Gerimis Jarum di Andriespark [2] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Gerimis Jarum di Andriespark [2] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:29 Rating: 4,5

Gerimis Jarum di Andriespark [2]

Gilang dan Anette adalah sepasang kekasih yang tidak umum di Bandoeng, tahun 1869. Keduanya sama-sama menyukai seni. Namun, pria pribumi tidak mudah begitu saja menjadi kekasih noni Belanda, meski  Gilang lahir dari keluarga ningrat, Raden Suriakusumah. Namun, keduanya tetap nekat, meski sama-sama harus menghadapi tekanan sosial dan keluarga. 

Hari itu, Gilang merasa ada sesuatu yang berbeda di rumahnya. Ibu kelihatan sibuk membuat sesuatu dan Rama tampak semangat menyemir sepatunya. Sambil bersiul-siul pula. 

    Belum habis rasa herannya, Ibu sudah menyapa.

    “Naah... kebetulan! Ayo, siapkan bajumu yang paling bagus, Nak. Sore ini kita akan ke rumah Mang Danu...!” sambut Ibu semringah. 

    “Ada apa ini, biasanya pakai baju biasa juga tidak masalah?” Gilang tak bisa menyembunyikan rasa herannya.

    “Sudahlah, turuti apa kata ibumu,” timpal Rama. “Kamu sudah lama tidak bertemu dengan Priatna, bukan? Pasti kalian kangen!”

    Gilang  makin bingung. Rasanya apa yang diungkapkan kedua orang tuanya tak ada yang nyambung. Tak ada hubungan sebab akibat yang runut dan saling berhubungan. 

    “Mang Danu selamatan pindah rumah...,” kata Ibu, mencoba menepis rasa heran yang menyelimuti wajah anaknya. 

    Gilang segera masuk ke dalam kamar. Merebahkan diri di atas bantal yang sengaja ditinggikan. Langit-langit kamarnya yang putih kosong, seakan mewakili isi benaknya. 

    Kalau sekadar selamatan pindah rumah adik ayahnya itu, sikap Ibu dan Rama agak sedikit berlebihan. Gilang kenal betul kebiasaan mereka. Hmm... pasti ada sesuatu yang mereka rahasiakan dari dirinya. Gilang merasa begitu. Tapi, tak bisa menebak apakah itu.  

    Sore harinya mereka berangkat. Gilang mengusiri kereta yang ditarik dua ekor kuda. Sebuah kereta yang posisi duduk penumpangnya membelakangi kusir. Kap penutup kereta sengaja dibuka, agar leluasa memandang ke segala arah. Apalagi kebetulan cuaca cerah. Rama dan Ibu asyik mengobrol. Suasana ceria ini akan  makin terasa bila kakak perempuan Gilang, Ratnasari, ikut bergabung. Sayangnya, sejak menikah dengan seorang wedana, ia segera diboyong ke Tasikmalaya.  

Priatna menyambut mereka dengan hangat. Sigap ia membantu saudara sepupunya itu, menambatkan kereta di samping rumah barunya yang berhalaman luas dan teduh oleh pepohonan besar.

    “Ke mana saja kamu…,” ucap Priatna, sambil meninju bahu sepupunya.

    “Hmm... kamu yang menghilang tak tentu rimbanya,” balas Gilang. “Kudengar, kamu jadi tuan tanah sekarang!”

    “Ah, aku hanya jadi administrateur perkebunan teh milik Tuan Rudolph  Kerkhoven. Gajinya lumayan besar, pekerjaannya pun tak terlalu rumit,“ jawab Priatna ringan, sambil membasuh tangannya di bawah keran. ”Kudengar pula, kau punya schandaal besar dengan seorang gadis Belanda….”

    “Apa? Schandaal? Kamu tahu dari mana, heh...?!” Wajah Gilang sedikit memerah. 

    “Walaupun aku lebih sering berada di Mega Mendoeng, aku tetap memantau kabar terbaru yang sedang hangat di Bandoeng. Apalagi yang menyangkut sepupuku yang perlente ini!”

    “Apa saja yang kau dengar dari kabar burung itu. Jangan seratus persen percaya akan kebenarannya!”

    “Ya, justru itulah, aku bertanya padamu. Sumber dari segala sumber berita panas itu!” Priatna mengedipkan sebelah matanya.

    Gilang menyeringai. “Kuharap kau berpikir sedikit moderat dalam memandang hubunganku dengan Anette.”

    “Tenang saja...,” Priatna menepuk-nepuk bahu sepupunya. “Bukankah pelukis raja itu sudah memulainya? Dia menikahi seorang perempuan Belanda dan tinggal di Batavia. Di sebuah rumah besar mirip kastil Rosenau, puri milik sahabatnya, Pangeran Albert dari Jerman.”

    “Ya, dia Raden Saleh. Kupikir dia pria inlander pertama yang berani menikahi wanita Belanda. Dia mendobrak kebiasaan para tuan tanah Belanda yang menikahi wanita kita sebagai gundik….”

    “Aku tidak tahu apakah Raden Saleh menikahinya secara resmi, atau menjadikannya sebagai istri simpanan.”   

    “Sebuah kisah cinta revolusioner, yang dianggap melawan kodrat. Kodrat yang diciptakan oleh sebuah pandangan yang sempit dan tidak menghargai perbedaan...!”

    “Ya, begitulah cara cinta memperlihatkan kekuatannya!”

    Priatna memandang sepupunya dengan rasa prihatin yang mendalam. Dia sendiri mungkin akan sama terpojoknya bila mengalami masalah yang sama. 

    “Kita ke dalam, yuk!” ajak pemuda kurus itu. “Orang tuamu pasti sudah tidak sabar lagi memperkenalkan dirimu dengan Ratih....”

    “Ratih? Siapa dia?”

    “Kura-kura dalam perahu, memangnya orang tuamu tidak kasih tahu?”

    Gilang menggeleng lesu. Senarai rasa galau mulai menyemai di benaknya. Ia tahu, Priatna pasti bersungguh-sungguh dengan kata-katanya itu. Lalu, dengan cara apa Gilang mampu menghindari sebuah rencana yang dipersiapkan orang tuanya?

    Kedua pemuda yang sebaya itu berjalan bersisian, menyusuri jalan bebatuan yang agak menanjak, yang diteduhi pohon pinus. Rumah baru keluarga Mang Danu sungguh asri. Hamparan rumput yang dipangkas rapi dan aneka tanaman yang ditata sedemikian rupa, membuat siapa saja merasa betah. 

    Ratih memang cantik dan terpelajar. Sejujurnya, Gilang mengakui gadis pilihan orang tuanya nyaris sempurna. Dia putri seorang pengusaha batu pualam di kawasan  Citatah, Padalarang. Hanya sayang, tak ada sesuatu yang membuat perasaan Gilang bergetar atau semacam keinginan untuk selalu berdekatan dengan gadis itu. Yang ada, justru rasa takut kehilangan Anette! 

    Gilang sempat menangkap sorot kekecewaan di mata Rama dan juga ibunya, ketika ia lebih banyak mengobrol dengan Priatna, sementara Ratih sibuk bertukar cerita dengan Kanti, adik Priatna. Tak ada situasi yang memaksa Gilang terlibat percakapan yang lebih akrab bersama gadis berkepang dua itu.
    Dan kekecewaan Rama terbawa sampai pulang. 

    “Rama pikir, kau sudah cukup dewasa untuk menafsirkan apa yang kami rencanakan untukmu. Rama dan ibumu ini sengaja mempertemukan dirimu dengan putri keluarga Adimaja.”

    “Maksud Rama, Rama menjodohkan saya dengan Ratih?” 

Raden Suriakusumah tak menjawab. dia hanya menatap tajam. 

    “Kau tahu, tapi mengabaikannya….”

    “Sebelumnya saya sama sekali tidak tahu, tapi setelah Priatna bercerita barulah saya mengetahuinya.” Gilang membuang pandang. “Lalu, kenapa Rama sebelumnya tidak mengatakan niat Rama?” 

    “Jika Rama kasih tahu lebih dulu, kau belum tentu mau diajak ke rumah Mang Danu. Rama berharap setelah kamu melihat Ratih, kamu bisa melupakan gadis pirang itu!”

    “Bagaimana mungkin di saat saya mencintai Anette sepenuh hati, tiba-tiba harus mengalihkan perasaan itu kepada gadis lain?” Gilang menatap ayahnya dalam-dalam. Sesuatu yang jarang ia lakukan selama ini.

    Ayahnya hendak menjawab, tapi keburu anaknya berucap.

    “Seandainya kejadian ini dialami Rama sendiri. Rama yang sangat mencintai Ibu, diharuskan menghapuskan perasaan itu dan Rama harus menikahi seseorang yang baru Rama kenal dan bukan wanita yang Rama cintai dengan sepenuh hati. Apakah Rama bisa  menjalani hidup ini dengan senang hati?” 

    “Rama hanya menyodorkan sebuah pilihan lain, agar kau lepas dari kisah percintaanmu yang pelik itu. Memilih Ratih atau gadis lain, terserah padamu, Nak. Yang penting, bukan gadis Belanda, anak seorang preangerplanters yang punya pandangan politik berseberangan dengan ayahmu ini. Bila Jan Hendrik itu seorang liberal yang menentang cultuur stelsel, Rama mungkin masih bisa setuju….”

    “Rama, kita bicara soal perasaan, bukan soal politik!”

    “Memang, tapi semua ini tak sesederhana yang kau pikirkan, anakku….”   

    Percakapan sumir yang mengaduk hati itu segera berakhir. Menyisakan gumpalan yang tak mudah mengurai. Gilang bersikukuh menolak perjodohan itu, sementara ayahnya berusaha mencari cara lain agar niatnya terlaksana. 

    Rasa takut kehilangan  makin mencekam perasaan Gilang. Dia tak mau mengabaikan satu detik pun kebersamaannya bersama Anette. Pertemuan diam-diam pun  makin kerap. Gazebo di Andriespark adalah saksi bisu yang acap kali menjadi tempat menyemaikan selaksa benih-benih kerinduan.

    Sungguh, Gilang tak hendak menafikan benih-benih perasaan itu. Bahkan ia membiarkannya tumbuh menjadi tunas yang meriapkan segenap harap. Tiap detik, tiap satu milimeter,   tiap geletar debar jantung yang menjalani takdirnya.  


    Saat malam meremang, menyingkirkan senjakala yang sudah usang. Gerimis masih rinai, mengusik kemarau yang masih enggan beranjak. Gilang bertahan menunggu, di sudut  gazebo. Andriespark benar-benar lengang, hanya desau angin menggerakkan daun-daun yang tertimpa gerimis. Pohon-pohon besar di sekelilingnya menjadi payung raksasa yang menaungi  taman. 

    Ada risau yang menerpa. Ada galau yang memaksa Gilang untuk tetap berada di situ. Sampai kemudian sesosok bayangan menghampirinya. 
    “Anette...?!” 

    Bayangan itu  makin jelas. Dia segera menutup payungnya yang basah dan menaruhnya di pinggiran gazebo. 

    “Maaf, Gilang, aku terlambat. Aku harus menunggu ayahku pergi dulu…,” tutur Anette sambil menepis buliran air di jas hujannya. “Tapi, kemudian seorang temannya datang, dan mereka terlibat obrolan yang panjang....”

    Gilang menurunkan gulungan lengan kemejanya. Memasukkan kancing dan membenahi rompi hitam yang sudah dipakainya. 

    “Ayo, kita pergi sekarang saja...,” ujarnya, sambil menadahkan tangan, mengukur curahan hujan.   
    Di tengah gerimis yang masih meripis, mereka menyusuri Karrenweg. Beberapa delman yang lewat berulang kali melewati genangan air dan menciptakan cipratan-cipratan keruh yang menerpa para pejalan kaki.        

    Gilang dan Anette mempercepat langkah. Sebentar lagi toneel Romeo dan Juliet karya William Shakespeare itu dimulai. Tentu saja mereka tidak mau kehilangan adegan awal dari tragedi klasik yang memikat itu. Apalagi Anette. Baginya, kisah Romeo dan Juliet adalah sebuah pengakuan yang mengagumkan  atas kesejatian cinta. Di sini, hampir semua orang sepakat bahwa cinta itu mengekalkan perasaan kasih yang murni dan mengalahkan kebencian yang durja.   

    Anette mengusap wajahnya berkali-kali. Buliran bening itu tak bisa ia cegah. Anette merasa dirinya Juliet, anak Lord Capulet yang musuh bebuyutan ayahnya Romeo, Lord Montague. Kebencian yang sedemikian mengakar dalam benak Lord Capulet dan Lord Montague berhadapan dengan beningnya rasa cinta yang mengaliri relung hati kedua anak mereka. 

    “Kisah cinta yang sangat tragis...,” komentar Gilang sambil meraih jemari Anette. Penonton lain bergegas meninggalkan gedung. Mereka sengaja menunggu, agar tidak ikut berdesak-desakan.  

    Sambil menyusuri jalan kecil di seberang Sungai Tjikapoendoeng, tak habisnya kedua anak muda itu membicarakan toneel yang barusan mereka tonton.

    “Dramatis...,” timpal Anette kemudian. “Kisah mereka mirip dengan kita. Dua orang yang bermusuhan, sementara itu anaknya saling jatuh cinta....”

    “Tapi, kisah kita tak harus berakhir dengan adegan minum racun,” kata Gilang sambil menggenggam jemari kekasihnya lebih lekap.

    “Tentu saja. Aku ingin adegan kita berakhir dengan minum anggur, dan mendentingkan ujung gelas untuk sebuah perayaan....”

    “Aku lebih sepakat, bila gelas itu berisi bajigur dengan irisan tipis kolang-kaling yang kenyal.”

    Anette mengerling. “Lalu, lagu Chopin mengalun dan keluarga kita menari polonaise….”

    Gilang menghentikan langkahnya. “Aku tak berharap terlalu banyak tentang hubungan kita….” 
   
    Anette tertegun. Bulan purnama yang belum sempurna, bertakhta megah di langit malam. Tak ada bintang. Tak ada awan. Lingkaran cahaya bulan menebarkan pesona, sejauh mata bisa memandangnya.

    “Sedikitnya kita bisa menikmati hari demi hari yang sangat berharga ini, dengan tidak mengabaikannya barang sedetik pun...!”

    “Aku tahu, tak sepenuhnya jalan kita semulus Groote Postweg. Tapi cinta harus diperjuangkan, Gilang. Kita jangan menyerah pada keadaan, tapi kita harus mengubah kenyataan menjadi lebih baik dari yang kita takutkan!”

    “Saat ini, aku belum tahu, dengan cara apa kita bisa melewati bukit terjal yang menghalangi jalan kita....”

    Anette melepaskan tangannya dari genggaman Gilang. Lalu, melekapkan telapak tangannya itu ke dada Gilang.

    “Selama jantung kita berdetak dan hati kita berpaut, apa pun yang ada di depan kita adalah suatu ujian yang menguji kesungguhan perasaan kita!”  

    Gilang melihat semacam cahaya di mata Anette yang lebih indah dari sinar bulan. 

    “Dan kita benar-benar tidak membutuhkan racun....”

    “Tentu saja, kita hanya membutuhkan dua gelas bajigur!”

    Malam beringsut perlahan. Jalanan  makin sepi. Sesekali ketoplak sepatu kuda menyeruak sunyi. Gilang sengaja tak membawa keretanya, karena ia ingin berlama-lama bersama gadis kecintaannya. Menyusuri Karrenweg, hingga Sumateraweg. Melewati jajaran pohon kenari yang selalu berbuah tak kenal musim.      

    Sesampainya di rumah Anette, hanya lampu beranda dan lampu taman yang menyala. Kedua orang tua Anette sudah lama tertidur. Dengan hati-hati gadis itu menggerakkan tuas pintu. Ternyata tidak terkunci. 

    Gilang menghela napas lega. Sungguh, mereka menjalani sebuah kisah percintaan yang unik. Yang dia sendiri sama sekali tidak tahu, akan berakhir seperti apa nanti.



Kekacauan kecil terjadi, ketika seorang penyanyi seriosa terkenal Mevrouw Rosanna van Bloemenkool batal hadir. Sedianya, Anette-lah yang mengiringi penyanyi asal Belgia itu. Dalam kekalutan yang mencekam, ketua Societeit, Johannes van Bergen berusaha mencari jalan keluar. Ia meminta Anette menambah jumlah lagu yang ditampilkannya. Namun, Anette menyatakan bersedia,  jika ia tampil bersama Gilang yang memainkan biola. 

    “Tidak mungkin, Anette, kamu datang bersama de jongen itu saja sudah bikin heboh, apalagi tampil di panggung,” kata Johannes nyaris kehabisan akal.  “Societeit kita memang memperbolehkan para inlander, seperti bupati dan para petinggi lainnya untuk bergabung. Tapi, belum pernah ada pemain inlander yang diizinkan tampil di panggung pertunjukan. Ini pasti akan digunjingkan habis-habisan.”      

    “Kita tak ada urusan dengan pergunjingan itu. Gilang pemain biola yang berbakat. Dan dia bisa tampil dengan baik. Mengapa tidak? Di sini kita bicara soal pertunjukan musik, toh? Bukan masalah politik yang pelik. Ini soal berkesenian, Meneer Johannes...,” cecar Anette. “Dan jangan lupa, dia juga anak seorang preangerplanters!”

    Johannes berpikir keras. Dengan segala pertimbangan dan dengan berat hati, permintaan Anette akhirnya dikabulkan.

    “Ya, sudahlah. Silakan kalian berdua tampil. Tapi, jangan menyalahkan aku jika ada penonton yang tidak menyukai kalian. Bahkan jika mereka melempari kalian dengan telur busuk atau tomat apkiran, kalian harus siap!”

    Anette senang. Tanpa sadar dia melompat-lompat kegirangan. Ketidakhadiran Mevrouw Rosanna van Bloemenkool menjadi anugerah terselubung. Anette jadi sedikit memikirkan soal politik. Bukankah jika penampilan Gilang dapat memukau para sosialita, adalah suatu peluang yang menciptakan angin baik bagi mereka? Bahwa seorang pemuda inlander yang dipandang sebelah mata, mampu bermain alat musik yang notabene berasal dari budaya bangsa-bangsa yang menganggap dirinya jauh lebih maju peradabannya. Dan pada persoalan lain, anak seorang penentang kebijakan Gouvernemen mencoba memilah masalah politik agar tidak bercampur baur dengan masalah seni atau kebudayaan, apalagi bersinggungan dengan persoalan asmara!

    Apa yang dikhawatirkan Johannes, sungguh bukanlah hal yang perlu dipersoalkan. Ketika lagu-lagu klasik meruapkan romansa yang pekat, semua yang hadir di situ tidak melihat sedikit pun perbedaan-perbedaan yang ada. Nada-nada indah itu mampu mengurai persoalan-persoalan sengit yang acap kali menutup nurani kemanusiaan. Melenturkan segala kekakuan pandangan yang menyita hakikat keterbatasan manusia yang dibelenggu pikirannya sendiri.    

    Anette tersenyum, menghayati selaksa kedamaian yang memenuhi isi dada dan benaknya. Dan senyum ini masih terus bertakhta di bibirnya ketika ia memainkan lagu  Blue Danube yang menjadi ‘lagu kebangsaan’ mereka.  

    Lagu itu menutup penampilan mereka. Gilang memainkannya dengan penuh perasaan. Sedangkan Anette bermain dengan perasaannya sendiri. Jemarinya lincah menari di atas bilah-bilah piano. Anette membayangkan dirinya seekor angsa yang berenang di antara angsa-angsa lainnya. Namun, tak ada seekor angsa pun yang menarik perhatiannya. 

    Dari balik rerumpunan cyperus papyrus, seekor angsa hitam muncul. Menebarkan pesona yang berbeda. Mereka berdua saling menghampiri dan saling mengagumi apa yang mereka miliki. Riak air danau menciptakan irama yang membuat mereka menari sepanjang hari. Tak ada penyihir jahat atau seekor naga api yang mengganggu. Angsa putih itu sudah memilih angsa hitam untuk menjadi teman hidupnya.

    Tepuk tangan bergema memenuhi ruangan. Anette membuka matanya. Pandangannya langsung bertemu dengan mata Gilang. Mereka saling menatap dengan sepenuh rasa yang ada. Tepuk tangan itu masih riuh. Keduanya berdiri, berpegangan tangan lalu membungkukkan badan. Hadirin berdiri dan memberikan tepuk tangan penghormatan dan penghargaan akan penampilan mereka yang menakjubkan. 

    Kebahagiaan melingkupi perasaan sepasang kekasih itu. Sungguh, kesenian mampu mengikis perasaan-perasaan rasialis yang menyimpan kekejian terhadap sesama manusia. Untuk beberapa saat, musik telah mencairkan segala perseteruan yang menggumpal. Meretas batas pemahaman-pemahaman terhadap perbedaan yang dikekalkan sebagai perbedaan.

    Beberapa anggota Societeit sengaja menghampiri dan menyalami kedua pemain musik itu. Sepasang mata mengamati kejadian ini dari tempat tersembunyi. Mata yang terbakar api kedengkian yang sudah mencapai puncaknya.      

    Gilang dan Anette pulang dengan senyum yang tak lepas-lepasnya. Namun,  senyum itu berubah kecut, ketika tiba-tiba seseorang menghadang. Markus. Dan ternyata dia tidak sendirian. Ada tiga orang pemuda yang sudah tak sabar ingin menyarangkan tinju di wajah pemuda sawo matang itu. 

    Sebelum sempat Gilang mencerna gelagat yang muncul di depan mata, beberapa pukulan telak sudah membungkam dirinya tanpa ampun. Teriakan panik Anette, pada akhirnya mampu menghentikan kebrutalan itu. 

    Markus menghampiri Gilang yang masih terduduk di sisi trotoar. 

    “Aku tak ingin mengotori tanganku lagi dengan memukulmu. Tentu kamu sepakat denganku. Jauhi Anette!” ancam Markus seraya menarik kerah kemeja Gilang.  “Sungguh kami tidak suka akan hubungan sesat yang membuat mata kami pepat ini!”    
     
    Markus dan kawan-kawannya segera berlalu dari situ. Tinggal Gilang termangu merasakan nyeri di sekujur tubuhnya. Anette membantunya berdiri. Lalu, keduanya duduk di sisi pot besar penghias trotoar. Di seberang sana, derasnya arus Sungai     Tjikapoendoeng terdengar jelas. Menciptakan irama kegelisahan dalam riak-riak waktu yang senantiasa bergerak mencari muara kepastian. Tempat persinggahan untuk sampai kepada tujuan: samudra luas yang membebaskan!  


    Suara ketukan membuat Gilang menajamkan pendengarannya. 

    “Gilang, ada temanmu....”

    “Siapa...?” sahut Gilang enggan.

    “Ibu belum tanya....” 

    Lalu, terdengar langkah Ibu menjauh dari depan pintu kamar. Gilang beringsut sedikit. Rasa nyeri masih hinggap di bagian bahu.  Gilang berjalan ke arah cermin, ada koyakan kecil di ujung bibir kanannya. Tadi malam, Rama tidak memberi komentar apa pun atas kejadian yang menimpa dirinya. 

    Dengan langkah agak terseret, akhirnya Gilang sampai di ruang tamu.  Dan seorang teman yang disebut ibunya barusan membuatnya terkesiap.

    “Anette? Mau apa ke sini?” Gilang tak dapat menyembunyikan rasa kagetnya, sekaligus rasa senangnya.

    Gadis itu tampak anggun dengan gaun merah maroon. Warna yang kian mempertegas warna kulitnya yang seputih pualam. Gilang masih berada dalam posisi percaya dan tidak. Gadis ini punya keberanian yang menuai rasa kagum. Bukankah kedatangannya ini menunjukkan takaran nyali yang tidak biasa? Juga bukti kesungguhan Anette dalam menjalin hubungan dengan seorang pemuda inlander.

    Peristiwa pengeroyokan itu tidak membuat keduanya kapok. Malahan  makin mendekatkan mereka. Bahkan menyulut keberanian Anette untuk datang menjenguk kekasihnya, dengan mengabaikan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. 

    “Kamu sudah baikan...?” Anette berusaha menepis rasa jengahnya sendiri.

    “Mmm… tentu saja. Apalagi dibezoek gadis cantik yang membawa bingkisan….” Senyum Gilang mengajuk hati gadis berambut pirang itu. 

    Anette membuka penutup wadah. Aroma kayu manis menerpa ujung hidung Gilang. Wangi yang meruapkan rasa segar sekaligus rasa manis yang tidak hanya bisa dikecap lidah saja. 

    “Ini kue spekulaas. Biarpun warnanya agak cokelat kehitaman,  soal rasa pasti bikin kamu ketagihan....” 

    Gilang mengambil satu.  Sebelum kue berbentuk kincir angin itu sampai ke mulut, Gilang menempelkannya di lengan. 

    “Warnanya hampir sama, bukan?” ujarnya, jenaka. “Dan sama-sama bikin ketagihan. Bikin kamu ketagihan untuk sering bertemu denganku!”

    Pipi Anette memerah jambu. Gilang tak dapat menyembunyikan rasa keterpanaannya yang memukat. Rasa perih di bibirnya mendadak lenyap, dikunyahnya kue beraroma rempah itu perlahan. 

    “Ini buatanku sendiri...,” ucap Anette, seraya mencoba mengatasi perasaan jengah yang begitu menyergap. 


    “O, ya...?” Gilang spontan mengambil satu lagi, sebagai bentuk rasa penghargaan yang tulus atas upaya Anette menyenangkan hatinya. 

    Anette menyimpan senyum yang membuatnya  makin terperangkap dalam perasaan jengah itu.   Sebetulnya, kue spekulaas yang renyah itu bikinan ibunya Markus. Dalam hati Anette berjanji, akan belajar membuat kue beraroma rempah itu, agar tidak keterusan berbohong.  

    “Kamu senang masak, ya? Kapan-kapan datanglah ke sini lagi, minta diajari  ibuku bikin lontong kari...!” 

    Gagasan itu tiba-tiba terlontar begitu saja dari mulut Gilang. “Lontong kari buatan ibuku sangat enak. Santannya tidak terlalu kental. Irisan dagingnya yang dibuat kotak-kotak terasa pas untuk satu kali suapan. Dan kamu tidak akan berhenti mengunyah empingnya yang gurih renyah, karena ibuku sendiri yang membuatnya dari buah melinjo yang dipetik dari kebun kami.”  

    Anette tertegun. Matanya yang biru memancarkan binar. “Memangnya ibumu mau mengajari aku?”

    Gilang mengangguk, yakin. Kalimat yang diucapkannya barusan sempat melambungkan harapan Anette. Sepelik apa pun rintangan yang mereka hadapi, selalu ada cara untuk menembusnya.(f)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Katherina Achmad
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Gerimis Jarum di Andriespark [2]"