Ana de Sousa [6] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ana de Sousa [6] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:13 Rating: 4,5

Ana de Sousa [6]

Seorang peserta memberikan kesaksian tentang kekerasan dan pelecehan yang ia alami. Suaranya bergetar dan matanya berkaca-kaca. Ia menguatkan dirinya untuk terus bercerita. Ibarat sebuah buku kesaksiannya seperti membuka lembaran–lembaran buku itu. Tiba–tiba ia jatuh pingsan. 

Aku membantu menggotongnya dengan beberapa orang keluar ruangan. Sepertinya ia sangat tertekan. Beberapa saat kemudian ia siuman. Ia berbisik pada seorang wanita seusiaku yang tadi ikut menggotongnya. Wanita itu menghampiriku, menanyakan siapa namaku dan berapa umurku.

”Ia teringat anaknya. Kau mirip dengan anaknya yang hilang,” katanya. 

”Berapa umur anaknya?” tanyaku. 

Aku berharap menemukan kesamaan, sebuah harapan yang sering kali muncul, saat aku bertanya tentang Ana de Sousa.

”Ketika itu anaknya berusia lima belas tahun, mungkin sekarang sekitar empat puluh tahun,” jawabnya, sambil memandangku.

Wanita yang tadi pingsan meminta izin untuk memelukku. Aku mendekat dan membiarkannya memelukku. Aku membayangkan, bila bertemu dengan Ana nanti, apakah ia akan memelukku seperti ini? Setelah itu, aku meninggalkan ruangan dan tak kembali ke ruang pertemuan.

Esoknya, aku mendatangi kantor harian lokal untuk memasang iklan berita kehilangan dan mencantumkan nomor ponselku.

Saat keluar dari kantor harian lokal itu, jalanan terlihat sangat ramai oleh penduduk lokal yang berkumpul di hampir setiap sudut jalan. Aku tidak tahu bagaimana awalnya, ketika dalam beberapa menit ratusan orang berjalan dengan langkah cepat dan tergesa–gesa, seolah tengah dikejar sesuatu. 

Aku terjebak di antara kerumunan massa yang tanpa komando berlarian ke tengah jalan, sambil melempari polisi yang hendak menghalau mereka. Sebagian menjarah toko–toko di sisi jalan. 

Api dan asap berkejaran di antara toko dan kendaraan milik pemerintah dan turut dibakar. Seiring dengan itu, suara letusan bersahutan. Orang berlarian, menyelamatkan diri. Beberapa orang terkapar di jalan. Badanku bergetar menahan takut dan lututku terasa lemas, hingga tak sanggup berjalan. Aku bersembunyi cukup lama di belakang sebuah toko yang dijarah massa.

Sayup–sayup aku mendengar suara seseorang meringis menahan sakit. Aku menghampiri arah suara itu dan menemukan seorang pria tergeletak dengan darah mengucur di pahanya. Saat melihatku, ia mengarahkan senjata laras panjangnya. Setengah ketakutan aku mengangkat kedua tanganku. Aku melirik menatap wajahnya dan mengingatkanku pada seseorang.

”Mario,” kataku, setelah yakin itu adalah dirinya.

Ia menurunkan senjatanya, aku menghampirinya dan tanpa diperintah membantunya bangun. Lalu memapahnya menjauh dari tempat itu. Ia menunjuk jalanan yang harus dilewati. Suasana makin ramai dan letusan makin sering terdengar. Mario menolak, ketika aku akan mengantarnya ke rumah sakit. Akhirnya, aku membawanya ke hotel tempatku menginap, dengan menyetop angkutan umum yang kebetulan lewat.

”Carilah jalan, agar tidak terlihat banyak orang,” pesannya ketika sampai di depan hotel.

Aku memapahnya melewati jalan samping. Sesampainya di kamar, aku membaringkannya di tempat tidur. Ia meringis menahan sakit, tetapi tetap menggenggam senjata laras panjangnya.

Ia memberi instruksi dengan terbata–bata agar aku mencari minuman beralkohol. Aku menuruti perintahnya. Bergegas pergi ke restoran tempatku makan dulu, aku berharap tidak bertemu dengan Edi, si pemilik restoran. 
Pelayan restoran menyebut beberapa jenis minuman beralkohol yang aku tidak mengerti semuanya. Aku menjawab apa saja. Ia terlihat heran dengan jawabanku, kemudian memberi sebotol minuman yang aku tidak tahu jenisnya.

Saat aku kembali ke kamar, Mario sedang membakar ujung pisau belati dengan korek api gas miliknya. Setelah menenggak minuman yang tadi kubawa, ia menggigit ujung bantal. Matanya terpejam, saat ujung belati menyentuh pahanya, perlahan–lahan makin dalam, seperti mencongkel kerikil dari tanah liat. Benda itu jatuh. Ia meminta aku memungut benda itu, kemudian memberikan padanya. Ia memandang benda itu, melepas gigitan bantal di mulutnya, kemudian tersenyum. 

Setelah itu, ia kembali mengigit bantal. Matanya terpejam dalam dan urat–urat di lehernya tampak menonjol, saat minuman alkohol membasahi luka bekas congkelan peluru. Sumpalan di mulutnya tak mampu menahan teriakannya. Aku mendengar erangannya, melukiskan rasa sakit yang mendera.
Ia tersenyum sambil mengusap keringat yang menetes di wajahnya, dengan tangannya.

”Aku melakukannya pertama kali ketika tangan kiriku tertembak dalam peristiwa Santa Cruz, dan kini aku sudah terbiasa,” katanya, sambil memperlihatkan bekas luka di tangan kirinya.

Ia memintaku untuk membungkus pahanya dengan kaus yang tadi dipakainya. Setelah itu, aku memberinya kaus yang pernah kupakai ketika itu. Mario tersenyum, kemudian memakainya.

Melihat sikapnya yang sudah tenang, aku memberanikan diri bertanya tentang dirinya. Mengapa ia bisa tertembak, dan apa sesungguhnya yang ia lakukan selama ini.

”Apakah ini penting untukmu, Nona? Siapa diriku bukan sesuatu yang penting untukmu,” ia menjawab sendiri pertanyaannya. 

Sepertinya ia tak senang aku mengorek–ngorek kehidupan pribadinya. Aku tak berani bertanya lagi.  

”Kukira setelah kejadian itu kau sudah terbang ke Jakarta. Tetapi, dugaanku salah. Kau benar–benar wanita nekat dan keras kepala. Aku tidak suka melihatmu berlama–lama di sini. Aku menyesal mengapa tak  membiarkanmu tergeletak ketika itu.”

”Kau menyesal rupanya telah menolongku, aku tidak pernah memintamu untuk menolongku,”  kataku, penuh emosi. 

”Aku akan membantumu. Tetapi, kau harus berjanji, setelah menemukan orang yang kau cari, kau akan segera ke Jakarta.”

”Aku tak perlu bantuanmu, aku bisa mencarinya sendiri. Kau jangan mengaturku,” ucapku, ketus.

Ia terdiam mengatur napas.

”Aku terkejut saat melihatmu,” katanya, dengan suara lirih.

Sikapnya terlihat melunak.

”Kau mengingatkanku pada seseorang yang luput kujaga. Ia sama sepertimu, nekat dan keras kepala. Hari itu, tak biasanya, ia memaksaku mengantarnya pulang, tapi aku tak bisa. Keesokan harinya, mayatnya ditemukan di pinggir jalan. Aku sangat menyesal. Perjuangan sering kali membuat kita mengabaikan orang–orang yang kita kasihi,” katanya, dengan nada sendu. Wajahnya terlihat muram. 

”Maafkan aku,” kataku, menyesali kata–kataku.

”Tak apa, aku harus menganggap itu sebagai peristiwa hari–hari, bagian dari sejarah yang tak tercatatkan,” katanya, seolah sedang menghibur dirinya sendiri.

”Siapa orang yang kau cari?” tanyanya, mengalihkan pembicaraan.

”Ana de Sousa.”

Ia mengulang–ulang nama itu.

“Aku akan mengabarimu sesegera mungkin, jika sudah mendapatkan informasi. Tetapi, berjanjilah, kau akan segera pulang setelah menemukannya. Situasi di sini tidak akan membaik dalam waktu sebentar, masa depanmu masih panjang. Kau harus percaya padaku,” katanya, menegaskan.

Aku menjawab dengan anggukan kepala. 

Setelah meminum sesuatu yang diambil dari saku celananya, ia tertidur. Wajahnya terlihat lelah. Sesekali ia mengigau, menyebut nama seorang wanita dan badannya demam. Aku tak tidur semalaman mengompres keningnya.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dwi Ratnawati

[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Ana de Sousa [6]"