Ancaman | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ancaman Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:30 Rating: 4,5

Ancaman

BARU saja aku keluar dari ruangan atasanku. Beberapa tumpuk kertas putih yang tadi kubawa kini telah berpindah ke meja coklat tepat di hadapan seorang pria gundul, gemuk dan berkulit putih itu. Aku menghela napas panjang. Beberapa hari ini aku kurang tidur karena menyelesaikan pekerjaanku untuk mengedit setumpuk laporan. Lingkaran hitam di matamu membuatku nampak begitu mengerikan, belum lagi jalanku yang agak sempoyongan seperti orang setengah mabuk membuatku nampak seperti orang depresi.

Yah, tidak salah lagi jika ada yang bilang aku sedikit depresi. Ini adalah pengalaman pertamaku bekerja di sebuah kantor yang jam lemburnya selalu ada. Sebelumnya, sudah banyak teman yang memberi tahu bahwa bekerja di organisasi seperti ini sangat melelahkan, tapi aku nekat. Aku ingin merasakan sendiri. Siapa tahu aku malah merasa senang.

Hari ini sengaja tidak kubawa revo merahku. Dengan kondisiku yang lelah seperti ini, aku tidak yakin dapat berkendara dengan baik di jalan. Aku memilih naik taksi untuk pulang ke rumah. Di sepanjang jalan setidaknya aku bisa mencicil untuk memejamkan mata. Baru sepuluh menit aku berada di alam mimpi, mataku dibuka oleh hantaman keras karena taksiku yang ngerem mendadak. Belum sempat sopir taksi itu menjelaskan perkaranya kepadaku, segerombolan pria berjaket dan berkacamata hitam mengetuk kaca taksiku.

"Ada apa ya, Mas?" tanyaku setelah kubuka kaca taksi yang diketuk itu.

"Bisa turun dulu, Mas?" kata seorang pria berbadan besar dan berambut panjang itu padaku.

Akupun turun dari taksi. "Saya salah apa ya, Mas?"

Seorang pria berkulit putih yang sedari tadi berdiri di belakang pria-pria berjaket hitam dan berbadan kekar itu sekarang maju ke arahku. Ia membuang napasnya dengan keras, membenarkan letak kaca mata hitam bundarnya yang sempat sedikit melorot, kemudian menuding-nudingku dengan jari telunjuknya.

"Saya tidak suka bertele-tele. Saya minta kamu ubah perbandingan utang dan modal perusahaan saya. Balik rasionya bagaimanapun caranya."

"Kenyataannya seperti itu. Kondisi perusahaan Anda memang memprihatinkan."

"Ingat, saya sudah membayar kamu dengan jumah yang tidak sedikit."

Pion-pion yang berdiri di belakang raja memperlihatkan gerak-gerik yang mengancam. Jantungku berdegup lebih kencang dan telapak tanganku mulai bdak dibasah.

"Maaf, saya punya kode etik, dan saya tidak dibayar oleh Anda melainkan oleh atasan saya," kataku dengan segenap keberanian yang kupaksakan. Setelah itu, aku segera masuk ke katksiku dan meluncur ke rumah persembunyianku dengan perasaan takut yang masih kuat menyergap.

***
KONDISIKU sudah jauh lebih baik setelah aku tidur dan mandi sore ini. Aku merasa lebih segar. Kuambil kripik kentang yang ada di kulkas. Kusantap kripik itu sambil menikmati lucunya Sponge Bob Square Pants. Beberapa kali sudah aku tertawa terbahak-bahak karena tingkah gila Patrick dan Sponge Bob, bahkan emmbuatku hampir tersedak, tapi kemudian semua itu selesai setelah dering telepon genggamku nyelonong mengganggu.

"Ikuti saja apa maunya dia."

Aku diam sejenak, mencoba menyadari yang diinginkan oleh bosku di seberang sana.

"Apa maksud Bapak?"

"Dia butuh bantuan kreditur, ya kita bantu sajalah dia. Pasti nanti saya tambah gajimu. Sebutkan saja nominalnya."

"Tapi, itu berarti saya melanggar...."

"Sudahlah. Ikuti saja cara mainnya." Teleponpun tertutup. Meninggalkanku yang diam membisu seribu bahasa. 

Kunyalakan lagi televisiku. Kutonton lagi film lucu favoritku itu, tapi sekarang film itu sudah  tidak lucu lagi bagiku. Hambar dan kering. Sejak kecil aku dididik melakukan semuanya dengan jujur. Saat usiaku masih tujuh tahun, ibu pernah memukuliku hanya karena aku menggunakan uang Rp 100 yang kuambil dari mejanya, padahal Rp 100 bukan jumlah yang material bagi keluarga kami yang hidup berkecukupan, tapi ibu terus saja memukuliku dengan sapu meskipun  aku telah merintih eksakitan dan terus saja menangis. Kata ibu, kejujuran adalah segalanya. Sepahit apapun kenyataannya, jika kita tidak jujur, maka di kemudian hari kita akan memanen buah yang jauh lebih pahit dari itu. Nilai yang ibu tanamkan padaku sejak kecil itu kini telah mengakar dalam diriku. Nilai inilah yang kini membuatku sangat tersiksa. Aku tidak pernah mengira akan mengalami hal seperti ini.

"Halo, Bro, ada apa?" tanyaku pada orang yang ada di seberang.

"Gimana, sih, kamu. Kenapa kamu bilang ke bos kalau kita masuknya cuma 20 hari?"

"Lho, kenyataanya gitu, Bro. Aku masih punya catatannya, kok. Lagian kemarin kamu juga liat kan catetanku?"

"Iya, tapi kan bos nggak bakal tau. Kamu karyawan baru aja udah sok banget, sih."

Aku pun tertawa untuk mencairkan suasana. "Jujur kan lebih enak, Bro."

"Ah, capek aku. Ntar juga kamu bakal tahu kalau tipe orang kayak kamu gitu nggak bakal laku. Ini nasihatku yang pertama dan terakhir, kalau kamu masih mau tetap bertahan di lingkungan yang basah, ya, kamu juga harus basah."  Orang di seberang itu pun memutus pembicaraan kami.

Aku memandangi hujan yang turun malam ini. Tadi hanya rintikan kecil yang turun, kini butirannya semakin besar. Tadi, hanya sebagian saja jendela kamarku yang basa, kini semuanya ikut basah. apakah aku adalah bagian dari kaca jendela itu? Apakah aku benar-benar harus basah? Tapi, aku tidak sanggup. Ada beban moral yang terlalu berat untukku langgar. Bagaimana ini? Bagaimana caranya agar aku bisa mengubah porsi utang yang tadinya sebesar 75 persen dari aset menjadi hanya 25 persen saja. Bagaimana aku bisa menipu kreditur dan juga bosku? Dan, bagaimana caranya agar aku dapat mempertanggungjawabkan semua ini terhadap diriku sendiri dan yang utama pada Tuhan?

Aku tidak tahu mengapa semua ini menjadi sebegitu beratnya bagiku, tapi sebegitu ringannya bagi para koruptor. Melihat mereka, menipu itu seperti membalikkan telapak tangan. Mereka melakukan  kebohongan dengan sangat lihai, begitu pula saat dimintai pertanggungjaaban di meja hijau, kilahnya seperti ikan belut. Setelah diusut-usut begitu lama, barulah masuk ke penjara, tapi penjara apa? Tentu saja penjara bintang lima. Di penjara juga sangat sebentar, berbeda jauh dengan mereka yang mencuri sandal, pisang, atau buah kakao. Lucu juga, di dunia ini sepertinya kebohongan membawa nikmat dan kejujuran membawa petaka. Mengapa aku tidak bisa menjadi seperti mereka? Toh, ibu sudah mempercayakan semuanya kepadaku. Ibu sudah tidak akan memukuliku lagi.

***
AKU bertemu dengan Rino di tangga lantai tiga. Aku  memperhatikannya dan menyapanya sambil tersenyum. Dia acuh tak acuh. Dia melaluiku begitu saja, tetapi setelah tiga anak tangga dituruninya ia pun berhenti.

"Kalau kamu nggak bisa ubah laporan  yang kemarin biar aku aja yang ubah."

"Rin...."

"Aneh, ya, trus kamu mau ngerjain apa? Kayaknya semuanya bakal kacau kalau kamu yang ngerjain. Gajiku dan hasil kerjaku. Akh, rusak semua."

Aku hanya diam. Membiarkan Rino pergi menjauh dari hadapanku. Setelah hari itu, aku tidak pernah lagi ke kantor itu dan tak pernah pula melihat batang hidung Rino. 

❑  Sleman, 2015

Arlina hapsari tinggal di Gandok Condongcatur Depok Sleman Yogyakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arlina Hapsari
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 8 November 2015


0 Response to "Ancaman"