Ana de Sousa [5] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ana de Sousa [5] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:11 Rating: 4,5

Ana de Sousa [5]

Tergesa–gesa aku memeriksa tas dan merasa lega setelah tak ada barang yang hilang atau berkurang, termasuk surat dan puisi Ana. Susana yang remang–remang membuatku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Seandainya orang jahat, tentu ia tidak akan menolongku. Ia bisa saja mengambil tasku, dan meninggalkanku di jalan.

”Kau yang mengganti bajuku?”  tanyaku, dengan perasaan takut.

”Aku tak sejahat yang kau pikirkan. Kau dalam keadaan pingsan ketika kubawa dan bahumu terluka,” katanya, seolah tahu apa yang sedang kupikirkan.

Setelah itu ia berjalan menuju pintu.

”Hai,” panggilku. Ia menghentikan langkahnya.

”Aku bahkan tidak tahu namamu.”

”Mario,” jawabnya singkat. 

”Terima kasih kau telah menolongku,” kataku, sambil tersenyum.

Ia tak menjawab, lalu berjalan menuju pintu dan menutupnya dari luar.

Aku terbangun ketika hari sudah pagi. Kondisiku sedikit lebih baik dari semalam dan sakitku mulai berkurang. Aku melangkah keluar. Mario sedang berdiri bersama beberapa orang. Mereka sedang memperbincangkan sesuatu.

Aku bisa melihat wajah Mario dengan jelas. Wajah yang muram dan dingin, kedua pipinya dipenuhi cambang. Kulitnya gelap dengan rambut ikal. Ia mengenakan celana loreng dengan kaus berwarna hitam dan sepatu boot warna hitam. Penampilannya mirip tentara.

Aku menatap sekeliling yang rimbun oleh pepohonan tinggi. Sinar matahari masuk di antara sela–sela rimbun pepohonan.

”Bagaimana kondisimu?”

”Sedikit lebih baik, terima kasih kau telah mengobati lukaku.”

”Dalam beberapa hari saja lukamu sudah akan kering.”

Orang–orang yang tadi bersamanya meninggalkan kami berdua. Aku melihat mereka menenteng senjata laras panjang. 

”Tempat apa ini?” tanyaku, sambil menatap sekeliling, sepertinya aku berada sangat jauh.

”Sedikit di luar kota.”

”Aku mengira kau seorang wartawan, tetapi aku tak menemukan kartu pers di tasmu. Apa sebetulnya yang kau lakukan di tempat seperti ini?” 

”Aku sedang mencari seseorang.”

“Seorang wanita muda, datang jauh–jauh dari Jakarta, seorang diri dan menantang bahaya demi mencari seseorang di tempat ini,” katanya.

“Seorang remaja memberiku alamat, yang akhirnya membawaku ke sini,” kataku.

“Ia meminta uang?”

Aku menjawab dengan anggukan kepala. 

”Kau sadar telah dia tipu? Tetapi, kau harus memakluminya. Terkadang keadaan memaksa seseorang melakukan hal yang bisa dilakukan hanya untuk menyelamatkan hidup mereka. Pemuda–pemuda tanpa pekerjaan dan masa depan,” desahnya. Wajahnya terlihat risau. Matanya menatap jauh ke arah rerimbunan pohon.

”Dia pasti seseorang yang sangat spesial untukmu. Jika tidak, mana mungkin kau mencarinya sampai sejauh ini,” katanya, sinis.

”Aku bahkan tidak tahu siapa dia sesungguhnya,” kataku. 

Ia makin terheran dengan jawabanku. Lalu aku bercerita tentang Ana de Sousa, secara detail dan perjalananku mencarinya. Tetapi, aku tidak memperlihatkan surat Ana kepadanya.

”Kau terlalu nekat, Nona, mencari seseorang dengan informasi tak lengkap ke daerah seperti ini pula. Aku belum pernah melihat orang senekat ini. Perlu kau ketahui, Nona. Di sini kehilangan orang yang kita kasihi adalah hal biasa, bahkan ada anak yang dilahirkan tanpa diketahui siapa ayahnya. Anak kehilangan orang tuanya. Orang tua kehilangan anak–anak yang mereka besarkan. Di sini itu semua hanyalah cerita sehari–hari. Cerita yang tak dibesar–besarkan. Kau hanya buang–buang waktu. Beruntunglah, karena kami menemukanmu. Jika tidak, mungkin namamu pun tak akan tercatat di koran,” katanya, menegaskan. 

Aku terdiam mendengar ucapannya. 

”Temanku akan mengantarmu pulang, tetapi kau tak boleh bercerita pada siapa pun bahwa kau telah bertemu denganku dan kau tidak boleh memberitahukan tentang tempat ini,” katanya memperingatkanku, setengah mengancam.

Dengan takut aku mengangguk dan tak berani berkata lagi.
Jalanan yang kulalui sangat terjal dan menurun, terkadang curam, melewati perbukitan. Aku harus berjalan perlahan mengikutinya. Sesekali Mario harus memegangi tanganku. Aku tidak tahu bagaimana ia membawaku kemarin. Setelah hampir satu jam, aku tiba di sebuah jalan yang menghubungkan dengan jalan beraspal. Aku ingat persimpangan jalan itu.

”Aku menemukanmu di sana,” katanya, menunjuk persimpangan jalan.

Beberapa orang menghampiri Mario. Mereka menjauh dariku, lalu berbicara cukup lama. Setelah itu, Mario menghampiriku.

”Terima kasih sudah menolongku,” kataku, sebelum berpisah. 

”Pulanglah. Aku tak mau melihatmu ada di sini lagi,” katanya, dengan suara tegas mirip perintah.

Aku bergegas naik ke motor, temannya sudah siap di motor untuk mengantarku. Aku tak berani menengok lagi. Ia mengantarku sampai hotel.

Aku membuka buku catatan perjalanan, yang kutulis pada sebuah buku yang mirip buku harian, lengkap dengan waktu, tempat, serta orang–orang yang kujumpai. Aku mencatatkan peristiwa itu, tetapi tidak menuliskan nama Mario, melainkan menulis namanya dengan menyebut seorang pria. Siapa sesungguhnya pria itu? Beragam dugaan memenuhi benakku. 

Esoknya, aku memeriksakan lengan dan bahuku, walaupun luka itu sudah mulai mengering. Dokter yang memeriksa mengatakan bahwa lukaku tidak berbahaya. Ia membersihkan luka itu dan mengganti kain yang membungkus dengan perban. Ternyata, tusukan itu menyisakan segaris coretan cukup panjang di lenganku. Dokter menanyakan penyebab luka itu, aku menjawab bahwa aku terjatuh. Dokter itu menatapku heran, seolah tak percaya. 

”Bagaimana bisa terjatuh dengan luka separah ini,” katanya.

”Aku berada di dekat pagar besi saat terjatuh,” kataku, sambil berpura–pura memperagakan bagaimana ujung besi bisa mengenai bahu dan lenganku.

Saat ia berhenti bertanya, aku merasa lega. Setelah peristiwa itu, aku memang mengalami trauma dan merasa takut bila berjalan seorang diri dan merasa seseorang membuntuti. Bahkan, saat sedang berada di kamar hotel, saat mendengar langkah orang yang berjalan, jantungku berdegup cepat.

Surat Ana de Sousa telah menyedot seluruh perhatian hidupku. Bahkan, aku sampai lupa mengurus beasiswa S-2 yang kudapat dengan susah payah. 

Aku baru ingat, ketika staf dari departemen tempatku mendapatkan beasiswa menghubungiku. Dia mengatakan, pihaknya terpaksa mencoretku dari daftar penerima beasiswa, jika sampai batas waktu yang ditentukan aku tak kunjung datang dan menyerahkan berkas persyaratan.

Hampir satu minggu berada di Kota Dili. Tetapi, aku belum menemukan petunjuk apa pun tentang Ana de Sousa, selain peristiwa–peristiwa yang menegangkan dan tak terpikirkan akan kualami. 

Aku tidak menyangka bahwa pencarian Ana de Sousa akan menjadi sepanjang ini. Awalnya aku menduga akan berada di sini tak lebih dari tiga hari. Sepertinya aku akan lebih lama lagi berada di sini, karena aku benar-benar bertekad untuk melanjutkan pencarianku dan mengabaikan beasiswa itu. Keinginan terkadang membuat kita mengabaikan akal sehat. 

Kini, aku mencoba dengan cara lain.

Aku mendatangi kantor polisi dan membuat laporan kehilangan pada polisi setempat. Sebelum polisi yang melayaniku bertanya tentang hal yang lain terkait Ana, aku menjelaskan padanya bahwa aku tidak memiliki informasi lain selain Ana pernah bekerja di Rumah Sakit Dili dan sudah mencarinya ke sana, tetapi tak menemukan. Meski ragu karena informasi yang kusampaikan tidak lengkap, ia berjanji akan membantuku. 

Tak jauh dari kantor polisi, kulihat sebuah pertemuan yang diada¬kan oleh sebuah organisasi wanita, dalam rangka mendengarkan kesaksian para wanita korban kekerasan perang.

Aku masuk ke ruang pertemuan dan berlaku layaknya seorang wartawan. Di sela–sela acara, aku berbincang dengan para peserta, sambil menyelipkan perbincangan bahwa aku sedang mencari seorang wanita bernama Ana de Sousa, kemudian memberikan nomor ponselku.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dwi Ratnawati


[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Ana de Sousa [5]"