. Cerpen-cerpennya dimuat pelbagai  media nasional dan lokal. Seperti; Jurnal Nasional. Femina, Majalah  Kuntum Majalah Almadina Joglo Semar. Banjar Masin Post. Merapi. Radar  Surabaya. Kabar Madura. Suara Madura  Koran Madura. Radar Seni.  Cerpennya terkumpul dalam antologi bersama; Dari Jendela yang Terbuka  (2013) Perempuan dan Bunga-Bunga (2014). Gisaeng (2014)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Zainul Muttaqin
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jatim Aktual" 7 November 2015

0 Response to "Agama Apa yang Layak bagi Pelacur?"