Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [1] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [1] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:22 Rating: 4,5

Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [1]

SOLO, Jl. Slamet Riyadi menjelang malam. Sudah setengah jam kami berdua menelusurinya dan sudah tiga kali tempat yang sama itu kami kitari. Sebuah bangunan tua yang ronanya tenggelam oleh kegenitan kegiatan bisnis di sekitarnya. Museum Radya Pustaka. Bangunan kuno itu tak bisa menyembunyikan kemuramannya, meskipun di depannya sudah dilengkapi lampu terang yang sorotnya sudah diatur sedemikian rupa untuk membuatnya menonjol di antara riuhnya Taman Sriwedari dan kios-kios pujasera.

Sebenarnya, bukan museum itu yang kami minati. Sebagaimana layaknya orang Solo, kami sedang mencari tempat yang cocok untuk bersantai, ‘mat-matan’ di lesehan angkringan atau wedangan. Beberapa tempat wedangan yang kami jumpai agak menyurutkan niat kami karena sudah penuh pengunjung. Sebenarnya, kami tidak perlu harus berputar-putar seperti ini, jika kami mau memaklumi bahwa malam Minggu seperti ini pasti semua wedangan akan penuh pengunjung seperti juga di sini, persis di sisi utara Jl. Slamet Riyadi. Persis berhadapan dengan Museum Radya Pustaka. 

Aku melirik ke kaca spion motorku dan menemukan seraut wajah dengan bola mata kecokelatan memandang lurus ke jalur jalan di depanku. Merasa kupandangi, dia pun mengarahkan pandangannya kepadaku.

“Sudahlah Pras, kita berhenti di sini saja. Semua pasti juga penuh orang. Lagi pula, kita akan butuh waktu lama.” Suaranya datar tanpa emosi.

Aku menepikan motorku dan memarkirnya di pinggir trotoar. Kami turun dan mengambil tempat di tikar yang masih tersisa. Tanpa sadar kami melakukan gerak yang sama saat menjatuhkan diri di tikar dan kemudian menyandarkan tubuh kami di tembok pagar di belakang kami. 

Aku memperhatikan gerakannya saat merapikan rambutnya yang berantakan ditiup angin. Keluwesannya terjejak dengan jelas saat jemarinya yang panjang menyisir rambut sebahunya yang kemerahan. Matanya setengah tertutup ketika wajahnya tengadah. Dagunya yang menonjol dengan rahang bulat telur membuatku sadar kembali bahwa begitu lama dia sudah menjadi bagian dari hidupku. Ya, Tuhan, mengapa waktu yang sepanjang itu tak kusadari?

Aku memesan kikil bakar, sate telur puyuh, juadah bakar, dan kopi susu jahe. Dia pun memesan kesukaannya: pisang owol, apollo, dan wedang tape. Di depan kami, di atas meja kecil, teronggok beberapa bungkusan kecil dari daun pisang. Di dalam kemasan kecil itu ada nasi hangat, sejumput kecil oseng–oseng kacang panjang, dan sekerat daging ikan, dalam porsi sepertiga kenyang. Inilah yang disebut ‘sego kucing’, makanan wajib para mahasiswa, terutama mahasiswa perantau yang sering seret dana di akhir bulan. 

Di sampingnya terdapat tumpukan kacang goreng ndeso dalam bungkus kertas berbentuk kerucut kecil sebagai kudapan pembuka sambil menunggu pesanan utama datang. Aku mengambil satu bungkus kacang goreng ndeso itu dan memakannya butir demi butir. Kurasakan setiap butir yang kumakan adalah hitungan waktu yang melambat, surut menuju beberapa tahun ke belakang. Waktu yang kulewatkan bersamanya. 

Kebersamaan kami bermula dari persahabatan kedua orang tua kami, tepatnya ayah kami. Bapakku seorang wartawan koran daerah di Solo dan papinya adalah seorang insinyur sipil yang bekerja sebagai konsultan di Proyek Bengawan Solo. Mereka dulu bertemu saat bapakku meliput berita seputar proyek pembangunan Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri. Selain sebagai sumber berita, mereka berdua didekatkan oleh minat yang sama terhadap petualangan. Dulu mereka sering bersama-sama menyusuri Bengawan Solo, sampai ke situs-situs penggalian di Sangiran, bahkan juga sampai di Trinil.

Karena kedekatan mereka itulah, maka keluarganya pun membeli rumah tinggal, satu rumah besar di kampungku, Mojosongo, sebuah dusun di Solo bagian utara. Rumahku berseberangan dengan rumah besar itu dan hanya dipisahkan jalan kampung beraspal tipis. Warga kampung menyebut keluarganya dengan sebutan ‘keluarga Londo’. 

Mereka benar, karena penampilan keluarga itu memang mencirikan Londo atau Belanda. Papinya bertubuh tinggi besar, berkulit pucat kemerahan, dan berhidung mancung. Maminya pun sama, berkulit pucat, berambut kemerahan, dengan mata biru terang. Mereka ramah dan berbahasa Indonesia dengan fasih. Bahkan, sang ayah juga bisa bercakap-cakap dalam bahasa Jawa, meski ngoko (bahasa Jawa kasar) saja. 

Di luar semua itu, bagiku tentu lebih menarik memperhatikan anaknya. Gadis kecil itu memang menarik karena sosoknya sangat berbeda dari  anak-anak kampung lain. Kulitnya yang berwarna terang sangat kontras dengan kebanyakan kami yang sawo matang. Rambutnya yang kemerahan juga menjadikannya sangat mudah dikenali manakala kami sedang berkumpul-kumpul. Gerak-geriknya lincah, sifatnya periang dan mudah bergaul. Kalau kami sedang bermain ‘Joko Tarub dan Nawangwulan’ dia selalu kebagian peran menjadi Nawangwulan, bidadari yang dicuri pakaiannya oleh Joko Tarub.

Menurut kami, dia memang paling pantas menjadi bidadari. Bukan saja karena dia terlihat berbeda dengan kami, namun juga karena dia luwes sekali menari sebagai Nawangwulan. Gerakannya yang paling kusukai adalah saat melempar selendang ketika Nawangwulan berpamitan dengan Joko Tarub setelah menemukan pakaiannya kembali. Liukannya seperti benar-benar terbang bersama angin.

Namanya Leonie. Lengkapnya Yosephine Leonie Petersen. Panggilannya Onie. Gadis itu telah meraup sebagian besar tahun kehidupanku. Kami tumbuh bersama dalam persahabatan keluarga kami seperti yang tadi kuceritakan. Namun, ada juga saat-saat ketika kami berpisah. Menjelang kami lulus SMP, Onie dan keluarganya pindah ke Jakarta. Sekitar tiga tahun kami tidak bertemu dan aku sempat kehilangan jejak karena gejolak remajaku membuatku memiliki banyak pilihan dalam menjalani hidup.

Menjelang aku lulus SMA , kami sekeluarga dikejutkan oleh kedatangan seorang gadis ke rumah kami. Gadis itu mengenakan kaus merah dibalut celana jeans hitam. Jaket kulit dengan warna senada menutup kulitnya yang putih. Rambut sebahunya yang kemerahan tertutup topi pet  yang melindungi matanya dari terik matahari. Kami agak kebingungan, namun, ketika dia membuka topinya dan mengulaskan senyum di bibirnya, barulah kami semua sadar dari rasa kaget. Senyum itu, mata itu, tak pelak lagi adalah milik gadis kecil berambut jagung yang pintar menari itu. Ya, Nawangwulan telah kembali! Onie kembali! Aku merasa ada yang mengentak-entak dari alam bawah sadarku.

Onie menceritakan bahwa kepulangannya adalah karena keinginannya untuk meneruskan kuliahnya di Solo. Katanya, dia tidak kerasan di Jakarta. Dia telanjur menikmati kehidupan di Solo yang iramanya lebih lambat dan memberinya banyak peluang untuk memuaskan keinginannya belajar tradisi Jawa. Apalagi papinya selalu bercerita mengenai petualangan-petualangannya bersama bapakku di pelosok-pelosok Jawa dalam memburu situs-situs purbakala.

“Memang kamu tidak menyesal meninggalkan Jakarta, Onie? Kan di sana segala sesuatu ada dan selalu lebih maju dari yang lain dalam segala hal?” tanyaku pada suatu sore, setelah beberapa hari dia kembali menempati rumah besar itu.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fadjar Tri Prasetyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [1]"