Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [3] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [3] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:32 Rating: 4,5

Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [3]

Kemarin orang tuanya datang. Kehadiran mereka ternyata tidak sekadar menjenguk, namun sekaligus mengabarkan bahwa mereka akan dipindahtugaskan ke Rotterdam. Itu artinya, Onie juga harus ikut ke sana. Memang, tidak serta-merta kepindahan mereka akan disertai kepindahan Onie, namun setelah kuliahnya selesai, Onie harus menyusul mereka.

Itulah yang membuat Onie bimbang. Yang membuat hatinya gamang. Yang membakar matanya sehingga air matanya mengembang. Untuk itulah Onie mengajakku untuk bicara. Di sini. Di warung wedangan, salah satu tempat kesukaan kami untuk membicarakan banyak hal. Di seberang Museum Radya Pustaka, museum tertua di Indonesia, yang selalu menginspirasi pembicaraan kami berdua. Tentang sejarahnya, tentang legendanya.

Tapi, Onie masih diam. Aku menunggu.

Aneh, selama ini aku selalu merasa ada jarak dengannya yang selalu menahan manakala tumbuh hasratku untuk mendekat, masuk lebih dalam lagi dan menguak tabir yang menirai hatinya. Padahal, tak terbilang kesempatan saat kami sedang berdua, dalam suasana yang intim, dan gejolak hati yang menggebu. Bahasa mata dan tubuh kami menampakkan hasrat dan kegelisahan itu, namun hanya sampai di situ. 

Kami bagaikan dua gunung yang selalu mengetatkan kepundannya sehingga magma dalam diri kami selalu tertahan, meski sungguh bergolak. Begitu banyak titik-titik peristiwa yang kami alami yang seharusnya menandai kebersamaan kami. Pada saat-saat itulah aku merasa menjadi bagian yang tak terpisahkan, bahkan tak tergantikan dalam diri Onie. Bagian yang tetap akan ada, meskipun kami terpencar entah di mana. Bagian yang akan hadir pada saat salah satu dari kami dalam kesepian atau merasa kehilangan. 

Ah, Onie, benarkah aku tadi mengatakan tentang titik-titik peristiwa yang telah kita alami bersama? Dan aku menyebut–nyebut keberadaanku di sampingmu? Mengapa aku tiba-tiba merasa perlu untuk menyebut diriku ketika kamu menyebut soal kehilangan? Tiba-tiba ada rasa tidak rela, ada rasa panas di dada yang menjalar ke mata.

Siapakah aku ini?

Kamu tetap menunduk. Badanmu tetap tegak dalam duduk kita yang bersila. Tak ada guncangan bahu, namun butiran air itu tetap menggenang di pelupukmu. 

“Bagaimana tentang kita, Pras?” Ah, akhirnya kamu bicara.

Ya, bagaimana tentang kita? Dan kesombongan membakar mulutku yang mengatakan tak ada masalah dengan kita. Tak ada soal, Onie. Bahwa kita tak akan pernah benar-benar terpisah. Karena, oleh keajaiban teknologi tak ada jarak yang tak terjangkau. Lalu bibir pengecutku cerewet berkisah mengenai telepon, e-mail, SMS, seolah dunia bisa kuputar balik dengan perangkat ajaib itu. Aku pun tetap angkuh saat nuraniku berteriak-teriak menggugat bahwa aku akan kehilangan sentuhanmu, sorot matamu, dan senyum bibirmu yang tak pernah bisa kuterjemahkan dengan sempurna. 

Apa mungkin itu semua menggantikanmu, keberadaanmu, Onie?

“Kita akan tetap bersahabat, bukan?” katamu lagi.

Ah, ya, sahabat! Kita adalah sahabat, Onie. Hanya sahabat! Di mana ikatan kita bangun dari kesetaraan rasa dan kesamaan nasib. Apa lagi yang kuinginkan? Bukankah kita, tangan kita yang bertaut ini adalah juga tangan yang nanti melambai? Tapi, Rotterdam! Berapa jauh itu, Onie? Mungkinkah cakrawala masih mampu mengundang mata untuk menatap lambaian itu? 

Aku teringat saat kita remaja. 

Belasan tahun yang lalu.

Waktu itu aku diajak oleh ayahmu untuk meninjau pembangunan Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri. Dan, seperti insinyur Belanda umumnya, ayahmu sangat teliti. Ayahmu tidak mengambil jalan darat, namun memilih jalan air, menentang arus menuju hulu di Wonogiri. Setiap detail sungai legendaris itu tak lepas dari perhatian ayahmu. 

Badannya yang jangkung tampak seperti tiang pengawas kapal, berdiri tepat di haluan. Terkadang beliau bicara dengan Pak Marto, asistennya. Adakalanya dalam bahasa Belanda. Menurut Pak Marto, ayahmu adalah konsultan yang keras dan teliti. Zakelijk, katanya. Ayahmu ingin semua sesuai dengan bestek. Tak akan ada pekerjaan yang bisa berlangsung tanpa approval ayahmu. Sering kali beliau memarahi para insinyur muda yang sok tahu dan sok improvisasi. Yang tak sabar demi mengejar efisiensi, namun melupakan harga diri dan nasib pembayar pajak negeri ini. Ayahmu juga seorang pemurah yang tak pernah mempersulit prosedur, ringan menyambangi yang sakit, dan tak pelit dengan pujian. Pada perjalanan itulah aku bisa berdekatan dengan ayahmu. Tuan Insinyur Hans William Petersen. Sekali itulah ayahmu bicara banyak, sangat banyak, denganku, Onie. 

Sayangnya, saat itu kamu tak bersama kami. Ayahmu menggamit lenganku dengan lengannya yang pucat dan kokoh itu. Kami sampai persis di ujung haluan. Ayahmu melipat tangan kirinya di belakang. Gagah dan tegap. Gayanya persis seperti kamu bila berjalan. Tegak dan percaya diri. Beberapa sampan dan rakit penduduk lewat berlawanan arah. Ayahmu tak pernah lupa mengumbar senyum dan lambaian tangan. Para penduduk itu pun menyambut dengan senyum yang tak kalah lebarnya.

“Hei, kenapa? Kamu bosan, ya?“

Ternyata, ayahmu masih sempat memperhatikanku yang berdiri dengan wajah merengut. Aku tidak bosan. Aku cuma gelisah. Tak biasanya ayahmu bersikap begitu.

“Le.“ Ayahmu menyebutku dengan tole, panggilan umum untuk anak lelaki di Jawa. Ayahmu memang bisa berbahasa Jawa, meskipun terbatas pada tingkat yang kasar. “Kamu lihat sungai ini? Tahukah kamu bahwa sungai ini adalah sungai terpanjang di Jawa? Yang kering di musim kemarau, namun ganas di musim hujan? Ah, pasti kamu tahu. Kamu, toh, lahir dan besar di sini.“

“Tapi, aku tak ingin bicara soal panjang atau besar sungai. Karena, Bengawan Solo tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Sungai Musi di Palembang, apalagi dengan Kapuas di Pontianak. Di Kapuas, kamu akan sulit melihat tepi seberang.  Tidak seperti ini. Bengawan ini sangat istimewa karena di sinilah dimulai sebuah awal dari salah satu peradaban tertua. Manusia Jawa tertua ditemukan di lembah sungai ini.“

Lalu, ayahmu bicara soal Sangiran. Desa kecil di Kabupaten Sragen sedikit ke utara Solo. Yang buminya menyimpan kekayaan arkeologis yang tak ternilai harganya. Sangiran yang dulunya merupakan lembah di aliran Bengawan Solo adalah harta karun rahasia yang banyak diburu oleh para arkeolog dan antropolog dunia. Mereka menganggap keberadaan Pithecanthropus erectus adalah pertanda bahwa ‘the missing link’ yang disebut-sebut oleh Charles Darwin bukan isapan jempol. 

Tapi, apa hubungannya denganku?

“Pras, cah bagus, di Jawa ini semua anugerah Tuhan tertumpah hampir tiada batas. Jawa adalah kitab suci kehidupan nyata. Dan kalian, manusia-manusia Jawa, adalah para nabi sekaligus raja dan rakyat. Pujangga, bangsawan, sekaligus abdi. Karena itulah, aku pilih Jawa sebagai tempat pencarianku. Di sinilah aku mulai segalanya. Aku lahir di sini. Aku masuk HIS, HBS, dan seterusnya kulanjutkan di Belanda.

Ayahmu terdiam sejenak.

“Saat itu aku kenal seorang gadis pribumi. Dia beruntung bisa sekolah di sekolah Belanda, meski hanya sampai MULO karena ayahnya seorang kepala stasiun kereta api di Cepu. Di sini dia tinggal dengan pamannya, seorang pegawai pabrik gula. Sekolah kami berdekatan sehingga kami sering bersamaan pulang. Ah, aku masih ingat rambut kepangnya dan senyum yang selalu disembunyikan di balik buku tulisnya. Kami berkenalan ketika aku terpaksa meminjam penggaris karena penggarisku jatuh dan patah. Tak ada anak lain yang bisa kupinjami karena saat itu semua menghadapi ulangan. Hanya dia yang membawa cadangan. Nama gadis itu: Winih. Sri Winih.“

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fadjar Tri Prasetyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [3]"