Dua Asa di Bumi Papua [7] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dua Asa di Bumi Papua [7] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:08 Rating: 4,5

Dua Asa di Bumi Papua [7]

Kirana 

Di dalam perjalanan menuju Arso II, tubuhku terguncang-guncang oleh gerakanmobil yang menerjang jalan lumpur berkerikil. Di beberapa tempat longsor danbasah oleh air membentuk kubangan dalam, menunjukkan jika pada lapisan bawahjalan terdapat sumber mata air. Sopirnya, pria muda asal Toraja, tampak sudahteruji di medan berat. “Jalan menuju Web jauh lebih parah, selain licin jugaterjal dan curam. Entah kapan trans Irian bisa sampai tembus Wamena danberaspal mulus.”

Menjelang masuk Arso Timur, jalan sudah dilapisi aspal. Setelah melewati rumahdinas bupati, sinyal ponsel pun muncul. Rumah dinas itu megah dan luas,bergenting biru, dengan pagar teralis kokoh tinggi. Bangunan di Arso, sepertiumumnya di Papua, kebanyakan beratap seng. Pada bangunan lama, karatkecokelatan menimbulkan kesan tua. 

Teman-teman dari Jakarta, yang hampir seluruhnya anak LSM atau aktivis kampus,ternyata riang gembira juga kembali sesaat ke keramaian. Dinar, Bobi, Rahman,Galih, dan Rendra seperti menyambut kedatangan tamu istimewa ketika aku datang.

“Tambah item, Mace,” itu sapaan Rahman sambil mengguncang tanganku ketikabersalaman.

“Langsingan, ya?” Dinar menggoda. Tentu saja, selama sebulan tinggal di Waris,pola makanku berubah jauh. Tidak ada kudapan berlemak atau aneka minumanberkalori tinggi yang gampang diperoleh di Jakarta. Selain itu, aku tertularYosefa rajin lari pagi.

Kusapa mereka dengan bahasa Pidgin, bahasa Inggris dialek Papua Nugini yangbanyak dipakai orang-orang di perbatasan seperti Waris. Bahasa Pidginpertama-tama menggelikan karena penulisannya sama dengan pelafalan. Contohnyayou ditulis yu. Komon, yu ken dudet (Come on, you can do that!).

Mereka pun mulai tertular bicara Melayu logat Papua. Asyik sekali jika untukberbicara hal sederhana kita harus berpikir beberapa jenak mencari kata yangtepat. Rendra mengusulkan, jika setiap kumpul evaluasi, tong wajib bicarabahasa Papua. 

Seharian kami berdiskusi tentang masalah-masalah di lapangan. Hampir semuamemiliki persoalan dengan pemahaman murid yang rendah. Bukan hal aneh, jikamurid kelas enam belum bisa operasi pembagian dan perkalian bilangan dua angka!Di sekolah-sekolah pedalaman sering kali kelas absen berhari-hari karena gurutidak ada di tempat. Atau murid pun membolos karena ada pekerjaan di hutan danladang. Sekolah bukan kebutuhan prioritas untuk kebanyakan penduduk asli.Kondisi berbeda di daerah transmigrasi seperti Arso, Skanto, dan Senggi.Sebagian besar murid adalah keturunan pendatang dari luar pulau. 

Rahman sebagai pemimpin diskusi membuat kesimpulan: “Yang perlu kita tekankandi sini adalah kita tidak membawa apalagi menekankan standar pendidikan di Jawaterutama. Tujuan kita adalah bagaimana menyesuaikan kebutuhan anak didik disekolah dengan metode yang kita sampaikan. Sebab, jika kita memaksakan metode,tapi tidak bisa diikuti mereka, sama saja bohong. Prinsip pedagogi yang kitapakai tidak untuk mengkhianati realitas mereka. Aku tidak habis pikir anak-anaksekolah di sini memakai buku-buku pelajaran yang isinya tentang mobil, kereta,nama-nama, istilah, sejarah dan budaya yang tidak mereka kenal. Alangkahbaiknya jika otonomi khusus juga berlaku pada reformasi materi belajar, supayalebih bermuatan lokal dan dekat dengan keseharian anak-anak.”

Obrolan kemudian masuk pada bisik-bisik gerakan separatis. Aku banyak ditanyateman-teman dengan situasi di Waris, tempat yang lama dijadikan perlintasangerilyawan OPM yang melintasi negara Indonesia dan Papua New Guinea.Kuceritakan tentang posko tentara yang berada tak jauh dari rumahpenampunganku. Aku sudah mengenal beberapa orang yang tidak sedang mendapatgiliran patroli ke perbatasan. Pada dasarnya, mereka sama dengan kami, yaitudatang karena menjalankan sebuah misi. Sama-sama terpisah jauh dari keluarga dirumah, tapi ada semangat yang menguatkan. Yang berbeda adalah sumber semangatnya.

Tiba-tiba, aku ingin bercerita kepada Dias. Maka kukirim pesan: Dias, ak pengentlp.Tp pulsaku rupanya sudah habis masa aktifnya. Bisa tlg isi? 50rb aja, thxsebelumnya yah. Ohya, km dah ada pacar baru blm? Mdh2an sgera dpt yg asyik, gajenis galau ;p 

Dias, bekas kekasih yang kini menjadi sahabatku itu, tak lama membalas: Yes,Bos. Aamiin... Pulsa dah tkirim, smp blum?

Aku riang setelah mengecek saldo pulsa. Sedikit berdebar menanti sambungan kenomor Dias. Ketika suaranya terdengar, sambil membayangkan jarak tiga ribukilometer lebih membentang di antara kami, aku tersenyum lebar dan rasanyapipiku langsung merah dadu.

“Bagaimana di sana? Masih betah nggak tinggal di pedalaman?”

“Aku bahagia, Dias. Aku selalu merasakan getar haru setiap menatap sosokanak-anak di kelas. Mungkin aku telah jatuh cinta pada mereka, pada kehidupanyang berlangsung di tanah ini.”



Vitalies Melinda
. Pemenang penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2009

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Vitalies Melinda
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Dua Asa di Bumi Papua [7]"