Gitar Bergambar Wajah Raja Dangdut | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Gitar Bergambar Wajah Raja Dangdut Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:33 Rating: 4,5

Gitar Bergambar Wajah Raja Dangdut

BUS kecil beroda enam yang bodinya penuh dempul itu berhenti di seberang masjid berkubah hijau. Berdiri di pintu bus, Gito menoleh ke kursi belakang dan melambaikan tangan kirinya pada seorang lelaki bertubuh gempal.

”Makasih sudah boleh numpang ngamen, bos!”

”Oke. Sama-sama,” lelaki bertubuh gempal yang duduk di kursi belakang, melambaikan tangan pula. Lalu ia berteriak pada sopir, ”Tariiik!”

Bus melaju pelan. Asap hitam mengepul. Gito menutup hidung dengan telapak tangan kanannya. Agak terhuyung ia melangkah menyeberang. Ia tak memperhatikan situasi jalan. Sebuah becak menabraknya. Gito tersungkur di aspal. 

”Heh, picek matamu!” hardik tukang becak.

”Maaf, Pak. Saya yang salah,” Gito beranjak bangun. Ia meringis. Pinggangnya terasa nyeri sesaat.

”Minggir!” bentak tukang becak. Gito menepi, membiarkan becak itu lewat. Ia meringis lagi. Nyeri di pinggang kanannya terasa lagi.

Sinar matahari masih terik. Gito berjalan sambil meringis menahan nyeri di pinggang, menuju masjid berkubah hijau di depannya. Gito duduk di teras masjid. Menghitung uang hasil mengamen. Tiga puluh lima ribu rupiah. Ia mengucap syukur. Ia memandang lekat-lekat gitarnya. Gitar bergambar wajah Raja Dangdut. Gambar itu bukan stiker, tapi lukisan air brush hasil kreasi temannya. Gito tersenyum. Ia telah berkelana bersama gitar itu sekian lama, mungkin lima tahunan.

Gito melirik jam tangannya dan ia terhenyak. Waktu zuhur hampir habis! Gito menyandarkan gitarnya pada dinding teras masjid. Bergegas berjalan ke samping, menuju tempat wudu. Setelah itu ia memasuki bagian dalam masjid untuk menunaikan shalat zuhur. Usai shalat ia berzikir, memanjatkan doa. Wajahnya berseri-seri.

Kemudian Gito melangkah menuju teras masjid. Bukan hanya teras, tetapi sekeliling kompleks masjid telah ia sambangi. Gito gelisah. Gitarnya lenyap! Ah, tak ada lagi tempat aman di kota ini. Orang macam apa yang tega mencuri gitar tuanya?

Lesu, Gito berjalan pulang ke rumah. Jarak rumahnya dengan masjid itu sekitar lima belas menit jalan kaki. Di perjalanan, sesekali Gito meringis. Nyeri pinggang apa ini, mengapa selalu hadir setiap saat? Sampai rumah, isterinya menyambut di pintu dengan tatapan heran.

”Gitarmu mana, Pakne?”

”Hilang, Bune,” lirih, Gito menyahut, lantas bercerita peristiwa di masjid. ”Aku yang salah, Bune. Biasanya aku selalu menyandarkan gitar itu di dinding dekat aku shalat. Tapi tadi aku tergesa-gesa,
waktu zuhur hampir habis. Lalu kutaruh begitu saja gitarku di luar.”

”Sudahlah, yang penting kamu selamat, Pakne,” isterinya menghibur. ”Gitar bisa dibeli lagi. Berapa harga gitar sekarang, Pakne?” 

”Harga-harga sudah pada naik, Bune.

Harga gitar baru mungkin sekitar tiga ratusan ribu.”

”Mahal sekali? Apa ndak ada yang lebih murah?”

”Mungkin di Pasar Senggol ada yang murah, Bune.”

Gito meringis. Pinggangnya nyeri, lagi dan lagi.

”Jangan-jangan kamu sakit ginjal, Pakne,” isterinya cemas. ”Aku kan sering bilang, jangan sering minum minuman bersoda.”

”Umurku masih 30, masa kena sakit ginjal? Mungkin ini karena ketabrak becak tadi, Bune. Sebentar juga baikan,” Gito berkilah. Kemudian ia mengalihkan pembicaraan. ”Kamu dan Nanang sudah shalat zuhur?”

”Sudah, Pakne. Sekarang Nanang sedang dolanan di lapangan.” Gito tersenyum. Ia bahagia. Meski hidupnya sekadar bertahan hidup, tetapi keluarganya selalu ingat pada Tuhan.

***
Gito telah menyiapkan sejumlah uang di saku depan celana jins lusuhnya. Semalam ia telah rembugan dengan isterinya. Ia akan mengambil sebagian tabungan untuk membeli gitar bekas. Pagi ini, Gito berjalan menuju Pasar Senggol. 

Ia menyusuri kios-kios yang berderet di pasar barang bekas itu. Tetapi sulit menemukan kios yang menjual gitar. Sampai akhirnya di pojok pasar, ia melihat sebuah gitar tergantung di sebuah kios. Lelaki itu terkesiap. Gito melangkah gegas mendekati kios itu, seakan berpacu dengan waktu. Napasnya terengah-engah ketika ia sampai di kios itu. Ia mendongak memandang gitar itu yang tergantung di langit teras kios. ”Berapa harga gitar ini, Pak?”

”Dua ratus ribu.”

”Tinggi sekali, Pak? Seratus ribu, ya?”

”Tidak bisa, Mas. Kalau gitar biasa, mungkin saya lepas. Tapi gitar ini ada air brush-nya,” kata si pemilik kios menunjuk gambar wajah Raja Dangdut di bodi gitar itu.

”Seratus lima puluh?”

”Harga pas, Mas.”

Gito tak mau berdebat. Ia tak pandai menawar. Lebih dari itu, ia harus menyelamatkan gitar bergambar wajah Raja Dangdut itu. Ia tak ingin gitar itu menjadi milik orang lain. Ia berpikir, inilah garis nasibnya. Bayangkan, kemarin ia kehilangan gitar, dan sekarang ia menemukan gitarnya di kios itu. Bila bukan karena kehendak Tuhan, gitar itu tentu tak lagi tergantung di kios itu.

Gito mengeluarkan uang dari saku celana jins lusuhnya. Menebus gitar itu. Mendekapnya. Dadanya gemuruh. Bergegas ia pergi dari pasar itu. Matanya terasa hangat. Ia berjalan menunduk dan beberapa kali menyeka matanya yang basah. Beberapa orang memandangnya heran.

Gito berdiri di depan gang Pasar Senggol. Ia ingin pulang. Mengabarkan keajaiban ini pada isterinya. Ia yakin, isterinya pun akan bahagia. Bergegas, ia mempercepat langkahnya. Di perjalanan, Gito berhenti. Pinggangnya mendadak nyeri. Keringat dingin mengucur. Wajahnya tampak cemas. Ah, tidak. Ini hanya nyeri biasa! Semua orang pernah mengalaminya. Maka ia kembali melangkah. Sinar matahari mulai menyengat. Keringat makin menderas dari tubuhnya.

Tapi Gito masa bodoh. Ia terus melangkah, meski berkali-kali ia meringis menahan nyeri di pinggang. Jalannya sempoyongan. Sampai akhirnya, Gito menyerah. Ia limbung dan tersungkur di aspal jalan. 

Orang-orang berlarian mendekat. Berkerumun. Memandang penuh tanya pada seorang lelaki yang tergeletak di jalan. Lelaki yang mendekap gitar bergambar wajah Raja Dangdut.

”Apa dia masih hidup?” tanya seseorang.

Seseorang yang lain berusaha melepaskan gitar dari dekapan Gito.

”Tidak bisa. Tangannya kaku.”

”Coba periksa bawah hidungnya. Apa masih bernapas?”

Ada yang melakukan perintah itu. ”Panggil ambulans!”

”Panggil polisi saja!”

Seseorang berlari ke pos polisi terdekat. Seseorang mengeluarkan ponsel, menghubungi rumah sakit. Sementara yang lain masih berusaha melepaskan gitar dari dekapan Gito!

”Mana ambulansnya?”

”Mana polisinya?”

Tak berapa lama kemudian dua polisi berboncengan sepeda motor sampai di lokasi. Sedetik kemudian suara sirene ambulans terdengar mendekat dan kemudian mobil bercat putih dan merah itu
sampai pula ke lokasi.

Dua polisi itu mengeluarkan kaleng cat semprot, lalu menyemprotkan cat itu ke aspal mengikuti bentuk tubuh lelaki yang terkapar di jalan itu. Setelah itu, dua petugas ambulans berusaha melepaskan
gitar dari dekapan Gito.

”Tidak bisa. Sulit sekali,” seru seorang petugas ambulans.

”Biarkan saja. Itu urusan dokter,” sahut petugas lainnya.

Ketika mobil ambulans itu telah pergi membawa tubuh Gito, orang-orang yang tadi berkerumun kembali bergunjing. ”Bagaimana kalau gitarnya tak mau lepas?” tanya seseorang pada temannya.

”Ya, sekalian ikut dikubur,” sahut temannya.

”Dikubur? Kau yakin lelaki itu sudah mati?”

”Entahlah. Apa peduliku?” 

Orang-orang sudah membubarkan diri. Melanjutkan aktivitas masing-masing. Dan, jalan itu kembali ramai oleh kendaraan dan orang-orang yang menye-berang. Setiap orang yang hendak menyeberangi jalan itu, pasti menoleh ke bawah. Menoleh ke aspal yang ada bekas semprotan cat putih yang membentuk siluet tubuh manusia.

”Bagus sekali ya pola garisnya?” kata seorang gadis yang menyeberang kepada temannya.

”Pola apaan? Itu TKP, tahu,” sahut temannya.

”Lihat, pola garis orang terkapar ini seperti mendekap gitar.”

”Entahlah. Emang gue pikirin?” (92)

Batang, 1 November 2015

Sulistiyo Suparno, lahir di Batang 9 Mei 1974. Cerpen-cerpen tersiar di beberapa media seperti Wawasan, Cempaka, dan sejumlah media nasional lainnya. Ia aktif di Komunitas Pena, perkumpulan penulis di Batang, Jawa Tengah. (*)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sulistiyo Suparno
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 8 Oktober 2015

0 Response to "Gitar Bergambar Wajah Raja Dangdut"