Bacalah Kitabmu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bacalah Kitabmu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:16 Rating: 4,5

Bacalah Kitabmu

Bacalah Kitabmu
Cukuplah dirimu sendiri
pada hari ini sebagai 
penghitung atas dirimu

AYAH lalu membaca kitabnya. Mendadak Ayah menangis. Tersedu-sedu. Apa yang terjadi pada Ayah? Saya tidaak tahu. Buru-buru Ibu mengambil kitab itu dari tangan Ayah. Ibu membalik-balik halamannya. Ibu melihat kitab itu lebih telitit. Ibu membalik-balik halamannya lagi. Ibu berhenti melihat kitab itu. Sejenak. Ibu menatap saya lalu menatap Ayah yang masih menangis lalu menatap kitab itu. Ibu lalu membalik-balik halaman kitab itu lebih telitit. Ibu meatap kulit muka kitab lalu menatap kulit belakangnya. Lalu Ibu membalik-balik halaman kitab itu lagi. Lalu Ibu melempar kitab itu ke arah saya yang mengenai dada saya. Saya terkejut lalu memungut kitab itu. 

Saya membalik-balik halaman kitab itu. Saya lalu sadar, kitab itu tak ada tulisannya. Kosong melompong. Saya lalu membalik-balik halamannya lagi. Tetap saja tak ada tulisannya meski satu kalimat pun. Kosong melompong. Bagaimana mungkin kitab yang tidak ada tulisannya itu mampu membuat Ayah menangis? Ada apa dengan Ayah? Saya berpikir tentang Ayah dan tentang kitab itu. Bagaimanapun jam terbang Ayah dalam hidup ini sudah tinggi sehingga wajar saja mampu ia membaca kitab yang tak ada tulisannya itu dibanding dengan saya yang hanya anak ingusan.

Saya tidak tahu mengapa orang-orang di kampung kami menyebutkan kitab, bukan buku. Memang saya yang memberikannya kepada Ayah, beberapa menit yang lalu. Begitu juga beberapa kitab yang lain yang saya berikan kepada warga lain, beberapa hari sebelum saya memberikan kitab kepada Ayah. Kabarnya orang-orang yang menerima kitab yang sama juga menangis meski hanya menatap halaman kosong. Saya juga tidak tahu apa yang sedang terjadi di kampung kami. Ini semacam wabah kitab yang sedang melanda kampung kami. Kejadian ini semua gara-gara saya membagi-bagikan kitab--atas titipan seseorang yang tidak saya kenal yang menyetop motor saya di tengah jalan pada malam-malam--kepada para tetangga saya.

SEBAGAI tukang kredit pada dealer merek sepeda motor terkenal, saya sudah bekerja lebih kurang lima tahun. Pekerjaan saya mengharuskan saya blusukan ke desa-desa, termasuk dusun-dusun terpencil. Saya berangkat jam tujuh pagi, pulang sekitar jam sembilan malam. Saya melakukan cek dan ricek untuk kepantasan dan kepatutan atas calon pengredit sepeda motor yang saya promosikan. Selama lima tahun jumlah pengredit sudah ribuan dan, alhamdulillah, pengangsurannya lancar dan beres. Memang ada saja yang mangkir satu, dua, atau tiga bulan, hal yang sebenarnya lumrah, karena orang-per orang memiliki kapasiitas yang berbeda dan pasang surut nasib yang tak bisa dibaca. Namun semua ini pada akhirnya beres juga.

Untuk lebih mendidik mereka tentang amanah dan kedisiplinan, saya menggunakan rekaman sebagai laporan kepada atasan. Janji para pengredit itu saya rekam supaya kalau terjadi pemangkiran maupun pengemplangan, rekaman itu bisa saya putar kembali. Tapi lama-lama sikap saya itu banyak dikritik para pengredit yang menganggap saya seperti intel. Ini tidak mengenakkan mereka dan juga diri saya sendiri. Akhirnya tape recorder itu nganggur.

Malam-malam yang selalu kejam selama lima tahun saya jalani; lebih-lebih ketika musim hujan, bukan main lebat air ke ulu ati merambat; dengan geledek menggelegar menyambar-nyambar bagai tembakan di Perang Vietnam, ditingkah angin puting beliung, sepeda motor yang saya kendarai dari dusun menuju dusun lain, terbang terbuncang. Tidak jarang tudung plastik yang saya pakai melayang di awang-awnag diterpa deru angun sakal sehingga badan terbuka sampai basah kuyup. 

Pernah dalam keadaan badan bagai dibanting-banting itu, ban sepeda motor kempes, sehingga saya harus menuntun motor di tengah hujan yang bak air terjun entah dari langit ke berapa dalam alam yang gelap pekat di jalan sempit diapit dua bentangan sawah hitam legam, sendirian tak ada sesosok apa pun maupun kendaraan lain. Dalam benak tak ada yang terlintas kecuali memohon keselamatan dan ampunan atas segala dosa.

Setelah menuntun motor beberapa km, sesampai di rumah saya jumpai Ayah dan Ibu sedang berdebat ramai perihal agama. Saya menyebutnya Perang Dunia Ketiga karena begitu serunya perdebatan itu. Saya cepat-cepat menghidupkan tape recorder untuk merekam hantam-menghantam itu. Sudah ada berbelas kaset jumlahnya. Saya yang tidak paham betul tentang agama, happy-happy salma saja mendengarkan cekik-cekikan itu.

Ayah memiliki perkumpulan agama, "Benteng Iman & Takwa" namanya, yang jumlah jamaahnya beberapa puluh orang. Suatu kegiatan yang meliputi berbagai bentuk seperti pengajian, pengumpulan sumbangan untuk fakir-miskin dan pesantreen, donor darah, safari Wali Songo, gotong-royong kelestarian lingkungan; dan sejumlah kegiatan lagi seperti bagi-bagi nasi bungkus, misalnya. Aktivitas itu sungguh membuat jamaah guyub, rukun, dan optimistis menghadapi hidup.

Di antara berbagai rekaman itu, ada yang terpampang sebagai berikut:

"Kamu pikir kamu benar sendiri?" sergah Ibu. "Setiap keyakinan memiliki kebenarannya sendiri."

"Kalau kitab sucimu bilang bahwa kebenaranmu dijamin paling bersih, apa yang bisa kamu bilang?" sergah Ayah.

"Bagaimana kalau golongan lain juga punya keyakinan seperti kamu?"

"Aku yang paling bersih."

"Mereka juga yakin mereka paling bersih."

"Jadi kamu bilang semua agama sama?"

"Kamu yang bilang, bukan saya."

"Aku heran kamu bisa mendebat seperti itu seolah-olah kamu tidak meyakini agamamu yang paling benar," sergah Ayah.

"Seolah-olah...," kata Ibu sambil berkacak-pinggang.

"Jadi kamu meyakini agamamu yang terbenar?" sambung Ayah.

"Orang lain yang agamanya yang berbeda juga meyakini agamanya yang terbenar," kata Ibu.

"Agama kita mengatakan agama mereka yang bukan agama kita itu salah."

"Mereka juga bilang begitu berdasar keyakinan agamanya."

"Aku ingin mengoreksi mereka."

"Sambil merusak rumah mereka dan memukuli mereka sampai berdarah-darah?" sergah Ibu.

"Kejadian itu hanya percikan kecil dari hasrat besar kebenaran. Alangkah indahnya kalimat ini," sergah Ibu.

"Kamu memang pintar mengolok-olok."

"Kamu memang pintar membuat orang ketakutan. Persis film horor."

"Apakah aku harus diam saja, tenteram dengan agamaku?"

"Lho, itu urusanmu."

"Apa mungkin kamu menasehatiku?"

"O, jadi kali ini kamu minta nasihat. Oke. Cobalah kamu swiping terhadap orang-orang miskin sambil membagikan nasi bungkus untuk puluhan buruh harian yang kleleran di trotoar-trotoar yang nenunggu dipekerjakan," kata Ibu sambil nyruput kopinya.

"Kamu pikir aku ini...," bentak Ayah sambil membanting cangkir kopinya berantakan di lantai.

Menyaksikan itu, Ibu diam saja. Ayah terus uring-uringan sambil nerocos tak jelas. tangannya menggapai apa saja di dapur dan melemparkannya ke lantai, krompyang, krompyang, sambil berkacak pinggang menendang kursi, tempat sampah, keranjang pakaian kotor, pecahan piring, gelas, sendok, garpu, panci, dan segala macam mangkok. 


AYAH dan kelompoknya sering melakukan swiping ke wilayah-wilayah lain atas pemeluk keyakinan lain dengan berbagai alasan. Kegiatan ini sering menimbulkan konflik, namun, alhamdulillah, dapat dicegah oleh aparat yang cepat dan sigap. Kegiatan inilah yang paling dibenci Ibu dan mendorong perdebatan panjang di antara mereka hampir setiap saat. Pernah Ayah dan Ibu bangun tengah malam untuk berkelahi.

Seingat saya, sebelum Ayah mendirikan perkumpulan keagamaan ini, Ayah dengan Ibu hidup rukun sekali, sebagaimana dalam kehidupan suami-istri pada umumnya.

"Kami membantu orang lain supaya beriman dengan benar," kata ayah.

"Bagaimana kamu tahu bahwa iman orang lain tidak benar?" kata ibu.

"Kami membantu orang lain supaya beriman dengan benar," kata ayah.

"Bagaimana kamu tahu bahwa iman orang lain tidak benar?" kata ibu.

"Kami hanya membantu meluruskan iman itu," lanjut ayah.

"Kamu persis tukang parkir yang membantu mobil orang lain supaya bisa terparkir dengan benar."

"Nah, itulah."

"Padahal yang punya mobil itu hanya ingin membantu untuk menambah uang belanja tukang parkir itu," kata Ibu.

"Kamu sungguh tidaak tahu menghargai kegiatan yang berguna bagi orang lain."

"Mereka tidak butuh bantuan orang lain karena mereka sudah ahli dalam mengelola keyakinan mereka sendiri."

"Kalau semua gama benar, kenapa diturunkan banyak agama?"

"Untuk memenuhi kebutuhan manusia yang selalu ingin tahu."

"Kenapa kamu memilih agamamu?"

"Karena agama ini cocok dengan saya."

"Nah, berarti kamu tidak cocok dengan agama lain, dus agama lain itu salah."

"Tidak ada hubungannya dengan salah dan benar. Orang selalu memantapkan diri dengan agama yang paling pas dengan hatinya."

Pada puncak kegiatan "Benteng Iman & Takwa", terjadi pengrusakan dan penganiyaan terhadap pemilik rumah yang dijadikan tempat kebaktian sampai kepalanya berdarah-darah. Segera setelah itu, terjadi pertengkaran hebat antara Ayah dengan Ibu. Lempar-melempar piring, gelas, sendok, garpu, panci, ember, dan segala macam yang bisa dilemparkan.

Saya sudah tidaak tahan lagi tinggal bersama. Diam-diam saya mengepak pakaian siap mingat. Tapi ketika melihat Ibu memunguti pecahan piring dan gelas, saya urungkan niat meninggalkan rumah. Saya membantu Ibu bersih-bersih.

SAYA anak bungsu dari lima bersaudara. Keempat saudara saya sudah menikah, tinggal di kota lain. Saya masih sendirian, menemani Ibu dan Ayah. Semuanya berubah cepat ketika saya membagi-bagikan kitab atas titipan seseorang yang tidak saya kenal itu kepada masyarakat ramai dan sejumlah anggota dari perkumpulan, lembaga, komunitas, juga orang per orang, termasuk Ayah. Akhirnya ibu juga mendapat pembagian kitab yang membaut ibu juga menangis.

Pernah suatu malam, ketika orang yang menitipkan kitab-kitab itu menyetop sepeda motor saya untuk menitipkan lagi kitab-kitabnya, para jamaah Ayah yang diam-diam mengintai lalu menyergap orang itu, yang tiba-tiba tancap gas, kabur dengan sepeda motornya. Kejar-kejaran terjadi dengans engit, tapi orang itu lenyap seperti ditelan bumi.

Lalu saya ditanyai para jamaah Ayah malam itu juga.

"Apa kamu kenal orang itu?" tanya salah seorang.

"Saya tidak kenal," jawab saya.

"Orangnya macam apa?"

"Tinggi, putih, tenang, cekatan, tidak tersenyum."

"Ia ngomong apa?"

"Ia bilang titip kitab untuk para tetanggamu."

"Ngomong apa lagi?"

"Cuma itu."

"Kamu tidak tanya namanya, rumahnya?"

"Tidak. Saya rikuh."

"Berapa kali ia titip kitab kepadamu?"

"Waduh, berapa kali, ya. Sering. Sudah lupa. Barangkali sekitar duapuluh, tigapuluh, atau..."

"Apa kamu diberi kitab?"

"Tidak."

"Apa kamu pernah minta kitab kepadanya?"

"Tidak. Saya rikuh."

"Setelah titip kitab, lalu ia ngapain?"

"Ia pergi. Ngebut."

"Ke mana saja kamu diminta mengirim kitab?"

"Waduh, ke mana saja, ya? Ke Prambanan, Klaten, Delanggu, Solo, Sragen, Ngawi, Bantul, Wonosari, Gunung Kidul, Ceper, Magelang, Borobudur, Imogiri, Kotagede...."

"Kamu diberi upah?"

"Tidak."


BEGITU tugas blusukan selesai, jam sembilan atau sepuluh malam, saya suka mampir di warung sate klathak Mas Bari, di Pasar Jejeran, di desa Wonokromo, di jalan ke arah Imogiri. Yang membuat saya segan, kedatangan saya ke warung sate itu selalu saja bersamaan dengan rombongan para jagoan seni pertunjukan: Oom Butet, Oom Gus Noor, Oom Djaduk, Oom Joni, dan Tante Yoke Darmawan. Jadinya saya selalu ditraktir mereka.

Setelah saya habis 12 tusuk sate kambing yang terkesan mentah tapi rasanya maut itu, Oom Butet nyeletuk: "Ya, nggak papa, kamu ngintip gerak-gerik kami untuk ikut nimbrung di satu meja makan, he he he. Kami bahagia, kok, jika kamu hadir." Lalu terdengar derai gelak tawa mereka. Oom Gus Noor asyik ngobrol dengan Dewi Sekartadji, model untuk cerita pendeknya. Waduh, waduh, inikah yang mereka sebut zaman kontemporer itu: menulis cerpen saja butuh seorang model cantik? Sementara Oom Djaduk asyik memamerkan akiknya kepada seorang penari asal Mexico yang persis Cameron Diaz, bintang Hollywood itu, yang datang bergabung dalam pertunjukannya.

Ketika makan-makan itu usai, Oom Joni Ariadinata yang selalu membungkuskan tongseng buntut untuk saya bawa pulang, berbisik: "Sekarang kamu mbok mengakui saja, segala wabah kitab itu semuanya ulahmu." Mendengar ini, semuanya berteriak-teriak sambil tertawa-tawa menunjuk-nunjuk saya supaya mengakui itu semua sepak-bola perbuatan saya. Saya cuma cengar-cengir. Gelak-gelak ketawa mereka sungguh khas yang membuat saya kangen. Pertemuan yang meriah malam itu ditutup oleh Tante Yoke Darmawan dengan menyelipkan beberapa lembar Bung Karno dan Bung Hatta ke dalam saku saya. Semoga mereka tidak kapok berteman dengan saya.

"Kok kagak ada kitab untuk kami?" cetus Tante Yoke sambil mengusap-usap kepala saya.

"Seandainya saya bisa menulis kitab...," jawab saya sambil terkekeh.

DI RUMAH, ketika Ibu mendesak-desak Ayah supaya mau bercerita tentang apa yang dibacany dari kitab tanpa tulisan itu, Ayah diam saja. Begitu juga Ayah mendesak-desak Ibu supaya mau bercerita tentang kitab yang diterimanya, Ibu juga diam saja. Begitu juga anggota jamaah yang menerima kitab-kitab itu: mereka tidak bersedia ngomong. Kabarnya orang yang memanggul kitab-kitab itu beroperasi di kota-kota besar lain, di Jakarta maupun Surabaya. Presiden juga mendapat, begitu juga Wapres, para menteri, para gubernur, para wakil rakyat, para walikota, dan banyak lagi. Apa Presiden dan Wapres menangis juga? Say ajuga mengirim kitab untuk Sri Sultan Jogja dan Kanjeng Ratu, untuk Sri Susuhunan Solo dan sang Prameswari.

Tapi si siluman kitab itu tetap sangat sulit dilacak. Orang-orang kota, karena kesibukan mereka, selalu tak peduli segala macam urusan di luar masalah yang mereka hadapi. Tapi menyangkut urusan wabah kitab ini, mereka menjadikannya trending topic yang mengasyikkan, sambil menyapa penonton tivi: "Hallo, the people...."  Bahkan banyak orang sangat berharap untuk mendapat kitabnya. Juga ada yang bersedia membayar, tapi tak ada jawaban dari si demit kitab itu.

Ada juga yang mendirikan kelompok Pemburut Kitab untuk mengejar si siluman kitab it ke mana saja, berdasar analisa pakar tanda dan gambar maupun tokoh keagamaan. Namun sejauh ini tak ada hasilnya. Ada juga kelompok yang sembunyi-sembunyi menguntit saya: barangkali saja satu saat saya akan distop jin kitab itu di tengah jalan yang gelap gulita lalu mereka akan menyergapnya. Ada juga kelompok yang meminta bantuan kiai, cenayang, dukun, maupun orang kebatinan.

"Si Pembagi Kitab itu adalah siluman," kata seorang cenayang, di hadapan sekelompok orang yang bergabung dalam Pemburu Kitab.

"Siluman itu apa?" tanya seorang anggota.

"Siluman adalah...."

" Sudahlah. Apa pun arti siluman itu, bukan itu masalahnya. Yang penting adalah apa bunyi kitab itu," sambung yang lain.

"Itulah soalnya. Tidak seorang pun yang mau bukan rahasia isi kitab yang diterimanya itu."

"Nah, ini lagi rahasia yang harus dibuka: kenapa orang tak mau bercerita?"

"Hak setiap orang."

"Oke. Hak setiap orang. Tapi ini menyangkut kepentingan orang banyak."

"Saya tidak punya kepentingan."

"Oke, saya perlu tahu."

"Bagaimana caranya?"

"Itulah yang harus kita bicarakan."

Akhirnya perkumpulan "Benteng Iman & Takwa" tak terdengar lagi kabarnya. Tak satu pun jamaah yang datang ke rumah biarpun untuk sekadar ngobrol. Sehari-harinya Ayah dan Ibu jadi pendiam dan meja makan menjadi tempat yang khusyuk untuk menikmati makanan. Duduk berdekatan, Ayah dan Ibu sibuk dengan bacaan masing-masing mirip dua patung yang menghiasi taman bacaan. Sekalipun pergi bersama ke toko buku atau ke mal, mulut Ayah dan Ibu tetap terkatup. Saya menikmati benar keheningan ini.

Ketika kakak-kakak saya dengan keluarganya berdatangan, rumah jadi ramai sekali seperti Lebaran pada umumnya. Mereka tak pernah lagi mendengar ada konflik hebat antara Ayah dengan Ibu. Saya merasa mendapatkan kebahagiaan kembali.

Tapi semuanya itu tidak mengurangi beban berat saya yang setiap malam dalam keadaan panas maupun hujan mengarungi desa dan dusun demi kebahagiaan orang-orang yang kepingin memiliki sepeda motor.

Tangerang Selatan, 
27 Agustus 2015

Danarto tinggal di Tangerang Selatan, Banten. Buku-buku cerita pendekanya antara lain Adam Makrifat (1982), Berhala (1987), dan Sekuntum Melati di Sayap Jibril (2001).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Danarto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" Sabtu 28 November 2015

1 Response to "Bacalah Kitabmu"

Rendra Alkundury said...

saya penasaran, apa isi kitab itu? sukses penulisnya,saya suka cerpen ini, semoga dapat berbagi tips proses kreatif menulis cerpen ini, bila penulis berkenan bolehlah bebagi tipsnya ke email saya, alkundury@gmail.com