Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [9] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [9] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:47 Rating: 4,5

Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [9]

Kami menjalani kehidupan berkeluarga dengan beragam peristiwa dan pengalaman. Winih, seperti yang kuduga, begitu mandiri. Tidak seperti perempuan Jawa kebanyakan, Winih tidak pernah bersikap ‘sendika dhawuh’ ataupun ‘swarga nunut neraka katut’. Winih tegas, bahkan keras jika memang ada yang tidak benar menurutnya. Kadang kala kami bertengkar karena perbedaan itu, namun kami selalu bisa belajar dari segala kekurangan dan kelebihan kami sehingga pertengkaran itu tidak merusak perkawinan kami. 

Dua tahun setelah pernikahan itu, Winih hamil. Anak pertama kami lahir, bayi perempuan yang cantik, pada saat yang bersamaan dengan datangnya sepucuk surat dari Solo. Winih diminta datang ke Solo untuk mengikuti pembentukan sebuah partai yang didirikan oleh teman–temannya dulu. Winih terdiam setelah membaca surat itu. Kentara sekali dia bimbang untuk memutuskan. 

“Bagaimana pendapatmu, Hans?” 

“Apa kata hatimu?” aku balik bertanya.

“Jika ini terjadi saat kita masih berdua, aku akan langsung memutuskan untuk kembali ke Indonesia, Hans. Tapi sekarang, sudah ada putri kita, bagaimana mungkin aku akan pergi meninggalkannya?”

“Win, selama ini aku menghormati dan mendukung setiap keputusan yang kau ambil. Kamu adalah istri dan wanita yang luar biasa. Kamu mandiri. Bahkan dalam banyak hal lebih dari wanita Belanda sekalipun. Dan sampai sekarang pun aku tetap bersikap sama. Jadi tinggallah di sini. Anak kita belum lagi berumur seminggu. Kamu pun masih lemah, harus banyak istirahat untuk memulihkan diri. Tunggulah sampai dirimu dan terutama anak kita kuat. Aku berjanji, jika saat itu datang, kita akan bersama-sama ke Indonesia.”

Mata Winih langsung berbinar, ”Sungguh, Hans?”

Dan kami pun berpelukan. 

Yosephine Leonie Petersen, begitu anak itu kami beri nama. Dia tumbuh dengan sehat dan  makin pintar. Kentara sekali dia mewarisi banyak hal dari kami. Dari segi fisik dia lebih mirip aku dengan kulit yang putih, rambut yang kemerahan, dan biji mata yang kecokelatan. Tapi, dari segi sifat, sepertinya dia berkembang lebih mirip ibunya. Kemauannya keras. Jika permintaannya tidak dikabulkan, dia akan melakukan protes dengan tidak mengacuhkan orang yang diprotesnya. Dia jarang melakukannya dengan menangis. Kami bahagia dengan kehidupan kami.

Namun, kepedihan itu datang juga. Ketika Onie berumur menjelang dua tahun, dua bulan sebelum rencana keberangkatan kami ke Indonesia, Winih jatuh sakit. Sakitnya berkepanjangan sampai menggerogoti kebugaran fisiknya. Winih menjadi kurus dan lemah. Bahkan, untuk bernapas pun sangat lemah. Aku sudah berusaha membawanya ke dokter dan rumah sakit terbaik, namun keadaannya selalu naik-turun. Terkadang membaik, tapi bisa dengan tiba–tiba drop. 

Aku sempat kelimpungan untuk mengurus Winih dan Onie bersamaan. Pekerjaanku menjadi kacau. Untunglah seorang tanteku mau meminjamkan pembantunya untuk mengurus Onie. Karena kondisi Winih masih tidak pasti, aku memutuskan untuk membatalkan rencana pulang ke Indonesia. Tapi, Winih tidak setuju. Dia bersikeras harus pulang. Alasannya, dia merasa akan lebih terbantu untuk sembuh, bila berada di kampung halamannya. Akhirnya aku menyerah. Ketika kondisi Winih membaik, kami berangkat ke Indonesia menggunakan kapal.

Dalam beberapa hari pelayaran tersebut kondisi Winih kembali naik-turun. Aku sempat cemas, namun Winih sangat keras kemauannya sehingga dia tetap sanggup bertahan. Setiap hari dia minta diberi tahu sudah sampai di mana karena menurutnya  makin dekat ke tujuan semangat hidupnya makin besar. 

Perjalanan yang memakan waktu beberapa minggu tersebut akhirnya usai saat kapal kami merapat di pelabuhan Jakarta. Kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan kereta api menuju Solo. Sepanjang jalan kusaksikan Winih makin sehat. Wajahnya tak lagi pucat. Gerakannya makin lincah. Bahkan, dengan bersemangat Winih menceritakan sekaligus menunjukkan kepada Onie semua hal baru yang ditemuinya. Onie pun terlihat sangat ceria. Dia mengoceh tanpa henti sepanjang perjalanan. Aku sangat gembira melihat perkembangan ini.  Aku mulai yakin bahwa apa yang dikatakan istriku memang benar. Perjalanan kembali ke kampung halamannya ini akan mengobati penyakitnya. 

Kami menginap di sebuah hotel di tengah Kota Solo. Pertemuan dengan teman–teman Winih baru akan berlangsung tiga hari lagi. Kesempatan ini kami gunakan untuk menjelajahi Solo dan sekitarnya. Benar-benar hari-hari yang membahagiakan buat kami sekeluarga. 

Pada malam sebelum pertemuan dengan teman-temannya, tiba-tiba suhu tubuh Winih meninggi. Badannya panas sekali. Sesekali dia mengigau, memanggil namaku dan Onie. Aku cemas sekali. Pertemuan hari itu akhirnya dibatalkan. Teman-teman Winih hanya menjenguk sebentar untuk kangen-kangenan. Jika kondisi Winih benar-benar sudah pulih, mereka akan datang kembali. Waktu yang sekejap itu pun terasa sangat berarti untuk Winih. Dia benar-benar merasa sehat, meskipun kenyataannya secara fisik masih lemah. Namun, dia mengatakan bahwa dia benar-benar merasa sangat puas bisa bertemu dengan mereka.

Namun rupanya, Tuhan benar-benar berkehendak lain. Rencana-Nya kadang-kadang memang tak bisa dipahami. Sore harinya Winih kembali demam. Suhunya tak turun juga. Hatiku terasa tawar. Aku merasa kasihan, namun aku tahu aku tak mungkin serta-merta membantunya, meski aku sangat ingin. Winih tak suka dikasihani. Menjelang pukul sepuluh malam, Winih memanggilku. Aku mendekatkan telingaku.

“Hans, di mana Onie?“

“Onie sudah tidur, Win, di sofa. Tampaknya dia kelelahan.“

“Pasti kau juga lelah, ‚kan? Malah sangat lelah harus menjaga kami berdua. Maafkan aku, ya, Hans.“

“Itu tidak penting. Yang penting adalah kamu harus segera sembuh.“
Winih menggeleng.

“Itu pun sudah tidak penting lagi, Hans. Hanya dirimu dan Onie yang terpenting. Kalianlah yang menjadikan aku masih berani menawar kepada Tuhan untuk menunda panggilan-Nya.”

“Ya, Tuhan! Win, apa yang kau bicarakan?

”Hans, aku minta bawalah Onie kemari.”

Aku beranjak ke sofa dan mengangkat Onie yang masih terlelap. Dengan hati-hati kuletakkan di samping ibunya. Winih mengusap wajah mungilnya dan mencium keningnya. Kulihat air mata bergulir di sudut matanya. Badannya berangsur dingin dan matanya kemudian terpejam.

Wajah Winih sangat tenang. Tenang sekali. Matanya terpejam. Bibirnya merapat. Beberapa anak rambutnya mengurai di belakang telinga. Segalanya terasa ringan seperti tiada beban. Winih sudah pergi. Istriku tidak lagi menawar pada Sang Waktu.

Tahun 1967, aku kembali lagi saat rezim Orde Baru berkuasa. Pada waktu itu aku tidak datang sendiri. Aku sudah menikah lagi. Dia adalah putri atasanku di Belanda, dialah yang selama ini kamu kenal sebagai ibu dari Leonie. 

Suzanne adalah gadis dari kalangan menengah dan terpelajar yang menyandang gelar sarjana hukum. Suzanne gadis cantik yang periang dan sangat cerdas. Aku pun makin menyukainya. Hanya, kadang-kadang aku masih dibayangi oleh wajah Winih. Aku mengalami pergumulan batin yang melelahkan untuk menentukan kata hatiku. Bagaimanapun, cintaku kepada Winih tak akan tergantikan. 

Kami menikah di Rotterdam dan selama beberapa tahun kami menjalani pekerjaan kami sendiri. Aku di perusahaan konsultan yang dipimpin ayahnya dan Suzanne praktik sebagai pengacara. Kami mulai pindah tinggal di Indonesia setelah menangani proyek Bendungan Sempor di Gombong. Beberapa kali pindah sampai akhirnya aku memutuskan untuk mengambil proyek terakhir di Wonogiri ini dan tinggal di Solo.

Ayahmu terdiam sebentar, Onie.  Perahu kami sudah mendekati lokasi proyek. Aku sudah mendengar suara-suara bising alat-alat proyek.  Ayahmu melambaikan tangannya kepada beberapa pekerja yang sedang mengangkut bahan-bahan bangunan. 

“Pras, Le, di Solo ini aku menemukan hampir segalanya. Lepas dari rusuh dan bising kota. Dekat dengan makam Winih. Bersahabat dengan bapakmu.“ 

Kami merapat di dermaga proyek dan ayahmu dengan cekatan melompat mendahului semuanya. Aku masih termangu. Waktu lebih dari dua jam tak terasa demi mendengarkan cerita ayahmu. Sepertinya, segala yang kuketahui selama ini tentang keluargamu teraduk-aduk, seperti bejana yang dihancurkan menjadi tanah dan dibentuk kembali menjadi bejana baru yang sama sekali berbeda. Serba mencengangkan.

Rujukan
:
[1] Disalin dari karya Fadjar Tri Prasetyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Dua Lelaki, Dua Perempuan, Dua Zaman [9]"