Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [10] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [10] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:49 Rating: 4,5

Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [10]

Onie, suatu kenyataan yang ternyata baru aku ketahui saat ayahmu bercerita tentang ibumu. Hal yang tak pernah kau ceritakan juga kepadaku. Ternyata, ibumu bukanlah Mami Suzanne yang kukenal selama ini. Benar Mami Suzanne adalah istri ayahmu. Namun, beliau tak dikaruniai anak seorang pun. Ibumu adalah Sri Winih, wanita Jawa yang telah menjadi ladang semaian cinta ayahmu.

Jadi, darahmu tak lagi cuma darah Belanda, namun juga telah bercampur dengan darah kami. Meski kulitmu tetap putih, rambutmu bersemu kemerahan, dan biji matamu kecokelatan,  tetap muncul kejawaanmu. Keluwesanmu menari, tutur katamu yang lembut, kepintaranmu menopeng diri, kelekatanmu dengan tradisi Jawa, dan kecintaanmu pada Dusun Mojosongo kita adalah pernak-pernik meterai yang mengalir dari darah ibu kandungmu.

Karena itu, Onie, aku sangat memahami betapa bimbangnya kamu saat papimu mengajakmu serta kembali ke Rotterdam. Apa yang kita rasakan saat ini adalah putaran balik sejarah. Saat ayahmu mengabarkan kepergiannya kepada ibumu, kini engkau melakukan hal yang sama kepadaku.
Malam ini sudah larut sekali.

Jalan Slamet Riyadi di depan kita berangsur sepi. Namun, tak pernah benar-benar mati. Kita akan berpisah. Tapi, yakinlah kita tak akan pernah benar-benar terpisah.

“Adakah harapan lain, Pras?” tanyamu. Matamu tak lagi berair. Suaramu pun tak lagi bergetar.

“Harapan apa yang kau maksud, Onie?”

“Pras, sadarkah kau bahwa sepertinya kita sedang meniti ulang sejarah ayah-ibuku. Aku tak mau semua terulang dengan jalan cerita yang sama.” 

“Sejarah mungkin bisa berulang, Onie. Tapi aku yakin, tak akan pernah sama persis. Air sungai terbentuk dari mata air yang sama, tapi tak pernah sama alurnya. Jika semuanya seragam, kamu bisa bayangkan betapa membosankannya. Bukankah keindahan alam justru muncul dari keberagamannya? Berharaplah terus agar cerita kita menjadi berbeda.”

Leonie mengangguk. Aku bangkit berdiri. Rasanya badanku terasa lebih ringan. Leonie tak segera mengikutiku. Sejenak dia masih menatap gedung tua Museum Radya Pustaka. Bangunan tua itu menyimpan ribuan jejak langkah sejarah umat manusia. 

Tapi, mengapa tempat di mana sejarah tersimpan selalu tampak suram dan pengap? Apakah karena kita cenderung menyimpan hanya sejarah-sejarah kelabu karena kita takut akan penolakan terhadap nilai diri yang telanjur disematkan kepada kita? Maka kita menyimpan sebagian kejujuran dan kebenaran sebagai pengorbanan akan status dan predikat. Yah, begitulah yang tampak pada sebagian besar museum di negeri ini. Mereka lebih tampak sebagai gudang kemunafikan, ketidaksanggupan untuk menerima kenyataan buruk daripada sebuah sarana pencerahan jiwa akan perjalanan sejarah dan budaya anak bangsa. 

Muram dan murung.

Seperti sesuatu yang saat ini rasanya sedang membangun dirinya dalam diri kami. Aku dan Leonie. Kami saling mengingkari, tak mau mengakui bahwa sebenarnya kami saling mencintai. Lebih dari sahabat. Kami ingin sekali saling berpelukan, namun kami terlalu sombong untuk memberikan jalan bagi keinginan itu.

Sepanjang jalan yang kami lalui, dari Slamet Riyadi terus ke Urip Sumoharjo sampai ke perempatan Kandang Sapi. Selepas perempatan, jalan menanjak ke arah Mojosongo.      

Tiba-tiba Leonie menepuk pundakku dan menunjuk ke arah kanan. Aku agak bingung, namun aku menurut saja. Motor kubelokkan ke arah kanan, arah menuju luar Kota Solo melewati jalur timur. Padahal, jam sudah lewat pukul 12.00 malam. Seharusnya kami sudah pulang, namun malam itu rasanya kami tak peduli soal waktu dan ruang. Kami seperti pengelana malam yang sedang mencari matahari. Kami nikmati kebebasan ini selagi masih tersedia kesempatan. 

Ketika melewati kampus kami, Onie minta agar aku masuk ke dalam kompleks. Semestinya, tengah malam seperti ini tak ada pintu yang terbuka di kampus. Namun, sebagai aktivis mahasiswa, aku punya banyak kenalan yang bisa membantu mendapatkan akses ke dalam kampus. Kami masuk lewat pintu kecil di bagian belakang kompleks dan melewati jalan menurun menyusuri kompleks kampus. 

Motorku membelah malam melewati beberapa kampus di kompleks itu. Ujung bulevar kampus sudah tampak, kami melewati gedung fakultas sastra dan fakultas antropologi. Kampus Leonie. Dia tidak menyuruhku berhenti, bahkan menengok pun tidak. Barangkali dia tidak ingin kenangannya menghambat kepergiannya. 

Di ujung bulevar kami menghadapi jalan dengan dua pilihan arah. Ke timur, arah Sragen dan Tawangmangu, dan arah barat kembali menuju Mojosongo. 

“Kita ke mana, Pras?”

“Kalau kamu manut, nurut sama aku, aku akan larikan motor ini secepat keberanianku menyanggupinya dan aku larikan kamu ke Tawangmangu. Di sana kita mampir ke Candi Sukuh dan....”

“Gendheng kowe! Mau apa ke Candi saru, malam-malam begini?”

“Lha, wong di Candi saru (porno), ya, maunya berbuat yang saru-saru, tho? Ya, ‘kan?”

“Emoh! Enak saja! Kamu mulai provokatif, ya, aku nggak bakalan terpancing. Kalau kamu nekat, kamu tidak akan punya kesempatan untuk mendapatkan Dewi Nawangwulan dari Rotterdam.”

“Memang banyak, kok, yang bilang aku ini kesinungan wahyu-nya Joko Tarub. Tapi sayang, Nawangwulan tak pernah kembali untuk Joko Tarub. Dia kembali untuk Nawangsih, anak mereka. Begitu kan ceritanya?”

“Jadi kamu nggak percaya kalau aku nanti akan kembali? Kamu juga akan menjadi seperti ibuku yang kemudian bersembunyi dan menunggu nasib menentukan hidupnya? Kamu ingin menjadi Vladimir atau Estragon yang sedang menunggu Godot?” Waduh, Onie mulai ngotot. Aku mematikan mesin motor. Aku menoleh ke belakang dan menemukan wajahnya yang lelah, namun mata yang tetap tajam.

“Kelihatannya kita harus pulang, Onie.”

Onie mengangguk. Aku menstarter motor. Motor menderum pelan menyeberang Jalan Ir. Sutami yang lengang dan membelok ke arah Mojosongo.

“Pras....”

“Hmm...?”

“Sebenarnya, kalau tadi kamu nekat membawa kita ke Candi Sukuh, aku nggak, keberatan, kok.”
Aku mendengar suara tertawa yang ditahan.

“Lho, kamu tadi bilang nggak mau! Malah pakai ngancam segala. Piye, tho?”

“Ya, aku hanya membayangkan kalau kita ada di sana malam-malam begini, dengan segala aroma mistisnya, rasanya keberanianku untuk jujur akan sepenuhnya muncul.”

“Keberanian untuk apa? Kejujuran tentang apa?”

“Keberanian untuk mengakui bahwa aku adalah seseorang, suatu pribadi yang utuh. Yang tidak terbelah antara akar badaniah dan kebudayaan. Bahwa aku memang harus memilih sebagai pribadi manusia yang tidak ingin sekadar terbatas oleh ruang dan waktu. Dan kejujuran bahwa aku selalu lebih merasa Jawa daripada Indonesia, apalagi Belanda. Bagaimanapun,  aku akan kembali, Pras.”

Mulutku terkatup rapat. Aku sungguh tetap merasa ada yang tidak tuntas dari ucapannya. Aku pun memaki diriku sendiri mengapa keberanianku tidak pernah muncul untuk mengakuinya. Namun, pentingkah pengakuan itu, Onie? Apakah pengakuan bahwa kita saling mencintai, bahwa kita adalah sepasang kekasih, akan mengubah hubungan kita? Tidakkah lebih baik kita biarkan pengakuan itu menjadi pengembara di dalam jagat kecil kita yang saling tarik- menarik?  

Benar Onie, kejujuran adalah awal muasal pohon kehidupan kita. Seperti pohon kuldi di taman Eden yang dijaga pedang bernyala setelah dicemari oleh Adam dan Hawa. Laksana Kalpataru yang dijaga oleh Bremana dan Bremani. Bagaikan gerbang Selamatangkep yang diawasi oleh Cingkarabala dan Balaupata. Saat diciptakan kesemuanya masih murni tanpa penjaga, tanpa kekuasaan yang dipaksakan, karena semua bersumber dari kejujuran. Namun, setelah dicampuri oleh keinginan untuk dinyatakan, ditonjolkan, disombongkan tak pelak lagi gada kekuasaan terpaksa diturunkan untuk menjaga agar tidak  makin tercemar.

Kita pulang, Onie. Kamu akan pergi. Kita akan kembali, sepanjang kejujuran tak kalah dari topeng diri. (tamat)

Rujukan
:
[1] Disalin dari karya Fadjar Tri Prasetyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [10]"