Dua Asa di Bumi Papua [1] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dua Asa di Bumi Papua [1] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 19:04 Rating: 4,5

Dua Asa di Bumi Papua [1]

Kirana

Pesawat yang kunaiki seperti seekor burung yang terbang menukik rendah dari atas langit. Di bawah, perairan teluk melingkar-lingkar berbentuk kurva banyak sisi menyusur kaki perbukitan dataran rendah Jayapura. Bayangan langit yang gelap terpantul di permukaan air. Pebukitan berwarna hijau tua, misterius sekaligus agung.

Gerimis menyambut pesawat yang mendarat di landasan. Mengikuti penumpang yang lain, aku berlari-lari menuju ruangan Bandara Sentani. Ada keinginan untuk menikmati gerimis sambil berjalan lambat, tetapi enggan juga mendapat perhatian sepagi begini. Aku juga sedang tidak begitu iseng. Ya, mungkin karena masih ada rasa duka di dalam hatiku. Gerimiskah yang menjadikan duka serasa menjadi-jadi? 

Aku mendadak teringat Dias. Kurogoh saku celana kargoku, meraih ponsel dan mengaktifkannya. Tepat seperti dugaan, SMS Dias sudah menunggu untuk masuk rupanya. Pukul 7 waktu Jayapura, berarti Dias terjaga di Jakarta menjelang subuh. “Sudah sampai, Ki?” Saya balas: “Baru mendarat, gerimis di sini.” 

Sekalian kuatur jam di ponsel sesuai dengan jam WIT. Matahari terlihat masih rendah di atas horizon timur. Kubayangkan secara khayali gasing Bumi sedang berputar, menyebabkan waktu di belahan dunia terbagi-bagi. Serasa diam, padahal bergerak. Batinku takjub sambil mengingat-ingat kecepatan berputar bumi adalah setengah kilometer per detik!

Rombonganku, tim relawan pengajar yang akan bertugas dalam program kerja sama sebuah lembaga donor dan sebuah institusi pendidikan swasta, langsung menuju teras luar bandara. Semua berjumlah 15 orang. Aku baru mengenal mereka selama sebulan ketika pelatihan materi pelajaran dan matrikulasi. Aku ditempatkann di Kabupaten Keerom, meski sebenarnya ingin mengambil Wamena atau Tolikara. Tetapi, tempat yang tersisa tinggal di Keerom, satu jam setengah ke arah timur Jayapura. Kurang menarik, karena cukup dekat dengan kota. Aku mungkin korban imajinasi potret di media-media tentang daerah pedalaman dan masyarakat di daerah terpencil. 

Dunia baru tampak eksotis, terlebih jika dilekatkan dengan kemiskinan dan panggilan jiwa untuk sebuah pengabdian kemanusiaan. Seperti yang kubaca pada kisah-kisah dokter dan guru yang berani bertugas di tempat-tempat sukar. Itulah bayanganku sejak kecil tentang apa yang seharusnya kulakukan di dunia ini. Tapi, aku malas ambil kuliah kedokteran atau pendidikan guru. Setelah bertahun-tahun ‘tersesat’ menjelajah bahasa kode-kode pemrograman komputer, aku berkata: cukup! Meskipun masih ada masa-masa aku mencoba menahan diri, masa-masa kegelisahan. Akhirnya, ketika kudapat e-mail tentang lowongan menjadi guru relawan di Papua, tanpa pikir panjang aku mendaftar. Setelah diterima, aku segera mundur dari kantor. Ibu dan kakakku tidak mempersoalkan. Hubunganku dengan Dias pun berakhir.

Ingatanku kepada Dias. Kepada percakapan yang tidak pernah bisa tuntas, kecuali oleh satu hal: perpisahan. Pahit sekali. 

“Pergilah, Ki. Jangan sampai keberadaanku menghalangi mimpi-mimpimu. Mimpi-mimpi yang sudah ada jauh sebelum aku hadir, bukan?”

“Hanya dua tahun….”

“Dua tahunmu itu awal. Aku tahu kamu tidak akan kembali lagi. Pengembara sepertimu sulit dihentikan. Kamu sudah menahan diri terlalu lama, dan kamu sudah melawan alamiahmu dengan menetapkan jangkar pada hubungan kita. Aku sudah merasakan itu dari awal, Ki….”

“Dias, biar kamu menjadi satu-satunya tempat aku pulang....”

“Aku bukan tempatmu pulang, aku hanya akan menjadi sangkar kebebasanmu. Kita sudah mencoba menjadi satu. Tetapi hatimu, jiwamu, darahmu, berada di luar sana.” 

“Aku cinta kamu, Dias.”

“Kamu akan mengalami perang batin terus, Ki.”

Kutangkupkan tangan kanan pada mulutku dan bernapas melalui sela-sela, menghirup udara berat. Bukit berbatu di depan yang kelam tampak seperti pertapa tua yang sudah mencapai kebijaksanaan. Lumut hijau tua seolah jenggot dan cambang sebagai pertanda waktu yang terlewati sudah sangat panjang. 

Aku permisi untuk pergi ke toilet. Dari tiga kakus, semuanya terisi. Kudapati seorang wanita. juga sedang mengantre. Sebagai basa-basi aku senyumi dia. Ia mula-mula ragu membalas, lalu mencari mataku. Senyumku kulebarkan, sedikit canggung. Ia kemudian tersenyum, tipis sekali, seperti tak ada niat. Ketika salah satu pintu terbuka, tampak ia merasa terselamatkan dari keharusan membalas keramahan seorang asing. 

Lega sekali setelah beban kemih dikeluarkan. Anggota rombongan bertanya, apakah toiletnya bersih dan enak. Kujawab lumayan. Ternyata beberapa orang menyusul buang hajat kecil. Aku bersandar di pilar dan memperhatikan ketua tim sibuk menelepon seseorang yang akan menjemput kami. Topi hoodie kukenakan, sehingga mukaku tersembunyi. Menurut Dias, penampilanku keren jika sedang memakai hoodie lalu menyakukan kedua tangan sambil bersandar di pilar mengawasi lalu-lalang. 

Rombongan akan menginap semalam di Abepura. Kami diangkut dua mobil menuju hotel. Aku mendapat kursi di sisi kanan sehingga leluasa melihat permukaan Danau Sentani yang berkilat-kilat seperti cermin perak. Sumber ikan danau yang segar dan manis teman menyantap papeda. Pikiranku meloncat dari makanan ke bacaan. Seketika menyadari bahwa tas kertas jinjing dengan sablon merek batik terkenal tidak ada di tanganku. Tertinggal tentu. 

“El, ada melihat tasku di toilet tadi?” kutanya Eliezer.

“Ditaruh di mana?”

“Seingatku, sih, di dekat wastafel. Aku taruh sewaktu mencuci muka. Kemudian lupa untuk dibawa,” ujarku, sambil garuk-garuk dagu. 

“Apa isinya?”

“Beberapa buku, roti, dan minuman.”

“Apa perlu kita kembali? Siapa tahu masih ada.” Rahman Parengkuan, ketua rombongan, mengusulkan.

Aku bimbang. Lalu kutanya sopir mobil carteran, “Ini sudah sampai mana, Pak?”

“Sebentar lagi masuk kota,” jawabnya.

“Kalau begitu lanjut saja, Pak. Bukan buku-buku yang penting, hanya untuk dibaca supaya tidak bosan di perjalanan.” 

Rahman tersenyum.”Yakin? Apa ada buku yang tidak penting untukmu?”

Aku tersipu-sipu merasa norak reputasi sebagai kutu buku dikenal luas. “Barangkali bermanfaat untuk orang yang menemukan.”

“Jadi bungkus gorengan,” Eliezer menyela. Seisi mobil tertawa. 

Aku nyengir dan meringis. Eliezer mungkin benar, probabilitas terbesar nasib bukuku adalah menjadi bungkus gorengan. Tetapi, siapa tahu yang menemukannya berbeda dengan orang kebanyakan. Mungkin seorang pekerja sosial anggota misionaris asing, atau mahasiswa putra daerah yang cerdas dan kritis. Atau gerilyawan OPM juga boleh jadi haus buku. Semoga. 

Aku bertanya-tanya tentang nasib bukuku itu. Kuberi tahu Dias lewat SMS: Serat Centhini hadiahmu ketinggalan di toilet :(Maafkan aku... Justru krn kuanggap penggantimu yg akan menemaniku. Tapi aku gak jaga baik2. Mau minta sopir balik, dah jauh dari bandara, jg gak enak sm temen2.

SMS balasan Dias membuatku tersenyum lebar: Gpp. Asal bukan kamu yg ketinggalan.


Vitalies Melinda. Pemenang penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Vitalies Melinda
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Dua Asa di Bumi Papua [1]"