Ana de Sousa [8] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ana de Sousa [8] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:17 Rating: 4,5

Ana de Sousa [8]

Seorang wanita tua menghampiri dan bertanya apa yang terjadi. 

”Ini nenekku, namanya Sofia da Silva, bukan Ana de Sousa,” katanya, menjelaskan.

Wanita itu menjelaskan maksud kedatanganku padanya. Nenek itu menatapku beberapa saat sebelum akhirnya mempersilakanku masuk ke rumahnya. Aku duduk di kursi tamu, berhadapan dengannya. Cucu perempuannya duduk menemani di sebelahnya. 

”Cucuku pasti tak akan mengenal orang yang kau cari. Dia baru datang dari Kupang beberapa hari lalu,” katanya, menjelaskan.

Kemudian aku memperkenalkan diri. Saat menyebut namaku, ia memintaku mengulang namaku. 

”Kau mencari Ana de Sousa?” tanyanya padaku, dengan suara lirih. 

Aku menganggukan kepala. Kemudian menjelaskan bahwa aku menemukan sepucuk surat dan sebuah puisi, di buku milik ayahku. Aku memperlihatkan kedua benda itu padanya. 

Nenek terlihat kesulitan membaca surat itu, mungkin karena tintanya sudah memudar. Ia meminta cucu perempuannya untuk membacakan surat itu. Setelah selesai, kepalanya mengangguk–angguk seolah memahami sesuatu. 

”Di manakah ia sekarang, Nek?” tanyaku, tak sabar.

Aku ikut–ikutan memanggilnya dengan sebutan nenek. 

”Sebelum kau tahu di mana ibumu sekarang, ada baiknya kau tahu tentang ibumu terlebih dahulu,” katanya, memberi saran.

Ketika ia menyebut nama Ana de Sousa dengan sebutan ibumu, hatiku bergetar. Rasanya aku tak perlu menanyakan alasan ia menyebutnya demikian, hanya sekadar menegaskan bahwa ia benar–benar ibuku. 
”Aku bekerja pada keluarga ibumu, sejak ia berusia lima tahun. Keluarga itu sangat baik. Aku tidak tahu apa kesalahan mereka dan apa sesungguhnya yang terjadi, ketika serombongan orang membawa ayah dan ibunya serta seorang adik laki–lakinya,” ceritanya.

”Bukankah rumah itu dijual?” tanyaku.

Aku teringat rumah yang pernah kukunjungi beberapa waktu lalu.

”Kau sempat pergi ke sana rupanya. Rumah itu tidak dijual, tetapi diambil begitu saja.”

”Ibumu saat itu sedang bersamaku, kami sempat menyelamatkan diri, ke rumah salah seorang saudaraku. Ketika itu ibumu sedang mengandungmu, tak lama kemudian kau lahir. Suatu ketika, saat aku kembali dari pasar, ia sudah tak ada di kamarnya.  

Di bawah bantal aku menemukan surat bersama puisi itu. Awalnya hanya dua lembar kertas yang dilipat seadanya. Aku memasukkannya ke dalam amplop sebelum diberikan kepada Maria, bersamamu yang saat itu belum genap berusia satu bulan. 

Sepertinya ia sudah tahu apa yang akan terjadi dengan hidupnya. Aku berusaha mencarinya, tetapi ibumu seperti hilang ditelan bumi. Aku senang saat Maria dan suaminya membawamu pindah ke Jakarta. Situasi dan kondisi di sini ketika itu tidak baik bagi perkembanganmu.”

”Bagaimana dengan ayahku?” tanyaku, kembali tak sabar.

”Ketika itu ibumu memiliki kekasih bernama Alfonso. Mereka telah berpacaran cukup lama dan bertemu secara sembunyi–sembunyi. Alfonso lebih sering berada di hutan, hanya saat–saat tertentu saja ia turun ke kota. Dalam perjalanannya, Ana bertemu dengan seorang tentara yang terluka dan dirawat di rumah sakit Dili. Seingatku ia bernama Priyono, dari Jawa. Sepertinya ibumu jatuh cinta pada orang Jawa itu. Di waktu–waktu tertentu, ia terlihat bersama tentara itu. Tentu saja tanpa sepengetahuan Alfonso. Aku sempat mengkhawatirkannya. Situasi ketika itu membuat kita serba salah. Seseorang mengatakan bahwa Ana hanyalah umpan untuk menangkap Alfonso. Tetapi, Ana telanjur memercayai perasaannya, cinta membuatnya buta. Hanya ibumu yang tahu siapa sesungguhnya ayahmu. Tapi, mungkin saja Maria tahu, tetapi kau harus maklum jika ia tak memberitahukannya padamu. Seperti aku memaklumi ibumu saat ia tak mau memberitahukannya padaku. Alfonso meninggal dalam sebuah pertempuran, sedangkan tentara itu, aku tidak tahu kabarnya sekarang.” 

Aku teringat puisi yang ditulis ibuku dan kini aku bisa mengungkap makna puisi itu, sebagaimana pernah diterjemahkan Om Hendrik ketika itu. Puisi yang ditujukan pada kedua orang pria itu. 

”Di manakah ibuku sekarang?” tanyaku, makin tak sabar

”Dua tahun lalu saat aku sedang berada di Dili bersama anakku, aku melihat seorang wanita yang sedang berjalan dengan wajah menunduk, seolah ketakutan, dengan penampilan tak keruan. Dari cara berjalannya, aku bisa mengenali bahwa itu ibumu. Aku menghampirinya dan ia benar–benar ibumu. Ia tak mengenaliku. Sungguh merupakan kuasa Tuhan melihatnya masih hidup. Kemudian aku membawanya ke sini. Ia dalam keadaan sakit parah dan selalu terlihat ketakutan. Dokter yang memeriksanya mengatakan ibumu mengalami penyiksaan dan kekerasan yang hebat selama beberapa tahun, kemungkinan mentalnya terganggu. Setelah beberapa bulan berada di sini, kondisinya membaik dan ia mulai mengenaliku. Aku sempat bertanya tentang ayahmu, tetapi ia sepertinya menyimpan rapat–rapat rahasia itu. Ketika kukatakan bahwa kau dibawa oleh Maria dan suaminya ke Jakarta, ia terlihat sangat bahagia. Tak lama setelah itu, ia meninggal.”

Mata Nenek terlihat berkaca–kaca. Setelah itu, suasana menjadi sunyi. Aku tak dapat berkata–kata, kerongkonganku terasa tercekat. Kemudian Nenek masuk ke dalam rumahnya dan kembali dengan membawa sebuah tas kecil. Ia memasukkan jemarinya ke tas itu dan mengeluarkan sebuah benda. Satu foto berukuran kartu pos, yang langsung diserahkan padaku. 

”Sebelum meninggal ia minta difoto, katanya kalau–kalau kau mencarinya. Ia seolah yakin, suatu hari kau akan mencarinya,” katanya.

Wajah ibuku, aku meraba foto itu. Mata yang bulat dengan sinar ketakutan. Rambutnya ikal. Bibirnya terkatup rapat. Tak ada senyum di wajahnya. Kedua tulang di sisi lehernya tampak menonjol, menandakan tubuhnya yang kurus. 

”Matanya mirip dengan matamu,” katanya berkomentar.

Ia dan cucu perempuannya mengantarku ke makam ibuku yang tak jauh dari rumahnya. Aku berdoa untuk ibuku. Aku merasa seolah–olah ia ada di depanku. Tubuhnya terlihat kurus dan lemah, tetapi ia mencoba tersenyum. Sebelum pulang, Nenek memelukku hangat. Aku mengucapkan terima kasih padanya. Untuk semua yang sudah ia lakukan pada ibuku.

Sepanjang perjalanan pulang wajah ibuku membayang di pelupuk mata, bergantian dengan wajah Alfonso dan Priyono, wajah yang kukarang–karang sendiri. Salah satu di antara mereka bisa jadi adalah ayahku. 

Aku merasa hidup menjadi begitu aneh. Rasanya sulit untuk diterjemahkan dalam bahasa apa pun. Mungkin, hanya hidup itu sendirilah yang mampu memahami bagaimana seharusnya hidup itu dilakoni. Aku mencoba untuk membuat pengertian sendiri. 

Menurutku, hidup itu ibarat sebuah alur atau plot dalam cerita. Sebuah rangkaian cerita yang dibentuk oleh rangkaian peristiwa. Terkadang penuh kebetulan, tak terduga, bahkan penuh misteri. Dan, setiap orang memiliki plot hidupnya masing–masing. Hanya, bedanya, kita tidak pernah tahu, bagaimana cerita itu akan berakhir. Seperti halnya kematian, sesuatu yang pasti terjadi. Hanya, kapan waktunya, kita tak pernah tahu, dan bagaimana caranya pun kita tidak tahu.

Seperti perjalananku mencari Ana de Sousa, aku tidak tahu jika akhirnya hanya akan menemukan sebuah kisah. Mungkin seperti itu pula hidup yang digariskan bagi ibuku. Ia pun tak pernah tahu, jika hidupnya akan berakhir tragis.

Aku memenuhi janjiku pada Mario. Sebelum pulang ke Jakarta, aku menyempatkan diri mampir ke pemakaman umum Santa Cruz yang lokasinya bersebelahan dengan Taman Makam Pahlawan Seroja. Aku berdoa untuk dua orang laki–laki yang dicintai ibuku, yang mungkin saja dimakamkan di kedua tempat itu.

Aku tak akan memperpanjang kisah dengan melakukan pencarian siapa sesungguhnya ayahku. Biarlah itu semua menjadi bagian kisah dan sejarah yang tak pernah tercatatkan. Bukankah memahami sejarah lebih penting daripada sekadar mencatatkannya. (tamat)


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dwi Ratnawati

[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Ana de Sousa [8]"