Car Free Day | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Car Free Day Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:58 Rating: 4,5

Car Free Day

YESSI memandangi keramaian Alun-alun Purworejo, lokasi car free day dengan takjub. Hari Minggu ini, Yessi gantian bertemu teman-temannya: Salsa dan Anis, di trotoar tidak jauh dari pintu masuk gerai salah satu restoran cepat saji yang terletak di Jalan Ahmad Dahlan, dekat Alun-alun Purworejo.

Setiap Minggu pagi, Alun-alun Purworejo memang dijadikan jalan bebas kendaraan bermotor. Sekitar tiga jam, sejak pukul 06.00 hingga pukul 09.00, ruas jalan tersebut digunakan masyarakat berjalan-jalan, bersepeda, bersenam, bermain sepak bola, maupun sekadar bercengkrama bersama keluarga. Biasanya teman-teman Yessi bermain di situ tiap Minggu, dan baru kali ini ia ingin ikut bermain di sana.

Sambil menunggu teman lain datang, Yessi asyik melihat anak laki-laki bermain sepak bola. Matanyajuga memandangi serombongan anak perempuan yang asyik bermain kejar-kejaran di depan sebuah bank. "Asyik sekali ya, bermain di car free day," pikir Yessi sambil senyum-senyum sendiri.

Saking asyiknya memandangi aktivitas orang-orang di jalanan, sampai tidak sadar kalau teman yang ditunggunya sudah datang.

"Woi, Non! Sudah lama datangnya?" sapa Salsa sambil menepuk bahu Yessi.

Yessi terlonjak kaget dan langsung menoleh. Dilihatnya Salsa sudah ada di belakangnya. Yessi mengangguk sambil tersenyum. Lalu mereka menempelkan tangan dan melakukan high five bersama sambil tertawa.

"Eh, kita tunggu Anis dulu ya," cetus Salsa sambil celingukan mencari Anis di tengah keramaian.

"Eh, enaknya kita main apa nanti?" tanya Salsa sambil tak lepas memandang keramaian mencari Anis.

"Gimana kalau keliling alun-alun? Biar sekalian joging. Atau tunggu Anis dulu, dia bawa bola apa enggak. Kalau dia bawa bola, kita main sepak bola dulu, entar kalau capek, baru main yang lain," usul Yessi.

"Hao teman-teman!" seru Anis yang baru datang. Dia berlari kecil menuju ke arah Yessi dan Salsa yang menunggu sejak tadi.

"Eh, kamu enggak bawa sepeda,Nis? tanya Yessi heran.

"Enggak, ban sepedaku bocor. Jadi, aku diantar Papa tadi. Tuh, Papa nunggu di sana sama adikku," terang Anis sambil menunjuk ke arah dia datang tadi. Serentak, kami pun memandang ke arah yang ditunjukkan Anis dan kami melihat papa dan adik laki-laki Anis sedang berjalan-jalan.

Mereka bertiga memutuskan memutari alun-alun. Satu putaran Salsa merasa masih kurang, tapi Yessi sudah mengeluh kecapekan. Akhirnya mereka pun beristirahat sambil bercerita seru. Apalagi kalau Yessi sudah bercerita tentang isi buku humor yang dia baca. Lucu sekali, lebih lucu dari membacanya mungkin. Karena itu, teman-temannya sangat senang kalau mendengarkan cerita Yessi.

Sekitar pukul 08.00, ketiga sahabat itu merasakan perut mereka mulai keroncongan.

"Eh, kalian belum pada sarapan, kan? Kita beli sate ayam, yuk!" ajak Yessi.

Sate ayam cukup murah di sini, cukup Rp 5000 sudah mendapatkan sate ayam lima tusuk beserta lontongnya. Harga yang tidak terlalu mahal untuk kantong pelajar.  Kalau Yessi sudah kepingin menikmati es krim yang hanya dua ribu rupiah saja. Es tong-tong namanya. Nanda pernah membelinya sewaktu bersama ayahnya, dan sekarang dia ingin membelinya lagi.

"Ayo, kita ke sana. Tuh, ke ibu-ibu itu aja, yang enggak gitu ramai. Keburu laper nih. Hehe..." usul Yessi.

Mereka berjalan menuju si ibu penjual sate ayam. Saat sedang mengantre, tanpa sengaja Yessi melihat dua anak lelaki kecil berbaju kumal sedang duduk di pinggir jalan. Umur mereka sekitar enam dan delapan tahun, badannya kurus dan kulitnya hitam dekil. Kaos kumal yang mereka pakai tampak robek di beberapa bagian. Anak yang lebih besar membawa kertas nasi berisi makanan, adiknya membawa plastik berisi air minum yang tinggal seperempatnya.

"Eh, sebentar ya, Nis, Sa," ucap Yessi. Dia mendekati kaka beradik itu.

"Dik, diapa namamu?" tanya Yessi.

"Ali," jawab anak yang besar dengan singkat dan dingin. Sementara anak yang kecil menoleh menatap Yessi dengan tatapan sayu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Anak lelaki yang kecil merengek minta makan kepada kakaknya. Kakaknya dengan penuh kasih sayang mengulurkan tangannya yang berisi kertas pembungkus makanan. Adiknya dengan segera merebutnya dari tangan si kakak dan membukanya, tapi tidak ada sebutir nasi pun di sana. Yessi memperhatikan kejadian itu dengan hati trenyuh.

"Kalian belum makan ya, Dik?" tanya Yessi lembut.

Ali menganggukkan kepala. "Iya, Mbak. Sudah dari kemarin siang saya dan Anwar, adik saya lapar," jawabnya pelan.

"Rumahmu di mana? Mana bapak dan ibumu?" tanya Iessi iba.

Mendengar pertanyaan Yessi, Ali hanya diam, kepalanya tertunduk, kakinya mengorek-orek aspal. Yessi menjadi semakin trenyuh melihat kakak dan adik yang kelaparan itu. Pasti mereka gelandangan yang tak tahu di mana rumah orangtuanya. 

Tanpa pikir panjang, Yessi segera berlari dan mencari penjual makanan yang ada di dekat mereka. Dia membeli dua buah nasi bungkus, juga dua kantong plastik teh manis hangat. Setelah itu pun dia segera kembali dan memberikan nasi bungkus dan teh hangat itu kepada Ali dan Anwar.

Kedua bocah itu kaget sekaligus senang menerima pemberian Yessi. Tanpa malu-malu Ali menerima pemberian Yessi dan dengan segera mereka berdua membuka nasi bungkus itu. Tanpa menghiraukan tangannya yang kotor, Ali dan Anwar segera menyantap dengan lahap sampai habis.

Salsa dan Anis yang rupanya mengikuti Yessi ikut memperhatikan dua anak kecil itu dengan perasaan kasihan sekaligus senang. Selesai makan, Ali dan Anwar berkata, "Terimakasih Mbak..." Ada seberkas senyum tulus tampak di wajah mereka.

Ketika sahabat itu hanya tersenyum dan mereka pun pamit pergi kepada Ali. Mereka batal beli sate ayam. Seolah saling mengerti, mereka sepakat pulang dan makan di rumah saja. Sepanjang perjalanan, mereka diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Kenapa kamu langsung membelikan makanan untuk mereka, Yessi? Bukannya kamu sendiri belum makan?" cetus Anis bertanya memecah keheningan perjalanan mereka.

"Ketika lihat mereka, aku jadi enggak lapar, Nis. Kasihan masih kecil, tapi sudah harus memikirkan mencari makan. Kalau aku, kan masih bisa makan di rumah dan sudah disiapkan Ibu pula," jawab Yessi.

Tak terasa mereka sudah harus berpisah di perempatan. Mereka mendapatkan pengalaman yang berharga. Minggu di car free day yang menyenangkan, gumam Yessi dalam hati. ❑ 


Devi Eka, Doplang RT 05 RW 02 Kecamatan Purworejo, Purworejo 54114

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Devi Eka
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 22 November 2015

0 Response to "Car Free Day"