Hotel Menghadap Laut | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Hotel Menghadap Laut Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Hotel Menghadap Laut

ANGIN laut memang nyaman. Itu membuat orang mengantuk, apalagi jika diiringi suara musik klasik yang lemah lembut. Terik matahari yang memantul seakan-akan tak terasa.

Pardomo menguap-uap. Matanya mengantuk berat, namun tetap ia duduk saja di kursinya. Para tetamu lain yang lalu-lalang tidak dia hiraukan, tidak terkecuali para perempuan muda. Mereka agaknya bosan memangkal diri di hotel itu, siang atau malam, kentara dari lagak-lagu mereka yang tidak kaku-kaku lagi. 

“Pak, kok betah sendirian terus!” teriak salah seorang dari perempuan itu. tangan kanannya memegang rokok kretek. 

“Sudah nggak bisa, ya Pak ya?” tanya kawannya disambut ketawa teman-temannya.

Demi mendengar ejekan itu, darah Pardomo berdesir. Untung hanya sekilas dan seketika pulih kembali. Ada, sekilas, kemauannya untuk mendatangi perempuan itu untuk marah-marah, agar ia tidak sekurang ajar itu terhadap laki-laki dan dalam hal ini terutama dirinya, namun keinginan tersebut dapat dia padamkan sendiri.
Pasalnya, iya kalau perempuan lancang mulut itu mengalah dan minta maaf. Tapi kalau sebaliknya, memarahi atau mengejek-ejek dirinya semakin menjadi-jadi? Bukankah rasa malunya bertambah berat?

Dan apa kata orang kalau melihat dia bertengkar dengan perempuan bebas seperti itu? Tentu dia sendiri pulalah yang akan rugi. Memang rugi apalagi kalau kalah. Pardon bersyukur mendadak teringat akan prinsip hidupnya. Jangan bertengkar melawan perempuan. Terkecuali di pengadilan, beradu argument dan mengikuti prosedur dan tata-tertib.

“Cah edan,”mendadak perempuan lain yang montok menengahi. “Bapak itu dari dulu kalau kesini kan tidak pernah main. Iya Pak ya, Bapak sopir kan!”

“Siapa bilang? Dulu pernah masuk juga kok, sama si Sri.” Tiba-tiba perempuan muda yang mengejeknya tadi itu membantah.

“Sri yang mana? Di sini kan ada tiga Sri. Yang dari Nganjuk, dari Wlingi, dan yang ngakunya dari Solo.” Terdengar perempuan lain lagi menyela.

Kenikmatan Pardomo tentu saja jadi terganggu. Musik klasik ringan itu ditambah angin yang semilir itu sungguh-sungguh membuatnya tenteram. Ia padahal sudah menjauh duduknya, menyendiri. Tapi kelompok perempuan itu kini mengganggunya. Omongan mereka mana mungkin lemah-lembut. Ada kalanya mereka bahkan berteriak-teriak. Menjerit. Atau bahkan kejar-kejaran sambil menabur kata-kata cabul.

Pardomo melihat jam tangannya. Jam satu lebih sedikit. Jadi sudah tiga jam kawan sekantornya berduaan di kamar dengan wanita langganannya. Padahal mereka masih harus pergi ke tempat tadi itu, yang pemiliknya sedang keluar. Mereka telah berpesan bahwa akan datang lagi. Maklum, menagih.

Seorang wanita tidak muda lagi, lewat tak jauh dari kursi Pardomo. Meski tak muda lagi, terlihat dari keriput di leher dan pipinya, namun sungguh Pardomo darahnya berdesir cepat. Apalagi ia tersenyum dan setengah mengangguk, sehingga lubang di kedua pipinya muncul seketika. Ia menarik buat Pardomo karena dandannya yang lain dibanding yang lain. Yakni berjarit dan kebaya. Rambut digulung rapi, dengan selembar selendang tersampir di pundak.

“Kemana, Jeng?” Tak urung mulut Pardomo meletupkan teguran. 

Di luar dugaannya, perempuan itu berhenti. Seperti ragu-ragu. Lalu mendatangi Pardono dengan langkahnya yang bagaikan macan luwe alias harimau kelaparan. Dan senyumnya, oh senyumnya. Dan, matanya oh matanya. Hampir saja hati Pardomo ibarat dapat dijumput di lantai karena hancur berpencaran.

“Tindak pundi, to?” Tegur Pardomo lagi, karena dadanya berdebaran.

Perempuan itu lalu duduk di kursi kosong di hadapan Pardomo. Dia bilang bahwa sebenarnya mencari kemenakannya yang kabar-kabarnya suka sekali main-main di hotel tersebut. Tapi karena dia belum pernah datang ke tempat tersebut maka ia benar-benar kikuk. Ia takut dikelirukan orang, padahal umurnya sudah di atas 40 tahun.

Mendengar keterangan yang panjang itu, Pardomo segera terguncang di antara dua dunia. Yakni, percaya dan satu lagi dunia tidak percaya. Masa baru pertama kali berjumpa terus langsung menyebut umur sendiri. Mana perempuan lagi.

Apakah itu bukan manufer, mengingat umurnya yang sudah jauh dibanding umur para perempuan di sekitar mereka itu? Agar calon “tamu”-nya tidak  kecewa atau merasa tertipu. Dandanan wanita itu memang berat. Apalagi di sekitar dadanya, pandai benar ia menatanya.

“Bapak kok sendirian?” tiba-tiba wanita itu menanyai. Suaranya mendesah.

“Oh ya. Tunggu kawan. Sudah dari tadi kok masih belum selesai juga.”

Wanita itu tiba-tiba tersenyum. Agaknya ia mengerti. Dan matanya mengerling pada waktu ia berkata-kata. "Iya mesti kok, Pak. Kalau temannya masuk kan pria itu maunya bukan hanya jam-jaman. Tapi seharian pun, betah.”

Pardomo seketika merasa lemas. Wanita selembut ini, tipe idealnya ketika masih mahasiwa dulu kala, mengapa baru sekarang ini benar-benar mewujud diri?
Oh, kalau saja perjumpaannya itu berlangsung 28 tahun yang silam, pasti dia akan langsung melamarnya. Paling tidak, melamarnya biarpun hanya jam-jaman.

Angin laut kembali melanda mereka. rambut depan wanita itu berkibar-kibar. Di mata Pardomo ia tampak semakin cantik. Semakin besar gelora di dadanya. Tanpa banyak bicara ia lalu melamar wanita itu, benar-benar masuk ke kamar. Betapa gembiranya ia bahwa wanita itu menerima lamarannya, walaupun tetap berlagak kikuk.

Tepat pada saat itu dua sepeda motor datang mendekat. Kedua pengendaranya memakai helm. Pardomo tentu saja tak acuh. Apalagi sebab memang itulah pertama kalinya ia akan mengikuti jejak kawan sekantornya, walaupun sering ia ke hotel tersebut. Bau wangi rambut wanita itu cepat menusuki hidungnya, tatkala mereka berjalan mendekati “kantor” untuk mendaftar dan minta kunci.

Tapi betapa hati Pardomo takkan kaget? Pemuda yang kini sudah membuka lebih dulu helmnya itu cepat-cepat mendekati dia. “Bapak! Siapa itu, Pak!” teriaknya dengan suara bagai halilintar.

“Bono. Kamu sendiri mau apa di sini?” jawab Pardomo keras pula.

Pemuda itu wajahnya mendadak merah padam. Memikat perhatian semua orang di sekitar. Bahkan para perempuan muda yang sejak tadi onar itu, seketika bungkam. Begitu juga para pria yang ada, pegawai hotel, tukang parkir di dekat pintu dan pemuda kawan pemuda itu sendiri.

“Pulang kau!” bentak Pardomo. 

Mendengar bentakan itu, pemuda tersebut bukannya takut. Ia bahkan ganti bersuara nyaring, malahan tangannya menuding-nuding.

“Justru Bapak yang harus pulang. Bikin malu saja, sudah punya cucu masih keliaran di sini.”

Hampir saja tangan kanan Pardomo menampar pemuda itu, andaikan tidak dicegah oleh wanita berkebaya di sisinya.

Pemuda itu mendadak menangis. Dadanya bersenggukan, membuat semua orang menjadi maklum bahwa itulah pertemuan dua makhluk yang istimewa, bapak dan anak kandung. Di tempat “hiburan”.

“Dasar munafik,” mendadak pemuda itu meledak di antara tangisnya. “Semua bapak-bapak di Indonesia itu memang munafik. Bicara mereka saja hebat-hebat.
Muluk-muluk. Nilai-nilai luhurlah. Hidup sederhanalah. Tapi nyatanya bajingan semua, pembohong belaka.”

Pemuda itu membalik. Lalu menyeret temannya kembali ke motor. 

Meskipun mulutnya sudah memuntahkan sebagian dari isi sanubarinya, sebenarnya dia belum puas benar, ia tidak peduli, sudah berapa puluh kalikah ayahnya datang ke hotel itu. Ia hanya yakin bahwa ayahnya pun palsu. Tak beda kawan-kawan seangkatannya yang lain. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Setyagraha Hoerip
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu Legi, 24 November 1991

0 Response to "Hotel Menghadap Laut"