Harga Kebebasan - Mumuk - Kota Tuli | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Harga Kebebasan - Mumuk - Kota Tuli Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:24 Rating: 4,5

Harga Kebebasan - Mumuk - Kota Tuli

Harga Kebebasan

sore hari adalah kenang-kenangan masa kanak-kanak 
atau kebebasan bayi-bayi lucu di keranjang jalan 
seekor kucing berbulu tiga warna tanpa kekasih 
menyendiri di samping dapur mi rasa cakalan 

kesendirianku merapuh di kesibukan para pebisnis 
dan ibu-ibu rumah tangga cemas pulang kerja 
pendengaranku menguping obrolan tiga lelaki 
mempercakapkan untung rugi untuk satu proyek 

aku diam sedingin beton melingkar di pantat 
sambil mencerna tatapan anak-anak bermain 
di angin yang mencari rimbun pepohonan 

dan seekor kucing itu lebih diam di tangan si kecil 
aku pun menerka setiap isyarat yang mereka 
cakapkan 
“barangkali mereka semua mendamba kebebasan!“

4 Juni 2014

Mumuk

sukar dipecahkan ruwatan ekstase
gerak badan mengambang di tengah pertunjukan
bersama hantu-hantu televisi petang hari
dan gemerlap lampu-lampu jalan penerang mimpi

obsesi kemegahan di layar lebar ibu kota
semarak ke dalam pikiran orang-orang desa
sinetron-sinetron dan kuis penghasil uang
menjadi silau kristal impian paling tajam

senandung suara malam dan angin kebun kelapa
tak terdengar, gendang telinga sesak oleh berita
gosip artis amatir dan BBM kian langka
kian sukar meruwat hidup tenteram di alam
pedalaman kehilangan rasa aman
masa depan tertuju ke jantung kota impian

12 Juni 2014

Kota Tuli

kubesuk sebuah kota tuli
kebisuan berjalan pasi dalam gesit
jidat padat berkilat-kilat
di wajah layu monumen piatu

mataku berhenti di lubang keterasingan
pemandangan kota tuli berputar cepat
kian cepat, tak terekam waktu
dan bola mata gelinding ke selokan

jutaan ribu tubuh beku memumi
terapung tanpa daya, dan
sel-sel telur membusuk di plastik peradaban

kepalaku membuhul di arus kota tuli
tersesat di dinding-dinding gedung raksasa
: tak ada suara untuk alamat di persimpangan

16 Juni 2014

Selendang Sulaiman, lahir di Sumenep, Madura, 18 Oktober 1989. Puisi-puisinya tersiar di berbagai media massa, seperti Kedaulatan Rakyat, Seputar Indonesia, Indopos, dan lain-lain. Antologi Puisi bersamanya; Mazhab Kutub (Pustaka Pujangga, 2010), 50 Penyair Membaca Jogja; Suluk Mataram (MP, 2011), Di Pangkuan Jogja (2013), Lintang Panjer Wengi di Langit Jogja (Pesan Trend Ilmu Giri, 2014), dan lainlain.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Selendang Sulaiman
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 15 November 2015 



0 Response to "Harga Kebebasan - Mumuk - Kota Tuli"