Dua Asa di Bumi Papua [3] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dua Asa di Bumi Papua [3] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 19:11 Rating: 4,5

Dua Asa di Bumi Papua [3]

Kirana

Berlima dengan anggota rombongan lain, aku berada dalam mobil SUV yang cat dan interiornya masih kinclong. Disopiri orang dari organisasi sosial yang mendanai kegiatan relawan, kami menuju timur Kota Jayapura. Hari masih pagi. Anak-anak sekolah bergerombol menunggu angkutan. Rambut keriting mereka tersembunyi di balik topi. Sering juga terdapat anak-anak berambut lurus di antara mereka. 

Kota kecil tempat kami transit semalam namanya Abepura. Hotelnya berada di daerah Cigombong. Nama yang berbau Sunda. Sewaktu kami mencari makan malam, malah terdampar di warung ayam lalapan milik orang Sukabumi. Pak Bertholomeus Krey, pendamping yang sekaligus menjadi sopir, memberi tahu jika tempat yang kami tuju di perbukitan Arso kebanyakan transmigran dari Jawa. Ribuan hektare tanah adat penduduk asli telah berubah jadi perkebunan sawit. 

Dari Abepura ke arah timur, jalanan berkelok menyisir Teluk Youtefa yang dipagari tebing karang tinggi. Pemandangan kota dan perkampungan penduduk hanya terlewati sepanjang dua  puluh menit, sisanya perbukitan berpohon jarang mengapit jalan. Semak dan perdu tumbuh subur. Kuduga, perbukitan ini yang pertama-tama habis mengalami penebangan sebelum seluruh hutan Papua dirambah tanpa sisa. “Dahulu, sebelum ada jalan trans Irian, menuju Arso memerlukan waktu sampai sepekan melewati hutan rimba,” ujar Pak Bertho. 

Mobil melaju dalam kecepatan sedang. Ketika ada sebuah bus menyalip, Pak Bertho memberi klakson. Lalu dibalas oleh bus itu. Pelatnya merah. “Itu pegawai pemda Kabupaten Keerom. Mereka setiap hari pulang pergi dengan bus dinas Jayapura-Arso. Sebagian besar pegawai memang tinggal di Jayapura.”

“Di sana tidak ada perumahan pemda, Pak?” tanya Ilham Abiyasa.

Pak Bertho menggeleng. “Pejabat eselon diberi kontrakan. Tapi, ya, karena anak istri mereka di kota, mereka pun tak betah. Ibu kota kabupaten secara resmi kan di Waris. Di Arso itu hanya transit menunggu persiapan infrastruktur Waris lengkap. Menurut Bapak, sih, kalau tidak dipaksakan, Waris sulit untuk berkembang. Alasan pemda Arso dipakai dulu karena fasilitas Arso lebih menunjang untuk kegiatan kabupaten baru. Juga lebih dekat dan mudah dijangkau dibanding Waris. Jadilah Waris ibu kota de jure, Arso ibu kota de facto.”

“Harusnya ibu kota Indonesia saja yang pindah ke sini, Pak. Jakarta itu sudah kelebihan beban,” timpal Mora Sinaga. 

“Akurrrr!” seruku paling keras.

“Bukannya malah tidak efektif?” protes Pramita.

“Ada kemauan pasti ada jalan.”

“Bah. Sederhana sekali solusi kamu. Memangnya birokrasi itu tidak ruwet apa? Dipindah-pindah mudah, itu mah sandal jepit. Megapolitan saja belum tentu berhasil memecahkan persoalan Jakarta.”

Ilham tersenyum. “Wah, membicarakan kota kita dari jauh terasa romantis, ya. Membayangkan kemacetannya membuat kita kangen juga.” 

“Aku jadi kepingin makan Bakso Lapangan Tembak.”

“Di sini juga banyak bakso enak. Kami menyebutnya pentolan. Si mas yang jualan bisa beli mobil baru setiap tahun,” Pak Bertho tidak pelit dengan informasi. 

Sepanjang jalan bertukar cerita. Kami tergelak-gelak mendengarkan mop, lelucon orang Papua, dari Pak Bertho. Termasuk mulai mengenal kata-kata khas penduduk timur Indonesia ini. Dong untuk dia, tong untuk kita, tra artinya tidak, pu adalah punya, sa adalah saya. Kalau ada yang bilang ‘Sa pu mama su pergi belanja’ maksudnya ibu saya sudah pergi belanja.  

Sebuah plang di tepi jalan bertuliskan Koya Timur mengingatkanku pada pembunuhan Theys Eluay. Di tempat lain, pada mulut jalan bergapura, tampak pasar kecil sedang berlangsung. Dagangan dijajakan dalam meja-meja kayu sederhana, sebagian digelar begitu saja di tanah beralas goni atau terpal plastik. Ubi, pisang, kangkung, ikan, jagung, buah pinang, teronggok dalam ikatan-ikatan.  “Ini jalan menuju Muaratami, sentra penghasil beras di sini. Pemandangannya tidak jauh beda dengan sawah-sawah di Jawa,” Pak Bertho memberi tahu. Kami juga sempat bereaksi penuh semangat saat ditunjukkan persimpangan menuju perbatasan RI-Papua Nugini yang berjarak kurang dari satu jam.

Setelah melewati jembatan perbatasan kabupaten di atas Kali Tami, jalan menjadi tambah sempit dan beraspal tipis. Ilalang tinggi mengepung kiri kanan. sesekali tampak rumah kayu sederhana yang kesepian di tengah semak dan hutan. 

Mulut ular berbadan putih panjang sesekali muncul di tepi jalan. Itu adalah jalan menuju areal transmigrasi di pedalaman Arso. Jalan karang putih itu tampak lurus lalu menghilang di kejauhan. Sebuah warung kecil dan gerombolan ojek motor berada di sekitar gapura. Ada angkutan kota yang melayani trayek Abepura-Arso. 

Mobil berbelok di sebuah tikungan yang cukup ramai dengan ojek dan pengunjung sebuah warung. Rumah-rumah mulai agak rapat, berhalaman luas, beratap seng-seng yang masih berkilat. Inilah pusat kota Kabupaten Keerom. Keramaiannya seperti desa besar di Jawa. Arso II namanya, salah satu yang terbesar di antara 14 satuan permukiman transmigran di Arso. Kami turun di depan gedung sekolah dasar yang menjadi tempat pertemuan. Sebatang pohon randu tegak menjulang di tengah lapangan upacara, seolah menuding langit biru.


Vitalies Melinda
. Pemenang penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Vitalies Melinda
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Dua Asa di Bumi Papua [3]"