Gerimis Jarum di Andriespark [3] | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Gerimis Jarum di Andriespark [3] Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:38 Rating: 4,5

Gerimis Jarum di Andriespark [3]

Gilang dan Anette adalah sepasang kekasih yang tidak umum di Bandoeng, tahun 1869. Namun, pria pribumi tidak mudah begitu saja menjadi kekasih noni Belanda, meski Gilang lahir dari keluarga ningrat, Raden Suriakusumah. Apalagi, antara ayah Anette dan Gilang berbeda pandangan ideologi tentang kolonialisme. Gilang pun dijodohkan dengan Ratih, gadis pribumi.


Sepucuk surat pemberitahuan dari Departement van Opvoeding membuat perasaan Gilang campur-aduk. Antara senang dan galau, bersyukur sekaligus khawatir.

    Ia ditempatkan di Hollandsche Inlandsche School (HIS) Padalarang sebagai guru tetap dengan gaji 150 gulden per bulan. Penempatan tersebut merupakan keputusan akhir, karena sebelumnya Gilang sudah menandatangani surat pernyataan bermeterai bahwa bila lamarannya diterima, ia setuju ditempatkan di mana saja, di seluruh wilayah Insulinde. 

    Masih untung ia ditempatkan di Padalarang, coba kalau di ujung Pulau Sumatra atau pelosok Borneo? Hanya satu hal yang Gilang takuti: penyakit malaria. Sudah bukan rahasia lagi,   banyak kabar tentang orang-orang yang menemui ajalnya akibat malaria. Beberapa orang peneliti, atau para pegawai gouvernemen yang ditempatkan di daerah terpencil menjadi korban keganasan penyakit itu. 

    Sebuah ketakutan yang naif, tapi belum sepenuhnya membuat Gilang terbebas. Ketakutan lain adalah niat ayahnya menjodohkan dia dengan Ratih. Bukankah penugasan di Padalarang itu bisa menjadi alasan empuk bagi ayahnya untuk mendekatkan Gilang kepada Ratih dan keluarganya? Bahkan, yang lebih runyam lagi: penugasan itu menjadi alasan –yang tak perlu bersusah payah diciptakan– untuk menjauhkan Gilang dari Anette...!      
    
    Gilang tak segera mengabarkan isi surat itu kepada orang tuanya. Ia sengaja menemui sepupunya, Priatna, sambil berharap agar segala kemungkinan buruk yang ia bayangkan hanyalah kekhawatiran semata. Setidaknya, ia tak akan bisa bertukar pikiran mengenai masalah ini dengan Anette. Priatna menjadi satu-satunya orang yang memungkinkan ia berbincang-bincang tanpa rasa curiga atau cemburu. 

Gilang tiba di saat yang tepat, sepupunya itu sedang bersiap-siap hendak berangkat ke Mega Mendoeng. 

    “Ada apa, Sobat? Wajahmu tampak rusuh seperti kusir kehilangan kuda...!” sapa Priatna ringan. Ia memasukkan sebuah dus berisi dendeng dan sambal goreng kentang ke bawah kursi di dalam kereta yang sudah penuh sesak.

    Tanpa berpanjang kata lagi, Gilang menceritakan masalahnya. Priatna mengajak sepupunya ke saung bambu dekat kolam.

    “Kukira apa yang kau khawatirkan itu tidaklah berlebihan...,” Priatna melepaskan sandalnya di depan tangga kecil yang terbuat dari batang bambu yang dibelah dua. Lalu, ia duduk bersila. “Penempatanmu di Padalarang akan menciptakan masalah baru yang bisa membuat masalahmu menjadi  makin rumit!”

    “Ya, keberadaanku di sana akan membuat posisiku kian terjepit,” Gilang menyandarkan dirinya pada pinggiran saung. “Bisa saja, tiba-tiba Rama mengajakku silaturahmi ke rumah keluarga Ratih. Dan dalam obrolan antara orang tua itu tiba-tiba timbul gagasan ‘kenapa tidak sekalian saja melamar Ratih’. Hal seperti itu bisa saja terjadi, bukan?”

    “Untuk hal ini, aku tidak sependapat, Saudaraku. Kamu terlalu dicekam rasa curiga yang berlebihan. Bicara soal kecemburuan Anette, kurasa itu sangat manusiawi. Tapi, soal kawin paksa yang mungkin dilakukan ayahmu, kupikir tak semudah itu dia melakukannya padamu!”

    Gilang terkesiap. Ucapan Priatna menarik dirinya dari sebuah lubang hitam yang memerangkapnya selama ini. 

    Priatna mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya. Dia sempat menawarkan rokok itu kepada Gilang, yang segera dijawab dengan goyangan telapak tangan. 

    “Aku tahu siapa ayahmu, Gilang....”

    Wangi tembakau yang terbakar, menyelinap di antara mereka. Bersenyawa dengan angin, mempermainkan kepulan asap putih yang kian membias. Lepas, ditelan udara bebas.      
  
    “Dan... kita juga semua tahu, dia adalah penentang sistem cultuurstelsel yang gigih. Artikel-artikelnya yang cerdas dan tajam membuat siapa pun berpikir ulang untuk mengkaji sistem tanam paksa itu dan memikirkan cara lain yang lebih manusiawi...!” papar Priatna.

    “Aku yakin, walaupun ayahmu itu lebih mirip seorang diktator bagimu, dia menjunjung tinggi arti kebebasan, Gilang. Dia menentang penindasan. Sikapnya yang keras padamu, semata-mata wujud perlindungan seorang ayah terhadap anaknya. Aku berani bertaruh, dia akan membebaskan dirimu memilih teman hidup. Dia hanya tak mau kau terperosok ke dalam kubangan penderitaan yang tak berkesudahan. Dia ingin anak laki-laki semata wayangnya ini bahagia...!”

    Gilang merapatkan bibirnya. Berpikir keras. Priatna membiarkan pemuda itu bergulat dengan pikirannya sendiri. Gilang membuang pandang ke arah pintu gerbang. Tak jauh dari situ, tampak serumpun mawar merah yang sedang berbunga. 

    “Hmm...  mendengar penuturanmu itu, aku sampai pada suatu keputusan....” 

    Priatna merasa ada sesuatu yang disembunyikan Gilang dalam kalimatnya yang pendek dan lugas itu.
    “Maksudmu...?”

    “Ya, aku akan membuat sebuah keputusan untuk menyudahi persoalan pelik ini!”

    “Kamu berniat kawin lari?” timpal Priatna tanpa basa-basi. “Kamu harus siap menghadapi segala kemungkinan yang paling buruk!”

    Gilang menggeleng pelan. Dia tak akan membicarakan hal ini dengan Priatna. Dia harus segera menemui Anette, dan kebetulan mereka memang sudah berjanji untuk bertemu sore ini.  
    Gilang segera beranjak pamit. Apa pun yang dikatakan sepupunya membuat ia berpikir ulang dan sampai pada satu titik pencerahan yang membuat dia harus melakukan sesuatu dengan tepat dan cermat!       


    Sinar matahari yang menyelinap di sela-sela ranting pohon kenari mulai meredup. Di langit, awan mulai saling berpaut. Bersepakat untuk tidak membiarkan angin membuyarkan pautan mereka.

    Gilang bergegas menuju gazebo Andriespark. Anette belum datang. Sering kali begitu. Namun, gerimis segera memadamkan gelisahnya. Meriapkan kesejukan di ujung senja yang mulai berubah muram.

    Angin menderaikan gerimis itu, membiarkannya menciptakan tempias tipis yang diam-diam melintas masuk ke dalam gazebo. Gilang bergeser sedikit dari duduknya. Bangku kayu yang melekat pada dinding pinggiran gazebo mulai membasah.

    Pada saat yang hampir bersamaan, Anette sudah berdiri di depan tangga gazebo. 

    “Kamu tidak bawa payung?” sambut Gilang, tak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya. 

    Anette merinaikan senyum. “Hujan gerimis itu cuma air, tak perlu takut....”

    “Aku hanya khawatir jika kau sakit.”

    Gilang menyentuh sisa-sisa gerimis di pipi Anette yang dingin.

    “Kamu mirip nenekku yang selalu cerewet jika aku kehujanan!”

    “Tapi, nenekmu takkan mirip aku, jika aku membiarkan kumis dan janggutku tumbuh....”

    Senyum Anette mengembang. “Lebih baik kamu tetap cerewet seperti nenekku, daripada memelihara kumis dan janggut...!”

    “Kenapa?” 

    “Kamu jadi mirip hamparan rumput Andriespark yang sudah lama tidak dipangkas dan menjadi semak belukar yang banyak tumbuhan liar!”

    “Aku merasa tersanjung oleh perkataanmu yang romantis...,” ucap Gilang diplomatis. Ditatapnya Anette, ia merasa sudah tak sanggup lagi meredam segala gejolak hatinya. 

    “Tanpa mengurangi suasana romantis ini, sebetulnya aku ingin berlutut...,” ujar Gilang, sambil membungkukkan badannya.

    Alis mata Anette bertaut, perilaku kekasihnya sungguh membuatnya heran bersaput tanya. 

    “Lutut kananku sedang bisulan, Anette Cornelie Louise Coenraad. Apakah kau bersedia menerimaku, Raden Gilang Suriakusumah, untuk menjadi suamimu sepanjang hidupmu?”

    Anette tersenyum tipis. “Apakah kamu sedang melamarku?”

    “Ya!” jawab Gilang, sambil tetap memandang Anette penuh harap dan begitu banyak perasaan cinta.

    Gilang menyodorkan sekuntum mawar mewar setengah kuncup yang dipetiknya dari halaman rumah Priatna. 

    “Cincinnya menyusul. Gagasan ini baru muncul ketika siang tadi aku berkunjung ke rumah sepupuku. Dan... ini mawar curian!” ungkap Gilang, jujur.

    Anette terperangah. Ada perasaan aneh yang menjalari hatinya. Juga perasaan haru. Untuk beberapa saat, ia tak mampu berkata-kata.

    “Kita harus segera menikah, Anette... dengan atau tanpa restu kedua orang tua kita!” Mata Gilang meredup. 

    “Waarom...?” Wajah noni Belanda itu mendadak keruh. 

    “Sebelum ayahku resmi menjodohkan aku dengan Ratih, lebih baik kita mendahuluinya. Daripada persoalan kita  makin runyam!”

    Anette menatap kekasihnya tanpa berkedip. Baginya semua ucapan Gilang barusan seperti tumis peria. Pahit sekaligus enak. Atau enak sekaligus pahit? Entahlah, Anette belum bisa membedakannya. Yang jelas, rasa manis itu atau apa pun namanya tak bisa sepenuhnya mereka rasakan. 

    “Apa yang harus kukatakan?” cetus Anette. Rasa gamang menyergap isi dada dan isi kepalanya. 

    Gilang  meraih tangan Anette, melekapkan jemari lentik itu di dadanya. “Aku menunggu jawabanmu, sekarang....”

    Bagi Anette, ucapan Gilang adalah saripati dari perasaan mereka. Perasaan yang kemudian tumbuh subur. Penuh bunga dan siap berbuah. Tapi, bukan hal yang mudah jika ia kemudian menyampaikan niat mereka yang tulus itu   kepada ayah Anette, juga ibunya.

    “Entahlah, sepenuh hatiku mengatakan ya. Separuh logikaku mengatakan tidak, untuk sebuah keraguan yang sangat mungkin terjadi....”

    “Aku tidak akan memaksamu untuk menjawab sekarang, Anette,” ucap Gilang, lembut. 

    Anette menghela napas panjang. Sehari, seminggu, setahun lagi. Masalah yang mereka hadapi kurang lebih sama. Cepat atau lambat, akan sampai pada sebuah keputusan telak: ya atau tidak. Jadi, sekarang atau nanti, mereka tetap harus menuntaskannya!

    Gerimis sudah lama usai. Malam membungkam sinar lampu-lampu di sepanjang jalan. Gilang mengantar Anette sampai di ujung Sumateraweg. Dari kejauhan dia sengaja menunggu sampai Anette belok membuka pintu gerbang rumahnya. 

    Gilang dan Anette tahu benar perjalanan kisah cinta mereka tak semulus jalan Groote Postweg. Tapi, kalau bukan sekarang cinta itu dipertahankan, kapan lagi?  

^^^
    Gilang merasa tak perlu menunda.  Sesampainya di rumah, ia segera mencari ayahnya.

    “Rama, sejak kecil Rama menanamkan padaku untuk berani bertanggung jawab dan selalu bersikap jujur atas apa pun yang kulakukan. Saya memohon izin Rama, untuk menikahi Anette....” Gilang meraih tangan  ayahnya, menciumnya dengan takzim. 

    Berhadapan dengan situasi yang tiba-tiba seperti itu, tak ayal Raden Suriakusumah sedikit tertegun. Sungguh, putra kesayangannya yang satu ini mewarisi kekerasan sifatnya. Kekerasan ini pula yang membuat dirinya menjadi pribadi yang tetap bertahan untuk suatu kebenaran yang ia yakini. Kebenaran yang selaras dengan nilai-nilai agama dan penghargaan terhadap rasa kemanusiaan sebagai sesama makhluk Tuhan. 

    “Jika aku tidak mengizinkan?”

    “Saya tetap menunggu sampai Rama mengizinkan....”

    Raden Suriakusumah tersenyum dalam hati. “Jika aku tetap tidak mengizinkan, apakah kau akan pergi diam-diam dan menikahi gadis itu di kota lain yang kau pikir aman?”

    “Saya akan tetap menunggu sampai kapan pun...!”

    Sunyi menyelinap di antara mereka, untuk kemudian membeku. Menjadi rasa dingin yang membuat lidah keduanya kelu. 

    “Jika sampai kapan pun aku tetap tidak mengizinkan?”

    Gilang tepekur, sampai kemudian berkata lirih. “Saya belum memikirkannya sampai sejauh itu, Rama....”

    “Hanya ada tiga kemungkinan yang bisa kau pilih. Menikah secara terbuka, kawin lari, atau cara lain yang kau temukan kemudian….”

    “Aku dengan ibumu sudah membicarakan hal ini dan berbagai hal yang mungkin terjadi. Kami tetap berharap agar kau bisa menerima perjodohanmu dengan Ratih.”     

    “Jika Rama tetap memaksakan perjodohan itu, lebih baik saya kawin lari!”

    “Bukankah tadi kau berkata akan tetap menunggu izinku?”

    “Ya, saya akan tetap menunggu izin Rama. Tetapi, untuk menikahi Ratih, saya sungguh tidak bisa melakukannya. Saya tidak mencintainya, Rama. Saya tidak akan membiarkan seorang wanita menderita karena saya menikahinya tanpa cinta!” Gilang tak bergeming. “Ratih seorang gadis yang cantik dan baik. Mungkin dia lebih cocok dengan Priatna, tanpa memaksa mereka dengan sebuah perjodohan....”

    Raden Suriakusumah tahu benar, keluarganya tidak bisa berlama-lama terbenam dalam sebuah masalah tanpa penyelesaian.  

    Dengan wajah masygul Raden Suriakusumah akhirnya berkata, “Daripada kau menikah diam-diam, dan kekasihmu dianggap gundik. Mau ditaruh di mana kehormatan keluarga kita?” ungkapnya lugas.  

    Gilang menegakkan tubuhnya. Ucapan ayahnya menimbulkan tanya.  

    “Kamu anak kebanggaan Rama dan anak laki-laki satu-satunya. Rama berharap banyak padamu. Hanya untuk urusan yang satu ini, kamu sudah mencoreng wajahku!”

    “Maafkan Gilang, Rama. Tak ada wanita lain selain Anette yang Gilang inginkan....”

    “Gadis mana pun, Rama akan setuju. Mau anak bangsawan atau bukan. Asalkan sebangsa dengan kita. Syukur-syukur seiman. Tapi, pilihanmu tidak lazim, Nak….”

    “Cinta tak bisa memilih Belanda atau inlander, warna kulit atau keyakinan. Andai Rama sendiri yang mengalami perasaan ini, mungkin Rama akan melakukan apa yang saya lakukan....”

    “Kamu menempatkan posisi keluarga kita dalam situasi yang sulit, Anakku. Belum lagi kegigihan Rama menentang cultuurstelsel saja sudah menjadi sorotan pihak gouvernemen. Aku dalam pengawasan mereka. Aku harus berhati-hati mengatur langkah sedemikian rupa. Sekali tergelincir, penjara ganjarannya!” Raden Suriakusumah meneguk gelas kopinya sedikit.  “Lalu, kasus hubunganmu dengan anak Coenraad, ini menjadi peluang untuk  makin menyudutkan aku….”

    “Maafkan saya, Rama. Bukan maksud saya membuat Rama demikian....”

    “Ya, aku mencoba memahami perasaan anak muda seperti dirimu. Rama mengabulkan permintaanmu bukan semata-mata karena setuju benar akan pilihanmu. Daripada kau kawin lari, yang sudah jelas tindakan seorang pengecut. Maka Rama ingin kau tetap berlaku sinatria selayaknya sifat kesatria yang mengalir dalam darah keluarga kita. Aku tak dapat memaafkan diriku sendiri bila memiliki anak laki-laki yang pengecut. Ini menyiratkan ketidakmampuanku menjaga tradisi leluhur kita. Para karuhun memberi contoh agar kita berani melawan tirani dan segala hal yang merampas hak kita sebagai manusia....”       

    Gilang tercekat. Ditatapnya wajah Rama yang keruh. Tapi, mata itu terlihat begitu sejuk.

    “Jadi, Rama mengizinkan saya menikahi Anette?” 

    Raden Suriakusumah mengangguk perlahan. Gilang menahan napas beberapa saat. Lalu duduk bersimpuh. Meluruhkan wajahnya di lutut sang ayah.     

    “Hatur sewu nuhun, Rama...,” ucapnya, agak tersendat.

    Rama menepuk-nepuk bahu anaknya dengan penuh perasaan sayang. Sesuatu yang selama ini menggumpal di dadanya kini terasa mengurai. Menyisakan rasa lega yang membebaskan. 

    “Kapan kita berkunjung ke rumah Jan Hendrik untuk membicarakan rencana pernikahan ini...?”

    Pertanyaan itu bagi Gilang adalah selarik sajak indah yang bisa digubah menjadi sebuah lagu yang sangat ingin ia mainkan dengan biolanya. Lagu tentang kehidupan yang jauh lebih indah daripada lagu mana pun yang pernah ia dengar. 

    Seribu angsa putih menari dalam benaknya. Mengelilingi seorang gadis bergaun putih dengan mahkota bunga yang menebarkan wewangian surga. 

^^^     
    Raden Suriakusumah membuktikan ucapannya. Dengan mengabaikan segala perseteruan paham politik, dua hari kemudian mereka sekeluarga sengaja bertandang ke rumah Jan Hendrik. Rudolph Kerkhoven bersedia mendampingi, menjadi juru bicara keluarga sahabatnya. 

    Hanya ibu Anette yang bersedia menerima kehadiran keluarga Raden Suriakusumah. Jan Hendrik sama sekali tidak mau menemui tamunya. Meski lebih dari satu jam mereka menunggu, tuan rumah bersikukuh tidak menampakkan batang hidungnya sedikit pun.

    Rudolph berusaha menengahi. Dia menitipkan pesan kepada Jan Hendrik melalui istrinya, bahwa Anette bersedia menerima lamaran Gilang. Tinggal menunggu persetujuan ayahnya sebagai wali yang mengampu putrinya itu. 

    Dalam perjalanan pulang, Raden Suriakusumah tak dapat menyembunyikan rasa geramnya. Gilang bungkam seribu bahasa. Apa pun yang terjadi, ia harus siap menghadapi segala kemungkinan yang paling buruk sekalipun!          

    Rudolph mengajak sahabatnya itu bicara empat mata. Tak ada seorang pun yang tahu isi pembicaraan mereka. Keesokan harinya, mereka berdua menemui ibu Anette dan menanyakan keputusan Jan Hendrik. 

    Sambil berlinang air mata, Mevrouw Johanna Coenraad menjelaskan bahwa jika Anette tetap bersikeras menikah dengan Gilang, Jan Hendrik menyerahkan putrinya itu kepada keluarga Raden Suriakusumah. Jan tidak bertanggung jawab lagi atas diri anaknya dan menghapus nama Anette sebagai ahli warisnya. 

    Raden Suriakusumah dan Rudolph sama sekali tak menduga bahwa Jan Hendrik akan membuat keputusan seperti itu. 

    “Mau tidak mau kita harus melangsungkan pernikahan itu. Karena saya khawatir, kalau tidak, kedua anak muda itu bisa nekat melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan...!” kata Rudolph. 

    “Ya betul, Anette sangat terpukul dengan sikap ayahnya itu!” ujar  Mevrouw Johanna sambil menyeka matanya yang sembap. “Anette mengunci diri di kamarnya, sama seperti ayahnya. Saya tak tahu harus berbuat apa.”

    “Nanti, saya akan mencoba bicara dengan Meneer Jan Hendrik...,” janji Rudolph.

    “Jangan khawatir, Mevrouw, anak saya akan menjaga putri Anda dengan sebaik-baiknya. Saya hanya bisa berharap agar masalah kita bisa diselesaikan dengan rasa kekeluargaan,” ungkap Raden Suriakusumah.  “Saya sudah berusaha keras memberi pengertian kepada Gilang, tapi hasilnya nihil. Makin kita melarang,  makin mereka berjuang meraih keinginannya!”

     “Saya menaruh rasa percaya yang besar pada Tuan berdua.” Mevrouw Johanna  mencoba tersenyum. “Saya hanya ingin putri saya bahagia....”

^^^
    Seminggu kemudian, di kediaman Raden Suriakusumah, tampak kesibukan yang tidak seperti biasanya. Janur kuning dipasang menjulang pada kedua sisi pintu gerbang. Irama degung yang lembut mengalun dari sebuah panggung kecil di sisi kiri halamannya yang luas. Di panggung ini pula, malam harinya akan digelar wayang golek  semalam suntuk. 

    Upacara akad nikah dan resepsi digelar sederhana. Hadir para sahabat dan kerabat dari keluarga Raden Suriakusumah. Alumni Kweekschool pun tampak. Beberapa rekan Anette sesama guru di HBS Ursulinen hadir memberi doa dan restu bagi kedua mempelai. 

    Wajah bahagia pasangan pengantin baru itu terpancar di tengah keriuhan kecil yang semarak dengan tawa dan canda. Sesekali memang Anette tak dapat menyembunyikan mendung di wajahnya. Tapi, genggaman tangan Gilang mampu menguatkan hatinya dan mengabaikan rasa hampa atas ketidakhadiran kedua orang tuanya. 

    Gilang sangat bahagia, apalagi Ratnasari, kakak perempuan satu-satunya, hadir bersama suami dan kedua anak kembarnya. Anette sangat gemas melihat tingkah laku kedua anak lucu yang baru berumur lima tahun itu. Gilang hanya mesem-mesem menyaksikan kelakuan istrinya. Ternyata sang kakak memperhatikan juga. 

    “Gilang, cepatlah punya momongan, kelihatannya Anette sudah tak sabar...,” canda Ratnasari.
    “Ya, siapa tahu dapat kembar juga!” timpal suaminya. 

    Mereka tergelak. Anette merasakan suasana yang hangat. Keberadaannya di tengah keluarga Gilang sungguh membuatnya merasa nyaman. Begitu spontan dan apa adanya. Tidak memandang Anette sebagai makhluk asing, tapi malahan menjadikan Anette sebagai bagian dari keluarga Raden Suriakusumah. 

    Kemeriahan dalam perhelatan itu mulai surut perlahan. Para tamu satu per satu berpamitan. Tapi kemudian, seorang kerabat datang tergopoh-gopoh. Sontak semua yang ada di situ memendam selaksa tanya dan duga. Setelah dia menjelaskan apa yang dialaminya, barulah mereka menarik napas lega. Sang kerabat melihat kereta kuda milik orang tua Anette tampak tak jauh dari pintu gerbang. Penumpangnya enggan menampakkan diri. 

    Dengan perasaan campur aduk Anette bergegas keluar, Gilang mengikuti dari belakang. Anette tak dapat menahan diri untuk tidak meluapkan segala apa yang menggumpal di dadanya. Ia memanggil ayah dan ibunya dalam haru, sekaligus bahagia. 

    Tuan Jan Hendrik terdiam beberapa saat, tak tahu apa yang harus dilakukan. Anette tampak aneh dengan gaun pengantin Sunda. Memakai siger atau mahkota. Kondenya berhiaskan rangkaian bunga melati yang terjulur hingga melewati bahu. Sejatinya, dalam benak Tuan Jan Hendrik, suatu saat dia mendampingi putrinya semata wayang yang bergaun pengantin putih. Tangan Anette bergayut di pangkal lengannya, sementara tangan yang lain memegang buket bunga yang elok. Mereka berdua berjalan menuju altar. Di sana menunggu pemuda tinggi tegap dengan hidung bangir dan mata biru. Namun, bayangan itu pupus, berganti sosok Gilang yang kelihatan gagah dengan bendo dan beskap.  

    “Cinta memang pelik, Anakku. Papie mencoba memahami pilihanmu. Tapi, kamu harus siap menghadapi segala rintangan. Karena semua mata kini tertuju padamu. Pada kalian berdua,” ucap Tuan Jan Hendrik perlahan, sambil menepuk-nepuk pipi putrinya dengan penuh rasa sayang.     
   
    Anette tenggelam dalam pelukan ayahnya. Ada titik bening menggenang di ujung mata Tuan Jan Hendrik. Sementara Mevrouw Johanna menggenggam saputangannya yang basah. 
    Janur kuning itu masih bertahan dalam lengkungannya yang indah. Keelokan hidup, sungguh, terkadang tidak selalu harus direncanakan. Acap kali kejutan-kejutan manis mewarnai gejolak kehidupan yang mengombak. Seperti gerimis tipis meriapkan suasana baru, di kala hujan tak lagi menyisakan kesan. (Tamat)


Rujukan
:
[1] Disalin dari karya Katherina Achmad
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina" 

0 Response to "Gerimis Jarum di Andriespark [3]"