Dua Asa di Bumi Papua [4] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dua Asa di Bumi Papua [4] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 19:14 Rating: 4,5

Dua Asa di Bumi Papua [4]

Ning

“Siska minggu lalu pergi ke Merauke,” ujar Lukas, centeng bar Aretha Pub, menjelaskan saat kutanyakan siapa saja kenalanku yang sudah tidak lagi bekerja di Kilo 10. Aku meninggalkan tempat ini kurang lebih tiga bulan. Dalam rentang waktu itu banyak penghuni yang datang dan pergi.

Beberapa saat lalu aku baru tiba di Timika dengan pesawat kecil. Lukas menjemputku di Bandara Mozes Kilangin. Kami berboncengan menuju Kadun Jaya, sepuluh kilometer dari Timika, sehingga disebut Kilo 10. Jika bertanya kepada penduduk Timika, mereka paham tempat apa itu Kilo 10.

Sebenarnya kemarin, sewaktu aku pulang kampung, itu usahaku untuk berbalik jalan. Seharusnya, setelah dua tahun bekerja sebagai ‘pramusaji restoran’ di Timika, ada tabungan cukup untuk modal hidupku. Tetapi, kakak laki-lakiku menyia-nyiakannya untuk modal pencalonan kepala desa.

Dia kalah, uangku ludes, padahal ia tidak pernah minta izinku memakainya. Sisa utang berpuluh-puluh juta. Dia memaksaku untuk kembali bekerja di Timika. Dengan pesan, “Ramahlah kepada setiap tamu restoran supaya mereka tak sungkan memberimu tip yang lumayan. Apalagi sama karyawan asing, pakai jurus kedip-kedip sedikit.”

“Kapan ko ke Merauke, Devi?”

“Bah. Kenapa?” aku mengernyitkan dahi dan memandangnya dengan pedas.

“Kupikir ko tidak kembali lagi ke sini.”

Aku tertawa. “Rezekiku masih di sini, Pace.”

Lukas tertawa. “Nanti malam tong pesta berdua, ya. Kuucapkan selamat datang kembali kepadamu, Devi.”

Aku tidak tahu apakah Lukas itu iblis atau malaikat.  Dia yang mensponsoriku untuk kembali di sini. Artinya, dia memberiku utang untuk ongkos perjwalanan, yang kuangsur tiga kali dengan bunga 50%. 

Selama dua tahun pertama aku menjadi anak buah Rio, pemilik bar dan panti pijat besar di Timika. Sekarang aku tidak punya bos alias usaha sendiri. Tetapi, sulit jika tidak ada pelindung khusus yang akan menjagaku dari razia aparat. Kukenal Lukas cukup baik. Ia menyewakan kamar-kamar kecil untuk orang-orang semacam aku. Kami hanya membayar harga sewa, meskipun sangat tinggi, tanpa perlu membagi hasil.

Hari masih siang, aku memutuskan untuk istirahat. Kubaringkan tubuh di atas kasur yang agak keras. Dulu di rumah penampungan Rio, kamar pribadiku cukup enak, meskipun sempit. Aku akan terbiasa sendiri, hiburku berusaha optimistis.

Tidak ada yang bisa diatasi dalam hidup ini, manusia hanya butuh membiasakan diri. Jika terbiasa dengan rasa pahit, lama-kelamaan kita akan bisa menikmatinya. Itulah prinsip yang kupegang, yang bisa membuatku bertahan dalam kehidupan seperti yang kujalani sekarang ini. Di wisma milik pengusaha hiburan memang lebih enak. Tetapi, potongan penghasilan juga besar. Kontrakan seadanya Lukas jadi pilihanku.

Beginilah perjalanan nasib. Sepuluh tahun lalu aku berada di Bandung. Lalu berkenalan dengan Hans, pelanggan yang mengajakku pindah ke Timika. Aku bekerja di bar milik saudaranya. Sudah kuniatkan itu akan jadi babak terakhir pekerjaan yang terpaksa kujalani seperti sekarang ini. Tetapi, takdir berkata lain. Mudah-mudahan aku tidak sampai harus ke Merauke.

Pintu diketuk menjelang malam. Lukas datang. Oke, satu jam dulu bersamanya. Lalu aku akan minta dia mengantarku ke pangkalan. Mengenakan topeng keceriaan kembali. Kali ini babak terakhir dari cerita kesedihan hidupku, kuharap.

Kirana

Yosefa, gadis hitam manis berambut kriwil itu berasal dari Flores. Ia mengajar matematika di SMP negeri. Sedangkan tugasku mendampingi pengajaran matematika di sekolah dasar. Karena aku dari Jawa, apalagi Jakarta yang seolah pusat jagat itu, maka metode matematika SD yang tim kami kembangkan dapat dipakai untuk pelajaran SMP. Menurut Yosefa, muridnya yang hanya beberapa gelintir itu masih berkutat dengan persoalan matematika yang sangat mendasar. Faktor kelipatan dan aljabar bilangan pecahan, masih belum dikuasai murid-murid SMP itu.

“Apalagi aku pun lulusan sekolah teologi. Mengajar matematika karena kebutuhan yang mendesak. Guru-guru yang ditugaskan dinas kabupaten tidak ada yang betah tinggal lama. Kami sendiri di sini karena misi gereja. Dan, tentunya panggilan hati,” ia tersenyum manis. Sore itu ia menyuguhkan secangkir kopi panas dalam cangkir keramik cokelat tua. “Ini kopi Wamena.”

“Apa keistimewaannya?” tanyaku. Aku buta tentang perkopian, hanya tahu menikmati. Itu pun seringnya kopi instan yang sudah ditakar dengan komposisi pabrik.

“Kopi Wamena ditanam secara organik. Kebunnya di Pegunungan Wamena, jadi mengandalkan pupuk dari abu vulkanis. Terkenal tidak hanya di Papua, lho, tapi sampai ke mancanegara.”

Wah, aku kagum, ternyata Yosefa yang berada di pedalaman paham hal-hal seperti itu. Di kompleks ini, terdapat enam rumah dan sebuah gereja. Ada dua orang guru dan keluarganya, satu rumah khusus untuk tamu, satu rumah untuk frater, dan satu rumah untuk tenaga medis. Satu rumah lain difungsikan sebagai asrama untuk murid-murid yang bersekolah di Waris.


Vitalies Melinda
. Pemenang penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Vitalies Melinda
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Dua Asa di Bumi Papua [4]"