Ana de Sousa [4] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ana de Sousa [4] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:10 Rating: 4,5

Ana de Sousa [4]

Rumah itu sepi, tak ada penghuni. Aku mengintip ke jendela kaca yang ujungnya tidak tertutup tirai. Aku melihat ruang tamu lengkap dengan meja dan kursi tamu. Untuk sementara aku merasa lega, berarti rumah ini ada penghuninya. 

Aku mencoba membuka pintunya, ternyata dikunci. Akhirnya aku hanya bisa mengintip keadaan rumah itu. Beberapa orang yang tinggal di sekitar rumah itu, datang menghampiri. 

Ketika aku bertanya tentang Ana de Sousa, mereka menjelaskan bahwa keluarga Ana de Sousa memang pernah tinggal di sini, tetapi sudah lama sekali mereka pindah, dan tak diketahui ke mana pindahnya. Kemudian rumah ini dijual. Oleh pemilik baru, sempat disewakan kepada orang asing, sekarang sudah tidak lagi. Mereka tak mengenal pemilik baru, karena jarang datang.

Esoknya aku kembali ke rumah itu, berharap pemilik rumah baru datang. Aku menemukan pemandangan yang sama seperti kemarin. Rumah itu tetap sepi tanpa penghuni. Beberapa orang yang melihatku dan menyapaku kemarin, kini mulai bersikap curiga. Merasa tak nyaman, akhirnya aku meninggalkan rumah itu. 

Seperti orang yang tersesat, aku menyusuri Kota Dili yang panas dan berdebu, tanpa tujuan. Sesekali aku bertanya pada orang yang kujumpai. Beberapa ada yang kembali bertanya Ana yang mana? Tinggal di mana? Siapa nama ayahnya? Ada pula yang langsung menjawab ’tidak tahu’.

Seorang anak kecil berbaju kumal menengadahkan tangannya padaku. Aku memberinya selembar uang seribu rupiah.

”Dolar Indonesia!” teriaknya 

Mungkin maksudnya uang rupiah, aku tersenyum geli. Sesaat setelah ia pergi, serombongan anak datang menghampiriku, sambil menengadahkan tangannya padaku, membuatku kerepotan. Seorang anak laki–laki usia remaja datang dan mengusir anak–anak itu. Aku mengucapkan terima kasih padanya. Lalu meneruskan langkahku. 

”Kakak mencari Ana de Sousakah?” tanyanya.

Aku menghentikan langkahku. Ia menghampiriku. 

”Saya punya informasi penting tentang orang yang Kakak cari,” katanya. 

Ia membawaku ke sebuah restoran, memesan beberapa jenis makanan, lalu makan dengan lahap, seolah tak makan beberapa hari. Ia bertanya mengapa aku tidak makan, aku menjawab sudah kenyang. Dengan sabar aku menunggunya menyelesaikan makan. Setelah selesai makan, tanpa rasa sungkan ia memintaku membayar makanannya. Dan, seperti kerbau dicocok hidungnya, aku menuruti permintaannya.

”Informasi apa yang kau punya?” tanyaku, mulai tak sabar.

“Tentu tidak bisa gratis begitu saja,” lanjutnya lagi.

Aku memberinya beberapa lembar uang dolar, yang langsung ia hitung dengan wajah setengah mengejek, kemudian menengadahkan tangannya. Aku memberinya beberapa lembar lagi. Ia mengambil dengan cepat, tanpa menghitung. Setelah itu, meminta nomor ponselku. Aku mencatatnya pada secuil kertas dan memberikan padanya. Ketika aku balik meminta nomor ponselnya, ia mengatakan tak punya ponsel.

”Tunggulah beberapa hari,” katanya. 

”Bagaimana aku bisa menghubungimu,” kataku setengah berteriak, kesal karena ia mempermainkanku.

”Sabarlah, Kakak, aku pasti menghubungimu,” katanya, sambil berlari meninggalkanku sendiri.

Aku menarik napas dalam–dalam, lalu mengembuskannya perlahan, berulang kali, menahan rasa kesal. Dalam hati aku menyesal mengapa begitu mudah mempercayai anak itu, bahkan namanya pun aku tak tahu.
Seharian aku menunggu kabar, tapi hingga keesokan harinya, ia tak juga memberi kabar. Aku sampai pada kesimpulan, bahwa ia menipuku. Baru pada malam harinya, ia mengirim pesan yang berisi sebuah alamat entah melalui ponsel siapa. Sebab, ketika kuhubungi, ponsel itu mati. Kusalin alamat itu pada secarik kertas.

Setelah berkeliling menggunakan taksi selama hampir tiga jam lebih, aku tak menemukan rumah yang tertera dalam alamat itu. Meski menemukan nama jalannya, nomor rumahnya tidak dikenal. Beberapa orang yang kutanyai mengatakan tak ada nomor rumah yang aku maksudkan.

Aku mencoba berpikir positif, mungkin ia salah menuliskan nomor rumah. Akhirnya, aku mengetuk hampir semua pintu rumah yang kulalui sepanjang jalan. Tetapi, semua mengatakan tidak mengenal Ana de Sousa, bahkan beberapa di antaranya tidak mau membukakan pintu, seolah ketakukan. 

Sopir taksi mengingatkanku bahwa hari sudah mulai gelap, tetapi aku memaksanya untuk terus menelusuri jalan di daerah itu. Untuk itu, aku berjanji akan membayarnya lebih. Ternyata, makin lama makin jarang ada rumah. Jarak antara satu rumah dengan rumah lain berjauhan. Beberapa di antaranya bahkan sudah tinggal puing-puing, sekalipun ada, sudah ditinggalkan penghuninya.

Di persimpangan jalan, tiba–tiba dua orang pria menghentikan taksiku. Salah seorang mengancam sopir taksi itu dengan sepucuk pistol dan menyeretnya keluar. Sopir taksi mengeluarkan dompetnya, yang langsung direbut. Sambil menodongkan senjata, ia menyuruh sopir taksi itu pergi. Aku bertambah lemas, ketika sopir taksi itu benar-benar ngacir.

Sedangkan yang seorang lagi membuka paksa pintu taksi, memaksaku keluar. Setelah berhasil, ia mendorongku dengan keras hingga aku terjatuh, lalu mengambil paksa tas selempangku. Aku mencoba menahannya, tetapi ia makin beringas. Sekelebat pisau melayang mengenai bahu dan lenganku. Aku mendekap tasku. Darah mulai mengucur di bajuku, bersama rasa perih di bahu dan lenganku.

Aku berteriak minta tolong. Meski hanya sebuah usaha sia–sia. Jalanan itu begitu sepi, tak ada orang yang melintas. Satu orang berhasil mengambil tasku. Tubuhku terasa lemas, tas itu berisi sejumlah uang, ponsel, kartu ATM, paspor, KTP, dan yang paling berharga adalah surat Ana de Sousa.

Tiba–tiba terdengar suara tembakan dari kejauhan. Dua orang itu lari dan melempar tas yang tadi diambilnya. Setelah itu, aku tak ingat lagi.

Ketika tersadar, aku menemukan diriku terbaring di sebuah dipan yang mirip bangku panjang. Perlahan aku mencoba menatap sekelilingku. Seperti sebuah gubuk, dengan atap rumbia diterangi lampu dari minyak tanah yang terbuat dari kaleng susu bekas. Di luar sepertinya gelap gulita, dan sunyi, hanya suara–suara binatang malam yang terdengar. 

Aku merasakan sakit yang amat sangat pada bahu dan lenganku yang tenyata sudah dibungkus dengan kain seadanya. Dengan susah payah, aku mencoba bangun. Saat mendapati baju yang kukenakan tadi telah berganti dengan kaus berwarna hitam, aku terkejut. Baju yang kukenakan rupanya dijadikan bantal kepalaku. Seseorang telah mengobati dan mengganti bajuku. Aku mulai berpikir yang tidak–tidak.

Aku mencoba mengingat apa yang telah terjadi denganku dan teringat akan tasku yang tak ada di dekatku. Dengan tertatih–tatih, aku berjalan menuju pintu. Seseorang menyambutku di pintu, saat aku hampir terjatuh.
”Kau mau ke mana? Hari sudah malam,” katanya, sambil memapahku kembali ke tempatku semula.

”Aku mencari tasku,” kataku, sambil menahan sakit.

“Mencari ini?” tanyanya, sambil melemparkan tas ke pangkuanku.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dwi Ratnawati
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 


0 Response to "Ana de Sousa [4]"