Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [4] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [4] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:33 Rating: 4,5

Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [4]

Sejenak ayahmu terdiam, Onie. Seolah kembara pikirannya hinggap di satu dahan kenangan. Onie, pernahkah ayahmu bercerita tentang hal yang sama? Siapa Sri Winih, yang membuat ayahmu terdiam dalam kecipak air Bengawan Solo ini?

“Le, kamu mungkin menebak bahwa seterusnya kami berpacaran. Kalau itu bayanganmu, itu tidak benar. Tidak begitu. Setidaknya sampai saat itu. Kami memang jadi dekat. Jadi sahabat. Meski Winih hanya tamatan MULO, aku banyak belajar dari kesederhanaan dan kejujurannya. Tak ada seorang pun yang tahu tentang kedekatan kami. Tidak keluarganya. Tidak keluargaku.

Sampai menjelang aku harus melanjutkan studiku ke Belanda. Saat itu baru aku menyesali kebodohanku. Kepengecutanku. Kami punya tempat tersendiri yang sering kami kunjungi saat pakansi. Kamu tahu,  ayahku adalah administrateur di Pabrik Gula Gondang. Sering kami bermain ke sana. Yang paling kami sukai adalah ikut naik lori pengangkut tebu ke perkebunan. Di antara rumpun-rumpun tebu itulah kami menemukan sungai kecil di mana kami sering menghabiskan waktu kami. Untuk bercerita atau apa saja. 

Beberapa pekerja di perkebunan tebu dan masinis lori sudah kenal dengan kami. Mereka sering menggoda kami, terutama Winih. Mereka bilang, semestinya sinyo mengambil pacar seorang noni juga. Namun, aku hanya tertawa dan menjawab bahwa aku tak butuh noni karena aku sudah punya bidadari Dewi Sri dari kahyangan. Dan aku  makin terbahak bila melihat Win memerah mukanya,“ lanjut ayahmu. 

Kemudian, setelah jeda sejenak, dia melanjutkan. “Pagi itu kami ke kebun itu lagi. Namun, mulut kami banyak terkatup. Aku memang baru saja memberi tahu Win bahwa bulan depan aku harus ke Belanda. Papi sudah mempersiapkan segala sesuatunya untukku. Win terlihat biasa saja. Cuma lebih diam. Aku yang lebih tertekan. Entah oleh apa. Kami duduk di pinggir pematang. Aku memainkan ujung daun tebu yang menjulur panjang. Win menata poninya yang menjuntai tak teratur ditiup angin. Win bertanya, apakah aku jadi pergi. Aku mengangguk. Win tersenyum. Ya, Tuhan! Baru kali ini senyum itu menggurat sedih di hatiku. Ada sesuatu yang tak rela. Terbayang paling tidak lima tahun kami tak akan bertemu.

“Kalau begitu, saat kamu kembali, aku harus memanggilmu Tuan Insinyur Hans William Petersen, ya? Wah, hebat sekali! Kamu pasti akan menggantikan ayahmu sebagai administrateur. Hans, aku ikut bangga!”

Bangga? Tidak tahukah dia apa yang aku rasakan saat ini. Sesak di dada ini menyakitkan, meski aku keras berusaha tak menampakkannya di depannya, seorang gadis pribumi. 

“Ah, Win, itu masih lama. Masih sangat lama. Banyak yang bisa terjadi selama itu. Belum tentu aku segera lulus. Sekalipun lulus, aku masih harus magang di perusahaan. Dan, soal menggantikan Papi, aku tidak tertarik pada usaha perkebunan yang tidak banyak manfaatnya buat rakyat Jawa ini. Mereka hanya diserap tenaganya dengan bayaran yang tak layak. Hasilnya lebih dinikmati oleh orang-orang Belanda di Eropa sana. Jika aku kembali, aku ingin membangun proyek yang bermanfaat untuk petani-petani ini.”

“Jadi kamu akan kembali, bukan?”

Pertanyaan singkat yang menusuk kesadaranku. Benarkah telingaku menangkap ada nada syukur? Nada harapan? Suara kerinduan? Ah, tidak! Mana mungkin perasaan kami sejauh itu? Kami memang bersahabat, namun untuk lebih jauh rasanya terlalu lebar jarak di antara kami. Betapapun aku tak pernah membedakan ras, aku tak bermimpi jatuh cinta pada gadis pribumi. Kutub kami terpisah oleh sesuatu yang tercipta dari sejarah dan nasib yang tak bertegur sapa. Meski aku harus akui, ada napas ketidakadilan di sana. Tapi, itulah yang sebenarnya ada.

“Ya, Win, aku pasti kembali. Aku akan membangun sesuatu yang dibutuhkan oleh petani di sini. Mungkin, sekembaliku, zaman sudah akan berubah. Bangsa Nippon dan Jerman sedang gerah untuk menghunus samurai dan mengokang senapan. Eropa sedang panas, Win, dan aku tak yakin negeriku yang kecil akan mampu menghadang Hitler dan pasukannya. Mereka akan menjajah dan memperbudak bangsa kami. Mungkin ini karma dari bangsa kami yang telah melakukan hal sama di Hindia Belanda ini.”

“Memang kami menderita dan sengsara dikuasai Belanda, Hans. Rakyat kami tak terbilang yang mati tanpa harga. Bahkan, tak diketahui di mana kuburnya. Yang lebih parah lagi, rakyat kami terpecah oleh rasa tidak adil dan curiga. Apalagi bagi kami yang bekerja bersama orang-orang Belanda. Banyak mandor  perkebunan ayahmu, yang karena pekerjaannya, tak disukai kaumnya sendiri. Mereka dianggap kaki tangan dan mata-mata Belanda. Mereka sering jadi sasaran makian dan kemarahan rakyat.“

“Tapi, Papi memperlakukan semua pekerjanya dengan baik, bukan? Semestinya mereka tidak main pukul rata.”

“Benar, ayahmu memperlakukan pekerja dengan baik dan benar. Namun, baik dan benar menurut aturan pabrik, bukan? Dan, siapa yang bikin peraturan itu? Pemerintah Hindia Belanda, bukan? Mereka bukan kami. Mereka tak pernah tahu, tak mau tahu apa yang sebenarnya kami butuhkan. Kami butuh padi, turun-temurun kami menanam padi, tapi dipaksa menanam tebu. Kami butuh pendidikan, tapi yang diberikan adalah pembedaan kesempatan.
Hans, jika pemerintah Hindia Belanda ingin mendapat dukungan, sebenarnya gampang. Perlakukan kami sebagaimana rakyat yang empunya tanah ini. Dengan kejujuran dan ketulusan. Tak cukup dengan membentuk Volksraad yang anggotanya didominasi oleh orang-orang Belanda dan Indo-Eropa. Seharusnya kami yang menyusun Volksraad itu, Hans. Bukan orang lain, bangsa lain. Biarkan kami menentukan nasib kami sendiri.

Hans, kamu baik, tapi seorang Hans William Petersen tak akan cukup untuk seluruh Hindia Belanda.”

“Kalau begitu, apakah kedatanganku kembali nanti akan sia-sia? Tidak ada artinya?”

Win menatapku sejenak. Kemudian mengalihkan pandangannya menyapu ke seluruh hamparan perkebunan. Dua burung manyar terbang tiba-tiba ke arah yang berlawanan karena daun tempat mereka bertengger meliuk kencang diembus angin. Yang satu segera kembali bertengger di pelepah lain, sedangkan yang satu masih terbang berputar-putar. 

“Hans, untuk siapa pun kamu kembali nanti, tak akan pernah sia-sia. Sebagai apa pun kamu kembali nanti, akan selalu kau temukan jalan untuk menempuh kerinduanmu akan sebuah perjuangan. Tapi, jika suatu ketika kamu lelah dalam pencarianmu itu, ingatlah tempat ini, di mana kamu pernah menyatakan tekadmu pada seseorang. Tempat di mana semangat kemanusiaanmu tumbuh dari benih hingga menjadi pokok yang perkasa.”

Aku tergetar. Kupandangi wajahnya yang teduh, dan pada biji matanya yang legam bening kutemukan bayangan wajahku. Ada sesuatu yang kusembunyikan, kuingkari, dan kutahan. Dia mengulurkan tangannya dan memasukkan sesuatu ke saku bajuku. Kusentuh jemarinya yang masih menempel di dadaku dan akhirnya jemari kami bertaut. Wajahku menunduk menjadi begitu dekat dengan wajahnya yang tengadah. Bibir kami terbuka, meski tak sepatah ucapan keluar dari sana. Angin yang mendesau mengibaskan poninya. Dan dahinya yang terbuka mengabarkan kejujuran dan kepasrahan. Berhadapan dengan dagu rahangku yang kaku keras sarat kebohongan dan keangkuhan. Win, maafkan aku, aku sadar bahwa kamu tahu semuanya. Tapi, aku belum mampu melawannya. Ruang dan waktu masih mengikatku begitu rupa.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fadjar Tri Prasetyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [4]"