Bangkit! - Di Tanah terjanji - Perempuan Langit | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bangkit! - Di Tanah terjanji - Perempuan Langit Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:30 Rating: 4,5

Bangkit! - Di Tanah terjanji - Perempuan Langit

Bangkit!

Tadi siang ada yang memanggil pergi dari kematian!
Kalau itu,
Kita sedang menjemur karung-karung doa,
Milik beberapa orang lapar di jalan,
Beberapa pengemis di sela Mercedez,
Juga orang-orang cacat di panti!
        Suara itu begitu gemuruh!
        Bunyinya menghisap petir!
Karung-karung doa itu kita campak dalam matahari,
Biar ia putuskan apa yang terjadi!
Kini yang kita tahu,
Kita harus pergi dari kematian ini,
Kepada hidup,
di mana keajaiban bagi orang-orang terlantar selalu terjadi!
Kepada suara,
di mana misteri bagi kepastian begitu menggairahkan!

Di Tanah terjanji

[Requiem untuk Kemajuan bangsa]
Kawan,
Sebelum padi dari ladang kita,
Diganti daging spai yang diawetkan
Kupesankan kepadamu,
Makanlah jagung kita sepuas hatimu.
            Sebelum ayam di belakang rumah kita diusir ke makam
            Lalu kita dipaksa pelihara ayam laboratorium,
            Kusarankan padamu,
            Ratapilah hidupnya kuat-kuat.
Kawan,
Esok tatkala matahari terbit dari tanah,
Tak sempat bagimu mengucap sesal,
Kalau bulan sudah mati,
Padi-padi kita akan jadi mitos.
            Sebelum air mata jadi uji coba pabrik,
            Menangis tersedulah kawan,
            Simpan air mata itu untuk nanti.
            Sebab kupesankan lagi padamu,
            Di tanah berjanji,
Kepedihan terjadi atas nama kemajuan bangsa.
            Di sana,
            Kematian sering lebih indah daripada hidup.

Perempuan Langit

Perempuan langit,
Sekali-kali singgahlah ke bumi,
Ada banyak hal yang perluy kamu tahu.
     Di tempat ini,
     Banyak orang tidur di bawah jembatan.
     Ada orang lelap di becaknya waktu malam.
Sementara orang lainnnya makan pizza,
Ada orang lainnya mengais di rumah sampah.
Ada juga orang yang minum air di selokan kota.
     Perempuan langit,
     Ketika kamu datang nanti,
     Jangan bertanya, karena jawaban takkan emmbuatmu mengerti.
     Cukup dengar dan rasakan.
     Begitu kata seorang kawan.
Jika ingin menangis,
Pulanglah ke langit dan menangis,
Biarkan air mata jadi hujan.
     Masih ada yang harus kau tahu,
     Tadi malam ada sedikit rintik,
     Kini orang-orang menunggu hujan.
     Sajak besi dipancang di negeri ini,
     Pohon-pohon tak punya tempat lagi,
     Banyak yang mati dalam kemarau.


Krispianus Hona Bombo, mahasiswa STPMD "APMD" Yogyakarta, aktif di Lembaga Pers Mahasiswa. Penulis buku kumpulan Esay dan Puisi "Balada Pemikul Sangkakala."


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Krispianus Hona Bombo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 8 November 2015


       

0 Response to "Bangkit! - Di Tanah terjanji - Perempuan Langit"