Di Alam Maya - Bekal Perjalanan - Rindu Aksara - Peringatan - Dermaga Sunyi - Topeng Membaca Topeng | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Di Alam Maya - Bekal Perjalanan - Rindu Aksara - Peringatan - Dermaga Sunyi - Topeng Membaca Topeng Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:54 Rating: 4,5

Di Alam Maya - Bekal Perjalanan - Rindu Aksara - Peringatan - Dermaga Sunyi - Topeng Membaca Topeng

Di Alam Maya

hujan di terik matahari
tujuh widyadari meniti pelangi
turun ke bumi

selendang di pinggang melayang
rambut terurai ikal mayang
membasuh kulit halus bening
di telaga sunyi hening

sepasang mata membara
sang taruna menahan gelora
resah gelisah di balik ilalang
diambilnya satu selendang

Air berteriak bidadari berteriak
kentara yang mengintip di semak
taruna berharap satu jadi istrinya kelak
namun terhenyak,
bidadari bersorak,

"Ambillah sesukamu!
selendangku tak hanya satu
kuselalu berjaga dan waspada
akan orang sepertimu"

Taruna melilitkan selendang di pinggang
tak bisa terbang.

Bekal Perjalanan

Menapak menuju arah datang sinar
jagan lupa siapkan perbekalan
santapan mata, telinga, pikiran juga hati

Setiap jalan terjal adalah ujian
janagn lupa buka bekal
agar tak lapar mata, telinga, pikiran juga hati
niscaya lulus menempuh

Saat di langit berbintang
tetap ingat bekal
karena tak pernah tahu awan gelap
menghadang

Rindu Aksara

aku kehilangan aksara
tak temukan kata-kata
rindu rima dan irama
kemana?

Peringatan

jangan sengaja belitkan diri
karena tujuan tak pasti
karena kau takkan mampu melepaskan
pasti!

Dermaga Sunyi

Sesekali lidah ombak menyapa dermaga
berkabar langit di batas cakrawala semburat
jingga
berirama kicau burung berpadu bersahutan
selebihnya hanya sepi!
laut lepas membentang di depan
perahu-perahu berlayar ke penjuru mata angin
sudah ada dermaga tempat
mereka menambat
lepas dari rasa penat terpaan
surya menyengat

Tenang laju perahu dari arah terbit matahari
samar bayang kokoh layarnya
perlahan angin menghembus
akankah tertambat di pancang tiang?
aku berharap cemas angin tak
membelokkan arah
tak pula berharap banyak karena
kamu milik samudra

Aku, si dermaga sunyi ingin berandai
andai memang tempat yang dituju
perahu dan dermaga menyatu
ombak angin pasir nyiur merestui
semua mewujud dalam harap
dermagaku tak sunyi lagi karena
kamu menemani

Biarkan aku yang lebih rindu sedalam rindu
dongengkan aku tentang malin kundang di
tanah seberang
ceritakan kisah kasih tak sampai
sampek ingtay
hingga daun-daun menguning luruh di air yang
bening

Topeng Membaca Topeng

Ini aku,
bicara apdamu!
Dengan bahasa, tarikan napas berbeda

Takkah kau sadari?
Aku ingin berbeda dengan diriku,
agar kau hadapi kedua-duanya aku!

Mentari terbit
Topengmu kulepas-hempaskan
ngangan buaya di balik pesona Arsawijaya!
Aku, Putri Gangga!
Sebab kau goncang ketenangan aliranku,
kuseret kau dlaam pusaran tanpa dasar
: Kegelapan semata!

Beratus hari kau sungai di mataku
:ketengangan arus yang sekali waktu menderu
Menghanyutkan, kau bawa dari hulu ke hilir

Malam tiba
Permainan kata melenakan mimpi,
menjamah rahimku, menyentuh pusat rasa
Tapi wajahmu, bukan ini kukenali!
Ada berapa topeng lagi mesti kuhentakkan?
Atau berapa kejutan lagi telah kau siapkan?

Aku dan aku di sini, siap membacamu
Permainan telah kau mulai, tak sudi
kuhentikan
Meski ingin kutahu secepatnya akhir cerita,
tetap aku punya kesabaran
: menunggu!



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ni Putu Putri Suastini
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 15 November 2015



0 Response to "Di Alam Maya - Bekal Perjalanan - Rindu Aksara - Peringatan - Dermaga Sunyi - Topeng Membaca Topeng"