Ana de Sousa [7] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ana de Sousa [7] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:15 Rating: 4,5

Ana de Sousa [7]

Mario masih tertidur saat aku pergi ke restoran hotel, mengambilkan sarapan untuknya. Televisi lokal memberitakan peristiwa kemarin. Suasana Kota Dili pagi ini mencekam, pemerintah memberlakukan jam malam dan menuding kelompok pemberontak anti-pemerintah yang menjadi dalang di balik kerusuhan. Korban tewas diperkirakan mencapai lebih dari lima orang dan puluhan lainnya luka–luka. Aku membungkus beberapa roti bakar dengan tisu, lalu membawanya ke kamar.

Mario sudah tidak ada di kamar. Di meja, aku melihat sebutir peluru tergeletak, peluru yang menembus pahanya kemarin. Sepertinya, ia sengaja meninggalkan peluru itu untukku.

Dua hari setelah kerusuhan, suasana Kota Dili masih mencekam. Pasukan keamanan berjaga di setiap sudut jalan. Tak ada yang kulakukan selain duduk di lobi hotel menyaksikan berita dan kembali ke kamar, sementara Mario seperti hilang ditelan bumi. Siaran televisi memberitakan tentang upaya pemerintah untuk menangkap pemberontak dan dalang kerusuhan. Aku teringat Mario dan tiba–tiba mulai mengkhawatirkannya.

Seseorang mengirimiku SMS, ”Aku sudah menemukan alamat Ana de Sousa. Datanglah ke tempat aku pernah menemukanmu.” 

Mario pasti yang mengirim pesan itu. 

Aku mencoba menghubungi nomor pengirim pesan, tetapi mati.

Aku menduga akan kesulitan mendapatkan kendaraan. Karena, hampir sebagian kendaraan tidak beroperasi selama dua hari ini. Tetapi, ternyata tidak, saat sebuah taksi datang menghampiriku. 

Jalanan masih terlihat sepi dan mencekam. Sebagian besar pertokoan dan sekolah–sekolah tutup, beberapa bangunan yang dibakar menyisakan puing-puing. 

Di persimpangan, aku berhenti dan meminta sopir taksi menunggu. Aku lalu berjalan sambil mengingat–ingat sebuah jalan yang ditutupi dengan rimbun pepohonan. 

Dua orang pria muda muncul di antara rimbun pepohonan dengan senjata diselempangkan di dadanya. Ia menatapku penuh curiga. Matanya tampak awas menatap sekeliling. Setengah takut aku mengatakan padanya bahwa Mario memintaku datang ke tempat ini. Salah seorang di antara mereka mengenaliku, ternyata orang yang mengantarku pulang ke hotel. 

Ia membawaku masuk ke rerimbunan pohon dan memintaku menunggu. Setelah cukup lama, Mario muncul, wajahnya tegang.  Ia memandangku dengan tatapan aneh. 

”Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya. 

”Bukankah kau yang mengirimiku pesan agar aku menjumpaimu di sini? Katanya kau sudah menemukan alamat Ana,” kataku, dengan nada takut.

”Ini jebakan!” teriak Mario. 

Seiring dengan itu terdengar suara tembakan dari kejauhan. 

Mario terjatuh tak jauh dari kakiku. Sebutir timah panas menembus punggungnya. Tubuhnya tak bergerak lagi, bersama dua orang yang tadi bersamanya. 

Aku bersembunyi saat beberapa orang menggotong mayat–mayat itu. Mereka sepertinya melihatku, tapi tak memedulikanku. Di antara orang–orang itu, aku melihat sopir taksi yang tadi mengantarku.

Koran, radio, dan televisi memberitakan tentang tewasnya seorang pemberontak bernama Mario Jose bersama kedua temannya, dalam kontak senjata, lengkap dengan foto Mario ketika masih hidup. Tetapi, tak ada namaku di situ.

Hatiku diliputi pertanyaan, siapa sesungguhnya yang telah mengirim pesan itu dan mengapa aku langsung bisa memercayainya. Mungkinkah seseorang memanfaatkan pencarianku terhadap Ana untuk menjebak Mario? Mungkin seseorang yang melihatku saat menolong Mario. Aku takut orang–orang Mario mencariku dan menyalahkanku sebagai penyebab kematiannya. 

Maafkan aku Mario, sungguh di luar yang kuperkirakan, desahku. Rasa bersalah sebagai penyebab kematiannya menyelimuti hatiku.

Kelelahan yang mendera dan rasa putus asa membuatku mengambil keputusan untuk menghentikan pencarian terhadap Ana de Sousa. Aku juga memutuskan segera kembali ke Jakarta. 

Saat hendak keluar kamar, aku menemukan sepucuk surat di bawah pintu kamarku. Aku memungutnya. Di bagian depan surat itu tertera namaku yang ditulis menggunakan mesin komputer. Aku memeriksa bagian belakang amplop surat, ternyata tanpa pengirim. Perlahan–lahan aku membuka surat itu dan menemukan sebuah alamat ditulis dengan mesin komputer pada sehelai kertas ukuran kuarto. Berikut sebuah pesan yang isinya mengatakan bahwa Ana de Sousa tinggal di alamat ini. Aku bertanya–tanya, siapa sesungguhnya yang mengirimkan surat itu. Rasanya tidak mungkin Mario. Mungkinkah orang suruhan Mario? Mungkinkah polisi atau seseorang yang membaca iklanku? Bisa jadi itu adalah alamat palsu untuk mengecohku. 

Rasa penasaran menggodaku untuk mendatangi alamat itu dan membuatku memutuskan mencari Ana de Sousa sekali lagi.

Setelah melewati perjalanan hampir sebelas jam dengan bus yang penuh sesak oleh penumpang dan barang bawaan mereka yang sebagian besar berupa bahan pokok makanan, aku tiba di Distrik Covalina. Daerah ini terletak di Kota Suai, perbatasan Motamasin. Hari menjelang sore, perjalanan tadi memang terlambat, karena bus baru datang hampir pukul tujuh pagi.

Aku langsung mencari alamat itu. Setelah menyusuri jalanan dengan berjalan kaki dan bertanya kepada beberapa orang, akhirnya aku sampai di sebuah rumah sederhana, dengan halaman luas. Kemudian, setelah mencocokkan rumah itu dengan alamat yang kumiliki, aku mengetuk pintu beberapa kali. Seorang wanita yang hampir seusiaku membuka pintu.

Aku bertanya apakah ini rumah Ana de Sousa. Ia menjawab bahwa ini bukan rumah Ana de Sousa, melainkan rumah neneknya yang bernama Sofia da Silva. Aku memperlihatkan kertas alamat itu padanya. Ia melihatnya dan membenarkan bahwa rumah ini adalah rumah yang dimaksud dalam alamat itu.

Aku berpikir, mungkinkah Ana telah berganti nama menjadi Sofia dan wanita ini tidak mengetahuinya. Setengah memaksa, aku meminta bertemu dengan neneknya. Ia terlihat kesal, karena aku tak memercayai ucapannya. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dwi Ratnawati
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Ana de Sousa [7]"