Ana de Sousa [1] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ana de Sousa [1] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:01 Rating: 4,5

Ana de Sousa [1]

Ayahku pernah menyatakan keinginannya untuk menyumbangkan sebagian bukunya kepada perpustakaan atau taman bacaan. Sayangnya, keinginan itu belum terlaksana hingga beliau dan Ibu meninggal dalam sebuah kecelakaan, setahun lalu. 

Ayah memang hobi membaca. Sebagian bukunya dibeli saat sedang pergi ke luar negeri. Koleksi bukunya yang mencapai ribuan itu disimpan di sebuah ruangan khusus yang kami sebut dengan perpustakaan. Walaupun, sebenarnya tidak terlalu menyerupai itu. Hanya sebuah ruangan yang tidak terlalu luas, bersebelahan dengan ruang kerja ayahku. Dilengkapi meja-kursi untuk membaca dan sebuah tangga untuk mengambil buku-buku yang letaknya di rak paling atas. Sejumlah buku dibiarkan bertumpuk begitu saja di lantai karena raknya sudah tidak mencukupi lagi.

Di waktu-waktu senggang, Ayah kerap terlihat sibuk memilah-milah buku. Saat membantunya memilah, ia memberi tahuku kriteria buku yang akan disumbangkannya. 

Aku hampir mengabaikan keinginan itu, jika saja tidak melihat tumpukan kardus berisi buku-buku yang telah dipilah dan diletakkan di sudut perpustakaan. 

Aku ingat, ada beberapa buku di rak yang belum sempat ia pilah, yaitu buku-buku yang berada di rak paling ujung. Aku memasang tangga di rak itu, kemudian memilah dari rak paling atas, seperti yang ia pernah contohkan. Saat mengambil sebuah buku, tiba-tiba sebuah benda ringan melayang, terjatuh di sisi tangga.

Ternyata, sebuah amplop yang warnanya sudah tidak putih lagi. Aku memungut amplop itu dan terasa lembap ketika kupegang. Bahkan, di beberapa tempat terdapat noda kecokelatan. Di bagian depan amplop itu tidak tertera nama dan alamat yang dituju. Demikian pula di bagian belakang amplop, tanpa nama dan alamat pengirim. Bukan sesuatu yang penting sepertinya. Aku meletakkan amplop itu di meja, kemudian melanjutkan memilah. Surat tua itu pun terlupakan sudah.

Setelah semua buku selesai dipilah, aku memberikan buku-buku itu ke beberapa taman bacaan dan perpustakaan daerah. Aku lega telah menyampaikan keinginan Ayah.

Beberapa hari kemudian, aku masuk ke ruang perpustakaan itu, dan melihat surat usang itu masih tergeletak di meja. Saat mengambil amplop itu dan berniat membuangnya ke tempat sampah, tanpa sengaja tanganku menyobek sisi amplop dan terlihat sebuah kertas di dalamnya.

Akhirnya, aku menyobek ujung amplop itu dan mengeluarkan isinya, berupa dua lembar kertas yang dilipat sekadarnya. Kubuka kertas yang pertama dan menemukan kata-kata yang ditulis dalam bentuk puisi, menggunakan huruf sambung yang tidak terlalu rapi, menggunakan tinta hitam yang terlihat sudah memudar.

Jika kau percaya bahwa perasaan manusia bisa berubah, maka kau pun akan percaya, bahwa tak ada cinta yang satu, dan selalu ada tempat bagi cinta yang lain.

Aku tersenyum, terpesona oleh kata-kata puitis itu. Kemudian melanjutkan membuka kertas yang kedua, berupa sebuah surat yang ditulis tanpa tanggal dan tahun. Melihat bentuk tulisan tangannya, aku menduga puisi dan surat itu ditulis oleh orang yang sama. 

Maria sahabatku, 
Jika terjadi sesuatu padaku, kuminta bantuanmu untuk menjaga dan merawat Rosana, anakku.
Ana de Sousa

Surat itu pasti ditujukan kepada ibuku, mengingat nama ibuku adalah Maria. Aku tidak tertarik pada puisi itu, tetapi aku tertarik pada kesamaan nama anak yang dimaksud dalam surat itu dengan namaku dan kupikir bukan kebetulan belaka. 

Bagaimana aku menemukan surat itu pun menjadi sebuah tanda tanya besar bagiku. Kemungkinan surat itu sengaja disembunyikan. Aku yakin, kedua orang tuaku, terutama ibuku, pasti tahu tentang surat itu, karena ditujukan padanya.

Setelah membongkar seluruh isi rumah, termasuk barang-barang pribadi milik orang tuaku, sesuatu yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya, aku tak menemukan apa-apa. Kucoba mengingat-ingat nama teman-teman ibuku yang pernah kukenal. Tapi, rasanya, ia tak pernah menyebut nama Ana de Sousa. Aku berharap bisa menyelesaikan itu sendiri, tanpa harus melibatkan orang lain. Tetapi, kenyataannya tak bisa. Surat itu membuatku harus berhubungan dengan banyak orang.

Aku memperlihatkan surat dan puisi itu kepada Om Hendri, satu-satunya adik ayahku yang bekerja sebagai dosen fakultas sastra di sebuah universitas di Jakarta. Kebetulan hubungan kami dekat. Ia memberiku penjelasan setelah beberapa hari. 

Katanya, surat itu tidak memberikan petunjuk yang jelas, sehingga sulit untuk diteliti. Puisi itu bercerita tentang seseorang yang sudah memiliki kekasih, kemudian jatuh cinta lagi. Ia menjelaskan simbol-simbol kata yang aku tak mengerti. Ketika aku menanyakan kesamaan nama dalam surat itu, ia tak bisa membuat kesimpulan hanya berdasarkan nama.

“Jangan berpikir macam-macam,” katanya, sambil menepuk bahuku, saat mengantarku hingga depan ruangannya.

Aku pun mendapatkan jawaban yang sama, ketika bertanya kepada kakek dan nenek dari ayahku. Mereka mengatakan tidak mengenal Ana de Sousa, dan kesamaan nama dalam surat itu dengan namaku hanya sebuah kebetulan.

Aku mendesak mereka dan mengatakan bahwa bisa jadi aku adalah anak hasil hubungan gelap Ayah dengan wanita lain. Kakek marah, ia berkata bahwa sebagai satu-satunya anak dalam keluarga, aku tidak menghormati dan memercayai kedua orang tuaku.

“Meskipun kami tak menghadiri pernikahan orang tuamu di Dili dan tak melihatmu lahir, bukan berarti kami bisa memercayai pikiran burukmu itu,” katanya, dengan nada keras. Aku memang lahir di Dili. Saat itu, Ayah yang bekerja sebagai peneliti sedang bertugas di sana, sedangkan Ibu adalah perawat di rumah sakit Dili.

Awalnya aku akan menanyakan perihal surat Ana de Sousa itu melalui telepon. Tetapi, membicarakan persoalan ini rasanya tak cukup hanya melalui telepon. Aku lalu memutuskan datang ke Kota Lisbon, Portugal, tempat keluarga ibuku tinggal.

Tentu saja Nenek terkejut melihat kedatanganku yang tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Inilah untuk pertama kalinya aku datang seorang diri ke Lisbon. Biasanya, aku selalu datang bersama kedua orang tuaku. Sejak mereka meninggal setahun lalu, aku belum pernah mengunjunginya. Jarak dan pertemuan yang jarang, hanya setahun sekali, itu pun jika kami memiliki waktu libur yang sama, membuatku tak terlalu akrab dengan keluarga ibuku.

Awalnya keluarga ibuku tinggal di Dili, lalu mereka pindah ke Portugal. Kakek memang berasal dari Portugal dan meninggal beberapa tahun lalu. Di rumah ini Nenek tinggal bersama adik ibuku yang paling kecil, yaitu Tante Leslie dan suaminya, serta dua anak perempuannya yang sudah remaja. Sedangkan adik perempuan ibuku yang lainnya tinggal bersama suaminya yang juga orang Portugal, tak jauh dari Kota Lisbon. Satu adik lelakinya tinggal di Australia.

Aku menanti saat yang tepat untuk menyampaikan maksud kedatanganku. Agar tak terkesan bahwa aku mengunjungi mereka demi sebuah kepentingan, demi surat Ana de Sousa. 

Setelah makan malam, kuceritakan penemuan surat itu, sesantai mungkin, dan menganggapnya bukan hal yang penting. Kuperlihatkan surat itu kepada mereka, yang dibaca secara bergantian. 

”Nenek kenal dengan Ana de Sousa?” tanyaku. 

Nenek terdiam beberapa saat, seolah teringat sesuatu, lalu menggelengkan kepala. Tante Leslie yang menjawab. 

”Kalau tidak salah, Ana adalah teman ibumu saat bekerja di rumah sakit di Dili,” ucap Tante Leslie, setelah menyebut berulang–ulang nama Ana de Sousa.

Ketika kutanya tentang kesamaan nama anak dalam surat itu dengan namaku, Tante Leslie yakin tak ada hubungannya denganku. Aku meragukan jawabannya. Lalu kutanya apakah ia tahu saat ibuku mengandung dan melahirkanku.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dwi Ratnawati
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Ana de Sousa [1]"