Giok Belanda - Lubuk Linggau - Lubuk Rukam - Tapak Paderi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Giok Belanda - Lubuk Linggau - Lubuk Rukam - Tapak Paderi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:12 Rating: 4,5

Giok Belanda - Lubuk Linggau - Lubuk Rukam - Tapak Paderi

Giok Belanda

Pada halaman coklat lengang
kitab undang-undang hukum dagang
mereka sepakat mengakhiri sengketa
dan saling menukar kalung permata:

Giok belida pipih berbadan hijau tua,
berperut buncit tanpa totol terpotong dua.

Sang pedagang yang ratusan tahun
beranak pinak di Palembang mengambil
bagian kepala. Si priyayi harus lapang hati
menerima ekor pipih bersirip kecipak Musi.

Belida berjenis kelamin jantan atau betina
sesekali suka menyembul lompat ke udara.

"Mata ikan bakal kerasan di lehermu.
Tatapannya kekal membimbing kaki
mengikuti aliran sungai agar tak keliru
menaksir arus atau palung paling sepi."

Beroleh kalimat mengandung nasihat,
pedagang songket balas bermaklumat:

"Meski kepala dan matamu terlihat luas
tetapi tak ada resiko sebagai pengekor.
Buntut yang meringkuk di dadamu
tanda takluk oleh fatwa pendahulu."

Sebagai penebus dosa yang rendah hati
bandul ikan tersalib seharum seledri:

Di leher hitam lelaki 16 ilir
kepala tanpa insang terpacak tenang.
Pada dada lengang bujang 8 ulu
bertelur ratusan benih ragu.

2015

Lubuk Linggau

Mereka bersembunyi di alun-alun hitam tubuhmu
usai merampok senja di Padang Ulak Tanding.
Sedikit pun matamu tak mencurigai
sebab apa tangan mereka berlimpah merah.

Paras gelapmu cuma bisa menduga-duga 
para lelaki paruh baya telah menunaikan hajat
dengan sempurna lantas melarikan diri
ke balik punggungmu yang sarat mural mumi.

Tentu saja malammu tak dapat menolak,
musi rawas memiara yang waras dan tidak.
Lengan-lengan trembesi memeluk lumus.

Gagang badik yang lelah pun tenggelam
pada jelita Sungai Kelingi. Dan serupa baung
berlendir licin, mereka pun merasa berhasil
menaklukkan riak dengan keringat paling bacin.

2015

Lubuk Rukam

Betapa gegabah seorang residen
mengkhianati tubuhmu yang berduri.
Padahal kau begitu tabah
merawat baturaja dengan segenap cinta
meski peluit panjang petugas stasiun kereta
kerap mendustai akarmu yang melesak
melintang di sepanjang rel bercabang.
Buah bulatmu mengandung seorang puteri
yang dikawal banyak barisan biji.
Tetapi kau tak minta dikasihani 
kamu kibaskan rambut penuh percaya diri.

Serupa lengan Dayang Rindu
menghunus kilau bindu
pertahanan reranting dan pokok
membuatmu tak tewas meski terus ditokok.

2015

Tapak Paderi 

Setelah menyelidiki
garis pantai tempat berdiri
ia lihat tubuh kapal api
tanpa panji berusaha menepi.
Tubuh dengan panglima
fasih lekuk samudera
dibekali meriam dan serdadu
agar daratan dan para jelata
lekas binasa.
Berbulan-bulan
menaklukkan semenanjung,
bertahun-tahun 
membangun murung.
Hingga ombak abad 18 
mengunggah niaga rempah
juga disentri dan kolera.
Ia tekun menangguk
pasir dan kerikil,
membangun istana Inggris
menghadapi matahari
karam di ujung karang.

Di telinganya selalu terngiang
suara para pekerja
beraksen Melayu dan Rejang.
Biru haru terpulas
air mata dan peluh
termuat dalam traktat.
Lalu bintik putih
pada kelopak Rafflesia
dan perut rusa meneguhkan
betapa abadi sekaligus pilu
segan masa lalu.
Maka menjelang
sang Gubernur Jenderal tumbang,,
ia mengaku tenang,
tentram memungut
jejak moyang.

Setidaknya setelah 
benar-benar 
tunai menyelidiki,
ia berani bersaksi
bahwa Bengkulu
bukan sekadar jejalan
bengkok melulu.

2015

Jimmy Maruli Alfian lahir di Teluk Betung, Lampung, 3 Maret 1980. Buku kumpulan puisinya: Puan Kecubung (2009).



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Jimmy Maruli Alfian
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" Minggu 22 November 2015 

0 Response to "Giok Belanda - Lubuk Linggau - Lubuk Rukam - Tapak Paderi "