Geger Gorden | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Geger Gorden Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:03 Rating: 4,5

Geger Gorden

KUSANDARKAN sepeda di parkiran. Kulangkahkan kaki menuju ruang redaksi. Ternyata sudah ada Pak Wisnu dan pak Is yang datang lebih dulu. Kulihat mereka kasak-kusuk di depan jendela. Apa yang sedang mereka lihat? Bukankah jendelanya tertutup gorden? Apa yang sedang mereka bicarakan? Insting wartawanku yang selalu ingin tahu pun muncul.

"Ada apa, Pak?" tanyaku.

"Wah ganti lagi ternyata," jawab Pak Wsnu sambil melihat arah jendela yang tertutup gorden.

"Apanya yang ganti Pak? Gordennya?" aku semakin penasaran.

"Sini," Pak Is menggeretku ke depan jendela.

Aku menatap gorden yang ada di depan mataku dengan serius. Seingatku gorden di kantor kami memang berwarna hijau dan belum pernah diganti sampai saat ini. Aku lihat Pak Is memberiku isyarat mel;ihat ke sebuah lubang di gorden yang memang sepertinya sengaja dibolong. Kuintip lewat lubang gorden. Kulihat laki-laki dan perempuan yang sedang duduk mesra di kursi yang ada di depan kantor redaksi kami, tampaknya mereka sedang memesan soto ayam yang biasa mangkal di depan kantor kami. "Oh, emang dari dulu kan yang mangkal di depan kantor kita tukang soto ayam, Pak?"

"Hadeeeh, iki bocah lugu banget, yang ganti itu perempuannya," kata Pak Is menjelaskan. "Kemarin yang diajak sarapan pagi itu perempuannya lain, bukan yang sekarang."

"Ya siapa tahu itu saudara perempuannya, Pak," jawabku santai.

"Saudara kok gandengan tangan plus pelukan mesra." Oak Wisnu menimpal.

"Emang kemarin dengan wanita lain juga kayak gitu Pak?"

"Iya."

"Wah bahaya itu." AKu melongok kembali ke arah lubang yang ada di gorden.

"Apanya yang bahaya?"

Terdengar suara dari arah belakang, betul-betul mengagetkan kami bertiga. Ternyata suara Siser, temanku satu kampus.

"Kayaknya seru banget sih Pak, emang ada apa Pak?" kata Siser sambil menggeser badanku supaya dia bisa ikut melihat di balik lubang gorden. "Oh itu kan Mas yang kemarin Pak, wah perempuannya ganti lagi ya?"

"Lho, kamu juga tahu, Ser?" tanyaku

"Iya dong, kalau aku berangkat ke kantor aku sering lihat Mas itu sarapan pagi sambil bawa perempuan, tapi kadang perempuannya beda-beda," jelas Siser.

"Wah, benar-benar bahaya ini." Aku kembali mengulangi kata-kataku.

"Ya bahaya, kalau ketahuan, kalau nggak ketahuan yang tidak berbagaya," sahut Pak.

"Hayo pada ngapain ini?" Muncul satu orang staf redaksi dari arah belakang kami. Pak Agus yang seumuran Pak Wisnu dan Pak Is, yang memang sudah lama bekerja di bagian sekretarian redaksi.

"Heem nonton layar tancep ya, lewat gorden?" kata Pak Agus sambil tersenyum. Kami pun ikut nyengir mendengar pernyataan dari Pak Agus, sepertinya memang Pak Agus sudah hapal kegiatan pagi hari dua teman kantornya, Pak Agus ikut melongok ke arah lubang gorden.

"Heeem dua minggu," kata Pak Agus.

"Apanya yang dua minggu, Pak?" tanyaku penasaran.

"Putus," jawab Pak Agus mantap.

Pak Agus memang punya hobi aneh. Beliau paling suka meramal atau menebak-nebak sesuatu.

"Satu minggu," kata Pak IS mantap.

"Setengah minggu," ucap Pak Wisnu tidak mau ketinggalan.

"Tujuh hari," kata Siser ikut-ikutan.

"Kalau tujuh hari itu berarti sama dong dengan Pak Agus satu minggu," kataku sambil menyikut lengan Siser.

"Oh iya sudah, enam hari," kata Siser sambil nyengir ke arahku.

"Kamu berapa hari Luna?" tanya Siser kepadaku. Sebelum aku menjawab pertanyaan Siser, muncul dua orang teman kampusku: Jaza dan Wulan, dari arah belakang kami.

"Soto ayam satu mangkuk, ditraktir selama enam hari," sahut Wulan.

"Hei, emang kamu tahu Lan yang sedang kita bicarakan?" tanyaku.

"Ya tahulah, dari kemarin aku dan Jaza kan sudah ngobrol sama Pak Agus, Pak Is, dan Pak Wisnu, makanya kalau datang itu lebih pagi, jangan hanya pas mau rapat redaksi aja kamu datang pagi," kata Wulan sambil menimpuk kepalaku dengan kertas laporan yang dia bawa.

Aku hanya bisa nyengir mendengar perkataan Wulan. Memang yang dikatakan Wulan benar, tidak ada pembelaan dariku.

"Makanya kamu sering kelewat tontonan layar tancap pagi hari," kata Jaza mantap.

"Gimana Pak, jadi enggak ini, soto satu mangkok selama enam hari, jadi yang menang nanti dapat traktiran dari kita masing-masing, lumayan kan bisa ngirit jatah makan siang," kata Wulan optimis.

"Oke," kata Pak Agus mantap, sambil diikuti anggukan kepala Pak Is dan Pak Wisnu. Aku cuma bisa clingak-clinguk melihat ukah temanku.

"Aku tidak ikut ya, aku jadi penonton aja, penonton setia layar tancep," kataku sambil nyengir.

"Yakin? Tidak minat makan soto ayam gratisan nih? Lumayan buat anak kos bisa ngirit makan siang," kata Wulan merayuku.

"Tidak ah, nggak baik mutusin sesuatu yang belum tentu akan terjadi," kataku mantap.

"Kita nggak mutusin, hanya menebak-nebak aja," kata Siser sambil menepuk-nepuk pundakku.

Kami dikejutkan suara wanita dari arah belakang. Bu Supri, kepala sekretariat redaksi di kantor kami. Sambil tersenyum Bu Supri berjalan ke arah kami, sambil menenteng berkas-berkas. Seketika itu juga Wulan langsung bergeser ke depan jendela, menutupi lubang di gorden yang biasa kami sebut sebagai layar tancap pagi hari. Jaza pun ikut bergeser mendekati Wulan agar lubang tersebut semakin tidak terlihat. Jangan sampai ketahuan Bu Supri, kalau tiap pagi stafnya selalu geger melihat tontonan layar tancap lewat lubang gorden di kantor kami.

"Luna, Bu. Luna yang ulang tahun hari ini," kata Wulan sambil mendorong badanku ke arah Bu Supri.

"Oh, Luna ya, selamat ulang tahun Luna, hepi selalu ya," ucap Bu Supri ke arahku dengan senyum lebarnya.

Aku hanya bisa tersenyum kaku tak bisa mengelak dan hanya bisa bilang. "Iya Bu Supri, terima kasih."

"Oh iya Pak Agus, Pak Wisnu, Pak Is, kemarin saya sudah pesan gorden baru. Hari ini ada tukang yang datang sekalian pasang gorden baru kita, soalnya itu gorden sudah lusuh, ditambah lagi sudah ada lubangnya, sepertinya sengaja dilubangi, karena sewaktu saya cek itu ada sulutan rokok, jadi kurang enak di pandang," kata Bu Supri.

Mendengar penjelasan tersebut kami hanya bisa tertegun. Tidak bisa berkomentar apa-apa. Kami berdiri seperti patung. Apa Bu Supri sudah tahu lama lubang di gorden itu? Stafnya yang selalu geger membahas layar tancep yang dilihat lewat lubang gorden. Tapi yang pasti tidak ada jatah soto ayam gratis seiring berlalunya geger gorden di pagi hari. 

Siti Hamsyah, Bangirejo KW 1/26 C, RT 40 RW 11 Yogyakarta

Rujukan

[1] Disalin dari karya Siti Hamsyah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" Minggu V Oktober 2015

0 Response to "Geger Gorden"