Epilog - Penyeduh Kopi - Pikun - Bayangan - Relung Duka | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Epilog - Penyeduh Kopi - Pikun - Bayangan - Relung Duka Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:49 Rating: 4,5

Epilog - Penyeduh Kopi - Pikun - Bayangan - Relung Duka

Epilog

kakiku berhenti di stasiun kereta malang
membawa derap langkah menyimpan kenang
ciptomulyo, ah aku mencium aroma tubuhmu
yang pernah kukubur bersama rindu-rindu

biji matamu
gigimu yang berbaris kilau kerinduan
jemarimu yang membelah kebencian
dan hatimu telah kutanam

aku kembali membuka kenang
yang telah lama membunuhku
melepas temali mencabik kebencian
terpanggang perih
2015

Penyeduh Kopi

di sudut kota pengap tubuh jalan beringas
hujan membekukan keramaian
wajah lapar penyeduh kopi bungkam
lidahnya getir terperangkap ilusi
bermanja di jantung kenang, hening

bibir kelu memecah tawa
lingkaran waktu tercecap pedih
pagi beranjak pulang
menjemput malam

Pikun

undang-undang terperangkap di tanah beradat
pasal-pasal dan ayat-ayat beraroma darah
bermuka pikun

di menara yang berkumpul tawa
matanya liar
satu dua lirikan bermekaran dusta

Bayangan

dinding kamarku dari kepalanya bermekaran bunga
aku menjadikannya kenangan
pelarian senja yang membunuh lidah-lidah kebenaran

dinding kamarku menjunjung keabadian
dari mulutnya keluar mantra-mantra benci
menikam jantung-jantung dusta
membelah tawa menggulung bayangmu
yang melarikan puisi-puisiku

Relung Duka
cermin merindukan wajah sinis berhati mulia
bukan wajah pemburu berbulu merak
di relung hati paling dalam aku terpana
sampai kapan ibu pertiwi bahagia
tubuhnya renta

wajahnya keriput bermandikan nanah
masih saja duka menghiasi tubuh di tubuhnya
anak cucu hingga orok yang hidup
terlahir suka merongrong tubuhmu lewat
daging-daging dari tubuhnya
membesar dari uang amarah
2014


Abd Rahman M: lahir di Prapat Janji Sumatera Utara 29 Juni 1989, tinggal di Jalan Perjuangan Gg Sabar 17B Medan.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Abd Rahman M
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 22 November 2015




0 Response to "Epilog - Penyeduh Kopi - Pikun - Bayangan - Relung Duka"