Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [7] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [7] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:43 Rating: 4,5

Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [7]

Hebat sekali, gadisku, kamu memang luar biasa. Sejak dulu aku sangat paham sifatmu. Meskipun kamu perempuan, kemandirianmu kuat sekali. Tak heran jika kamu berperan penting dalam perjuangan itu dengan cara yang kamu pilih sendiri.

Aku memeluknya lagi. Senja benar-benar sudah temaram sekarang. Matahari sudah menghilang di balik cakrawala. Tapi, rasanya kami tak ingin pergi dari pinggir kolam itu, meskipun sesekali kelelawar terbang melintasi kepala kami. 

“Oya, Win, bagaimana dengan cerita Muder Franceline tentang keberadaanmu di Biara Susteran Ambarawa ini?”

Winih mengusap wajahnya.

“Oh, cerita itu. Sebenarnya aku enggan mengungkapkannya kepadamu, Hans.”

“Kenapa, Win? Toh sedikit banyak aku sudah tahu dari Muder Franceline?”

“Muder Franceline tidak mungkin menceritakan semuanya.”

Aku tercenung. Winih hidup selama tiga tahun di biara ini. Masuk akal jika banyak peristiwa yang terjadi sepanjang waktu itu. Dan cerita Muder Franceline memang hanya terbatas pada saat kedatangan Winih.

“Jika memang ada cerita yang lain, boleh aku mendengarnya, Win? Aku sudah menemukanmu. Itu sudah melampaui semua kebahagiaan yang pernah kuterima. Aku takkan terpengaruh hanya oleh sebuah cerita.”

Winih sesaat tampak masih ragu, namun akhirnya dia menganggukkan kepala.
“Seperti kamu tahu Hans, aku datang atau tepatnya terdampar di biara ini karena sebuah misi yang gagal. Gerakan kami waktu itu sudah  makin kuat dan membuat penguasa Jepang murka. Rakyat banyak yang mulai berani menuntut hak-hak dan janji-janji yang dulu digembar-gemborkan oleh Jepang. Tekanan dari dunia internasional juga  makin hebat, di antaranya karena gerakan kontra propaganda kami sedikit banyak berhasil memengaruhi opini internasional. Yang paling penting, Jepang mulai mengalami kekalahan di banyak medan pertempuran melawan sekutu. Pada saat itu Jepang membutuhkan  makin banyak sukarelawan, namun rakyat juga mulai berani menentang.

Aku diberi tugas untuk menyusup ke Semarang dan membentuk basis di daerah sekitarnya. Selain  itu, aku mendapat misi untuk menyelamatkan dokumen pergerakan yang berisi rencana dan strategi organisasi, termasuk daftar pihak yang selama ini menyokong perjuangan kami. Untuk mencapai Semarang, aku ditemani oleh dua orang bekas PETA dan seorang teman lagi, namanya Suwito. 

Kami berangkat tengah malam dari Solo, menyamar sebagai petani dengan mengendarai gerobak sapi. Kami harus bisa keluar dari Solo tanpa dicurigai patroli Kenpetai. Kedua orang bekas PETA yang bersenjata bersembunyi di lantai gerobak yang sudah dilubangi seukuran badan orang yang meringkuk. Di atasnya ditutupi dengan rerumputan pakan sapi dan keranjang-keranjang sayuran. Aku bersama Suwito berada di depan mengendalikan gerobak. 

Setiap kali melewati pos atau patroli Kenpetai, jantungku berdegup kencang. Bisa saja setiap saat kami akan ketahuan. Pos Kenpetai di Gladak kami lalui dengan selamat. Begitu juga pos-pos lain di beberapa titik kota. Sepanjang perjalanan rasa takut selalu mencekamku. Namun, keberadaan Mas Wito sangat menenangkanku. Terkadang aku merasa kasihan kepadanya. Apalagi jika di setiap pos, Mas Wito diperiksa oleh Kenpetai. Terkadang dibentak-bentak, ditampar, bahkan pernah ujung bayonet sudah ditempelkan di dadanya. Namun, Tuhan Maha Melindungi, Mas Wito pandai memainkan peran sebagai petani lugu dan selalu bisa memberikan jawaban-jawaban yang jitu untuk tidak mengundang pemeriksaan lebih jauh. 

Perjalanan lancar sampai menjelang Salatiga. Tidak banyak serdadu Jepang yang kami temui. Aku merasa perjalanan akan aman sampai ke Ungaran. Dari Ungaran, kami harus berjalan kaki melalui jalan tikus sampai ke Semarang karena patroli Kenpetai sangat ketat. Begitulah, semua baik saja … sampai menjelang persimpangan Ambarawa….”

Di situ bibir Winih mengatup. Bergetar. Dan, di sudut matanya yang terpejam, air matanya membutir. Aku menggenggam tangannya. Senja sudah mulai gelap. Hawa  Ambarawa yang dingin menusuk belulang terbawa angin. Apa yang terjadi selanjutnya, Win? Mengapa suaramu tercekat saat menyebut nama Suwito. Rasanya tidak salah bila telingaku merasa ada nada kagum sekaligus sendu sewaktu kamu menceritakan Suwito. 

Setelah sejenak mengambil napas, Winih melanjutkan.

“Di persimpangan itu gerobak kami dihentikan oleh patroli Kenpetai. Sepuluh orang serdadu Jepang mengepung gerobak dari segala sisi. Aku dan Mas Wito berusaha bersikap tenang layaknya orang kampung yang lugu. Kedua teman PETA kami bicara dengan pemimpin serdadu Jepang. Aku tak mahir berbahasa Jepang, namun aku tahu bahwa mereka sedang berusaha meyakinkan perwira Jepang bahwa rombongan kami memang hanya bertujuan mengantar kayu. Tidak lama kemudian perwira itu memerintahkan anak buahnya untuk membuka jalan bagi kami. Aku dan Mas Wito mendesah lega. 

Namun, belum lama kami meninggalkan mereka, tiba-tiba patroli itu bergerak dengan tergesa-gesa, berputar menuju ke jalur kami. Dua jip  patroli itu mengejar kami! Tampaknya patroli itu baru saja mendapat kabar dari serdadu yang lain, karena sekilas kulihat jumlah mereka bertambah satu orang. Aku yakin, dia kurir yang menyampaikan berita itu. Pasti operasi kami telah bocor! Perwira Jepang itu berteriak-teriak menyuruh kami berhenti, namun Mas Wito memerintahkan untuk mempercepat laju gerobak. Melihat itu, patroli Kenpetai mulai menembaki kami. Peluru berdesingan di sekitar kepalaku. Aku takut sekali. Berkali-kali desingan peluru itu mengenai kayu-kayu di mana aku berlindung. Aku berusaha tetap tenang dan melindungi karung grajen berisi dokumen itu. 

Patroli itu makin mendekat. Keadaan makin membahayakan. Mas Wito akhirnya memutuskan untuk membelokkan gerobak ke jalan masuk hutan jati. Kami bergegas turun dan kedua PETA tersebut mengambil posisi tempur dengan berlindung di balik badan gerobak. Mas Wito mengambil pistol dan granat di balik beberapa karung grajen. Pengejaran patroli Kenpetai agak terhambat dengan perlawanan dari kedua PETA tersebut. Namun, itu tidak lama. Kami kembali terdesak. Selama pertempuran itu aku berbaring sambil memeluk tas dokumen. Peluru berdesingan di sekelilingku. Bahkan, beberapa kali nyaris mengenai tubuhku. Aku takut sekali. Kupikir kami tak akan bertahan lama dan ajal kami tinggal menghitung detik. 

Tiba-tiba aku melihat seorang serdadu Kenpetai muncul dari balik pohon jati besar di samping kami dan sudah mengambil posisi menembak. Laras karabinnya jelas mengarah padaku yang memang pada posisi yang paling mudah diincar. Jantungku terasa berhenti berdegup. Badanku kaku. Aku tak bisa bergerak. Bahkan, mulutku terkunci rapat. Lalu mataku terpejam, aku pasrah. Telingaku tak lagi mendengar suara bising pertempuran. Bagiku terasa sangat sunyi. Hanya tinggal menunggu satu letusan karabin dan semuanya selesai. 

Letusan itu terdengar juga. Aku merasa pandanganku gelap. Namun, hanya sejurus. Setelah itu, suara tembakan dan desing peluru kembali terdengar. Aku membuka mataku lagi. Aku masih hidup! Tas dokumen itu pun masih berada di bawah tubuhku. Namun, tubuhku terasa berat. Aku juga sulit bernapas.     Sesosok tubuh terkulai di atas badanku. Mas Wito! Ya, Mas Wito! Aku mencoba membalikkan badannya. Ya, Tuhan! Darah mengalir dari dada sebelah kiri. Tangan kanannya masih menggenggam pistol, sementara tangan kirinya memegangi erat pundakku. Aku melihat di bawah pohon jati itu terbujur tubuh serdadu Kenpetai yang sekian detik lalu siap mencabut nyawaku. Mas Wito menyelamatkan nyawaku! Dia menembak serdadu itu, hampir bersamaan dengan tubuhnya menamengi diriku. Aku lihat Mas Wito masih hidup. Matanya bergerak-gerak liar.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fadjar Tri Prasetyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [7]"