Ayam Tak Mati di Lumbung Padi - Bakar Padi di Bakarti - Nikah Petarung - Menyamar Mawar | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ayam Tak Mati di Lumbung Padi - Bakar Padi di Bakarti - Nikah Petarung - Menyamar Mawar Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:11 Rating: 4,5

Ayam Tak Mati di Lumbung Padi - Bakar Padi di Bakarti - Nikah Petarung - Menyamar Mawar

Ayam Tak Mati di Lumbung Padi


Mereka. Yang pertama. Mereka. Yang Terjaga. Lantaran peribahasa.
Mengerti. Ayam tak mati di lumbung padi. Kecuali. Oleh pisau
Tuan Guru. Tuan Guru Haji. Setelah pulang Mekah. Orang-orang mendulang berkah.
Sembari. Ingkar dari kebiasaan. Menyalakan tungku. Di dapur sendiri.
Melihat. Remah-remah matahari. Berkilau di piring nasi.

Lantas. Apa yang lebih pantas. Kecuali menanti jerami. Tepercik api.
Lantas. Jemari kaki. Menggali. Tanah ini. Hendak mencari.
Tempat sembunyi. Lantas. Tempat untuk mati. Dan diberkati. Tanah ini.

(Bakarti-Gunungsari, 2015)

Bakar Padi di Bakarti

bara dingin itu biru bulu burung di batas pandangku
musim masin sudah, keringat dan berat di pundak
bergerak bagai ular menghindar dari duri matahari

tak ada bunyi air, tak ada ulir atau bulir lencir

di batas pandangku, biru bulu burung api
melepas nyalanya ke cakrawala petang hari
setelah biji, tanah diberkati, abu jerami

dan kusam kuali kosong dari kuah kari

nanti pagi benih akan runtuh ke dalam
mencari ruh api di kelenjar mimpi petani

(Bakarti, 2015)

Nikah Petarung

                                   : Dody Kristianto

bagaimana ia lepaskan serangan sedang lawan di hadapan tak kelihatan
bukan karena menghilang tetapi lantaran terlalu terang
gelanggang yang dimasukinya penuh kunang-kunang
dadanya berdebar seakan inilah pertarungan terbesar
tak ada yang akan tumbang meski sungguh tak ada pula bimbang
ia percaya kuda-kudanya cukup tangguh untuk menanggung berat tubuh

mungkin telah disimpannya resep kawan, mereka yang lebih dulu turun gelanggang
tinju miring jurus kepiting, atau teknik membetot kepala jenglot
atau yang sepelik mengasah batu akik, mesti tabah dan lihai
agar tak mudah pecah atau terbengkalai

sudah lama ia inginkan pertarungan macam ini
pertarungan paling berbahaya sekaligus paling berbahagia
jiwanya sumekar bagai rela terbakar, sehingga di gelanggang terang itu
ia hanya ingin menyerahkan dirinya, lenyap dalam gelap cinta

(Gunungsari, 2015)

Menyamar Mawar

merahnya merah arwah orang susah
pipi pencuri di jam makan pagi

kelopaknya gerak kemarahan di bawah telapak
lidah juru tenun penghantar tenung

mekarnya gemetar tangan pada mimbar
makar petani sebelum mengungsi

durinya api tungku setelah pulang tamu
gigi si yatim yang nanti jadi kasim

bayangannya rahasia pertengkaran keluarga
tanda lahir di tumit penyihir

(Gunungsari, 2015)


Kiki Sulistyo mukim di Lombok. Buku puisinya berjudul Penangkar Bekisar (2015).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kiki Sulistyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Minggu 8 November 2015

0 Response to "Ayam Tak Mati di Lumbung Padi - Bakar Padi di Bakarti - Nikah Petarung - Menyamar Mawar"