Episode Burung-burung - Baluran - Syair Ikan Gabus | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Episode Burung-burung - Baluran - Syair Ikan Gabus Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:54 Rating: 4,5

Episode Burung-burung - Baluran - Syair Ikan Gabus

Episode Burung-burung

1.

Burung-burung blekok
Burung-burung kuntul
Paruh-paruh yang bengkok
Bisakah bersuara atau sekedar bersiul
Di luar makan, mengerkap mangsa?

2.

Bangau tongtong, bangau udang
Tegak diam sebelah kaki
Agar tampak kuat
Atau bermenung mendera diri?

3.

Burung balam, burung ketiran
Hinggap di tanah
Di dahan-dahan rendah
Bukankah itu pertanda
Sangkar yang sebenarnya?

4.

Punai tanah, punai tanah
Wahai, terbang rendah
mencari silsilah
Bukan dari atas ke bawah

5.

Kicau murai
Utusan fajar
Murai pun paham
Mencintai bias
Yang sebentar

6.

Alap-alap kitari atap
Ngalap berkah
Berhasrat mengelap langit kelabu
Dengan sayap kecilnya

7.

Kepodang, o, kepodang
Kapan pulang ke sarang
Jangan bawa kicau
Karena itu dekat
Ke pintu sangkar

8.

Seekor sri gunting
Terbang dari lipatan kain batik
Seorang perempuan
Tiba-tiba terdengar denting
(bagai dawai pilu dipetik)
Nyatanya gelas-piring
Pecah berkeping!

9.

Burung hantu atau pungguk
Bukan nama yang buruk
Jika saja pencemburu atau pemabuk
Tak berebut mencintai
Bulan dan malam

10.

Burung undan, burung pingai
Terbang lepas ke langit biru
Sebadan tidak seperangai
Ibarat menggantang angin lalu:
Maka biarkan segalanya terbang
Lepas berlalu...
/Kendari-Situbondo-Yogya, 2015

Baluran

Kami mendengar kukuk ayam hutan
dengus kerbau liar
dan menjumpai kotoran banteng
mengeras di tanah keras

Di langit elang memusar
mencipta bayang-bayang layah
ke retak savana
Puncak gunung Baluran
tenang dalam kepak upacara kemarau

Dari Batangan ke Savana Bekol
hingga Bama dan Curah Tangis
Kami saksikan pohon-pohon ranggas
menggaris tanah dengan bayangan

Akar-akaran mati dan tanaman rambat
bagai sulaman tangan alam
membuat selimut
dinginnya malam

Seekor kera berdiam di ubun-ubun
Sebatang pohon paling rimbun
adalah ruh pertapa
duduk bersila

Di bawahnya kami berteduh
Berbagi bayang-bayang
Panas bumi percintaan.
/Situbondo, 2015

Syair Ikan Gabus

Ia yang terbenam dalam iman
Ibarat ikan gabus dibungkus lumpur
Kemarau panjang
Hatinya berdenyut jadi insang
/2015


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Raudal Tanjung Banua
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 8 November 2015

0 Response to "Episode Burung-burung - Baluran - Syair Ikan Gabus "