Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [8] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [8] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:45 Rating: 4,5

Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [8]

Serangan  makin dekat. Melihat kami tidak mungkin bertahan, Mas Wito menyuruh kami untuk lari menyingkir dan bersembunyi masuk ke hutan jati. Semula aku dan kedua PETA yang salah satunya juga sudah terluka tembak di lengannya itu, menolak. Namun, Mas Wito mengingatkan bahwa perjuangan harus berhasil dan perjuangan pasti membutuhkan pengorbanan. Dan kondisi tubuh Mas Wito yang sudah sangat lemah takkan tertolong karena tertembak di bagian yang mematikan. Akhirnya, dengan berat hati, sambil melindungi diri dengan tembakan, aku dan kedua PETA itu lari masuk ke dalam hutan jati. Mas Wito melakukan rencananya. Ketika para serdadu mendekati gerobak, mereka memeriksa tubuhnya. Begitu mereka membalikkan tubuhnya, Mas Wito mencabut picu granat, dan ledakan keras pun menewaskan hampir seluruh serdadu itu. 

Aku tertunduk. Mataku basah. Mas Wito... kepadanya aku berutang nyawa.“

“Selanjutnya kamu dititipkan ke biara ini dan sejak saat itu berhentilah petualanganmu, bukan?” selaku.

“Ya, benar, Hans. Sejak awal aku tersiksa sekali. Sejak kudengar kabar bahwa kawan PETA-ku akhirnya tewas semuanya di Bawen, aku  makin merasa terpojok oleh rasa bersalah karena gagal menjalankan tugas. Aku tak bisa sampai di Semarang dan tak mungkin pula kembali ke Solo. Masih ditambah lagi semua kawanku tewas. Sungguh rasanya lebih baik aku ikut mati saja!  Apalagi awal mula hidupku di biara ini sangat menekanku.  Aku disembunyikan dalam arti sesungguhnya.”

“Ya, ya, Win, kamu sudah menceritakannya tadi. Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Sudah berakhir. Win, kamu belum menjawab pertanyaanku, maukah kamu ikut aku ke Rotterdam?”

Aku menatap mata Winih. Tampak sekali dia ragu akan jawabannya.

“Aku tidak memaksamu untuk menjawabnya sekarang. Baiklah, kita kembali ke biara. Ini sudah malam. Kita jelaskan semua kepada Muder Franceline. Aku akan minta dukungannya agar mengizinkan kamu meninggalkan tempat ini. 

Win, kamu tidak bisa selamanya di sini. Kita punya masa depan. Aku sudah menyelesaikan pendidikanku dan sudah mendapat pekerjaan yang baik. Kita bisa menggapai harapan-harapan kita yang dulu pernah kita impikan.”

Winih menerawangkan pandangannya.

“Hans, sejak aku bersembunyi di sini, aku akui bahwa dalam kesepianku itu dirimulah yang sering menjadi pelarianku. Di tengah kegalauanku, hanya kepadamulah aku bisa bercermin secara jujur. Suatu kali aku bisa dengan sombong menyatakan bahwa aku mampu menghadapi semua ini. Kali lain aku menertawakan diriku sendiri karena ketidakberdayaanku di kurungan ini. Semua itu kuceritakan kepadamu di antara sadar dan tidak. Karena kamu, satu-satunya yang berjanji untuk kembali kepadaku. Aku akui bahwa semua itu semu seperti fatamorgana, tapi setidaknya aku masih bisa berharap akan sesuatu, bermimpi akan sesuatu. Aku tidak mungkin akan dapat hidup tanpa harapan. 

Untunglah, sejarah akhirnya berpihak kepada kami. Hanya berselang beberapa bulan kemudian Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dan, sejak itulah aku diperbolehkan muncul dari kepompong ini. Aku merasa seperti kupu-kupu baru yang siap untuk menantang dunia. Muder Franceline yang tanggap dengan semangatku itu lantas menugaskanku untuk menjadi guru di sekolah calon guru yang dikelola oleh biara ini.  Aku pun sangat antusias menerima tugas ini karena aku dapat ikut andil mempersiapkan bangsaku menjadi bangsa yang punya kehormatan.

Selama aku menjadi guru itulah, aku mencoba kembali mencari jejak teman-teman seperjuanganku. Dari berbagai kesempatan, aku berhasil juga menjalin kontak dengan beberapa teman yang tersisa. Namun, organisasi kami telah bubar. Di antara para teman itu banyak yang mendirikan organisasi baru atau bergabung dengan organisasi lain yang sudah ada. Sayangnya, ada yang berkembang di tempat yang salah.”

“Berkembang secara salah? Apa maksudmu, Win?” 

“Hans, beberapa teman bergabung di organisasi yang sangat radikal. Mereka terpikat dan mengikuti paham yang mereka anggap paling revolusioner. Apalagi pada saat itu Bung Karno sangat mengedepankan semangat revolusi untuk membangkitkan bangsaku dari keterbelakangan. Maka, organisasi yang berpaham seperti itu seperti mendapat angin. Sayangnya, mereka berkembang dengan melakukan tekanan-tekanan yang berbahaya terhadap kelompok-kelompok lain yang tidak sepaham atau berseberangan dengan mereka. Karena itulah, beberapa kali aku didatangi oleh mereka karena mereka tahu bahwa aku punya dokumen yang berisi daftar penting mengenai peta politik pada masa itu.“

“Oh, jadi itu yang diceritakan oleh Muder Franceline tentang orang-orang partai yang mencari-carimu. Tapi syukurlah, kamu tidak pernah terlibat dengan mereka.” Aku menghela napas. ”Jadi, bagaimana, Win? Jika aku memang tetap menjadi bagian hidupmu bahkan di sepanjang waktu kita terpisah ini, bukankah itu sebuah alasan kuat untuk kita menjalani masa depan bersama-sama?”

Winih memandangku. Tampak jelas betapa kerinduan menyala di matanya. Aku merengkuh tubuhnya dan kami berpelukan. Rasanya gemuruh di dalam hati kami adalah laju tapak sejarah yang pernah kami tinggalkan dan sekarang berebut untuk saling bertaut kembali. 

Malam itu juga kami menghadap Muder Franceline yang tak bisa menyembunyikan perasaan harunya. Tak henti-hentinya beliau mengucap syukur kepada Tuhan. Lalu aku menyatakan niatku untuk memboyong Winih ke Rotterdam. Suster tua itu tak kuasa menahan air matanya ketika Winih mengiyakan kata-kataku. Namun, Muder Franceline minta agar kami tak buru- buru berangkat karena beliau minta waktu untuk mencari pengganti Winih.

Kesempatan berikutnya kami gunakan untuk melakukan berbagai hal yang menyatukan kembali penggal sejarah kami yang sempat terputus. Pertama kami berziarah ke makam kedua orang tua Winih di pinggiran Solo. Mereka meninggal, tewas terbunuh oleh tentara Jepang ketika mengungsi dari Cepu. Lalu kami naik kereta api jurusan Solo-Yogya dan turun di Klaten. Dari sana kami menuju Gondang naik andong. Kami menyusuri kembali kebun tebu di belakang pabrik gula tempat di mana dulu kami sering bersama. 

Kami melewatkan hari-hari kami penuh dengan rencana-rencana. Akhirnya, kami putuskan untuk melangsungkan pernikahan di Solo. Pertimbangannya adalah agar Winih sekaligus bisa berpamitan dengan sebanyak mungkin kerabat dan teman-temannya karena setelah itu kami akan menjalani kehidupan di Rotterdam. 

Pernikahan kami dilangsungkan di Gereja Katolik Purbayan. Beberapa kerabat Winih hadir dan memberi restu. Juga teman-teman seperjuangannya yang sekarang tersebar di banyak kelompok. Menurut mereka, banyak yang tidak hadir karena mereka ingin menghindari perselisihan satu sama lain. Muder Franceline dan beberapa suster yang lain juga menyempatkan hadir.

Sepekan sesudah pernikahan tersebut kami berangkat menuju Rotterdam. Di stasiun kereta api Solo Balapan kami menumpang kereta api ke Jakarta. Kami diantar oleh beberapa teman Winih yang menitipkan permintaan agar Winih tetap bersedia membantu pergerakan mereka. Winih mengangguk, bahkan tanpa meminta persetujuanku, suaminya. Benar-benar istriku seorang yang mandiri, merdeka.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fadjar Tri Prasetyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [8]"