Dua Asa di Bumi Papua [5] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dua Asa di Bumi Papua [5] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 19:58 Rating: 4,5

Dua Asa di Bumi Papua [5]

Di luar kompleks, hanya terdapat rumah tak melebihi duapuluh bangunan. Rumah penduduk asli kebanyakan sederhana, berdinding papan darikayu dan atap seng. Ada satu kios milik koperasi desa yang menjual beberapabarang kebutuhan sehari-hari. Sedangkan rumah dinas kepala distrik atau yangditempati tentara, setengah tembok dengan cat putih seragam. Ada beberapa rumahyang memiliki parabola. 

Sore ini aku sudah mengoleskan lotion antinyamuk. Malaria harus dihindaridengan ekstra hati-hati. Selain sudah menyiapkan dengan pil anti malaria, tipYosefa kuikuti: pakailah baju berwarna terang karena nyamuk suka hinggap ditempat berwarna gelap. Di sore dan malam hari, kenakan baju berlengan panjangdan celana panjang. 

Ditemani secangkir kopi, suasana sore jadi lengkap untuk menyegarkan pikiran.Nyanyian serangga dan kodok terdengar dari arah belukar dan hutan di belakangkompleks. Nikmat di jiwa. Suasana rimba yang kurindukan. Aku sudah lama pensiundari pendakian gunung sejak lulus kuliah. 

Sebentar lagi malam. Sunyi dan senyap hutan mendatangkan hening batin. 

“Bagaimana hari pertama tadi?” tanya Yosefa.

“Di kelas saya masih mengamati. Anak-anak juga masih malu-malu. Saya memangperlu waktu untuk dekat, bahkan dengan anak-anak.”

“Lama-lama juga terbiasa. Pengalamanku pribadi, kita harus ekstra sabarmengajar anak di pedalaman. Tidak bisa kasih banyak materi langsung kepadamereka, ibarat mengunyah makanan harus pelan dan butuh waktu. Itulahtantangannya, bukan?”

Aku nyengir. Ingat Dias seketika kalau sudah mendengar kata ‘tantangan’. Diasmemvonisku akan kesepian menghabiskan waktu. Aku optimistis punya banyak waktuuntuk menamatkan buku yang bertahun-tahun hanya dibaca halaman awal. Tetapi,penerangan seadanya dari lampu yang watt-nya kecil pasti membuat mata lelah.Ah, aku bertanya-tanya, seberapa dalam kesepian yang akan menemaniku di tengahbelantara. 

“Mengapa Kakak tertarik untuk mengajar di sini?” tanya Yosefa. Ia memanggilkuKakak karena beda usia tiga tahun saja. Pertama ia memanggilku Ibu, tapikuminta jika di rumah panggil saja namaku langsung, eh malah jadi Kakak. Aduh,feodal sekali rasanya. Tapi, rupanya sudah kebiasaan di tempat ini untukmenyebut yang lebih tua dengan ‘Kakak’.

“Kurasa beda tipis dengan alasanmu.”

“Beti, ya?” Yosefa tertawa. Wah, tahu juga ia istilah gaul, meskipun tinggal dipedalaman. Kulihat ada tumpukan majalah di meja belajarnya. “Padahal, setiaporang malah berlomba pindah ke kota. Apalagi Jakarta. Sa tidak bisa bayangkanseperti apa besarnya ibu kota. Selain hanya lihat di televisi.”

“Itulah, saya juga heran. Ngapain, sih, pada berdesakan di sana?” Aku tertawa.

“Mungkin pohon uangnya di sana, Kak,” ujar Yosefa. “Sebelumnya Kakak kerjaapa?”

“Programmer di perusahaan jasa telekomunikasi.”

“Wah, sa tra bisa bayangkan kerja macam apa itu.”

“Pokoknya mengutak-atik komputer supaya bisa digunakan untuk bermacam-macamkegunaan.”

Yosefa menggeleng-geleng. “Kalau sa tanya-tanya terus juga tetap akan bingung,ya. Yang sa tahu, pekerjaan itu, ya, guru, dokter, insinyur sipil, pejabat,anggota dewan, suster, pedagang, petani... Wah, sejenis itulah.” 

Lagi Yosefa memperlihatkan giginya yang putih kontras dengan kulit gelapnyasaat tertawa. “Nah, sekarang Kakak pegang komputer saja tidak.”

“Jauh lebih susah, kok, mengajar itu. Yang dihadapi manusia, apalagi anak-anak.Ibaratnya kita ini sedang menulisi selembar kertas yang masih bersih. Kalauberhadapan dengan benda mati, kita perlakukan seperti apa pun, tidak akanterbawa terus seumur-umur. Jadi, saya ini khawatir juga kalau salah langkah.Saya kerap tekankan pada diri sendiri, agar menghormati anak-anak itu sesuaibudaya tumbuhnya. Saya tidak boleh menetapkan diri sendiri sebagai acuan.Justru saya yang akan belajar kepada mereka. Inilah salah satu alasan sayadatang ke sini.”

Yosefa tersenyum. “Benar, sebetulnya kita sendiri yang akan belajar banyak.”

“Kamu sendiri, seringkah kangen berkumpul dengan keluarga?” Aku bertanya.

“Di sini ini juga keluarga, Kak.” Jawabannya membuatku diam sejenak.

“Berapa lama sekali pulang ke rumah orang tua?”

“Hampir tiga tahun di sini, sa baru pulang sekali pada saat Natal. Sekalipernah Natal di sini, sekali lagi di rumah matua yang menikah dengan orangSerui.”

“Wah, kuat juga, ya, menahan rindu.”

“Sa pu orang tua bilang, jika untuk kepentingan umat, keluarga boleh jadi nomorsekian. Lagi pula, ongkosnya mahal.”

Obrolan remeh-temeh tentang hal-hal pribadi pun terus mengalir. Kami cepatakrab. Yosefa ternyata masih sendiri, dan ia merencanakan akan menikah setelahlima tahun mengabdi sebagai pengajar di sini. Biar tidak harus berpindah-pindahmengikuti suami, begitu alasannya. Saat ia tanyakan statusku, kubilang akusingle but it’s complicated. Kata yang mengingatkanku pada facebook. Sebelumnyafacebook menu harianku, sekarang aku akan puasa panjang dengannya. Jika facebookbisa kuakses, akan ku-update statusku seperti ini: ‘Menikmati kopi Wamena ditengah belantara sambil diiringi nyanyian serangga menjelang senja’.

Ketika lampu-lampu sudah menyala, Yosefa pamit dari berandarumah tamu. Dalam keremangan senja, kutatap jalan kerikil di depan pagar yanglurus membentang. Kedua ujungnya mendadak muncul dan menghilang di rerimbundaun.  Kelap-kelip nyala lampu dari barisan rumah seperti mata tentarapenjaga kampung. Di rumah frater, Frater Hans tampak baru menarik gorden, kemudianmembuka pintu. Ia melambai dan tersenyum saat melihatku. “Selamat malam, Nona.”

“Malam, Frater,” sahutku, membalas salam. Frater Hans kemudian masuk kembalitanpa lupa berpamitan. 

Terdengar lagu dari radio milik keluarga Pak Jonas, petugas medis timkeuskupan. Berselang-seling dengan celoteh balita mereka, Azalea. Hanya seharimengenalku, bocah itu langsung lengket. Rupanya ia senang dengan orang baru. 

Aku masuk kamar yang diterangi lampu redup lima watt. Ini pun hanya berlangsungsama, pukul 9 malam. Setelah itu gelap gulita. Kecuali jika memasang lampuminyak. Yosefa minta maaf karena genset hanya dinyalakan penuh saat parokimenyelenggarakan acara. Selebihnya, bahan bakar harus dihemat benar. 

Sebenarnya biaya penerangan ada dalam anggaran gereja, tetapi diputuskan untukmenghargai penduduk yang belum bisa menikmati listrik. Pemda masih terkendalainfrastruktur untuk menjangkau distrik Waris dengan jaringan PLN. Meskipunjarak dari Abepura ke Waris hanya sekitar 130 kilometer, kurang lebih samadengan Bandung - Jakarta.

Hasrat membaca lenyap karena penerangan yang kurang. Semoga lama-lamapenglihatanku bisa beradaptasi. Sambil membuka-buka lembaran buku, kubayangkanpekerjaan berat para misionaris awal yang pertama menembus rimba belantara perawan.Dikepung nyamuk malaria juga ancaman suku-suku pedalaman. Tapi, merekatampaknya adalah kelompok orang bersemangat baja. 

Ingatan itu menghangatkan semangatku. Kupahami sejak awal di dalam hatikuseolah ada bara terembus setiap membaca kisah-kisah pengabdian yang dilakukanpara tokoh kemanusiaan. Mereka berani mengorbankan kepentingannya sendiri untukbepergian jauh dan menyerahkan kehidupannya di jalan sulit dan terjal, bahkantak jarang penuh penderitaan. 

Bertahun-tahun aku memelihara semangat mereka sebagai fantasi. Liar sepertiketika membayangkan petualangan Indiana Jones. Tetapi, kenyataannya akumenjalani hidup seperti kebanyakan. Kuliah lalu bekerja, normal layaknya yanglain. Bahkan, karena alasan-alasan praktis, aku memilih bekerja di Jakartadengan pendapatan yang aman. 

Tetapi, cita-cita itu terus hidup dalam mimpi-mimpiku. Seolah menjulur-julurkanlidah meledek. Makin ke sini  makin sulit mengelak. Terutama saatkusandarkan penatku di kursi kantorku yang lama. Aku tak hendak bergagah-gagahmenjadi pahlawan. Hanya memiliki panggilan hati untuk pergi ke daerahtertinggal suatu saat.  Lalu, setelah itu aku bisa merasa hidupku lengkapsudah. Tidak ada semacam ‘utang’.

Mungkin hal itu memengaruhi caraku berhubungan dengan Dias. Bagiku, berlama-lamadi tempat yang nyaman terasa bagai kesalahan. Padahal, aku harusnya punyakewajiban untuk menebusnya. Aku mungkin sejenis idealis menyebalkan, yangmengkritik ketaksempurnaan dunia terus-menerus. Tapi, tidak tahu harus berbuatapa. Aku berusaha melupakan dorongan semangatku dan fokus pada tujuanku bersamaDias. Lalu, pada akhirnya hubungan kami harus menyerah pada kegelisahan itu. 

Mengingat keputusan itu membuat perasaanku jadi melankolis. Bunyi seranggamenyelimuti malam. Aku duduk dalam posisi lotus. Meditasi akan menenangkanhati. Bersiap dan memantapkan hati hidup enam bulan ke depan di dunia yangbetul-betul berbeda dengan yang selama ini kukenali. 

Kutulis catatan untuk Dias pada laptop-ku.

Sore tadi aku bercakap dengan Yosefa, guru yang sekaligus menjalani tugasgereja. Aku baru sehari mengajar, tapi rasanya kewajibanku masih sepuluh tahunlagi di sini. Atau mungkin seumur hidup.


Vitalies Melinda. Pemenang penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Vitalies Melinda
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Dua Asa di Bumi Papua [5]"