Damarwulan Palastra | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Damarwulan Palastra Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:27 Rating: 4,5

Damarwulan Palastra

SUKESI tampak akrab sekali dengan Busro. Sukesi baru sebulan lalu main ketoprak tobong ‘Bangun Budoyo’ pimpinan Cak  Iskandar yang biasa dipanggil Cak Kandar saja. Bagi Cak Kandar dan ‘Bangun Budoyo’ masuknya Sukesi sungguh anugerah. Sukesi tidak hanya cantik dengan tubuh indah tetapi juga sangat berbakat. Cak Kandar meramalkan tidak ada setahun perempuan itu pasti akan menjadi primadona ketopraknya menggantikan Sriyatun yang mulai menua. Sriyatun memang masih cantik tapi gerakannya sudah mulai lamban kalau harus memerankan tokoh wanita yang lincah.

Sriyatun sendiri mulai menyadari bahwa manusia tidak bisa menghindari ketuaan. Maka demi ‘Bangun Budoyo’ Sriyatun rela kalau perannya yang penting dalam suatu lakon digantikan Sukesi. Misalnya kalau ‘Bangun Budoyo’ mementaskan lakon DamarwulanMenakjinggo yang ditunjuk Cak Kandar untuk memerankan Anjasmoro, istri Damarwulan, bukan lagi Sriyatun tetapi Sukesi. Dan Sriyatun tidak sakit hati karena ia menyadari yang tua harus minggir dan digantikan yang muda. Toh Sriyatun tidak pernah kehabisan peran. Masih banyak karakter-karakter lain yang cocok untuk Sriyatun.

Apalagi perempuan itu juga menyadari kenyataan sejak masuknya Sukesi ke ‘Bangun Budoyo’ ketoprak tobong itu makin meningkat penontonnya. Tapi berbeda dengan Kajat, lelaki tinggi besar yang biasa memerankan Prabu Urubisma Menakjinggo itu selalu gelisah. Sejak Sukesi bergabung, Kajat memang poyang-payingan. Sepertinya ia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Hajat itu memang laki-laki thukmis. Ia tidak pernah bisa tidur kalau ada perempuan cantik di dekatnya. Kendati istrinya sudah dua, hati Kajat selalu kebat-kebit kalau melihat perempuan cantik. Dan Sukesi kemudian memang menjadi perempuan paling cantik di ‘Bangun Budoyo’.

Tragisnya, Kajat tidak pernah berhasil mendekati Sukesi. Kadang Kajat berpikir apakah Sukesi ngeri melihat tubuhnya yang tinggi besar itu. Hati Kajat mendidih kalau melihat Sukesi dekat-dekat dengan Busro yang biasa memainkan tokoh-tokoh protagonis, tokoh-tokoh baik, seperti misalnya Damarwulan. Dan sejak Sriyatun mundur dari peran Anjasmara, istri Damarwulan, maka mau tidak mau tempatnya digantikan oleh Sukesi. Hal itulah yang membuat Kajat tidak tenang. Yang membuat hati Kajat sakit adalah keakraban antara Busro dengan Sukesi tidak hanya di dalam lakon atau di dalam cerita alias di atas panggung, tapi mereka juga akrab di bawah panggung. 

Kajat melihat Busro dan Sukesi makin lengket saja. Kajat berpikir, Busro memanfaatkan situasi untuk mendapatkan cinta Sukesi. Kemesraan di atas panggung ketika saling melontarkan tembang dibawa ke bawah panggung pada siang hari. Itulah yang membuat Kajat sakit hati. Kajat berpikir kalau sesekali ia berperan sebagai Damarwulan tentu ia bisa menjalin hubungan dengan Sukesi walau hanya di atas panggung. Ini jalan satu-satunya, pikir Kajat. Ia harus bertukar peran dengan Busro. Tiba-tiba ia merasa bosan memerankan Menakjinggo.

***
MAKA siang itu ia menemui Cak Kandar yang selain pimpinan ketoprak juga sutradara. Cak Kandar benar-benar terkejut mendengar permintaan Kajat. Kajat jadi Damarwulan? Cak Kandar tidak bisa menahan ketawanya. Tawa Cak Kandar meledak-ledak.

”Lho ini serius Cak,” Kajat meminta.

”Piye ya Jat? Bagaimana ya? Sudah kamu pikirkan?”

”Sekali dua kali saja Cak. Aku juga ingin jadi Damarwulan walau sekali dalam seumur hidupku.”

”Ya ora isa Jat. Kalau kamu jadi Damarwulan dan Busro jadi Menakjinggo, jangankan penonton tikus-tikus akan bubar Jat.”

”Ya kalau Busro tubuhnya terlalu kecil ut wajah, suara, kamu itu Menakjinggo. Kamu pas sebagai Menakjinggo. Kamu seharusnya bangga. Kamu tampak gagah memerankan Menakjinggo. Penonton menyukai kamu karena kamu Menakjinggo.”

”Sekali saja Cak Kandar.”

”Tidak bisa! Aja ngowah-owahi adat. Busro itu ya Damarwulan. Kamu dan Busrro adalah peran yang serasi dalam lakon ini. Busro itu bentuk tubuh, gestur, raut wajah, suara adalah Damarwulan. Dia pas sekali jadi Damarwulan.”

”Tapi dengan jadi Menakjinggo di atas panggung aku selalu kalah. Selalu saja Busro yang menang karena dia Damarwulan.”

”Kajat, Kajat, lha wong kalah ning panggung kok jadi pikiran kamu. Kowe ki kan kalah ming ning nggon cerita.”

”Jadi tidak bisa Cak?”

”Ora isa! Tidak bisa!”

”Jadi nanti malam aku tetap jadi Menakjinggo yang kalah.?”

”Itu memang sudah kodratmu. Selama ketoprak ini masih ada dan kamu masih hidup. Setiap lakon Damarwulan-Menakjinggo kamulah Menakjinggonya dan Busro Damarwulannya.”

”Sekali saja Cak.”

”Wis ta ora bisa!”

Kajat meninggalkan Cak Kadar dengan hati yang sakit sekali. Sekali saja untuk jadi Menakjinggo pasang saja pemain lain misalnya Subeki yang jadi Prabu Urubismo. Bagaimana Cak?”

”Ora isa! Dari semua segi kamu itu Menakjinggo. Bentuk tubuh, gestur, raut wajah, suara, kamu itu Menakjinggo. Kamu pas sebagai Menakjinggo. Kamu seharusnya bangga. Kamu tampak gagah memerankan Menakjinggo. Penonton menyukai kamu karena kamu Menakjinggo.”

”Sekali saja Cak Kandar.”

”Tidak bisa! Aja ngowah-owahi adat. Busro itu ya Damarwulan. Kamu dan Busrro adalah peran yang serasi dalam lakon ini. Busro itu bentuk tubuh, gestur, raut wajah, suara adalah Damarwulan. Dia pas sekali jadi Damarwulan.”

”Tapi dengan jadi Menakjinggo di atas panggung aku selalu kalah. Selalu saja Busro yang menang karena dia Damarwulan.”

”Kajat, Kajat, lha wong kalah ning panggung kok jadi pikiran kamu. Kowe ki kan kalah ming ning nggon cerita.”

”Jadi tidak bisa Cak?”

”Ora isa! Tidak bisa!”

”Jadi nanti malam aku tetap jadi Menakjinggo yang kalah.?”

”Itu memang sudah kodratmu. Selama ketoprak ini masih ada dan kamu masih hidup. Setiap lakon Damarwulan-Menakjinggo kamulah Menakjinggonya dan Busro Damarwulannya.”

”Sekali saja Cak.”

”Wis ta ora bisa!”

Kajat meninggalkan Cak Kadar dengan hati yang sakit sekali. Sekali saja ut wajah, suara, kamu itu Menakjinggo. Kamu pas sebagai Menakjinggo. Kamu seharusnya bangga. Kamu tampak gagah memerankan Menakjinggo. Penonton menyukai kamu karena kamu Menakjinggo.”

”Sekali saja Cak Kandar.”

”Tidak bisa! Aja ngowah-owahi adat. Busro itu ya Damarwulan. Kamu dan Busrro adalah peran yang serasi dalam lakon ini. Busro itu bentuk tubuh, gestur, raut wajah, suara adalah Damarwulan. Dia pas sekali jadi Damarwulan.” 

”Tapi dengan jadi Menakjinggo di atas panggung aku selalu kalah. Selalu saja Busro yang menang karena dia Damarwulan.”

”Kajat, Kajat, lha wong kalah ning panggung kok jadi pikiran kamu. Kowe ki kan kalah ming ning nggon cerita.”

”Jadi tidak bisa Cak?”

”Ora isa! Tidak bisa!”

”Jadi nanti malam aku tetap jadi Menakjinggo yang kalah.?”

”Itu memang sudah kodratmu. Selama ketoprak ini masih ada dan kamu masih hidup. Setiap lakon Damarwulan-Menakjinggo kamulah Menakjinggonya dan Busro Damarwulannya.”

”Sekali saja Cak.”

”Wis ta ora bisa!”

Kajat meninggalkan Cak Kadar dengan hati yang sakit sekali. Sekali saja

***
SEJAK sore penonton sudah memanjang antre di depan loket. Benak mereka terutama yang laki-laki dipenuhi bayangan-bayangan tentang kecantikan dan tubuh indah Sukesi. Keluwesannya, suaranya yang mendayu ketika nembang. Akhirnya dari adegan yang satu ke adegan yang lain, sampailah adegan perang tanding antara Damarwulan dengan Menakjinggo. Sang Urubismo membawa senjata gada wesi kuning andalannya. Perang tanding sangat seru, tiba-tiba Sang Menakjinggo mengayunkan senjata wesi kuningnya dengan sekuat tenaga. Damarwulan jatuh terjerembab dan tidak bangunbangun lagi. Dari kepalanya mengucur darah segar. Darah itu membasahi lantai panggung yang kemudian jadi merah. Semua orang tersentak. Para anggota ketoprak tersentak, para penonton tersentak. Busro alias Damarwulan tertelungkup tidak bangun-bangun lagi. Tiba-tiba Kajat menjatuhkan tubuhnya dan memeluk Busro dengan menangis sejadi-jadinya. Polisi berdatangan untuk menangkap Kajat. Lelaki itu tidak melawan. Ketika diperiksa ternyata senjata yang dibawa Kajat memang besi betulan. Pada malam-malam biasanya senjata yang dipergunakan adalah gabus yang dibentuk seperti senjata gada.

Busro telah kehilangan nyawa, Kajat kehilangan kebebasan karena beberapa tahun ia harus masuk penjara dan ‘Bangun Budoyo’ serta Cak Kandar kehilangan primadona cantik yang bersama Sukesi itu. Sejak kejadian tragis tersebut Sukesi tidak muncul lagi di tobong karena sibuk menulis disertasi untuk gelar doktornya dalam ilmu budoyo khususnya ilmu karawitan dengan meneliti ketoprak tobong. Setelah meneliti beberapa ketoprak tobong terakhir ia meneliti ‘Bangun Budoyo’. Pada saat ia mengetik desertasinya sesekali muncul bayangan Busro, Kajat dan Cak Kandar.

”Ah, mau apalagi kalau memang harus begitu perjalanan hidup aku”, katanya di dalam hati. - k

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Achmad Munif
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 29 November 2015

0 Response to "Damarwulan Palastra"