Dua Asa di Bumi Papua [6] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dua Asa di Bumi Papua [6] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:02 Rating: 4,5

Dua Asa di Bumi Papua [6]

Ning

Di tempat tinggalku, jenis kendaraan itu disebut angkot alias angkutan kota. Di sini namanya taksi. Pagi-pagi aku sudah bersiap di pangkalan taksi. Hari Sabtu yang mendung. Tetapi, hatiku cerah. Tiap akhir pekan, meno-meno akan turun dari gunung menjual bijih emas yang berhasil mereka peroleh. Itulah sumber harapan kami terbesar. 

Penampung emas yang kebanyakan pedagang Bugis, panen setoran. Meno panen uang, para sopir panen borongan. Penjual minuman beralkohol, penjual telepon seluler, pedagang pakaian,  semua panen. 

Jangan tanya mereka yang langsung mengeruk bijih emas dari perut Gunung Grasberg, sepertinya tidak perlu bersusah-payah pun uang sudah mengucur. Kami yang berkerumun di kaki gunung, laksana pasukan semut memunguti remah-remah. Demikian juga aku, yang terbang beribu-ribu kilometer meninggalkan kampung halaman dan sanak keluarga, demi manis remah-remah emas. Hujan deras semalam menyisakan jalanan yang licin dan basah. Di Timika, hujan turun lebih deras daripada yang bisa kuingat di tempat lain. Menurut orang-orang, di Tembagapura malah hampir setiap hari selalu berkabut dan gerimis. 

Aku belum pernah pergi ke sana, karena untuk masuk harus punya kartu tanda pengenal. Kalau mau, sebenarnya bisa ikut tentara penjaga. Tetapi, aku kurang suka bergaul dengan tentara. Padahal, seharusnya aku belajar menyukai tentara karena di tempat terasing seperti ini, sangatlah penting memiliki hubungan dengan pihak yang kuat dan bisa diandalkan. 

Salah seorang kakak sepupuku bersuamikan tentara yang sering dikirim bertugas lama ke luar daerah. Bergaul rapat dengan tentara membuatku merasa mengkhianatinya yang sudah setia menunggu di rumah merawat anak-anak. Dari sekadar menjaga jarak, lalu tumbuh rasa tidak simpatiku, terutama karena aku tahu teman-teman yang pergi berburu cendana ke pedalaman Merauke harus membayar biaya keamanan kepada beberapa dari mereka. 

Tapi, mungkin memang seperti itulah harga yang harus kami bayar. Apa lagi yang bisa kami lakukan, selain mengiyakan orang-orang yang sepertinya datang untuk menolong mengantarkan kami pada jalan yang penuh harapan. 

Bagi kami, satu terang bintang di langit pun sudah menjadi puncak cemerlang. Dan aku, datang kembali ke kota asing ini demi asa terang yang ingin kuraih, agar segala mendung dan gelap tidak betah bergayut pada kehidupanku. Apakah bisa? Apakah mungkin? Aku hanya tahu satu cara: bekerja sekeras-kerasnya. Sebaik-baiknya.
Di saat sebagian orang masih bermalas-malasan, aku sudah bergerak menuju kota. Tujuanku adalah arah Jalan Bougenvile dan Jalan Gorong-gorong. Mengawasi apakah ada meno yang tampak menjual emasnya. Mereka harus bisa dicegat sebelum mendatangi para pengepul emas yang rata-rata berasal dari Bugis itu. Tentu, agar emas itu bisa masuk kantongku lebih dulu. 

Pagi masih benar-benar berkabut. Aku memakai jaket rapat-rapat. Di balik jaket hanya kukenakan atasan kutung tanpa lengan, ketat dan berlekuk mengikuti bentuk tubuhku. Kurang menguntungkan memang, karena penampilanku tidak terlalu menarik perhatian. Tapi, aku tidak ingin masuk angin atau menggigil kedinginan karena cuaca yang menggigit. Umur sudah tidak muda lagi, badan mulai manja, lain dengan dulu. 

Mungkin aku terlalu pagi datang kemari. Belum ada seorang pun meno yang tampak setelah hampir sejam menunggu. Kios-kios pengepul pun belum buka. Kota sudah mulai ramai. Anak-anak sekolah yang tadi kutemui di jalan-jalan sudah tidak tampak. Aduh, perutku mendadak keroncongan. Padahal, tadi sudah kuisi dengan dua lembar roti tawar dilapisi selai kacang dan susu kental manis, juga segelas kopi panas. Dingin membawa lapar!

Tentu saja di pagi sedingin ini setiap orang akan memilih bertahan di rumah, di balik selimut masing-masing. Bahkan, para meno yang kutunggu-tunggu, kurasa mereka masih meringkuk di dalam bivak. Teman-teman pun akan menertawakanku, jika mereka tahu aku sudah menjemput bola di luar waktu biasa. 

Semua orang juga tahu, para meno baru akan turun ke kota pada sore hari, puncaknya biasanya pada hari Sabtu. Itulah saat-saat panen bagi kami. Tetapi, jika hanya mengandalkan waktu panen, mimpiku untuk tinggal sesebentar mungkin di sini tidak akan tercapai. Di akhir pekan, saingan juga banyak. Noni-noni muda berkulit langsat tidak kurang yang beralih profesi, dari penjaga bar menjadi seperti kami. 

Wah, lihat segerombolan pria berkulit legam itu. Mereka memakai sepatu boot seperti pekerja tambang sungguhan. Noken kecil berisi ponsel jenis terbaru tergantung di dada. Topi gunung berwarna hijau, hitam, kuning dan merah meriah, warna rasta kebanggaan mereka. Mereka tertawa riang sambil meludahkan cairan merah sirih pinang. Anehnya, meskipun mereka keranjingan mengunyah sirih pinang, mereka tidak suka jika aku ikut menyirih. Mungkin mengingatkan mereka pada aroma istri-istri di rumah.

Sehabis menukar emas dengan rupiah, mereka akan pesta keliling kota dengan mobil sewaan. Tidak lupa mengajak teman dan saudara. Berkrat-krat minuman keras memenuhi mobil. Lalu, pesta diakhiri di Kilo Sepuluh. Aku akan mengajak salah satu dari mereka untuk berpesta terlebih dahulu di kamarku. Tetapi, jika rombongan itu semua berhasil kuajak, teman-temanku pasti senang sepagi ini sudah kedatangan tamu berkantong tebal. 

Aku mencegat mereka di tepi trotoar. Pura-pura ada masalah dengan sepatuku, aku membungkuk sambil menggoyang-goyang pinggul sedikit. Benar, yang terdepan berhenti diikuti yang lain.

“Ah, ada apa Nona dengan ko pu kaki?”

“Menginjak paku, Pace,” sahutku, mengangkat wajah.

“Ah, sudah kasih obat cepat. Nanti infeksi jadi.” Ia mengulurkan tangan menarik tanganku supaya bangkit. Perangkapku berhasil. Sedikit kuremas-remas telapak tangan meno itu saat aku memegangi tangannya sebagai tumpuan. “Nona, apakah bisa paku-paku sekarang dengan kami?”

Aku mengedip penuh arti. Kuhitung ada enam orang dalam rombongan. Aku membuat kesepakatan dengan teman-temanku di kontrakan lewat ponsel.  Beginilah, jika rezeki dibagi rata, perasaan senabis sepenanggungan terasa kental. Tetapi, jika saatnya bersaing sengit, tak jarang di antara kami saling menjelek-jelekkan sampai ke hal sekecil-kecilnya. Batas antara hitam dan putih di dunia kami begitu tipis, atau bahkan tak ada. Semuanya kelabu, pekat dan pahit. Tapi, kami punya banyak cara untuk tertawa melupakan semua itu. Apalagi jika sepagi ini sudah masuk ke kantong ratusan ribu rupiah. 

Aku akan tidur siang sebentar. Mungkin nanti Lukas datang. Perlu kusiapkan energi cukup, sebab malam Minggu adalah panen raya. Apalagi musim hujan seperti ini. Setan sepertinya turun bersama butiran-butiran air menyuruh manusia berpesta-pora sepanjang malam. 

Lukas datang sore hari. Namun, kali ini ia tanpa aroma alkohol. Ia datang membaringkan tubuhnya yang berat di kasur sehingga terbentuk cekungan. Matanya menatap langit-langit kamar. “Ada orang hanyut terbawa air di Ajkwa. Itu saudara satu suku, anggota marga yang kuhormati.”

Oh, pantas, aku membatin. Lukas adalah anggota suku Kamoro, penduduk daerah lembah aliran Sungai Ajkwa. “Innalillahi…,” ucapku. Lukas paham itu ungkapan dukacita yang diucapkan seorang yang beragama Islam. Aku sering mengucapkan kalimat itu setiap mendengar anggota sukunya yang meninggal. Beberapa orang sebelumnya mati sekaligus sewaktu perang suku dengan suku Amungme. Beberapa orang mati karena AIDS. Sebagian hanyut terbawa arus deras saat mendulang emas. 

“Tong pu laki-laki habis satu per satu,” ujarnya, bergumam. 

Kami terdiam cukup lama. Aku tidak suka dengan suasana duka seperti sekarang. Seolah seseorang melemparkan kesedihan tepat di wajahku. Padahal, mati-matian kusembunyikan jauh di dalam. Kalau bisa, malah tidak usah muncul sejenak pun.



Vitalies Melinda
. Pemenang penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Vitalies Melinda
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Dua Asa di Bumi Papua [6]"