Ana de Sousa [3] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ana de Sousa [3] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:09 Rating: 4,5

Ana de Sousa [3]

Beberapa jam kemudian, pintu kamar di seberang kamarku terbuka. Sepasang pria dan wanita keluar dari kamar itu. Mereka berciuman, lalu berpelukan. Ketika merasa seseorang tengah mengamati, keduanya melepaskan pelukan sambil tertawa. Lalu masing–masing berjalan dengan arah  berbeda, tanpa menengok lagi. Si wanita berjalan melewati lorong kamar, sedangkan si pria kembali ke kamar.

Konon, jika dua orang berpisah, berjalan dengan arah masing–masing, tanpa menengok lagi, berarti keduanya sudah melupakan apa yang pernah terjadi. Si pria mungkin akan mencari wanita lain, demikian pula halnya dengan si wanita.

Aku duduk hingga menjelang pagi, sebuah kebiasaan yang hadir belakangan ini. Aku bisa merasakan perjalanan malam yang merambat pelan dan bagaimana langit kemudian perlahan–lahan berubah. Tak banyak yang kulakukan, selain duduk seperti ini, memandang langit atau memperhatikan hal–hal kecil di sekelilingku.

Satu–satunya petunjuk yang kumiliki adalah bahwa Ana de Sousa pernah bekerja di rumah sakit Dili. Ia pasti seorang perawat seperti ibuku. Aku tidak tahu apakah dengan petunjuk seminim itu aku bisa menemukannya. Tetapi, aku yakin, ketika kita mulai melangkah, maka pintu–pintu kesempatan akan terbuka menyambut kita. 

Kini, aku sudah berada di sini, maka kesempatan menemukan ibuku tak sejauh seperti ketika aku masih berada di Jakarta. Layaknya seribu langkah yang harus ditempuh, aku telah memulainya dengan satu langkah.

Aku menyetop taksi yang melintas di depan hotel. Taksi di sini adalah sebuah mobil Cevrolet tua berwarna hitam. Aku seperti tengah berada di luar negeri saat melihat banyaknya orang asing. baik tentara maupun sipil, dan kendaraan–kendaraan mewah yang berlalu-lalang di jalanan kota. Sementara pengemis yang sebagian besar anak–anak, berkeliaran menengadahkan tangannya kepada orang asing yang melintas. Sambil meneriakkan, ”Hello, Mister... rupiah, Miss....” Beberapa ada yang menjajakan koran.

Tak lama kemudian, aku sampai di rumah sakit Dili dan langsung masuk, menuju sebuah meja penerima tamu. Seorang wanita muda, bernama Venesa, menyapaku ramah dan menanyakan apa yang bisa ia bantu. Aku lega melihat sikapnya yang ramah. 

Aku memperkenalkan diri dan mengatakan padanya bahwa aku sedang mencari seorang perawat bernama Ana de Sousa, yang berusia sekitar 50-an tahun. Merujuk tahun kelahiran ibuku, yaitu tahun 1957, usia Ana pasti tidak jauh berbeda dari usia ibuku. Ia mengulang-ulang nama itu, sambil membuka sebuah map. Meneliti satu per satu nama yang tertera di dalam map itu.

”Maaf, saya tidak menemukan nama Ana de Sousa. Sekalipun ada nama Ana, nama belakangnya bukan Ana de Sousa, dan umurnya pun dua puluh lima tahun,” katanya, setelah selesai meneliti.

Aku berpikir beberapa saat, mungkin Ana memang pernah bekerja di sini, tetapi kini sudah tidak lagi. Aku teringat tahun ibuku bekerja, yang kubaca di biodatanya, yaitu tahun 1976, dan pindah ke Jakarta pada tahun 1978. Perkiraanku, Ana de Sousa pasti bekerja pada tahun yang sama dengan ibuku.

”Katanya ia pernah bekerja di sini sekitar tahun 1976,” kataku, mengira–ngira.

Ia terkejut mendengar penjelasanku, kemudian berpikir beberapa saat. ”Di sini ada seorang perawat yang sudah lama bekerja, mungkin ia mengenal orang yang kau cari,” katanya.

Aku langsung setuju saat ia menawarkan diri untuk mengantarnya ke ruangan perawat itu.

Venesa memperkenalkanku pada seorang wanita, hampir seusia dengan ibuku, bernama Beatrice. Sebelumnya ia mengingatkan bahwa Suster Beatrice senang bercerita, terkadang sampai lupa waktu. Setelah itu Venesa berpamitan karena harus bekerja. Aku mengucapkan terima kasih atas bantuannya. 

Aku menyampaikan maksud kedatanganku sama seperti kepada Venesa tadi dan menjelaskan tahun perkiraan Ana bekerja. Ia mencopot kacamatanya dan mencoba mengingat sesuatu. Kemudian mengulang–ulang nama itu. 

”Tahun 1976,” ucapnya, meyakinkanku. 

Aku menjawab dengan anggukan kepala. 

”Berarti setahun setelah tentara Indonesia datang,” katanya.

Ia bercerita, suatu malam di bulan Desember tahun 1975, ia melihat sebuah benda mirip helikopter beterbangan di udara, suaranya sangat bising. Bersamaan dengan itu, benda–benda berjatuhan dari helikopter dan melayang di udara. Esoknya, banyak tentara di Kota Dili.

”Mirip dengan keadaan sekarang. Kalau dulu tentaranya berkulit cokelat, kini berkulit putih,” katanya, sambil tersenyum.

Apa yang dikatakan Venesa tentang Suster Beatrice benar. Aku kesulitan mencari celah untuk memotong pembicaraannya. Dengan menanyakan tahun berapa ia bekerja di rumah sakit ini, lalu mencoba menyangkut-pautkan dengan Ana. Aku lega saat ia mulai mengalihkan ceritanya.

”Memang pernah ada perawat bernama Ana, tetapi dua orang dan aku tidak ingat nama belakangnya. Sekarang keduanya sudah tidak bekerja di sini lagi,” katanya. 

Kemudian aku bertanya apakah ia memiliki alamat keduanya. Mungkin, di antara kedua nama itu adalah nama Ana yang aku cari. Ia menelepon seseorang, kemudian berbicara dalam bahasa Tetun, bahasa setempat.

”Kembalilah besok,” katanya, sambil menutup telepon

Setelah mengucapkan terima kasih dan berjanji akan kembali esok, aku meninggalkan rumah sakit itu dan kembali ke hotel. 

Pagi–pagi sekali, aku sudah berada di rumah sakit Dili. Suster Beatrice bahkan belum tiba di ruangannya.

”Sudah lama menunggu?” tanya Suster Beatrice. 

Suaranya mengagetkanku. Aku segera berdiri. Ia memberiku isyarat agar masuk ke ruangannya. Aku mengikutinya. Kami duduk berhadapan di depan meja kerjanya. Ia mengeluarkan selembar kertas dari tasnya, lalu menyerahkannya padaku. Di kertas itu tertera dua alamat yang ditulis dengan nama Ana satu dan dan Ana dua menggunakan angka Romawi. Setelah mengucapkan terima kasih padanya, aku bergegas meninggalkan rumah sakit Dili.

Aku meminta kepada sopir yang mengantarku tadi untuk mencari alamat Ana yang pertama.

Di beberapa sudut jalan yang aku lewati, beberapa bangunan rusak dan hancur karena terbakar, dibiarkan begitu saja. Suasananya terlihat cukup menyeramkan. Tak lama kemudian, di sebuah rumah, taksi yang kutumpangi berhenti, lalu memberitahukan bahwa ini adalah rumah Ana yang pertama. 

Seorang wanita setengah baya keluar, saat aku mengetuk pintu rumahnya. Ia menatapku curiga dan tak mempersilakanku masuk. Aku mencoba tetap bersikap ramah, dan mengatakan padanya, bahwa aku mencari Ana de Sousa.

”Betul, nama saya Ana. Ana da Costa,” katanya, dengan nada agak ketus. 

Aku bertanya lagi, apakah ia pernah bekerja di rumah sakit Dili dan mengenal Ana de Sousa. 

”Saya memang pernah bekerja di rumah sakit Dili, tetapi tidak kenal dengan orang yang kau cari,” katanya, masih dengan nada ketus.

Ia menutup pintu rumahnya, kemudian menguncinya dari dalam. Aku meninggalkan rumah itu, dan berharap pada Ana yang kedua. Tak lama kemudian, kami tiba di sebuah rumah, yang cukup jauh dari jalan raya. Sopir taksi memberitahukan bahwa ini rumah Ana yang kedua.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dwi Ratnawati


[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Ana de Sousa [3]"