Ana de Sousa [2] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ana de Sousa [2] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:06 Rating: 4,5

Ana de Sousa [2]

”Kami sudah berada di Portugal, ketika kau lahir. Sedangkan ibumu masih berada di Dili karena menunggu masa tugas ayahmu habis,” jawabnya setelah beberapa saat.

”Apakah Ibu pernah bercerita tentang sesuatu?” 

”Kami mengenal baik Ana de Sousa. Ia sahabat ibumu, dan sering berkunjung ke rumah, tetapi ibumu tidak pernah bercerita apa pun tentang Ana de Sousa,” jawab Tante Leslie, menegaskan.

Aku bertanya, apa lagi yang ia ketahui tentang Ana de Sousa. Pertanyaan yang berulang-ulang yang kuajukan hanyalah sebuah trik untuk membuat Tante Leslie mau bercerita. Ketika kutanya alamat Ana de Sousa di Dili, Tante Leslie menjawab tidak tahu. 

Tiba-tiba Nenek bangkit dari tempat duduknya, lalu berkata, ”Kau sebaiknya pindah ke sini, daripada di Jakarta seorang diri seperti itu, dan memikirkan yang tidak-tidak.”

Aku tak menyadari bahwa Nenek memperhatikanku sedari tadi. Ia tidak senang dengan caraku bertanya. Kemudian ia memarahiku dan mengatakan bahwa aku tak memercayai dan menghormati kedua orang tuaku. Aku diam, bahkan tak berani memandang wajahnya. Setelah itu, Nenek masuk ke kamarnya. Aku menyesal telah membuat acara makan malam itu menjadi tidak menyenangkan. 

Nenek kecewa ketika aku berpamitan pulang. Ia berpesan agar aku sering-sering mengunjunginya. Satu lagi pesannya atau lebih tepatnya ia memintaku berjanji untuk tidak pergi ke Dili, dan melupakan tentang surat itu.
Sebuah janji yang akhirnya tidak bisa kutepati.

Aku membongkar seluruh uang tabunganku dan memanfaatkan masa libur mengajar sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi untuk pergi ke Dili, Timor Leste, meski perasaan takut menderaku. 

Aku selalu punya kekhawatiran berlebih, untuk sesuatu yang belum terjadi. Semua itu lahir dari kebiasaan burukku yang selalu membayangkan sesuatu yang belum terjadi. 

Aku belum pernah pergi ke Dili, meski lahir di sana. Mungkin karena keluarga besar ibuku seluruhnya berada di Portugal. Berita keamanan di Dili sempat membuatku mengurungkan niat itu. Apalagi, setelah aku tak berhasil menghubungi beberapa teman kuliahku dulu yang berasal dari Timor Leste. Kuharap mereka bisa membantuku. Tetapi, sebagian besar sudah pulang ke Timor Leste. 

Beberapa teman pernah meledekku ketika menolak ikut berdemonstrasi, dengan mengatakan bahwa aku tak memiliki rasa nasionalisme, padahal aku lahir di Dili. Seorang teman bahkan mengatakan gen ayahku yang berasal dari Jakarta lebih dominan ketimbang ibuku yang berasal dari Timor Leste, sehingga aku tak punya perasaan memiliki terhadap Timor Leste. Entahlah, aku tak tahu.

Hari menjelang malam ketika sampai di Kota Dili. Hanya tinggal aku di angkutan umum ini. Sedangkan penumpang lain sudah turun. Aku memberi biaya tambahan kepada sopir angkutan umum untuk mengantarku ke hotel. Ternyata, hampir seluruh hotel penuh. Akhirnya, setelah beberapa kali keluar-masuk hotel, aku bisa mendapatkan kamar.

Pelayan hotel, bernama Julio, mengantarku ke kamar yang berada di lorong paling ujung. Sebuah kamar yang tidak terlalu luas, hampir seluruh dindingnya bercat putih, hanya kusen jendelanya yang berwarna cokelat tua. Kamar itu berisi sebuah tempat tidur berseprai putih, lemari kecil dari kayu tempat menyimpan pakaian, kipas angin menggantikan AC yang mati, sebagaimana dikatakan Julio saat mengantarku tadi, dan sepasang meja kursi sederhana, yang di depannya diletakkan cermin berbentuk persegi empat menempel di dinding. Kamar mandinya terdiri dari bak mandi dengan WC jongkok, tetapi cukup bersih dan terawat. 

Sebetulnya, kamar itu terlalu mahal untuk tarif 70 dolar AS per malam, yang bila dikurskan dalam rupiah mencapai Rp700.000-an. Di Jakarta, tarif ini setara kamar standar hotel berbintang empat. Tapi, apa boleh buat? Biaya hidup di sini memang tinggi. Apalagi, hotel hanya menerima pembayaran dengan mata uang dolar AS.

Sebelum pergi, aku sudah menyiapkan sejumlah dolar dan rupiah. Saat memberi tiket beberapa hari lalu, petugas yang sepertinya telah pengalaman pergi ke sana memberitahuku agar menyiapkan uang dolar, selain rupiah. Dolar untuk transaksi di hotel dan restoran, sedangkan rupiah untuk transaksi kecil. 

Perutku mulai terasa keroncongan menahan lapar sejak siang tadi. Setelah mandi, berganti pakaian, aku pergi ke restoran yang tak jauh dari hotel ini. Suasana restoran yang ternyata juga merupakan tempat karaoke itu terlihat remang–remang, dengan lampu yang seolah dibiarkan seperti itu. Aku mencari tempat duduk di pojok, kemudian memesan makanan. Restoran itu menyediakan masakan Indonesia, Cina, Portugis, dan Timor Leste. 

Pelayan menawari makanan khas Timor Leste. Sepertinya ia tahu, bahwa aku bukan orang sini. Ia menyebut beberapa menu yang asing di telingaku, sambil menjelaskan jenis makanan tersebut.

Tiba–tiba aku teringat ibuku yang selalu mengkritik caraku memilih makanan saat sedang berkunjung ke suatu daerah. Katanya, jika kita sedang berada di daerah lain, cobalah makanan khas mereka.

Tetapi, seperti biasa, aku mencari makanan yang paling aman dan sudah familiar, yaitu nasi goreng dan jus jeruk. Meskipun, pelayan restoran itu merayuku, dengan gayanya yang memikat dan menggugah selera makan, layaknya seorang ahli kuliner.
Tak jauh dari mejaku, beberapa orang asing duduk sambil ditemani para wanita setempat yang berpakaian seksi. Mereka sepertinya berpasang–pasangan. Sesekali pria-pria asing itu merangkul dan mencium pasangannya, yang disambut senyum manja. Derai tawa mereka membuat suasana restoran menjadi ramai, ditambah pula dengan musik karaoke mengalun keras.

Saat sedang menikmati makanan, tiba–tiba seorang pria setengah baya berpenampilan terlalu rapi dengan sikap yang diramah-ramahkan menghampiriku. Ia memperkenalkan diri bernama Edi, mengaku sebagai pemilik restoran. Dari logat bicaranya, ia seperti berasal dari Jawa.

Ia bertanya tentang restorannya, bagaimana rasa makanannya, bagaimana pelayanannya, apakah ada yang kurang dari restoran ini. Dalam hati aku memuji caranya melayani konsumen. 

Lalu kujawab masakannya enak, bumbunya pas. Pelayanannya pun cepat, karena memang demikian adanya, meski aku sedikit terganggu dengan suasananya. Ia tersenyum, puas dengan jawabanku, dan mengatakan sengaja membawa koki–koki terbaik dari Indonesia.
Setelah itu, ia duduk di kursi depan mejaku. Seolah hendak membicarakan sesuatu yang serius.

”Beberapa restoran dan bar saat ini sedang membutuhkan waiter, apalagi sebentar lagi akan dibuka panti pijat. Bayarannya pun dolar,” katanya, dengan penuh semangat.

Lalu ia bercerita tentang pundi–pundi dolar yang diraup selama membuka usaha di sini. Setengah memaksa ia meminta nomor teleponku dan tempatku tinggal. Dengan halus aku menolak dan mengatakan bahwa aku akan mempertimbangkan tawarannya.

Para wanita yang tengah bersama orang asing itu melirikku, mereka saling berbisik. Aku menyelesaikan makanku dengan tergesa–gesa, kemudian bergegas meninggalkan restoran itu dan kembali ke hotel. 

Aku merasa sangat lelah, setelah melakukan perjalanan seharian tadi. Tetapi ternyata, rasa lelah tak membuat mataku mengantuk. Akhirnya aku duduk di sisi jendela, yang sengaja kubuka. Suara ketukan sepatu berhak tinggi dan suara-suara tawa melewati lorong kamar. Wajah–wajah wanita dengan mata menyudut, berkulit terang dan berambut berjalan berpasang–pasangan. Suara-suara itu menghilang seiring dengan bunyi pintu kamar yang dibanting.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dwi Ratnawati

[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Ana de Sousa [2]"