Bersama Hendra Gunawan ke Trunyan - Sembilan Agustus | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bersama Hendra Gunawan ke Trunyan - Sembilan Agustus Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:11 Rating: 4,5

Bersama Hendra Gunawan ke Trunyan - Sembilan Agustus

Bersama Hendra Gunawan ke Trunyan

                      Kepada: Tjie Jehnsen

Bila nanti tiba di seberang
Ingatkan kami jalan pulang

Sesampai di tepian, ikan-ikan kecil berlompatan
Akar-akar terjulur menembus batuan. Bagai ucapan
selamat datang, hujan menderas menggenangi petang

Apa sebenarnya yang kami cari di sini?
Apa yang sesungguhnya membimbing kami
Berlayar melintasi danau sejauh ini?

Di sini, di desa tua ini, si mati tertidur di bawah pohonan
Ribuan hari berdiam diri namun masih mewangi
Hanya senyap menjawab sewaktu kami berbagi pandang
Dirundung tanya berulang, tak percaya tubuh indah itu
Luruh berserah ke tanah. Tubuh pualam malam
Yang meremang bayang tersentuh kilau bintang

Tubuh perempuan terkasih dalam lukisanmu
Yang tak kunjung selesai meluapkan hidup
Hijau sehijau belantara, biru sebiru hampa angkasa
Di mana segalanya mungkin bermula
Sebelum jagat raya tercipta sebatas cerita

Di sini, di desa tua ini, si mati tertidur abadi
Berlimpah mantra menyapa tanpa suara
Seakan ingin merahasiakan muasal leluhur
Yang berdiam di kedalaman danau ini
Yang bermukim di puncak gunung tinggi

Sebab tak ada yang sehening hutan lindung ini
Kami susuri seluruh diri, bertanya berkali
Apa sejatinya yang ingin dipahami
Semadi rahasia da tonta di tepi hari si mati
Atau sapuan kuasmu yang melepas bebas warna
                                    hingga ke ambang cahaya
Di mana ikan-ikan kecil berdoa di tepian
Mengingatkan waktu sehembus nafas di batuan

Bila kelak akhirnya kami kembali pulang
Ingatkan segala yang lancung tak tertinggal di seberang

2015

Sembilan Agustus

Dapatkah kau bayangkan seperti biksu berserah diri
Kudaki perlahan tangga batu ini
Sambil melamunkan hari esok anakku

Kuil kekal di langit
Jauh tak tersentuh keluh

Orang-orang bercakap riang
Berulang mendahuluiku di tikungan
Begitu riuh suara mereka mengejutkan hewan-hewan kecil
Yang berlompatan sembunyi di rumputan

Apakah mereka tak mendengar suara-suara si mati
Yang berbisik di balik pohonan
Menembang lirih meniru burung malam

Wajah mereka cemerlang, muda dan bahagia
Terus mendaki, melaju meninggalkan aku
Meninggalkan orang-orang tua
Yang melangkah tertatih hati-hati
Meniti hari tak bertepi ini

Entah di tangga keberapa, sewaktu henti sejenak menahan nafas
Teringat aku saat pesawat sekejap lewat
Lalu langit menyala, pohonan puing, di mana-mana puing

Sisa boneka, separuh utuh tangan mungil
Bukan peri yang sayapnya menjadi arang

Bukan pula dongeng di mana anak-anak
Terhindar dari sihir. Menyamar batu kecil
Semut hitam malam hari
                             Atau segumpal salju
Yang melayang hening
Luruh menutupi atap rumah
            Menghapus arah langkah para peziarah

Menghapus ingatanku kini
Pada nama-nama serdadu yang tewas
Atau seruan damai yang terlambat dikirim
ke medan perang penghabisan

Sesampai di puncak, tak kunjung khusyuk aku berdoa
Anak-anak muda itu terus riuh tertawa
Mereka sungguh tak menyadari, ataukah tak peduli
Si tua ini tenggelam dalam kehampaan tak bertepi

                     Kuil kekal di langit
                     Jauh tak tersentuh keluh

2015


Warih Wisatsana, bermukim di Denpasar, Bali. Kumpulan puisinya bertajuk Ikan Terbang Tak Berkawan(2003). 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Warih Wisatsana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Minggu 22 November 2015

0 Response to "Bersama Hendra Gunawan ke Trunyan - Sembilan Agustus"