Bertanya Kepada Tanah - Hanya Sebatas Doa - Matahari Telah Kembali - Kicau Burung yang Dirindukan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bertanya Kepada Tanah - Hanya Sebatas Doa - Matahari Telah Kembali - Kicau Burung yang Dirindukan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:22 Rating: 4,5

Bertanya Kepada Tanah - Hanya Sebatas Doa - Matahari Telah Kembali - Kicau Burung yang Dirindukan

Bertanya Kepada Tanah

inilah yang namanya tanah
menjadi kuburan waktu
untuk menuntaskan segala kejadian
monumen panjang tentang masa silam
yang telah membenamkan segala emosi
dalam kedataran rasa sadar yang menjulang
agar tetap mampu memberi arti bagi keadaan

ini. di sini!
tangis yang membatu
pernah menetes dalam segala cuaca
untuk menentukan kapan masa tanam
pada tanah-tanah yang kian terpinggirkan

di sini. ini!
manusia-manusia merindukan
kicau burung-burung pagi
dengan desah nafas yang mulai tersengal
dari keterasingan waktu tak pernah berhenti
menyambut gerak angin terus membawa pada zaman

Oe’ekam, NTT, Kupang 102015

Hanya Sebatas Doa

tetesan keringat yang menetes, mulai dirasakan
betapa asinnya perjalanan hidup untuk bertahan
dalam segala musim yang terus berubah
mengembangkan dengan segala bentuk yang nyata
pada diri terpahat dari segala pori-pori tanah
yang kadang tersengal meminta jari-jari-Mu
meneteskan segala kesuburan bumi berpijak

tetesan keringat yang membasahi badan, mulai menyatu
kehidupan terasa begitu meresap dalam jiwa
menjadikan aliran darah kian memerah,
dengan guratan panjang
otot-otot menyembul hingga menemukan nikmat
untuk melangkah kedepan, pada jenjang telah mengakar
tetanaman mulai tumbuh membesar, dalam kesuburan
menjaga hati, menerbangkan doa: Menembus langit ke tujuh

Soe, NTT, Kupang 102015

Matahari Telah Kembali

kegelapan memang telah berlalu, semoga terus menjauh
menempuh kesegenap jemari nasib yang terus dicari
desah nafas setiap alunan menggelorakan di lorong hari
harus berhenti sesaat, menunggu jengkal
tanah yang membara
dari titik, bertemu titik berjalan dalam irama zaman

suara lenguh kerbau begitu indah, di batas telinga
menguak tabir yang menyelimuti tanah-tanah sawah
sesaat berhenti, untuk menarik harapan dari dalam musim

telah tiba, padi dan palawija tertanam, penuh pesona
terdengar nyanyian burung-burung di sela-sela dedaunan
warna kuning sebagai harapan terpampang,
dengan menggantung
memabukkan jiwa, meruntuhkan rasa penat
yang menggelayut
rasa syukur bercampur air mata, masih ada matahari
yang dengan setia tetap muncul menyinari jagat raya

tanah ini, menjadi tanda, sebentar lagi kerja telah terbayar
keringat yang menetes menyuburkan di dalam bumi
mencari hari-hari panjang penuh tantangan
akan segera tiba, masa panen membawa bahagia

Timor Tengah Selatan, NTT, Kupang 102015

Kicau Burung yang Dirindukan

batas waktu telah menjadi tanda
di antara tali-tali yang memanjang
dalam ikatan janji-janji terbentang
bukan lagi sebuah warna, pada pertiwi
dengan tatanan yang terpampang
masih begitu nyata, dikerataan terjaga
sebentar lagi pesta panen menjadi bagian
terus menghitung hasil yang akan terbawa
dalam rumah-rumah peradaban, begitu nikmat

zaman memang begitu dekat, meski terbatas
mengejar lari air-air penuh dengan tanya
pada mata air yang kian hilang

sebutir nasi terhidang
menjadi pemandangan penuh nikmat
di dalam piring-piring keadaan
bakal ditelan pada batas rasa mata
terus muncul dengan pandangan
menawarkan sorga yang terlupakan
penuh bunga-bunga merekah di pelataran

kemudian mengalir tanpa batas
dari tenggorokan, menuju jalan jiwa
hilang, hanya membekas dalam esok hari

o, o, la, la, hari-hari begitu panjang
untuk diharapkan datang
bersama angin pegunungan
sejuk, dan masih terikat irama tenteram

da, da, da, tembang anak gembala
hanya sebatas cerita lama di telinga
menatap sawah ladang pergi tanpa kesan
sebagai dongeng menjelang tidur, menjaga bumi

burung-burung waktu terus hinggap
setelah terbang dari jauhnya rasa lapar
menyambut warna kuning padi
dalam kicau yang pilu, semakin sendu
masih tersisa jalan untuk menatap
sawah dan ladang, hilang
ditelan kemarau yang memanjang

Soe, NTT, Kupang 102015

Triman Laksana, lahir di Yogyakarta, 7 Juni 1961. Menulis dalam bahasa Indonesia dan Jawa. ahun 2015, mendapat PenghargaanìRancageî, Yayasan Kebudayaan Rancage. Novel îMenjaring Mata Anginî terbit tahun 2015 ini. Mengelola Padhepokan Djagat Djawa (Komunitas Sastra dan Budaya Magelang). Tinggal di Jalan Raya Borobudur Km.1. Citran. Paremono. Mungkid. Magelang 56551. Jawa Tengah.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Triman Laksana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 29 November 2015

0 Response to "Bertanya Kepada Tanah - Hanya Sebatas Doa - Matahari Telah Kembali - Kicau Burung yang Dirindukan"