Dua Asa di Bumi Papua [10] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dua Asa di Bumi Papua [10] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:19 Rating: 4,5

Dua Asa di Bumi Papua [10]

Ning

Sejalur sungai berisi aliran lumpur keputihan terpampang di depanku. Di kampungku, sungai dengan air sedikit keruh terlihat mengalirkan kehidupan, diapit aneka pepohonan dan semak di sepanjang kedua tepinya. Batu-batu hitam abu-abu berukuran besar menambah kesan alami. Tapi, itu di kampungku. Di sini, yang kulihat hanya warna putih abu-abu, di tengah sungai, di bantaran kali, melebar ke tepiannya sampai beberapa meter. 

Ada sebatang pohon tumbang yang akarnya mencuat di udara, jejak-jejak sepatu boot tercetak di atas lumpur, menuju deretan bivak yang warnanya biru seragam. Wajan-wajan menelengkup tergantung pada tiang-tiang pendek yang ditanam di depan bivak. Bukan untuk memasak, tapi untuk menyaring butiran emas dari tailing, lumpur putih abu-abu itu. Beberapa orang terlihat sudah mulai bersiap-siap untuk mendulang. Hari memang masih pagi, orang-orang yang tidur di dalam bivak mungkin masih berkelimun dalam kantong tidur. Apalagi bulan musim penghujan seperti ini, sampai siang pun matahari sering bersembunyi di balik awan.

 “Adakah ikan yang hidup di sungai ini?”

“Dulu, sewaktu sa kecil, di sini sa tangkap ikan-ikan lezat yang sekarang sudah lenyap. Dulu, kebun petatas di pinggir sungai ini tumbuh paling subur dibanding tempat lain. Dulu, pohon sagu berderet sepanjang mata melihat....”

Suara Lukas terdengar aneh. Mungkin ia sedang mengenang masa kecil yang membuatnya seperti menangis itu. 

“Sekarang namanya Sungai Kapur. Ko lihat airnya yang kotor itu, itulah mengapa tong kasih nama Sungai Kapur.”

“Baru sekali ini aku lihat tempat orang menambang emas itu.”

“Ah, ko salah jadi. Orang menambang emas itu di Gunung Grasberg, tempatnya pabrik raksasa itu. Di sini, ko cuma lihat semut-semut kecil mengerubuti sisa-sisa makanan. Itu sudah.”

“Ooo…,” ujarku, pendek. Mengapa nada suara Lukas kembali aneh? Jika tadi terdengar ingin menangis, sekarang bernada geram. 

“Dulu, Gunung Dugu-Dugu dan Puncak Nemangkawi Nenggok punya kami, sekarang tinggal lubang menganga. Dulu suku-suku di lembah ini baku perang berebut hutan, sekarang baku kelahi berebut daerah pendulangan tailing.”

“Devi hanya tahu baku sayang saja, Pace,” ujarku, berusaha agar Lukas tidak terus terbawa emosinya. Tapi, wajah Lukas telanjur mendung. Perasaanku tak enak. Bertahun-tahun kukenal Lukas, tidak pernah kulihat ia tampak emosional seperti ini. 

Lalu kami kembali melangkahkan kaki di atas tanggul jalan sambil diam. Kulirik lagi Lukas, wajahnya tampak tegang dan serius. Ya, aku memang tahu jika Lukas punya trauma dengan tempat pendulangan. Itulah mengapa ia tidak menjadi penambang liar seperti kebanyakan orang-orang sukunya. Sahabatnya dulu tewas dalam perkelahian dengan sesama penambang, begitu ia pernah cerita. 

“Pace, ko baik sekali kasih antar Devi selamat sampai di sini,” ujarku lembut. 

Lukas mengangguk. Lalu menggeleng-geleng. “Sa pikir tidak akan sedih lihat kembali Sungai Kapur. Waktu ko bilang ingin melihat-lihat ke sini, sa seperti ditantang. Ko yang seorang wanita trada takut ke sini, mengapa sa tidak? Sudah lima tahun lebih sa tra pernah ke sini. Sa bilang sama diri sendiri, harus dilenyapkan kenangan buruk itu, tapi ternyata sulit. Sukar sa percaya.”

Ya, sukar kupercaya rasanya aku bisa berhasil sampai ke sungai ini. Dari ujung jalan di Kwamki Lama, tadi bersama Lukas aku harus naik-turun tanggul, menyeberangi kolam luas, melintasi daratan tandus, dan yang paling mengerikan menyeberangi Sungai Ajkwa yang mengalir deras. Untungnya, meski sudah lima tahun lebih tidak ke sini, Lukas masih hafal tempat cukup dangkal untuk diseberangi. Meskipun terhitung yang paling dangkal, tinggi air di tempat penyeberangan mencapai pertengahan dada. Aku terus komat-kamit berdoa, merasakan tenaga arus pada tubuhku, juga waswas jika hujan deras di hulu mendadak turun, yang bisa menyebabkan sungai meluap.

Lukas bercerita, di daerah yang lebih tinggi, mendekati Kota Tembagapura di atas, medan menuju sungai jauh lebih berat. Jadi, kalau aku tetap nekat ingin mengumpulkan uang emas langsung dari tangan pertama, risiko perjalanan lebih sulit. Ah, tapi, toh, ternyata aku pun bisa sampai juga ke Sungai Kapur. Kurasa ke daerah atas pun bisa. 

“Eh, Pace... Aku jadi kepingin mendulang juga. Sepertinya gampang, cuma tinggal ambil wajan dan sekop. Tidak usah aku ke Banti, di sini saja. Aku mencari emas, sekaligus mendapat meno-meno juga. Jadi, sumber uangku jadi dobel.” Kubayangkan emas berkilau-kilau yang mungkin bisa dilihat orang lain memantul pada biji mataku. 

“Hah?’ Lukas tidak menyembunyikan keterkejutannya. “Ko pu pikiran itu selalu lain saja, Devi.”

“Oh, mengapa tidak, Pace. Sewaktu di kampung aku bekerja di sawah. Aku bisa kerja keras.”

“Ko akan ditertawakan jadi.”

“Ah, Devi tra takut dengan tertawaan orang. Mumpung ada kesempatan. Kudengar kalau lagi beruntung bisa dapat emas sampai Rp70 juta. Wah, kalau keberuntungan semacam itu datang kepadaku, aku akan langsung pulang. Mumpung sekarang musim hujan, banyak emas hanyut di lumpur.”

Lukas tampak berpikir. Wajahnya jika sedang berpikir terlihat lucu. Mungkin ia sedang menghitung-hitung hilangnya kesempatan mendapat bagian empat puluh persen yang sudah kujanjikan untuk transaksi dengan para meno. Mungkin ia tidak mengira, aku punya usulan di luar dugaan. Wajahnya yang sedang berpikir itu berubah menjadi erangan bertepatan dengan melesatnya sebuah mata panah mengarah pada jantungnya.

Aku menjerit keras-keras. Kulihat sekelebat sosok berlari menuju dataran semak-semak di seberang jalan.

Seminggu sudah Lukas pergi. Seminggu ini juga aku bolak-balik ke kantor polisi untuk menjawab berbagai pertanyaan sebagai saksi. Berarti tidak ada pendapatan, blas. Hari ini aku akan pindah ke kamar sewa yang lebih murah. Barang-barangku kukemasi. Koran Cenderawasih Post yang memuat berita kematian Lukas, kubuang ke tempat sampah. Tapi, aku masih ingat isinya.

(Mimika-CP) Kematian Lukas Waisor (34) oleh pemanah tak dikenal diduga merupakan buntut peristiwa perkelahian di pendulangan Sungai Kapur pada akhir tahun 2003. Penyidik mengatakan, aksi balas dendam ini tampaknya akan memicu perang antar dua kampung yang pernah bertikai. Namun, fakta di lapangan juga menunjukkan bahwa peristiwa ini bukan sekadar dendam lama. 

Pada saat bersamaan, secara sporadis terjadi juga penyerangan terhadap karyawan sebuah perusahaan tambang emas di beberapa tempat. Dilaporkan dua orang tewas di tempat dan empat yang lain dilarikan ke rumah sakit. Diduga, peristiwa kekerasan yang berlangsung bersamaan itu memiliki kaitan satu sama lain, yaitu dengan motif untuk mengacaukan suasana. Polisi mengaitkannya dengan gerakan kelompok separatis yang berada di balik tuntutan pembubaran perusahaan tambang emas terbesar di Indonesia itu. 

Isu ini membuat suasana Kota Timika menjadi mencekam. Meskipun tidak diberlakukan jam malan, kegiatan penduduk langsung berhenti begitu malam tiba. 

Ya, suasana kota sekarang terasa lesu. Menurut pengepul emas di Pasar Swadaya, keadaan ini hanya berlangsung sementara. Tidak lama lagi keadaan pasti normal. Di sini, peristiwa demikian sudah biasa terjadi. Mataku terasa hangat, dan kubiarkan air mata itu meleleh tumpah. 

Oh, ya, buku itu, mungkin akan kubawa terus. Aku merasa tidak enak hati kepada pemiliknya, jika kubuang begitu saja. Mungkin, nanti aku punya waktu cukup untuk membacanya pelan-pelan, jika berada di tengah kesunyian hutan gaharu. (tamat)


Vitalies Melinda
. Pemenang penghargaan Sayembara Mengarang Cerber Femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Vitalies Melinda
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Dua Asa di Bumi Papua [10]"