Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [5] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [5] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:36 Rating: 4,5

Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [5]

Perlahan kurapatkan tubuhku ke tubuhnya. Dan segala sensasi kuterima dari tubuhnya begitu rupa. Bagai kulit dan dagingnya. Sarat kehangatan, kejujuran dan penyerahan. Wajahnya yang rebah di dadaku, matanya yang terkatup, bibirnya yang merapatkan garis senyum dan bau ratus rambutnya menjadi meterai yang menandai sekujur tubuhku. Inilah harga dari sebuah ambisi dan idealisme. Semua yang kita terima pun harus juga kita bayar. Win, aku tak ingin kembali tanpa menemukan dirimu lagi. Aku tak mau pulang tanpa menempuh pematang ini lagi. Zaman akan berubah, aku yakin itu, semua akan berubah. Meski lori ini tak akan dipakai lagi, aku akan tetap hafal ke mana rel ini membawa. Ke kebun, tempat di mana benih ditanam, dipelihara dan akhirnya dituai. Tempat di mana seorang Hans William Petersen belajar tentang kemanusiaan, keadilan, kejujuran, dan pengabdian pada seorang gadis pribumi. Gadis yang menyematkan sebuah pensil di sakuku sebagai pesan untuk selalu menandai sejarah hidup. 

Ah, Onie, indah sekali kisah ayahmu. Aku sampai termangu-mangu. Sejenak ayahmu, Hans William Petersen, terdiam. 

Sejurus kemudian tersenyum-senyum. Wajah pucatnya memerah. Dia memandangku dan menepuk-nepuk pipiku. Seperti ada yang mengharukan hatinya.

Ayahmu mengambil sesuatu dari antara deretan pena di sakunya. Sebuah pena bertutup ukiran. Diberikannya padaku. Kuamati. Aku tersenyum geli karena separuh badan pena itu adalah pensil kasar yang teraut rapi. Di ujung tutup itu kubaca ukiran nama: ‘Sri Winih, 1941’.

“Tahun 1947 aku kembali ke Indonesia. Zaman yang disebut sebagai zaman revolusi fisik. Zaman yang rawan karena sentimen anti-Belanda begitu berkobar. Aku sempat menyaksikan Soekarno berpidato di mana-mana. Orang itu benar-benar luar biasa! Segala yang diucapkannya membakar semangat dan harga diri rakyatnya. Meski aku sudah menduga, tetap sulit kupercaya manusia macam itu lahir di tanah ini.

Saat itulah aku mengambil kesempatan untuk menengok kembali satu bagian sejarah hidupku yang terentang dari Solo sampai Gondang. Aku mendapati Pabrik Gula Gondang telah diambil alih oleh kaum republiken. Tapi, aktivitasnya mati. Lori-lori yang dulu setia mengangkut tebu, teronggok diam dimakan karat. Aku dengar dari mandor di situ bahwa banyak para pekerja bergabung dengan kaum republiken. Seperti pesannya, aku menyusuri kembali pematang–pematang kebun yang tanaman tebunya tak terurus. Aku meneruskan langkahku menyusuri sungai kecil yang membelah perkebunan. Airnya masih jernih mengalir. Saat itu aku mencoba berpikir tentang Winih. Di mana dia sekarang?

Tak kudapati keterangan sedikit pun tentang Winih. Hanya sebuah berita dari tetangganya bahwa menjelang tahun 1945 Winih kembali ke kampung halamannya di Cepu.  Aku mencoba melacaknya di Kampung Balun di Cepu, namun nihil. Aku hanya menemukan rumahnya ditinggalkan dalam keadaan kosong.  Dan, sekali lagi, tak ada yang tahu di mana dia.

Lebih tepat lagi, masih hidupkah dia sekarang? 

Setelah berhari-hari mencari tanpa hasil dan aku hampir putus asa, secercah harapan mendatangiku. Seorang anggota laskar bernama Warso mengatakan bahwa dia pernah bertemu dengan perempuan bernama Sri Winih di daerah Ambarawa. Menurut ceritanya, perempuan itu menjadi guru di semacam sekolah yang berlokasi di lingkungan sebuah gereja.
Aku segera melacak ke tempat yang digambarkan Warso. Kutemukan gereja itu agak jauh di pojok Kota Ambarawa. Ternyata, di samping kompleks gereja ada sekolah guru beserta asramanya. Suasana sepi. Entah mengapa aku justru tidak menuju gereja, namun kakiku melangkah mengarah ke asrama. Aku mengetuk pintu depan. Cukup lama aku menunggu sebelum pintu dibuka. Seorang suster pribumi membukakan pintu. Memandangku dengan sorot mata bertanya-tanya.

“Tuan mencari siapa?” tanyanya.

“Maaf Suster, saya dari Solo. Nama saya Hans, Hans Petersen. Saya sedang mencari seseorang yang sangat berarti untuk saya. Saya berharap Suster dapat membantu saya.”

Sejenak suster itu terdiam, kemudian mengulurkan tangan dan mempersilakan masuk. Ruang tamu berukuran besar yang dinding-dindingnya dihiasi foto-foto para suster senior dan beberapa foto para siswi sekolah guru tersebut. Di kedua sisi lorong yang menuju ke dalam asrama ada dua patung Yesus dalam adegan yang berbeda. Kesan teduh namun agak kaku terasa sewaktu aku duduk di kursi kayu jati dengan alas duduk dari rotan yang sederhana. 

“Ya, Tuan mencari siapa?” suster itu mengulangi pertanyaannya.

“Ah, benar Suster, saya mencari seorang perempuan bernama Winih. Sri Winih lengkapnya. Saya mendengar dari temannya di Solo bahwa Winih ada di sini. Benar begitu, Suster?”

“Sri Winih? Tuan mungkin salah alamat. Tidak ada yang bernama Sri Winih di asrama ini.”

Aku terdiam.

“Tolonglah, Suster, beri tahu saya yang sebenarnya. Winih sudah lama terpisah dari keluarganya. Saya membawa pesan penting dari ibunya yang saat ini sedang sakit di Solo.” Aku berbohong.

“Solo? Tuan, saya rasa ibu Winih tidak berada di Solo. Ibunya ada di Ce.…”

Aha! Suster tidak pandai berbohong. Dia kelepasan omong. Sejurus wajahnya memerah. Aku senang sekali. Akhirnya kutemukan juga gadisku.

“Bagaimana, Suster? Dia ada di sini, bukan? Boleh saya bertemu dengannya?” tanyaku bertubi-tubi. Rasanya sungguh tak sabar setelah sekian tahun aku tak bertemu dan sekian lama aku mencari.

Suster itu berdiri. “Saya harus membicarakannya dengan suster kepala lebih dulu. Mudah-mudahan Tuan beruntung. Pada masa seperti ini kami harus sangat waspada untuk melindungi mereka yang Tuhan percayakan kepada kami.”  Kemudian dia masuk ke ruangan dalam asrama. Sekitar lima belas menit kemudian aku mendengar ketukan langkah kaki menuju ruang tamu. Hatiku berdebar kencang.   

Pintu terbuka. Seorang suster kulit putih muncul dan menyalamiku. Aku bingung. Di mana Winih?

“Sabar Tuan, silakan duduk dulu.” Suster itu bicara dalam bahasa Inggris.

“Saya Muder Franceline. Saya suster kepala di biara ini sekaligus kepala asrama. Saya dengar dari Suster Rita, Tuan sedang mencari seseorang?”

“Benar, Muder, saya mencari seorang gadis. Namanya Winih, Sri Winih. Asalnya dari Gondang. Dan …,” jawabku, agak memburu.

“Tenang Tuan, ada hubungan apa Tuan dengan gadis itu?”

“Untuk apa Muder ingin tahu?” 

“Dengar Tuan Hans, kami tidak bisa sembarangan memberitahukan sesuatu mengenai gadis yang Tuan cari. Kami harus yakin dulu bahwa apa yang kami sampaikan nanti tidak akan membahayakan diri kami sendiri.”

“Saya bukan orang jahat, Muder. Jauh-jauh saya datang dari Rotterdam dan menghabiskan waktu berminggu-minggu dalam kecemasan hanya untuk mencari Winih. Sekarang rasanya pencarian saya hampir berakhir, namun mengapa saya begitu dicurigai? Muder, Winih adalah sahabat saya saat kami sama-sama sekolah. Lebih dari itu, Winihlah yang menyemangati hidup saya, mengilhami saya dalam penemuan jati diri saya. Tapi, sepertinya ada yang tak boleh saya ketahui tentang Winih. Katakanlah, Muder, saya siap untuk berita yang paling buruk sekalipun.”

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fadjar Tri Prasetyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [5]"