Enam Tahun Lalu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Enam Tahun Lalu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:58 Rating: 4,5

Enam Tahun Lalu

AKU terbangun. Alarm yang kupasang semalam benar-benar bekerja. Kurenggut ponsel yang ada di meja kecil samping tempat tidur. Ada satu pesan singkat dari seorang wanita. Satu-satunya wanita di dunia ini yang sangat aku cinta dan rindu: ibu. "Pulang Nak. Ibu rindu." Begitu pesan singkatnya. 

Seketika mataku kabur. Gerombolan air mata berebutan untuk jatuh.

Sudah enam tahun aku tidak bertemu ibu. Aku menuntut ilmu di negeri sakura Jepang. Enam tahun aku tenggelam dalam hiruk pikuk kota Tokyo. Aku tenggelam terlalu dalam. Enam tahunku benar-benar berlalu sangat cepat, layaknya sebuah film. Saking cepatnya, aku terlalu betah tinggal di sini. Tak pernah aku pulang. Dan aku meredam rasa rindu kepada ibu dan ayah hanya dengan memanfaatkan segala teknologi yang sudah ada. Hemat, pikirku.

Sebetulnya, aku memang sudah merencanakan pulang ke Indonesia. Ke kota yang tak pernah tidur: Jakarta. Kurahasiakan memang. Sekadar memberikan kejutan pada mereka. tapi apa mau dikata, ikatan antara aku dan ibuku tak pernah bisa terputus. Apalagi oleh 5.816 kilometer saja.

Segera aku beli tiket menuju Jakarta. Segera pula aku kemasi barang-barang yang hendak kubawa. Tentu saja dengan seabrek oleh-oleh untuk ibu, ayah, dan kedua kakak lelakiku.

"Aku berangkat pagi ini, Bu. Pukul 10.00 waktu Jepang." Begitu isi pesan singkatku pada ibu.  Kupastika pesan itu telah terkirim, kemudian poinsel aku matikan. Karena pesawatku akan segera berangkat.

Lima belas menit sebelum para penumpang dipersilakan masuk pesawat, tiba-tiba langit Tokyo berubah warna. Hitam kelam langit Tokyo seolah menginginkan agar rinduku tak tersampaikan cepat-cepat. Beberapa menit kemudian, diumumkan bahwa penerbanganku hari ini ditunda sampai waktu yang belum bisa mereka pastikan. Kecewa rasanya. Sudah kubayangkan sekitar delapan jam lagi akan segera berpelukan dengan ibu dan ayah. Tapi tak apalah, sudah skenario Tuhan, hiburku.

Aku hidupkan kembali ponselku dan segera memberikan kabar lagi kepada ibuku. Sambil menghabiskan waktu, aku dengarkan lagu-lagu yang membuat hatiku gembira. Tidak boleh ada lagu galau, aku memberikan perintah pada ponselku. Aku setel aplikasi musik di ponselku dalam mode acak. Lagu-lagu yang kuputar tentu saja berbahasa Jepang. Hanya ada beberapa lagu Indonesia. Itupun sudah lagu lawas.

Tiba-tiba sebuah lagu yang sangat tidak aku inginkan muncul, bermain dengan irama sendu yang menyedihkan. Sebuah lagu yang sudah lama sekali tidak aku putar, namun tak pernah sanggup untuk kuhapus. Sebuah lagu yang berjudul Firasat.

Sungguh, benci sekali rasanya hati ini setiap kali mendengarkan lagu itu. Setiap kata yang tersusun membentuk kalimat yang akhirnya menjadi sebuah lagu itu benar-benar membuatku hancur berkeping-keping.

Seketika bayangan itu muncul. Bayangan seorang lelaki. Bukan, bukan ayah ataupun kakak laki-lakiku. Dia adalah kekasihku. Bukan, bukan kekasihku. Aku dan dirinya tidak pernah terikat pada satu status.

Enam tahun lalu, tepat sebelum aku berangkat ke Jepang, ada satu hal yang membuatku marah padanya. Sangat marah. Tanpa pernah ada ucapan maaf darinya. Dia juga sama sekali tidak datang memenuhi janjinya sendiri. Laki-laki macam apa dia. Kenapa dulu aku sangat gila padanya? Kenapa dulu aku mengorbankan semuanya untuknya? Apa pernah dia berkorban  selayaknya aku berkorban padanya?

"Hhh...." kutarik napas panjang-panjang, mencoba mengusir segala pertanyaan yang sampai saat ini tak pernah ingin kuketahui jawabannya.

Kurasakan pipiku memanas. Aku menangis, batinku. Menangisi lelaki tak berguna. Menangisi seorang yang selalu aku perjuangkan bertahun-tahun yang lalu, yang mungkin saat ini telah bahagia bersama dunianya sendiri. bahkan mungkin dia sudah menikah. Bahagia tanpaku. Ya, tanpaku yang berjuang sendirian untuknya dulu.

"Ah! Kenapa aku memikirkan dia! Untuk apa. Semuanya sudah tak berguna!" Aku memarahi diriku sendiri.

Lagu itu berhenti setelah tiga menit lebih tujuh detik berputar. Berputar di telinga dan pikiranku. Membuat mood-ku benar-benar rusak.

Kupejamkan mataku sejenak. Berharap bisa mengusir bayangan dirinya dnegan gelapnya dunia saat kupejamkan mataku.

"Tega kamu! Tega kamu memutuskan secara sepihak!" Aku berteriak padanya.

Lawan bicaraku hanya terdiam tak menjawab.

"Bicara Mas, bicara! Jangan diam saja!"

Dia amsih tak bergeming

"Kenapa kamu tega? Aku salah apa, Mas? Salah Apa?!" Aku berteriak dan terisak

"Kamu hati-hati di sana ya. Jangan pikirkan apa-apa termasuk keadaanku di sini." Dia akhirnya bergeming.

"Mau kamu apa sih, Mas? kamu memutuskan hubungan kita setelah aku memperjuangkan restu Ayahku! Maksud kamu apa, Mas?!" tanyaku masih menangis keras.

"Aku janji besok aku akan menemuimu di bandara. Aku janji, Din."

"Ah!" aku berteriak sampai tak sengaja membanting sebuah pigura yang membungkus kenangan kami berdua.

"Aku pulang, Din. Sampai bertemu besok." Dia berkata sambil berlalu. Meninggalkanku yang masih tak mengerti apa yang baru saja terjadi. Semuanya kuharap hanyalah sebuah bunga dalam tidurku.

"Tidak, aku tidak sedang bermimpi. Lagu itu terdengar sangat nyata."

Kudengar sebuah lagu dari radio di sebelah kamar tidurku. Sebuah lagu yang menyimpan banyak kenangan tentang aku dan dirinya. Kenapa lagu itu berputar di saat seperti ini? Kenapa ya Tuhan? Aku rasanya tak sanggup untuk membenci lagu itu.

Dugg. Senggolan sebuah tas besar milik seorang nenek tua mengagetkanku. Membangunkanku dari mimpi burukku. Segera aku merapikan letak dudukku.

Baru saja aku memesan secangkir kopi hitam, tiba-tiba mikrofon pengumuman mendengungkan suara lagi. Pihak bandara akhirnya memberikan kepastian untuk penerbanganku. Penerbanganku dijadwalkan keesokan harinya.

***
BANDARA Soekarno Hatta tak banyak berubah, pikirku. Hanya Jakarta makin bertambah panas saja, batinku. Setelah beres mangambil koperku, aku segera menghidupkan ponselku. Tak sabar rasanya ingin berjumpa dengan ibuku. Aku sedang asyik mengetik beberapa kalimat untuk ibuku, ketika tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.

Mengagetkanku sampai tak sengaja aku menekan tombol kirim sebelum aku menyelesaikan kalimatku untuk ibu. Aku segera berbalik, hendak melihat siapa gerangan.

Aku terpaku. Mataku terbelalak, kaget. Seketika waktu terasa berhenti. Dadaku sesak. Seperti sudah tak sanggup untuk bernapas. Lelaki itu, dia yang menepuk pundakku. Bukan, dia lelaki yang pernah menyakitiku.

"Kau? Ka.... kau yang...." Aku bertanya sampai tenggorokanku terasa seperti tercekik.

Dia tersenyum. Manis dan hangat.

"Aku baru saja akan menyusulmu ke Jepang!" 


Febry A Hanumsari, Pedukuhan VIII RT 26 RW 13 Kranggan Kidul Kranggan Galur Kulon Progo Yogyakarta 55661

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Febry A Hanumsari
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 15 November 2015


0 Response to "Enam Tahun Lalu"