Gerimis Jarum di Andriespark [1] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Gerimis Jarum di Andriespark [1] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:14 Rating: 4,5

Gerimis Jarum di Andriespark [1]

Bandoeng, 1869    

    Gilang menaruh biola kesayangannya di meja. The Blue Danube dari Johann Strauss baru saja mengalun. Iramanya yang riang mengingatkan dirinya pada Anette. Anette Cornelie Louise Coenraad. Dan sebuah pesta dansa dengan dua orang peserta, di gazebo Andriespark. Saat hujan lebat mengguyur Kota Bandoeng. 

    Di tengah tempias air hujan yang memercik sedikit-sedikit, mereka berdansa dengan riang. Gilang yang belum semahir Anette sesekali tersandung ujung sepatu gadisnya. Anette tergelak. 

    Hujan belum juga memberi tanda akan segera berhenti. Namun, hal ini tak membuat mereka risau. Bahkan sebaliknya, mereka ingin hujan itu tetap rinai dan menjadi sebuah alasan untuk tidak segera pulang. 

    Senja mulai membayang. Hujan pun surut, berubah jadi gerimis. Gerimis tipis serupa jarum yang menghunus tajam. Lurus berjatuhan. Menciptakan garis-garis bening yang menghujam. Gilang dan Anette terkesima dan membiarkan diri larut dalam keindahan yang bersahaja. 

    Bila mereka hanya berdua, dunia serasa indah dan penuh warna. Namun, ketika  mereka berada di tengah keramaian, semua berubah menjadi kelam dan suram. Seakan ratusan pasang mata mengintai, dengan pandangan tidak suka. Gilang dan Anette sadar benar, hubungan mereka dipandang sebagai sesuatu yang aneh atau semacamnya. 

    Mereka acap kali bertemu sembunyi-sembunyi. Sekadar menghindari orang-orang yang membuat mereka jengah dan merasa bersalah untuk sesuatu yang belum tentu suatu kesalahan.     
  
    Selama ini belum ada pasangan seperti mereka yang berani tampil secara terbuka. Meski, bila dikatakan tidak ada sama sekali, sepertinya juga tidak. Ada pasangan lain yang sebenarnya punya nyali, tapi kurang percaya diri.

    Gilang yakin, banyak pria inlander yang jatuh cinta kepada wanita Belanda, tapi mungkin tak berani mengungkapkan perasaan mereka. Kalaupun berani mengatakannya, belum tentu berani pula menjalaninya. Atau bisa saja cinta mereka ditolak para noni Belanda karena berbagai alasan. Ini memang sebuah tantangan. Bukankah masih banyak noni lainnya yang lebih cantik dan lebih siap membina hubungan dengan seorang pria inlander?

    Gilang dan Anette dapat dibilang kelewat berani memperlihatkan hubungan asmara mereka. Meski masih menyembunyikan semua itu dari kedua orang tua mereka. 
    Cepat atau lambat, orang tua kedua pasangan kekasih ini pasti akan mengetahuinya. Jadi, Gilang dan Anette sepakat untuk membuat orang tua mereka tahu. Gilang sengaja memulai dengan mengantarkan Anette pulang ke rumahnya. Ayah Anette, Tuan Jan Hendrik Coenraad, sama sekali tidak mau bertemu muka. Sedangkan ibunya masih lebih ramah sedikit. Sempat bersalaman sebentar, sesudah itu tidak muncul-muncul lagi. 

    Bagaimanapun, Gilang mencoba memberi pengertian secara halus bahwa ia berniat menjalani hubungan yang serius bersama anak gadis mereka. Tampil secara terbuka di depan orang tua Anette adalah sikap yang kesatria. Meski, mungkin saja Tuan Jan dan istrinya memberikan penafsiran yang jauh berbeda. 

^^^  
    Anette datang tergopoh-gopoh. Agaknya dia ingin menyampaikan sesuatu. 
    “Gilang, lihat ini!” ujarnya sambil melambaikan selembar koran. 
    “Ada pementasan balet di gedung Societeit! Aku ingin kita menontonnya...!” Anette sangat bersemangat. Gilang belum berkomentar.
    “Ayolah, Gilang, jangan lewatkan kesempatan ini. De Wit Gans adalah lagu yang sangat indah untuk digubah dalam bentuk tarian balet. Aku sangat menyukai lagu itu. Kapan-kapan kau lihat permainan pianoku….” Anette bicara tanpa titik koma.
    “Apa tidak lebih baik, kau main piano dan aku biola?”
    “Oh mijn God, gara-gara balet itu, aku sampai lupa pada pemain biolaku!” Anette menyentuh pergelangan tangan kekasihnya. 
    Salah satu hal yang Gilang sukai dari gadis ini adalah semangatnya. Anette mempunyai minat terhadap banyak hal, terutama seni dan musik. Minatnya ini ia wujudkan dengan keseriusannya menekuni pekerjaan sebagai asisten guru kesenian di Hoogere Burger School (HBS) Ursulinen.       

    Sekolah tempat Anette mengajar hanya berselang tiga gedung besar dengan sekolah guru Kweekschool, tempat Gilang menuntut ilmu. Di seberang deretan gedung ini, ada sebuah koffie pakhuis atau gudang kopi milik seorang tuan tanah bernama Andries de Wilde. Ia memiliki lahan sangat luas yang ia tanami kopi dan dijadikan peternakan sapi.      
    De Wilde membuat taman dengan sebuah koepel atau gazebo di bagian selatan halaman gudang kopinya. Masyarakat umum dibiarkan bebas menikmati keindahan taman yang terkenal dengan sebutan Andriespark ini. 

Pada siang hari, Andriespark menjadi tempat favorit murid-murid HBS dan Kweekschool sebagai tempat menghabiskan jam istirahat mereka. Ada yang bermain bola atau sekadar duduk-duduk di bawah kerindangan pohon ki saman dan pohon bungur yang berbunga ungu. Sebagian lagi memunguti buah kenari dari pohon kenari di sepanjang trotoar yang mengelilingi area gudang kopi berhalaman luas itu. 

    Gazebo yang terletak di tengah-tengah dan merupakan titik pertemuan tiga jalan yang membelah taman itu acap kali dijadikan semacam panggung kecil oleh Gilang dan teman-temannya. Tiap murid Kweekschool diwajibkan menguasai salah satu alat musik, di antaranya: piano, biola, gitar, klarinet, dan akordeon.

    Sambil berlatih, mereka membentuk kelompok musik dadakan yang hampir  tiap hari tampil di ‘panggung’ gazebo. Para penonton akan berdiri melingkar di pinggir pembatas gazebo. Sebagian lagi duduk di anak tangga. Pementasan musik gratis ini menjadi hiburan tersendiri bagi para murid dan masyarakat yang melepas lelah di Andriespark.  Dan salah satunya adalah Anette. 

    Entah bagaimana awal mulanya, salah satu perekat hubungan Gilang dan Anette adalah musik. Gadis Belanda pencinta musik klasik ini, segera saja menjadi teman yang klop diajak berbincang. Kepekaan musikal Anette yang lumayan baik mengasah pengetahuan Gilang untuk mengenal lebih banyak lagu-lagu klasik ringan. Cara berlatih yang mereka lakukan cukup sederhana. Anette bersenandung, Gilang menyimak. Lalu, memainkan lagu dengan biolanya. Dalam hitungan minggu, Gilang menguasai beberapa lagu dan ini menjadi nilai tambah tersendiri ketika ujian pelajaran musik digelar. Ia mendapat nilai tertinggi.    
    Selembar daun kenari jatuh melintas di depan mereka. Yang segera diikuti daun-daun yang lain. Angin sungguh-sungguh ingin bermain, menjatuhkan ratusan  daun sekadar ingin.
^^^

    Pelataran gedung Societeit sudah penuh sesak.  De Wit Gans merupakan  pementasan balet pertama yang dipentaskan di gedung berdinding kayu itu.   Panggungnya tidak terlalu besar, dan biasanya dipakai untuk pertunjukan toneel yang rutin tiap bulan dipertunjukkan di sini. Gedung ini memiliki ruang dansa yang cukup luas dan lintasan bowling yang digemari para pemuda Eropa yang tinggal di Bandoeng. 

    Gedung Societeit menjadi tempat pertemuan sosial dan rekreasi orang-orang Belanda dan Eropa lainnya yang bermukim di Kota Bandoeng. Anggota Societeit ini kebanyakan para preangerplanters atau pemilik perkebunan di kawasan Priangan. Para anggota yang bergabung dalam kelompok sosialita ini adalah kalangan eksklusif yaitu personen van Eurepese afkomst (orang Eropa), als Nederlander genaturaliseerde (orang non Eropa yang sudah dipersamakan), dan aanzienlijke rang of maaschappelijke positie (para pemuka masyarakat). 

    Tidak sembarang orang bisa masuk gedung itu dan mengikuti kegiatan yang berlangsung di situ. Bahkan orang Belanda berpangkat rendah juga orang-orang Indo Belanda pun ditolak masuk.  

    Entah keberuntungan macam apa yang membuat Gilang lolos. Apakah karena sosoknya yang kebetulan agak mirip dengan putra Bupati Bandoeng, sehingga penjaga pintu membiarkannya masuk? Atau keajaiban lain yang tak dapat diterima nalar?  
    Keberanian Anette mengajak Gilang menjadi kekuatan tersendiri yang membuat orang di sekelilingnya tak mampu menghalanginya. Pada sisi lain, kehadiran sepasang kekasih ini memancing perhatian banyak orang. Meriapkan bisik-bisik santer para anggota Societeit yang baru terbungkam ketika layar panggung terbuka dan musik pembuka mengalun perlahan.  

    Di sebelah kanan panggung, orkes kecil yang didominasi oleh permainan biola dan piano itu menciptakan atmosfer keindahan gerak para penari balet. Layaknya angsa putih yang hilir mudik berenang di sebuah danau yang tenang. Kesejukan mengalir.  Alunan piano yang sesekali ditingkahi lengking biola, membawa semua orang yang hadir di situ larut dalam sebuah cerita khayali. Sebuah dongeng pengantar tidur yang sedemikian mengajuk rasa, meriapkan pesona yang menukat. 

    Anette terpaku dalam duduknya. Kenangan masa kecil berpendaran dalam benaknya. Ya, ia seringkali membayangkan dirinya seekor angsa putih yang cantik, di antara sekumpulan angsa putih yang berenang riang. Kehadiran penyihir jahat yang kejam dan menakutkan itu, membuat semua keindahan hidup mereka sirna seketika. Dunia bening yang hening berubah menjadi dunia muram yang penuh kutukan. Angsa-angsa itu menunggu Sang Pembebas. Seorang pangeran gagah perkasa yang mampu menebas belenggu kutukan dan mengakhiri kekejaman penyihir durjana. 

    Gilang menggenggam telapak tangan gadis itu. Anette tergugu. Sang Pangeran telah hadir. Tetapi, apakah dia mampu mengusir segala galau dan menumpas kekuatan Sang Durjana?              
    Pertunjukan telah usai. Tepuk tangan yang bergema memenuhi ruangan, mengembalikan mereka ke alam nyata. Semua kisah akan sampai pada lembaran terakhir. Bagian yang menyempurnakan segalanya. Bahagia atau sedih, itu hanya sebuah titik akhir. Tapi, bagaimana hal itu terjadi, adalah suatu proses yang terkadang pelik dan mencabik. Sesekali indah, penuh gairah. Di lain waktu, perih menikam dalam diam. Semua mengalir mengikuti arus waktu. Mengurai kerengsaan pada setiap tahap kehidupan yang selalu menimbulkan pertanyaan, tapi tak selalu ada jawaban.       

^^^
    “Dipanggil Rama...,” lirih suara Ibu, ada sedikit getaran di dalamnya.
    Gilang sedikit tecekat. Ditaruhnya buku pelajaran musik yang baru beberapa halaman ia baca. Wajah Ibu menyimpan rasa khawatir, meski tak terlalu kentara. Gilang tahu, hubungannya yang kaku dengan sang ayah sedikitnya menjadi penyebab kekhawatiran itu. 
    Ibu segera berlalu. Dengan perasaan enggan Gilang menyeret sandal kulitnya hingga menimbulkan bunyi. Belum juga sampai di ambang pintu kamarnya, Gilang memutar tubuhnya. Kembali ke meja, meneguk habis sisa kopi tubruknya yang sudah dingin. 

    Di salah satu sudut ruang keluarga, Raden Suriakusumah tampak sedang menuliskan sesuatu. Meja kerjanya penuh dengan buku dan lembaran-lembaran kertas yang ditumpuk beraturan. Mencirikan bahwa pria separuh baya itu orang yang menyukai kesempurnaan. Orang yang tidak mudah menerima suatu kekurangan, kesalahan atau sesuatu yang tidak pada tempatnya.

    Tiga bulan terakhir ini, ayah Gilang menulis beberapa artikel yang isinya menolak sistem cultuurstelsel atau sistem tanam paksa. Sebuah gagasan yang dianggap brilian dari van den Bosch yang pada akhirnya sangat merugikan rakyat, khususnya kaum petani. Mereka dipaksa menanam tanaman bernilai ekonomi tinggi dan memiliki nilai jual di pasar dunia. Kopi, tebu, tarum atau nila, dan tembakau wajib ditanam di lahan para pemilik tanah. Sedikitnya 20 persen dari luas tanah. Para petani yang tidak memiliki lahan, diharuskan bekerja di lahan pertanian milik pemerintah, selama sepertiga tahun. Pada kenyataannya, semua peraturan itu tak semanis yang tertulis. 

    Perbudakan dan pemerasan berselubung kebijaksanaan yang memakmurkan  Belanda, menjadikan cultuurstelsel sebagai tambang emas. Kebangkrutan yang dialami pemerintah Belanda akibat Perang Diponegoro dan Perang Belgia, sudah lama berhasil diatasi.  Dan sekarang adalah limpahan harta keberuntungan, yang  tetap saja tak dapat dinikmati kaum inlander.

    “Kau tahu alasan Rama memanggilmu?” 
Gilang terkinjat, suara berat itu menyekat alam pikirannya dengan alam kenyataan. 
    “Tidak, Rama...,” ungkap Gilang sejujurnya.
    Rama mengangkat alisnya. Ada kesangsian di balik tatapannya.
    Gilang cepat-cepat meralat ucapannya. “Ehm... maksud saya. Bila Rama memanggil, biasanya ada hal penting yang ingin dibicarakan. Atau... Rama sedang marah.”  
    Wajah Raden Suriakusumah agak melunak. 
    “Adakah sesuatu yang luput dari perhatian Rama belakangan ini?” ujarnya.
    Gilang menggeleng, sambil berpikir keras. Rasanya tidak ada sesuatu yang aneh belakangan ini. Ia tidak melakukan sesuatu yang membuat Rama marah atau menegurnya. Bukankah belum lama berselang, Rama dan Ibu tersenyum bahagia, saat mereka berfoto bersama di tukang potret Beng Ek Tjiang di Kebondjatiweg?
    Lalu, keluarga kecil itu merayakan kelulusan Gilang di sebuah kedai ayam goreng di belokan Pasirkalikiweg. Yang siang harinya, lokasi kedai itu adalah halaman sebuah toko bangunan. 

    Gilang tepekur. Atau jangan-jangan, Rama tahu tentang ....
    Belum juga Gilang menyelesaikan kalimat dialog batinnya, Rama sudah bersuara.   
    “Seperti tidak ada gadis lain saja...!” komentar Rama pendek. 
    Sungguh, Gilang sangat terperanjat. Ucapan Rama sama sekali tidak diduganya. Beberapa saat Gilang tak tahu harus berbuat apa, atau mengatakan apa.  
    Gilang hanya bisa memandang ayahnya. Suasana ini benar-benar menyiksa. Sia-sia saja Gilang menunggu. Tak ada kata-kata lain yang keluar dari bibir ayahnya. Ini sebuah isyarat yang menyiratkan gelagat bahwa Rama benar-benar tidak menyetujui hubungan anaknya dengan noni Belanda itu.   
^^^ 
    Di kamarnya yang terasa pengap, Gilang tepekur. Sikap Rama dalam menolak hubungannya dengan Anette, sungguh di luar dugaan. Sedikitnya Gilang akan lebih bisa menerima jika sang ayah memarahinya sepuas hati. Tapi, penolakan Rama itu adalah sebuah hukuman yang lebih berat baginya.  
    Dibukanya jendela. Udara malam yang dingin menyergap masuk. Gilang melempar pandang. Seluas langit dengan taburan bintang, tak juga membuat hati dan benaknya serasa lapang. Seperti apa hari esok jadinya. Tak tahulah. Biarlah Sang Empunya Kisah menorehkan takdir-Nya.      
^^^
    Sepupu Anette, Markus de Stuers, anak Tante Louise, adik ayahnya, menunjukkan rasa tidak sukanya secara terang-terangan atas hubungan Gilang dan Anette. Tapi, keduanya mengabaikan hal itu. Markus geram dan mulai menyimpan dendam. 
    Mereka sering bertemu tiap kali ada pertunjukan toneel di Gedung Societeit Apalagi Markus adalah salah satu pemain toneel yang bergabung dalam perkumpulan toneel Concordia. 

    Dengan segala kepolosannya, Anette merasa bangga pada sepupunya yang berbakat itu. Markus tahu, tapi kesenangannya jadi berkurang karena Gilang tak juga lepas dari sisi sepupunya yang cantik. Ia menganggap pemuda inlander itu bermuka tebal, dan kian menumbuhkan rasa sebal yang membuat hatinya mengkal. Apalagi pemimpin toneel acapkali meminta Anette menjadi salah satu pengiring musik. Kepekaan Anette memainkan piano yang selaras dengan pertunjukan mereka, jadi salah satu alasan. 

    Markus tak bisa menghindari atau mencegah situasi seperti itu. Dengan kata lain, ia pun tak bisa melarang Gilang menemani gadisnya. Dan hal yang membuat Markus semakin kesal adalah para anggota Societeit mulai terbiasa dengan kehadiran Gilang. Sebagian mungkin mengira Gilang anak tokoh masyarakat atau orang berpangkat. Sebagian lagi, tak mempersoalkan asal muasal kekasih putri Tuan Jan Hendrik Coenraad yang disegani banyak orang itu. Hanya sedikit orang yang mengetahui bahwa Gilang adalah anak seorang preangerplanters pribumi yang memiliki perkebunan teh di Arjasari, Bandoeng Selatan. 

Setidaknya keluarga Raden Suriakusumah mempunyai hak  yang kurang lebih sama karena gedung sosialita itu didirikan oleh para preangerplanters untuk keperluan rekreasi mereka. 
    Bukankah ini sebuah keajaiban yang lagi-lagi singgah dan menjadi berkah bagi Anette dan pemuda pujaannya?         
^^^
    Anette meletakkan sebuah buku tebal di samping Gilang, lalu duduk sambil menyelonjorkan kakinya yang ramping. Gilang meraih buku itu, kemudian menyimpannya di tempat semula. 
    “Kamu sudah baca?”
    Gilang mengangguk pelan. Dia melipat kain halus yang sedari tadi teronggok di sampingnya. Kemudian kain itu digosokkan ke punggung biolanya dengan gerakan yang sangat lembut dan hati-hati. 
    “Buku itu karya Multatuli dan terbit tahun 1860. Dari sudut pandangnya yang humanis, dia menceritakan kondisi para petani yang menderita akibat tekanan pejabat Nederlansche Indies,” papar Gilang. “Ayahku sudah berulangkali membacanya. Buku itu menjadi koleksi favoritnya karena menjadi salah satu pemikiran yang menginspirasi tulisannya yang menolak cultuurstelsel.”
    “Ooh...” hanya sepatah kata itu yang meluncur dari bibir Anette. Selebihnya, selaksa kegundahan berkecamuk di dalam benaknya. Ini bukan hal yang sepele, ayah Anette takkan pernah menjadi orang yang satu pemahaman dengan ayah Gilang.
    Bahkan dari penuturan Gilang, Anette menaruh kesimpulan bahwa ayahnya adalah musuh bebuyutan ayah Gilang. Mereka sering berpolemik di koran lokal yang beroplah besar.   
    Anette melenguh lirih. Hhh... sungguh hubungan mereka amatlah pelik. Sebuah kisah percintaan yang menangguk begitu banyak perbedaan. 
    Beberapa saat kemudian, hanya desir angin yang terdengar di antara mereka. Dua ekor burung gereja hinggap di atas atap gazebo yang terbuat dari kayu sirap. Burung yang satu, menggenggam batang rumput yang sudah lama mengering di paruhnya. Burung yang satunya lagi, sibuk menyelusupkan paruhnya ke sela-sela sayapnya.     

    Gilang meraih tangan Anette, lalu  digenggamkan pada kedua telapak tangannya. Seakan menyalurkan suatu perasaan yang membuat mereka saling menguatkan.
    Langit kelabu menyemaikan gerimis. Meripis tipis menyentuh atap gazebo. Kedua burung gereja itu masih bertahan di situ. Mereka mendekat, saling melekapkan diri untuk menciptakan sebuah kehangatan. Paruh burung itu masih bertahan menggenggam batang rumput. Satu dari sekian batang rumput yang sejatinya dia kumpulkan untuk membuat sarang. 
^^^
    
Adakalanya Raden Suriakusumah mencoba memahami hubungan anak laki-lakinya semata wayang dengan gadis Belanda itu. Dia bisa melakukan hal ini karena persahabatannya dengan Rudolph Albertus Kerkhoven bukanlah  sesuatu yang mudah dipahami. Apalagi mereka semakin karib, setelah Rudolph membeli perkebunan teh di Arjasari, tidak jauh dari perkebunan miliknya. Tapi, sejatinya, dia sendiri tak bisa mengingkari bahwa perasaan guyub itu tumbuh tanpa melihat siapa atau mengapa! 

    Hanya saja, perasaan khawatir sudah melampaui takarannya. Raden Suriakusumah takut anaknya nanti akan dikucilkan dari pergaulan. Dia mahfum, bila Gilang tak bisa diterima sepenuhnya. Meski dia percaya, masih ada orang Belanda yang tidak mempermasalahkan pernikahan beda ras. 

    Bisa saja semua pandangan itu diabaikan dan pengakuan adalah nomor sekian. Tapi, mampukah mereka semua melewati hal yang riskan seperti itu? Terutama kedua anak muda yang sedang dimabuk asmara. Sedang dibutakan dari kenyataan-kenyataan pahit yang kian menebal dan semakin mengeras menjadi sebongkah batu cadas. Akankah kedua anak muda itu sanggup menghadapinya? Cukup kuatkah cinta mereka untuk menghancurkan segala penghalang?

    Raden Suriakusumah tak ingin anak lelakinya memendam rasa kecewa. Bagaimana pun, orang tua mana yang tidak ingin melihat anaknya bahagia? Sama halnya dengan Jan Hendrik Coenraad. Pasti dia mempunyai alasan sendiri ikhwal ketidaksetujuannya hubungan anak gadisnya dengan Gilang. Baik itu alasan yang bisa langsung terbaca atau alasan yang bersifat tertutup. 

    Ayah Gilang menyadari benar, perbedaan paham politik yang sangat kentara antara dirinya dengan Jan Hendrik bukanlah hal yang ringan dan begitu mudahnya dikesampingkan. Selama ini, Raden Suriakusumah gencar menulis penolakannya terhadap Cultuurstelsel. Beberapa sahabat Belandanya yang berasal dari kubu liberal serta merta menjadi kawan seperjuangan. 

    Sementara itu, Jan Hendrik yang berada di kubu yang mendukung kebijakan yang digulirkan Van den Bosch itu, bersikukuh untuk tetap mempertahankan cultuurstelsel karena banyak keuntungan yang bisa diraih daripadanya. Pengalamannya sebagai salah seorang preangerplanters yang memiliki perkebunan teh dan kopi di Lembang, menjadikan ia mengetahui lebih rinci keuntungan-keuntungan itu. 

    Perlawanan Raden Suriakusumah acapkali disanggah Jan Hendrik lewat artikelnya. Tentu saja, polemik ini menjadi iklan gratis untuk menaikkan oplah koran lokal yang sengaja memuat tulisan mereka. Berlindung di balik objektivitas pemikiran, koran lokal itu ingin menularkan kebebasan berpikir dan mengemukakan pendapat tanpa memandang siapa penulisnya. Inilah daya tarik yang membuat koran ini laku di pasaran dan membuat pihak gouvernemen menunggu saat yang paling tepat untuk membreidelnya!       

    Raden Suriakusumah dan Jan Hendrik jelas sudah, berada pada posisi yang berlawanan. Sangat bertolak belakang dengan hubungan kedua anak mereka. Tentu saja seorang Suriakusumah dan seorang Jan Hendrik takkan begitu saja menerima kisah percintaan kedua anak muda itu menjadi bagian indah dalam perseteruan mereka.(f)


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Katherina Achmad
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Gerimis Jarum di Andriespark [1]"