Burung Pemanggil Hujan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Burung Pemanggil Hujan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:59 Rating: 4,5

Burung Pemanggil Hujan

DEBU bergumul dihardik angin, lalu menyembur-nyembur ke udara, berserak memaram daun yang menguning. Tepat ketika langkahnya tertatih letih, sepasang tangannya yang lembut putih mengusap leher dnegan ujung jilbabnya setelah peluh meleleh. Mungkin gerah telah menumbuhkan duri-duro halus yang memenuhi tubuhnya.

Matahari sangat ganas membagi terik. Bila mengamati pemandangan di kejauhan, tampaklah tanah persawahan yang retalk, berundak-undak dengan kejang rumput gersang. DI tepinya ada tiga pohon rukamyang muram, dan di bawah pohon itu ada warung bambu miliknya, tempat ia dan teman-temannya belajar besama atau sekadar menikmati singkong bakar ketika senja hari melumat persawahan.

Sudah lama ia abelajar di bawah langit kemarau yang kerap menuntut ia harus menghabiskan banyak minuman. Botol-botol bekas dari minuman itu ia buang begitu saja tergeletak, berserakan memeluk sawah. Aku datang memungutnya dan cukup kiranya bagi pemulung sepertiku ia sapa hanya dengan sebuah lirikan mata, tidak lebih. Setelah itu aku bergegas sambil memanggul sak yang berisi sampah, tentu dengan seratus khayalan tentang wjah cantiknya bahkan kadang bergumam pada Tuhan "hamba mencintainya."

Sebenarnya apa yang diperbincangkan ia dan teman-temannya tak jauh beda denganku. Ia suka berdiskusi sastra, kadang aku sengaja menghentikan langkah, pura-pura mencari botol bekas di depan warung bambunya dengan tujuan tersembunyi ingin mendengar lebih jauh tentang sastra. Apa yang ia perbincangkan selalu memancing hatiku untuk bergabung. Tapi aku masih harus berpikir dua sampai sepuluh kali, sebab mereka itu gadis-gadis cantik dan cerdas anak orang kaya. Sedang aku hanyalah pemulung, anak orang miskin yang secara kebetulan saja bersekolah dan menyukai sastra. Lagi pula takut demikian kentara, jika aku mengaguminya.

"Hei Karim! Musim kemarau sangat panjang, setiap hari selalu gerah, apa kamu punya cara untuk mendatangkan hujan? Jika ada akan aku beli," tukasnya kepadaku di suatu senja yang senyap seraya menampakkan sosok dirinya yang kaya.

"Hehe Iya Non, aku punya cara untuk urusan itu?"

Apa itu Rim?"

"Tunggu saja besok di tempat itu, seekor burung akan kubawakan untukmu."

"Hehe jangan berpuisi kepada kami Rim! Katakan dengan jelas, tak usah memakai istilah burung sebagai metafor dari sesuatu yang Anda maksud sebenarnya," jelas salah satu temannya.

"Benar! Saya tidak sedang berpuisi, seekor burung akan kubawakan untuk kalian."

"Yang saya inginkan hujan, bukan burung." Ia yang bersuara merdu kembali berkata.

"Aku ingin memberikan seekor burung kepadamu dan kamu akan menerimanya berupa hujan."

Kemudian hening menyergap dari antara daunan yang diam. Mereka saling menatap lalu mengangguk bersama, dan aku tersenyum, memanggul sak dan lanjut melangkah. Menapak jasad kemarau.

***
HARI yang kujanjikan kepadanya telah tiba.  Tak kuhirau sak sampah, kuabai botol-botol bekas minuman yang berserak di depan warung bambu tempat ia belajar. Sebab, hari ini aku tak ingin memulung. Tujuanku satu, ingin ia tersenyum dengan tingkahku yang membawa burung budbud demi mengabulkan permintaannya agar turun hujan. Burung budbud dalam kepercayaan tertua Madura diyakini sebagai buruung pemanggil hujan. Amatilah di desa-desa, ketika burung itu berbunyi para petani mulai menggarap sawah, itu pertanda hujan akan segera turun.

Kupandangi langit bersih yang bertebar kabut tipis. Kuelus kepala burung yang erat tergenggam seraya kuingat peristiwa kemarin lusa saat burung ini kutangkap di  Bukit Rongkorong, kakiku tergelincir menabrak batu. Nyilu dana berdarah, celanaku cobek. Untung saat itu burung budbud sudah tertangkap lunglai dalam jerat tali labai putih setelah mematuk beberapa umpan bangkai belalang di lingkaran simpul tali labai itu. Tapi apa pun yang terjadi, bila demi untuknya, bagiku tetap nikmat.

Ia dan teman-temannya baru saja datang ke warung bambu. Meletakkan tas dan beberapa peralatan lain. Di sisi tas hitam dari tiga yang berjajar itu kulihat sebuah buku tentang Svetlana Alexievich, rupanya ia dan teman-temannya perempuan yang berobssi menjadi peraih nobel sastra sebagaimana perempuan hebat bernama Svetlana Alexievich.

Ia mengipasi wajah dan elhernya dengan jilbab sebelum akhirnya sepasang bola matanya yang teduh melirik ke arahku yang sejak pukul 14.00 tadi sudah duduk di bawah pohon kesambi menunggu kedatangannya. Ia menarik lengan dua temannya dan berlari-lari ke arahku.

"Karim! Rupanya sampean benar-benar membawa burung untuk kami." Merdu suaranya melesap.

"Ya, burung ini namanya budbud, mulai sejak zaman moyang kita beribu tahun yang silam burung ini dipercaya bisa memanggil hujan."

"O, jadi kamu akan mendatangkan hujan ekpada kami dengan perantara burung ini?"

"Benar! Tapi tidak sekali burung ini bersuara lantas hujan langsung turun, butuh berhari-hari ia mesti harus melantangkan suaranya. Jika burung ini terus bersuara maka hujan akan segera turun. Jadi arwatlah burung ini baik-baik, usahakan ia selalu ebrsuara, hingga nanti hujan benar-benar turun kepada kalian."

"Hore!!" Ia dan teman-temannya berjingkrak-jingkrak  riang setelah mendnegar kabar hujan. Lalu burung budbud yang sudah lengkap dengan sangkarnya kuberikan kepadanya, tentu setelah aku berpesan dan berbisik tentang makanan dan cara perawatan burung itu. Ia menerima burung itu dengan senang, senyumnya rekah. Aku berbunga-bunga seakan ia telah menerima cintaku, dan tampaklah kini, sesangkar burung budbud tergantung di pojok atap rumbia warung bambu miliknnya. Suaranya parau menjerit terlempar ke penjuru arah. Keyakinanku masih sama dengan keyakinan orang tua bahwa burung itu tengah memanggil hujan.

***
AZAN Asar baru selesai dikumandnagkan. Cuaca sangat gerah emski langit desa tampak dipenuhi mendung. Hanya saja angin bertiup agak kencang, mendorong-dorong botol bekas yang hendak kupungut di depan warung bambu miliknya. Ia dan teman-temannya masih belum datang, warung bambunya tertegun senyap. Hanya burung budbud berkoar-koar di dalam sangkar. Paruhnya diangkat ke atas hingga terlihatlah gelembung angin naik turun di antara lehernya yang disaput bebulu cokelat kekuningan. Suaranya yang keras menandakan doa yang khusyuk dipanjat, menembus diam langit.

Ini hari keenam ia memelihara burung pemanggil hujan. Aku berharap hujan turun sore ini agar ia dan teman-temannya tak lagi menagih hujan kepadaku seperti hari kemarin. Mendung kian merapat dan bergumul membentuk warna gelap. Angin semakin kencang dan tekun menusukkan dingin ke tulang-tulang, aku semakin yakin hujan akan segera turun. Segera kumasukkan botol-botol ke dalam sak. Kulirik burung itu sednag bergoyang-goyang melempar suaranya ke jantung langit.

Aku mulai merasakan ada butiran rintik halus bertabur dari langit. Di kejauhan riuh suara hujan terdengar, persis ketika cuping pembauanku mencium harum tanah yang melesap dari utara. Ia dan teman-temannya berlari-lari kecil sambil berpayung daun jati, tergesa ingin cepat berteduh di warung bambunya. Oh, kali ini tak seperti hari biasa. Ada dua orang teman laki-lakinya yang turut hadir ke warung itu. Entahlah siapa mereka? Ia meletakkan tas dengan rapi mengusap sisa rintik yang bertebar di wajahnya, sebagian temannya mengeluarkan buku dari dalam tas dan temannya yang lain memeriksa isi tasnya.

"Hei! Karim! Ayo kumpul ke sini! Hujan akan segera turun." Ia memanggilku. Wajahnya berbinar-binar.

"Ia Non, terima kasih."

Aku melangkah ke arah warung itu, setelah meletakkan sak di samping warung, aku duduk dan bergabung dengan mereka. Tak lupa kusalimi dua teman laki-lakinya. Aku duduk di sampingnya, di antara buku-buku sastra yang berjajar lengkap dengan alat wifi yang memungkinkan ia dan teman-temannya terhubung ke internet. Hujan turun deras sekali, daunan tampak mengkilat, suara guntur dna halilintar seperti deru pertarungan dua raksasa di angkasa. Langit desa pekat menghitam. Air mengalir ke mana-mana. Kulirik wajahnya yang jelita. Ia tersenyum.

"Karim! Terima kasih atas bantuanmu. Caramu berhasil dengan sukses, rupanya burung yang kau berikan kepadaku itu benar-benar memanggil hujan," ucapnya padaku menyela sepasang bibir mungilnya yang merah basah.

"Berterimakasihlah kepada Allah dan kepada burung itu, jangan kepadaku," jawabku merendah, meski sesungguhnya aku ingin ia tak hanya berterimakasih, akan tetapi merasa berutang budi dan melunasinya dengan cinta yang ia miliki. Kulihat burung itu menari-nari, berkepak-kepak seperti hendak keluar untuk membasuh tubuhnya dengan air hujan.

"Karim, ayo kenalkan dirimu, ini adalah tunanganmu. Namanya Sugik." Ia menunjukkan lelaki berkaus putih di sampingnya yang tersenyum dingin ke wajahku.

"Saya Karim!"

"Saya Sugik, tunangan Noni Raisa."

Sambil lalu lelaki itu menoleh ke arahnya. Ia pun tersenyum mengangguk-angguk kemudiana merebahkan kepalanya ke bahu lelaki itu.

"Aku sangat bahagia bila turun hujan seperti ini Karim!" Ia berkata kepadaku.

Aku terdiam dan emngalihkan pandangan ke arah aliran air yang menghanyutkan ranting-ranting kering di persawahan. Burung itu semakin girang meloncat. Hujan bertambah deras, seiring hujan lain kurasakan memasahi sudaut mataku. Betapa hujan banyak macamnya. (k)

❑ Dik-kodik, 16.10.15

A Warits Rovi: lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988, guru Bahasa Indonesia di MTs Al-Huda II Gapura, berdomisili di Jalan Raya Batang-Batang PP Al-Huda gapura Timur Gapura Sumenep Madura 69472

Rujukan:
[1] Disalin dari karya A Warits Rovi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Mingu Pagi" 8 November 2015


0 Response to "Burung Pemanggil Hujan"