Hikayat Tukang Ratap Terakhir | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Hikayat Tukang Ratap Terakhir Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:11 Rating: 4,5

Hikayat Tukang Ratap Terakhir

DULU, bertahun-tahun yang silam di kota kecilku, setiap kematian orang Tionghoa tak hanya diratapi oleh sanak-keluarganya. Tetapi juga oleh para tukang ratap yang khusus dibayar untuk menangisi kepergian si mati. Kiau Ma, demikianlah kami menyebut profesi yang barangkali tak lazim bagi kalian ini. Mereka kebanyakan adalah kaum perempuan berumur separuh baya yang sudah bersuami atau janda. 

Tanpa harus dipanggil, setiapkali ada yang meninggal sudah bisa dipastikan kalau salah satu dari mereka, atau terkadang dua-tiga orang sekaligus (dan bisa sampai lima orang jika keluarga si mati cukup berada), akan segera datang ke rumah duka, lantas duduk bersimpuh di samping peti mati dan mulai meratap sejadi-jadinya seolah-olah jenazah yang terbujur kaku itu adalah orang yang begitu mereka kasihi. Suara ratap-tangis mereka itu begitu pilu menyayat hati, seringkali jauh lebih menyayat ketimbang ratap-tangis anak-istri yang ditinggal pergi. Lengkap pula dengan wajah sembab berurai air mata.

Entah bagaimana mereka melakukannya, pikirku takjub ketika itu. Dan kukira mereka benar-benar para aktris yang amat berbakat. Meski, di antara mereka konon ada juga yang memang mantan pemain sandiwara. Tanpa memerlukan irisan bawang, mata mereka sungguh nyata tampak merah berkaca-kaca seakan penuh duka. Sehingga tentunya, seperti kata pepatah "alangkah jauh dari setanggi", jika kepiawaian mereka dalam berlakon lara itu kita bandingkan dengan akting artis-artis  sinetron kejar tayang masa kini. Ah, karena itulah... tidak lengkap rasanya suasana duka apabila sebuah kematian di masa itu tidak diratapi oleh Kiau Ma...

Ya, kendati siapa pun mafhum kalau ratap-tangis riuh-reda itu hanyalah sebuah kepura-puraan semata demi amplop merah. Bahkan untuk amplop yang lebih tebal, sebagian dari mereka sanggup meratap pilu sepanjang malam di sisi peti; luruh dalam kuyup air mata di antara kepulan asap dupa! Sementara para lelaki yang dipah untuk menunggui jenazah sedang asyik membanting kartu gaple sembari menyeruput kopi panas ditemani kacangatau pisang goreng di teras rumah --Ai, jika sudah begitu, sesekali terdengarnya umpatan jorok atau tawa cekikikan adalah hal lumrah...)

Bukankah kerap terjadi ratap-tangis sanak-keluarga pun cuma sekadar topeng belaka? Sebab alangkah tak elok di mata orang jika yang ditinggal pergi tidak menitikkan setetes air mata. Bisa-bisa nanti sepanjang usia bakal dicap sebagai manusia tak tahu diri, istri tidak berbudi, anak durhaka tak berbakti, bahkan setan durjana puntung api! Padahal betapa tawa suka-cita justru sedang meledak dalam hati, lantaran memang sudah demikian lamanya mereka mengharapkan harta warisan si mati. 

Hm, kukira itulah yang terjadi dengan paman-paman dan bibi-bibiku saat nenekku mati. Kau tahu, belum juga genap tiga hari, sudah layaknya musuh besar mereka saling berantem memperebutkan giwang-gelang-cincin, berlian, dan surat tanah nenekku yang malang. Alangkah kemaruknya manusia di bumi!

Tetapi sudahlah, tak hendak aku membongkar aib keluargaku lebih jauh untuk kalian. Bukanlah ini yang mau kuceritakan. Aku hanya ingin mengisahkan kepada kalian sebuah rahasia kecil, ya rahasia seorang tukang ratap paling tekremuka di kota kecilku.

***
IA tukang ratap legendaris itu, jika boleh kusebut demikian --biasa dipanggil Bibi Nyun oleh orang tua maupun muda. Perawakannya yang kecil kurus tampak gesit, walaupun usianya sudah kelewat enam puluh. Jika sedang tidak menjadi tukang ratap di rumah-rumah duka, sehari-hari ia berjualan es batangan di teras rumah tuanya, tak jauh dari SD Santa Agnes tempatku bersekolah.

Karena itu, jelas keliru apabila kalian membayangkan seraut wajah perempuan tua yang bermuram durja. Sebab jika kalian sempat mengenalnya, Bibi Nyun jelas sosok yang begitu ramah dan sabar meladeni, ketika kami anak-anak datang membeli esnya. Bahkan, senyum tipis pun tak jarang tampak tersungging di wajahnya yang keriput dimakan usia. Berbeda dengan para perempuan peratap lain, Bibi Cu misalnya, yang lebih kerap tampak bermuka masam setiap kali lewat di depan rumahku saat berbelanja ke pasar. Atau, Bibi Ngo yang wajahnya senantiasa terlihat pucat pasi (ah, sepucat wajah mayat yang ia ratapi! --seloroh ayahku sambil tertawa suatu kali.)

Oh, tidak tidak. Jangan kalian berpikir memang demikian adanya raut wajah mereka berdua. Karena sering sudah orang-orang pergoki, begitu tampak tirai kain putih tanda berkabung digantung di muka pintu sebuah rumah --apalagi rumah orang kaya-- seketika berubahlah air muka keduanya berseri-seri bak anak perawan yang hendak masuk kamar pengantin layaknya.

Mungkin sebab itulah kukira kehadiran Bibi Cu dan Bibi Ngo di rumah-rumah duka lama-kelamaan mulai kurang disukai. "Kentara betul icak-icak-nya!" demikian bisik-bisik para pelayat saat keduanya menggerung-gerung keras di sisi si mati.

"Ya, lain halnya kalau Bibi Nyun yang datang. Akan kau lihat betapa tuan rumah yang sedang berduka pun seakan tampak lebih cerah, seolah-olah seorang utusan telah dikirim dari langit untuk menghibur hati mereka dengan ratap dan sedu-sedannya. Dan tidak seperti perempuan peratap lainnya yang langsung saja duduk bersimpuh di samping jenazah, sebelum mulai menangisi si mati, dengan tenang --setenang si mati-- ia akan mengambil dupa dan menjura tiga kali di depan potret mendiang untuk memberikan penghormatan terakhir sebagaimana yang lazim dilakukan oleh orang-orang datang melayat. 

"Tak seorang Kiau Ma pun yang sanggup menandingi kepiluan ratapan Bibi Nyun," kata ibuku. Tidak juga Bibi Lian yang semasa mudanya pernah bergabung dengan sebuah klub sandiawara keliling di Sungailiat. Seturut cerita, suara ratapan dan sedu--sedannya yang serak-serak parau itu akan membuat siapa saja yang mendengarnya merinding sampai berhari-hari. Bahkan, syahdan, getarannya itu masih saja terasa hingga peringatan keseratus hari, seakan terus dipantulkan kembali oleh dinding-dinding rumah, mengental di udara. Tak heran karenanya para pelayat pun banyak yang kerap ikut-ikutan menitikkan air mata. Ya, kendati tak ada pertalian darah maupun hutang budi sama sekali dengan si mati.

Ah, mungkin -pikirku-- suara ratapannya yang mengibakan itu bakal terbawa juga oleh si arwah sampai ke dunia orang-orang mati; timbul-tenggelam di antara musik tanjidor yang mengiringi pelayarannya di atas perahu merah (begitulah kami memberi kiasan pada peti mati).

Begitu mengiriskannya ratapan Bibi Nyun membuat sebagian orang bahkan meyakini kalau air mata perempuan itu tidaklah sekadar "air mata buaya" demi memperoleh sebuah amplop merah. Tetapi sungguh-sungguh ia turut bersedih, tulus menangisi setiap yang pergi dengan sepenuh hati. Hm, kurasa tidaklah salah jika ada yang beranggapan demikian. Bukankah tak segan pula ia menyambangi rumah-rumah duka yang hanya mampu memberinya secarik kertas merah dan sekadar ucapan terima kasih?

Dan, itukah sebabnya kenapa Bibi Nyun masih bertahan? Tatkala --seiring waktu--satu per satu tukang ratap di kota kecil kami, kau tahu, mulai menghilang...

Ah, jangan cepat menarik kesimpulan, Kisanak. Karena apa yang kalian pikirkan itu tidaklah semuanya benar. Sebab ada banyak hal yang membuat rumah-rumah duka kian sepi dari para tukang ratap. Bisa jadi sebagian para perempuan peratap itu memang sudah "tak laku lagi", sebagian lainnya barangkali sudah bosan berlakon seddih dan akhirnya memilih berganti profesi, dan ingatlah ada juga beberapa di antara mereka yang meninggal. Tetapi kukira penyebab utamanya adalah saat itu semakin banyak orang Tionghoa di kota kecil kami yang berpindah agama, ya masuk Kristen Protestan atau Katolik, bahkan Islam.

Bibi Nyun adalah tukang ratap terakhir di kota kecilku sebelum tradisi itu lenyap untuk selama-lamanya.

***
AH, lantaran apakah ratap-tangis Bibi Nyun bisa sedemikian pilunya? Benarkah air matanya --seperti kata orang-orang dulu--mengalir dari lubuk hati yang terdalam setiap kali melihat sesosok jenazah terbujur kaku?

Pertanyaan itu masih saja menggantung dan mengusik pikiranku hingga bertahun-tahun kemudian ketika aku datang melayat ke rumah seorang tetangga saat liburan kuliah, dan tiba-tiba merasa merindukan kehadiran seorang Kiau Ma yang menggerung-gerung keras di antara sesajen dan pekat kepulan asap dupa. Tapi di sana pulalah, di rumah duka itu --rumah teman kecilku A Nen-- jalan terbuka bagiku untuk memperoleh semacam jawaban.

Tak sengaja, saat sedang membakar dupa di depan potrert hitam-putih Paman A Fui, bapak A Nen, aku melihat Bibi Lian, mantan bintang sandiwara keliling yang pernah kukenal sebagai salah satu tukang ratap di masa kanak-kanakku itu di antara orang-orang yang datang melayat. Aku hampir saja pangling, karena ia tampak jauh berubah dari yang bisa kuingat. Selain lebih tua, badannya sekarang juga lebih gempal. Perkiraanku umurnya pasti sudah 70-an. Namun dari penampilannya dan gerak-geriknya, ia terlihat masih cukup sehat. Tentu saja ia datang ke rumah duka itu bukan untuk meratapi jenazah Paman A Fui seperti yang dilakukannya bertahun-tahun silam sebagai tukang ratap. Tetapi hanya melayat seperti aku dan orang lainnya. Ia sudah lama berhenti dari pekerjaan bersimbah air mata itu, jauh sebelum Bibi Nyun meninggal dunia ketika aku duduk di kelas tiga SMP. Konon anak-anaknya sekarang cukup sukses di Jakarta...

Ya, dari beliaulah, aku kemudian mendengar cerita tentang Bibi Nyun ini.

***
SEWAKTU muda --begitulah Bibi Lian menuturkannya padaku suatu sore saat aku mengunjunginya, tiga hari setelah pertemuan kami di rumah duka-- Bibi Nyun adalah seorang gadis rupawan yang banyak menarik perhatian para pemuda. Di samping cantik, ia juga cerdas dan ceria. Wajar saja jika banyak yang tergila-gila; menggoda dan merayu lengkap dengan janji-janji manis. Bahkan tak kurang pula yang sudah nekat menyampaikan lamaran. Dan sebagian di antarnya adalah anak-anak muda dari keluarga berada --anak sulung juragan minyak tanah, putra bungsu pemilik toko mebel, adik ipar penadah lada. Namun semua lelaki itu ditolak Bibi Nyun dengan halus disertai seulas senyum lembut.

Apa mau dikata hatinya yang sedang berbunga-bunga sudah terpaut pada seorang lelaki lain. Teman sekolahnya di Tiong Hoa Hwee Koan. Tidak tampak, bukan pula dari keluarga berada, tapi Bibi Nyun cinta. Nama lelaki itu Thong Kwet Liong, seorang guru sekolah dasar dan anggota Baperki. Kau tahu, itu adalah singkatan dari Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia, organisasi Tionghoa yang didirikan pada tahun 1954 oleh Yap Thiam Hien, Oey Tjoe Tat, Siauw Giok Tjhan, dan para intelektual Tionghoa lainnya di Jakarta sebagai respons atas berbagai carut-marut politik.

Selain ikut menyusun UU Kewarganegaraan Tahun 1958, Baperki mewakili orang Tionghoa dalam memperjuangkan hak-hak dan kepentingan etnis serta melawan setiap bentuk diskriminasi. Secara aktif, mereka membantu orang-orang Tionghoa yang ingin memilih menjadi warga negara Indonesia (WNI). Mereka mendirikan sekolah-sekolah untuk menampung anak-anak Tionghoa, terutama anak-anak Tionghoa WNI yang harus meninggalkan sekolah-sekolah berbahasa pengantar Mandarin sesuati peraturan yang berlaku pada masa itu.

Dan Thong Kwet Liong adalah wakil ketua Baperki di kota kecilku. Ketuanya Bun A Cai, seorang saudagar beras. Bibi Lian masih mengenangnya sebagai pemuda bertampang culun yang penuh semangat, terutama dalam hal "mewarganegarakan warga Tionghoa", khususnya mereka yang berorientasi kepada pemerintah Belanda dan pemerintah China. Ia mendatangi setiap rumah Tionghoa hingga ke kampung-kampung Tionghoa di daerah-daerah pelosok. Maklum, ketika itu persoalan kewarganegaraan memang sedang hangat-hangatnya setelah dikeluarkannya PP 10 Tahun 1959 yang melarang orang Tionghoa berdagang di daerah tingkat II ke bawah.

"Kau tahu, saat itu banyak orang pulang ke Tiongkok, ketika pemerintah RRT menyatakan akan menerima orang-orang Tionghoa yang ingin kembali dengan tangan terbuka," kata Bibi Lian sambil menyeruput tehnya. Ia menatap foto Tembok Besar pada kalender yang tergandung di hadapannya sesaat lalu memandang keluar jendela. Dahinya yang keriput tampak semakin berlipat. Ia seperti mengingat-ingat.

"Kwet Liong tunangan si A Nyun itu dan orang-orang Baperki lainnya mencoba meyakinkan kami untuk tidak pulang ke Tiongokok. Mereka berkali-kali menyatakan bahwa Indonesia-lah tanah air kami bukan Tiongkok. Karena itu seyogianya kami tetap tinggal. Ya, tapi kau tahu, pengalaman pahit mendorong sebagian besar dari kami yang ingin pulang ke Tiongkok mengacuhkan anjurannya," kata Bibi Lian meneruskan.

"Lalu apa yang terjadi, Bi?" tanyaku agak tidak sabar. Mata Bibi Lian terlihat berkaca-kaca ketika ia berpaling padaku.

"Ah, ia orang baik, cerdas. Sayang harus mati muda. Mereka memang sudah ditakdirkan tidak berjodoh. Malang nian nasib si A Nyun...," ujarnya pelan, lirih, seprti bergumam. Aku mengernyitkan kening, dan bertanya dengan terkejut, "Apa, Bi?"

Di waktu lain aku kemudian mendengar dari salah satu tetanggaku yang juga sudah berusia cukup lanjut bahwa dalam perkembangannya, di era perang dingin, Baperki ternyata harus menghadapi situasi tarik-menarik antara kekuatan-kekuatan politik kiri dan kanan. Untuk mengatasinya, Baperki dengan doktrin integrasinya tak punya pilihan lain, selain berdiri di belakang Soekarno yang sedang gencar-gencarnya melaksanakan konsep Manipol/Usdek dan persatuan Nasakom. 

"Karena mendukung politik Soekarno, otomatis Baperki berada dalam satu barisan dengan seluruh 'kekuatan revolusi' pada masa itu dalam perjuangan mewujudkan masyarakat sosialis Indonesia yang besih dari pengisapan manusia atas manusia. Situasi ini menyebabkan Baperki dekat dengan PKI, Partindo, PNI, dan kekuatan-kekuatan pendukung Bung Karno lainnya," kata Paman Hiung. Ia sebenarnya masih termasuk kerabat jauh keluarga ibuku. Dan, ingatannya tampak masih cukup kuat.

"Tapi, kau tahu, mereka kemudian lebih dekat dengan PKI. Karena PKI selalu mendukung Baperki dalam perjuangannya menentang diskriminasi rasial, baik di DPR mapun di forum-forum lain. Juga di Harian Rakyat, bahkan di lapangan ketika terjadi penganiayaan terhadap orang Tionghoa di Bandung pada 1963. Hal ini membuat banyak orang Tionghoa, khususnya anggota dan simpatisan Baperki, yang bersimpati pada PKI, kemudian ikut bergabung," lanjut Paman Hiung sambil sedikit merendahkan suara.

Aku tidak mengerti politik dan tidak pernah tertarik cerita politik. Setamat SMA aku merantau ke Jakarta, ikut keluarga bibiku dan mengambil kuliah manajemen. Ayahku juga tak suka politik. Kurasa ia adalah bagian dari trauma masa lalu ketika Baperki kemudian dijadikan stigma untuk menakut-nakuti etnis Tionghoa agar menjauhi wilayah politik. Namun rasa penasaran lantas mendorongku mencari informasi lebih banyak tentang Baperki dari laman-laman internet.

Ya, ketika terjadi peristiwa G30S, seperti banyak organisasi dan partai-partai politik lainnya, Baperki menjadi korban kegnasan rezim militer Soeharto.

"Ia bukan komunis. Ia orang Buddha yang taat. Tetapi banyak anggota dan simpatisan Baperki dan organisasi Tionghoa lainnya ditangkap setelah G30S. Banyak orang mendadak hilang. Terutama orang-orang Lo Kung Fui, organisasi buruh Tionghoa di bawah PKI," kata Bibi Lian.

Aku mencoba membayangkan Bibi Nyun seperti orang gila mencari tunangannya yang tiba-tiba menghilang itu ke mana-mana. Ia mendatangi kantor polisi, tangsi tentara, kantor-kantor pemerintah. Kudengar Bibi Lian menghela napas. Aku meminta izin merokok dan ia hanya mengangguk kecil.

"Mayat lelaki baik itu tersangkut di pinggir sungai. Dua minggu setelah rumah-rumah digedor oleh tentara tengah malam. Hampir tidak dikenali saat diangkat. Tapi si A Nyun tak mungkin tidak mengenali orang yang begitu ia cintai. Lelaki itu mengenakan cincin pertunangan mereka di jari manis tangan kanannya."

Tetapi, kata Paman Hiung, orang-orang Baperki jelas mengalami nasib yang sedikit lebih baik ketimbang orang-orang Lo Kung Fui. Banyak dari mereka yang dilepaskan kemudian. 

"Kau tahu, Bun A Cai hanya ditahan semalam," bisiknya sambil menyeringai. "Itu karena ia banyak uang. Uang bisa menyelesaikan segalanya, termasuk pada zaman itu."

Aku pernah sekelas dengan salah satu cucu Bun A Cai waktu SMA. Namanya Fendy. Ayahnya adalah salah seorang yang paling kaya di kota kecil kami. Keluarga mereka memiliki toko emas, toko besi, toko elektronik, dan sebuah SPBU.

Menurut Bibi Lian, Bibi Nyun meraung-raung histeris ketika maya kekasihnya ditemukan. "Ia meratap begitu memilukan di depan peti mati si A Liong. Bahkan berminggu-minggu setelah jenazah Kwet Liong dikuburkan, para tetangganya masih kerap mendengar ratap-tangisnya yang berlarut-larut di tengah malam," ujar Bibi Lian lalu kembali meminum tehnya. "Gadis yang cantik tapi malang. Satu-satunya adik laki-lakinya meninggal tak lama setelah itu karena malaria yang telat ditangani. Ibunya menyusul setahun kemudian. Perempuan tua itu terus-terusan murung setelah putranya meninggal."

Dan Bibi Lian meneteskan air mata saat menyelesaikan ceritanya.

Aku tidak bertanya padanya sejak kapan persisnya Bibi Nyun mulai menjadi seorang tukang ratap. Namun ia mengatakan bahwa setelah kematian Kwet Liong, setiap melihat mobil pengantar jenazah lewat atau melayat ke rumah duka, Bibi Nyun akan menangis tersedu-sedu seketika lalu meratap-ratap memilukan meskipun yang mati bukanlah siapa-siapa bagi dirinya. Ah, setiap kematian rupanya selalu mengenangkan ia pada sang kekasih yang mati mengenaskan!

Di sisi peti mati-mati itulah, kukira ia agaknya merasa menemukan tempat dan momen yang paling tepat untuk meratapi dukacitanya yang tak pernah pupus. Karena itu ia menjadi seorang tukang ratap...

Tetapi yang mengejutkanku kemudian adalah cerita tentang seorang suster Tionghoa tua yang sering berkunjung ke rumah untuk mengobrol dengan ibuku. Bahwa, Bibi Nyun sebenarnya katolik. Ia tak pernah menginjakkan kaki di gereja lagi setelah kematian tunangannya. Barulah pada saat-saat menjelang kematiannya, ia meminta sakramen kepada pastor lewat seorang keponakan jauhnya. Ia tidak pernah menikah. ***

Krapyak, Jogjakarta, November 2015

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sunlie Thomas Alexander
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 22 November 2015

0 Response to "Hikayat Tukang Ratap Terakhir"