Banaspati | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Banaspati Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:20 Rating: 4,5

Banaspati

WARGA Dukuh Rawa gempar, siang itu, tepatnya saat azan Zuhur selesai dikumandangkan. Tidak ada yang pergi ke masjid untuk salat berjamaah, tetapi berbondong-bondong menuju sumber keributan.
Berita ditemukannya mayat seorang bicah laki-laki yang mengapung di permukaan sungai --dengan tubuh pucat, mengenakan kolor merah, dan kaos berwarna hijau-- berasal dari Kardi, pak tua yang kebetulan pulang dari sawah melewati sungai tersebut. Kabar tersebut langsung menyebar luas hingga terdengar ke telinga pasangan suami istri Suratman dan Karti yang sejak dua hari lalu kehilangan anak laki-laki. Dengan tergesa, mereka menuju ke lokasi ditemukannya mayat bocah tersebut.

KETIKA Suratman dan karti sampai di lokasi, sudah banyak warga yang berkerumun. Masjid melompong. Jemaahnya berpindah ke tepi sungai dekat lapangan. Mayat bocah tersebut sudah diangkat menuju pinggir sungai dengan dialasi tikar seadanya. Tangisan pecah menggema saat Suratman dan karti melihat mayat tersebut memang anaknya, Bagus. Mata mayat tersebut mendelik, mulutnya terbuka. Kiai Solikin berusaha menutup mata dan mulut mayat tersebut dan selanjutnya menyuruh warga membawanya ke rumah Suratman dan Karti untuk segera disucikan.

Pasangan suami istri itu terus saja histeris, terlebih Karti yang begitu menyayangi anak tunggalnya. Pergi dengan konsidi mengenaskan dan baru bisa ditemukan. Tak menyangka anak salih seperti itu bisa mati dalam kondisi demikian.

"Pasti Banaspati!"

Gosip tentang Banaspati menyeruak. Bukan tanpa alasan, ada yang mengaku bahwa pernah melihat kemunculan makhluk mengerikan itu di sawah dan menghilang di pohon randu di samping sungai tempat di mana mayat Bagus ditemukan. Tidak ada alasan yang lebih logis tentang kematian Bagus, maka dari itu warga sepakat bahwa ini ulah Banaspati.

"Mungkin Banaspati marah karena tanah lapang di samping sungai dekat pohon randu dibuat lapangan untuk main bola bocah-bocah dukuh."

Pendapat-pendapat warga soal kematian Bagus terus terdengar di rumah duka. Bukannya ikut mendoakan, malah bergosip saja. Sementara Kiai Solikin undur diri salat Zuhur terlebih dahulu. Karti terus-terusan histeris memandangi wajah pucat mayat anaknya. Hanya terlihat dua tiga ibu-ibu yang membaca surat Yasin dan mendoakan Bagus.

Sudah dua hari bocah nahas itu hilang tanpa kabar. Tak ada yang mengetahuinya. Semua teman sepermainannya pun menggelengkan kepala. Awalnya hanya izin ke lapangan untuk bermain bola seperti biasa. Biasanya pun pulang dulu setengah jam sebelum azan Maghrib berkumandang. Tapi, saat itu belum pulang juga. Padahal, azan Maghrib sudah berkumandang seperempat jam yang lalu. Semua temannya sudah berada di rumah. Yang membuat orangtua bocah tersebut lebih bingung, temna-temannya kompak menjawab: bocah tersebut sudah pulang setengah jam sebelum azan Maghrib berkumandang, seperti biasa. Terus ke mana?

Tidak ada yang menyangka Banaspati doyan dengan bocah alim yang patuh pada perkataan  orang tua dan Kiai Solikin. Tapi, nasib siapa yang tahu. Pasalnya, peristiwa sudah terjadi. Syukur masih bisa diketemukan meskipun sudah menjadi mayat. Menurut berita yang berkembang, bisa jadi Banaspati menyembunyikan bocah itu dan tidak akan mengembalikannya meski orangtuanya meminta, bahkan dengan sesajen yang menghabiskan biaya sekalipun. 

Lagi-lagi yang membuat Sratman dan Karti tak kuasa, Bagus sudah dilarang bermain bola karena seminggu lagi mau disunat. Tapi, Bagus bilang bahwa dia mau menonton saja. Kini, acara sunatan yang disiapkan tak ada pengantinnya. Batal sia-sia.

Rumah duka ramai pelayat. Suara tangisan tak dapat dipisahkan dari rumah tersebut. Karti terus meraung di depan mayat anaknya yang ditutupi jarik, belum dimandikan. Masih menunggu perlengkapan memandikan siap, katanya.

***
SUDAH bertahun-tahun sosok itu tak menampakkan wujudnya lagi. Mungkin sudah tahu kalau tidak ada lagi bocah yang berkeliaran kala azan Maghrib berkumandang. Meskipun seperti itu, masih menjadi perhatian orang-orang yang mempercayainya, terkhusus adalah orang-orang tua. Sayangnya bocah-bocah yang makin modern menganggap itu adalah dongeng semata: agar disuruh pulang cepat, salat berjamaah di masjid lanjut mengaji Quran.

Padahal, sore hari hingga menjelang malam adalah waktu yang pas untuk bermain. Jika siang sepulang sekolah terlalu panas, apalagi di sawah yang sedikit sekali pohon yang rindang. Isi kepala seakan mendidih dan tubuh terpanggang, siapa yang mau berada dalam keadaan seperti itu? Niat mencari kesenanga, kepanasan yang didapat. Matahari sorelah yang bersahabat. Menemani permainan dengan sinar jingganya yang meredup tenggelam.

Bocah-bocah dukuh Rawa, kalau siang, biasanya memilih tidur. Barulah ketika sore keluar untuk bermain dan malamnya harus mengaji Quran jika tidak malas atau kecapekan bermain, tentunya. Masih tidak berjemaah di masjid, mereka terkadang terpaksa mengaji Quran karena takut dengan Kiai Solikin. Kiai Solikin terkenal galak. Tak segan-segan memberi hukuman pada santrinya yang melanggar perintahnya. Apalagi jika bolos mengaji Quran semalam saja.

Perumahan di Dukuh Rawa terbilang sedikit karena delapan puluh persen adalah sawah. Hanya ada seratus kepala keluarga saja. Populasinya  adalah orangtua dan bocah-bocah usia sekolah dasar. Pemuda usia sekolah menengah kebanyakan merantau. Biasanya menjadi tukang bangunan di Kalimantan, Jakarta, Medan, bahkan beberapa ada yang memilih menjadi TKI di luar negeri. Umumnya mereka akan kembali ke dukuh ketika sudah sukses, membawa banyak uang untuk membeli sawah dan berladang.

***
LIMA bocah laki-laki sedang bermain bola di lapangan dekat sawah. Di samping lapangan tersebut ada sungai. Lapangan tersebut dulunya adalah sawah. Namun, gara-gara kekeringan panjang setahun yang lalu, diubah menjadi lapangan karena terlanjur tandus. Lagipula, pemilik tanah sudah tak merawat lagi tanah tersebut. Katanya, mau dijual saja nanti. Memang, dari dulu, sepetak tanah itu tidak bisa menghasilkan apa-apa. Ditanami padi malah mati. Ditanami jagung malah tak berbuah. Entah karena faktor apa. Pemilik tanah sudah bosan mengurusnya.

Salah satu bocah itu, bernama Bagus, duduk di bawah pohon randu di tepi sungai karena capek. Bermain bola merupakan hobi mereka, apalagi ketika sore seperti ini. Tapi, Bagus selalu pulang duluan sebelum senja termakan malam dan azan Maghrib berkumandang. Katanya, ada Banaspati yang suka menculik anak-anak di sawah saat azan Maghrib berkumandangan.

"Enggak takut duduk di situ, Gus?"

"Ah, enggak ada tempat yang adem selain di sini."

Tentu keempat teman Bagus tak mempercayai takhayul tersebut karena itu hanyalah cerita orangtua mereka untuk menakut-nakuti saja. Agar mereka pulang sebelum azan Maghrib,  supaya bisa ikut berjamaah di masjid dan mengaji setelahnya. Karena biasanya setelah main bola hingga surup, mereka akan kecapekan. Pulang ke rumah malah istirahat, telat berjemaah dan tak mengaji bersama Kiai Solikin.

Teman-teman Bagus selalu mengejek Bagus karena masih percaya dengan cerita tersebut. Kata mereka, Bagus itu penakut, terlalu polos karena pada zaman sekarang masih percaya dengan hal begituan.

Matahari kian merangkak bersembunyi, dirasa sudah cukup isitirahatnya dan tak bisa melanjutkan permainan, Bagus berdiri dan memutuskan pulang. Tapi keempat temannya mencegahnya.

"Mau ke mana, Gus?"

"Pulang."

"Cemen, sama Banaspati saja takut, itu kan hanya dongeng."

"Biarin."

Bagus langsung menyeberang lewat tiga batang bambu yang dibentangkan di dua sisi sungai tersebut. Bagus harus benar-benar bisa menjaga keseimbangan  melewati tiga batang bambu sepanjang lima meter. Sementara keempat bocah yang lainnya masih asyik bermain bola. Matahari terus merangkak ke peraduan. Azan Maghrib berkumandnag, permainan selesai. Mereka semua pulang ke rumah masing-masing.

***
"PAK, apakah Banaspati itu benar-benar ada?" Bagus bertanya pada Suratman, bapaknya.

Selama ini, hanya ibunya yang kerap menceritakan soal Banaspati. Dia mengira, bapaknya akan punya pendapat lain soal Banaspati. Bagus berharap, ibunya hanya mengarang sendiri soal Banaspati.

"Katanya sih, iya. Tuhan kan memang menciptakan setan. Makhluk-makhluk seperti setan , jin, dan makhluk halus lainnya memang ada."

Bagus terdiam. Karti yang mendengar pertanyaan Bagus kepada Suratman pun ikut nimbrung, "Bapakmu mana tahu, Bapakmu kan bukan asli orang sini."

Karti lanjut menceritakan bahwa dulu ada seorang bocah yang masih bermain di sawah saat azan Maghrib berkumandang. Sebenarnya, anak itu patuh pada perintah orangtua. Entah karena hasutan siapa, peringatan orangtuanya dia langgar. Saat surup, bocah itu hilang. Menurut saksi mata, bocah tersebut dibawa Banaspati. Setelah bertanya kepada orang pintar, ternyata benar bocah itu dibawa Banaspati dan dijadikan budak di rumahnya. Si Banaspati ingin menghisap darahnya, tapi darahnya tak enak karena dia bocah yang salih. Bocah tersebut tidak kembali hingga sekarang, sebelum si Banaspati itu sendiri yang mengembalikannya.

Mendengar cerita dari Karti, Bagus bergidik ngeri. Dia semakin percaya dengan cerita ibunya tersebut yang dia sendiri belum tahu apakah itu rekaan atau nyata. Sementara bapaknya terlihat biasa saja, berekspresi datar.

"Sudah, sana, tidur. Boleh main asal pulang sebelum azan Maghrib berkumandang. Banaspati mencari bocah laki-laki untuk dihisap darahnya atau dijadikan budak."

***
KEMBALI, lima bocah laki-laki, salah satu di antaranya adalah Bagus, bermain bola di lapangan. Setengah jam sebelum senja, Bagus pamit pulang. Tapi keempat temannya mencegahnya, malah mengajaknya bermain lagi. Bagus tetap tidak mau, apalagi semalam Karti baru bercerita soal Banaspati lagi. Selain itu adalah titah orangtua, dia juga memercayai cerita tersebut.

"Cemen kamu, Gus. Banaspati itu tidak ada."

Bagus hanya terdiam. Tertunduk. 

"Kami selalu pulang saat Maghrib, nyatanya tidak ada apa-apa. Kami masih hidup dan tidak pernah melihat si Banaspati-banaspati itu."

"Ayolah kita lanjut main. Ah, enggakasik."

Bagus masih terdiam. Benar juga apa yang dikatakan teman-temannya. Mereka tidak pernah melihat Banaspati, padahal selalu pulang Maghrib. Apa benar soal Banaspati adalah isapan jempol belaka? Bagus ingin sekali melanjutkan permainan karena tak puas. Belum klimaks. Dia ingin mencetak gol lebih banyak lagi, membuat teman-temannya kagum padanya.

Setelah berpikir, Bagus mengiyakan ajakan teman-temannya. Dia lanjut bermain bola. Ketika azan Maghrib berkumandang, mereka kompak pulang, menyeberangi jembatan bambu. Bagus berada paling belakang. Setelah teman-temannya berhasil melewati bambu, dan Bagus berada di tengah menjaga keseimbangan, teman-temannya malah menggoyangkan bambu tersebut hingga Bagus tercebur ke sungai. Teman-temannya tertawa lepas. Sementara Bagus teriak minta tolong. Teman-temannya tak memedulikan, malah lekas berlari pulang. Mereka sebal karena Bagus tadi menguasai permainan dengan cetakan gol paling banyak. Tapi, mereka kompak menyimpan rahasia itu karena takut.

***
KARTI masih saja histeris. DIa tak menyangka, nasib bagus sama seperti kakak tertuanya yang dibawa Banaspati. Bedanya, kaka tertuanya yang dibawa Banaspati. Bedanya, kakak sulungnya tak pernah kembali hingga sekarang.

Hari-hari berikutnya, teman-teman Bagus yang lain hilang misterius setelah bermain bola hingga azan Maghrib berkumandnag. Ada yang bilang, Banaspati benar-benar marah dan akan menculik jiwa-jiwa riang bocah yang lain.***

Reyhan M Abdurrohman, lahir di Kudus, 18 Mei 1994

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Reyhan M Abdurrohman
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 8 November 2015

0 Response to "Banaspati"