Aku Hanya Secarik Syair - Mengubur Diri - Anatomi Dosa - Ruang Misteri | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Aku Hanya Secarik Syair - Mengubur Diri - Anatomi Dosa - Ruang Misteri Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:31 Rating: 4,5

Aku Hanya Secarik Syair - Mengubur Diri - Anatomi Dosa - Ruang Misteri

Aku Hanya Secarik Syair

dikepal dan dibuang karena tak sempat dihayati
mungkin penyair adalah gelar angguan jiwa
sebab mereka mampu bahagia hanya dengan kata-kata
atau karena lirik-liriknya yang memikat rasa
maka dikutuklah ia sebagai pemimpi yang meniru firman Tuhan

tetapi aku hanya secarik syair terlahir dari rahim kerohanian manusia
sekiranya air mata adalah tintanya
mengalirlah seperti hujan di tengah kemarau
dan ia memetik waktu seperti daun-daun yang mengering karena rindu
lalu ia menuliskan suara-suara yang tak sempat menjerit di atasnya
sebab orang-orang yang mendengar hanya tahu mengasihani
padahal ia bukan pengemis

aku hanya secarik syair dalam diri yang menangis tersedu-sedu tanpa rupa
mereka tak perlu tahu isi hatinya yang terluka
sebab hidup telah membuangnya dari nurani
ketika hakikat tak lagi memberi kesempatan
untuk sebuah nilai perjuangan
ia bukanlah siapa siapa

ia hanya secarik syair memuliakan hidupmu dengan kesederhanaan
seperti angin yang dilepas laut kepada pohonan di tepian pantai
dikabarkannya kebaikan agar kau mengerti
ada hal yang tak selalu terukur dengan pertimbangan untung rugi
cinta dunia terlalu fana untuk ia jalani
keberadaannya hanya isyarat
tanda bahwa tanpamu makna tak pernah ada

Mengubur Diri

aku tak butuh kata-kata
suara dan tatapan matamu
yang pergi dari mimpi
meninggalkanku linglung seorang

diri menyeka air mata waktu
memagut merah gugur bunga
kekasihku yang sirna
di atas masa yang bukan untukku
musim adalah takdir

aku tak punya kehendak
sekadar ingin namun seringkali
tak pantas bagi hidupku

sebab diri adalah kesombongan
aku menubur hasratku dalam 
dalam pinta yang kutahu tak akan sampai
padanya kuserahkan segala rela

Anatomi Dosa

dan bilamana kata adalah doa, tak semua doa terucap tergenapi, dan kita terlena
menyelami dunia indah bertabur petaka
tabir sakral terobek dinding angkuh yang runtuh
terpacu kita mengikuti nafsu, dan semua ini tak benar-benar semu
kesesatan ini layak dinikmati
semakin dalam kami menyelami, menggarap dusta mengharap lupa
melucuti nilai-nilai surgawi, junjung tinggi nilai manusiawi
mulut untuk perang, dan tangan menggenggam dendam
mata menaruh curiga, kaki kotor menginjak norma
bernafas dnegan nafsu naluri hewani melawan tirani dengan menjadi tiran
memenggal nilai berkarat, mencairkan benci
dosa menjalar lambat laun menyebar
sebar benih pendobrak norma usang merobek tabir ketabuan yang sakral
rima ini hanya bualan belaka, lidah hina tak bertulang
membakar kanvas lukisan mitologi surga, neraka, pahala, dan dosa
menunduk berdoa berlutut dan memohon, rasa sesal sesaat
menangis ampun atas apa yang terjadi, penyesalan temporer

Ruang Misteri

rasa yang terkadang hilang
entah kapan hal itu akan datang
sesuatu yang selalu menghadang

berpikir menuju nuansa baru
misteri yang terkadang tabu
menjadikan jiwa terasa pilu

aku terus mencari dalam ruang
akankah kutemukan jawaban lantang
seakan dunia seperti menantang

sebuah hal yang harus aku tahu
mencari ke dalam setiap waktu
kepingan misteri yang akan bersatu


Soni Jabar Nugroho: tinggal di Adisara RT 04/03, Jatilawang, Banyumas



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Soni Jabar Nugroho
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 1 November 2015

0 Response to "Aku Hanya Secarik Syair - Mengubur Diri - Anatomi Dosa - Ruang Misteri"